alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfe7ad9582b2ecd738b457f/buntung-di-minyak-brunei-cari-untung-dari-tiongkok

Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok

Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok
Presiden Tiongkok Xi Jinping bersama Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah menyaksikan penandatanganan kerja sama di Beijing, Tiongkok, 13 September 2017.
Upaya Tiongkok mendekati negara-negara Asia Tenggara mulai terlihat hasilnya. Kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Brunei Darussalam pekan lalu, disambut meriah Sultan Hassanal Bolkiah. Perjanjian kerja sama pun diteken.

Kesepakatan kerja sama bukan tanpa sebab. Brunei tengah mengalami masalah ekonomi. Negara bekas jajahan Inggris ini jatuh ke dalam resesi. Faktor utama karut-marutnya ekonomi Brunei terjadi lantaran harga minyak, komoditas andalan mereka, sedang dalam fase terburuknya.

Produk Domestik Bruto (PDB) Brunei terpuruk dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara-negara satu kawasan yang PDBnya berhasil tumbuh meski tak signifikan.

Catatan Kementerian Tenaga Kerja dan Industri Brunei Darussalam, minyak menyumbangkan sekitar 60 persen PDB yang mencapai $11,4 miliar AS atau sekitar Rp160 triliun (2015). Kendati memang, pendapatan per kapita negara ini masih menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Pertumbuhan ekonomi Brunei pada 2017 merosot 2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Mengacu laporan Asean+3 Regional Economic Outlook, pemerintah mulai kehilangan pendapatan, mengacaukan konsumsi dan investasi publik.

Tiongkok kemudian datang dengan tawaran menggiurkan. Sekitar $900 miliar AS dalam bentuk kerja sama infrastruktur jalur perdagangan bernama One Belt, One Road (OBOR).

Kondisi Brunei boleh jadi sudah begitu sekarat sampai mau menerima tawaran Tiongkok. Dalam sengketa Laut Cina Selatan, Brunei berada di pihak yang berseberangan dengan arogansi Tiongkok. Keduanya saling tumpah tindih dalam mengklaim wilayah di Laut Cina Selatan.

Namun dalam pertemuan dua hari kemarin, Bolkiah tiba-tiba mengubah narasinya tentang sengketa itu. Usai pertemuan, Bolkiah mengumumkan dukungannya atas negosiasi South China Sea Code of Conduct (CoC) demi menjaga keamanan dan stabilitas di wilayah perairan yang kaya akan sumber daya alam itu.

“Kami sangat menghargai inisiatif Brunei yang ingin menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan melalui konsultasi yang bersahabat. Sebaiknya negara-negara di kawasan ini juga menjalankan inisiatif yang sama demi perdamaian di Laut Cina Selatan,” ucap Jinping, dikutip dari South China Morning Post.

Proyek Tiongkok di Brunei sebenarnya bukan barang baru. Beberapa proyek besar tengah digarap Tiongkok di Brunei seperti kilang penyulingan minyak, sebuah bendungan, dan jalan tol.

Namun proyek-proyek itu tidak memberi kontribusi yang signifikan pada pendapatan negara ketimbang minyak. Ketika harga minyak mulai amburadul pada 2015, dan perekonomiannya mulai bergejolak, Brunei mulai mencari cara lain untuk menggantikan kontribusi minyak.

“Brunei, yang pemasukannya berasal dari hidrokarbon akan semakin menyusut pada masa mendatang. Kini Brunei mencari bantuan dari Tiongkok sebagai alternatif pengembangan ekonomi,” tutur Murray Hiebert, pakar Asia Tenggara dari lembaga riset Center for Strategic and International Studies (CSIS), dalam laporan Rappler.

Pada 2013, saat Hassanal berkunjung ke Beijing, keduanya sepakat untuk mendirikan usaha bersama (joint venture) antara badan usaha milik Tiongkok, China National Offshore Oil Corporation dengan Brunei National Petroleum Company.

Perusahaan patungan berhasil terbentuk (PBS-COSL Oilfield Service Company) pada 2014 di Bandar Seri Begawan, Brunei. Perusahaan berencana membangun enam platform, termasuk kilang dan kompresi gas. Namun rencana pembangunan itu mandek.

Xu Liping, seorang analis dari China Academy of Social Sciences menduga, CoC Laut Cina Selatan itu adalah kunci untuk proyek bisa terus berlangsung.

Pendekatan Tiongkok bukan baru dimulai saat pertemuan pekan lalu. September 2016, Tiongkok mengambil langkah halus dengan mendirikan kantor cabang Bank of China di Beijing. Keputusan ini mengagetkan. Sebab, ketika itu banyak bank multinasional lain yang menutup kantor cabangnya di Brunei karena proyeksi ekonomi yang tak stabil.

Maret 2018, perusahaan petrokimia Tiongkok, Hengyi Petrochemicals Co. menawarkan investasi senilai $79 juta dalam bentuk obligasi untuk membangun pabrik di Brunei. Proyek ini disebut-sebut bisa membuat Brunei menjadi salah satu negara penghasil minyak fosil terbesar.

April 2018, Tiongkok menyelesaikan pembangunan jembatan laut sepanjang 2.680 meter yang menghubungkan antara Bandar Sri Begawan dengan Pulau Muara Besar.

“Untuk mengembalikan gerak ekonominya, Brunei membutuhkan bantuan dari luar. Tiongkok jelas menjadi pihak yang mampu menyediakan hal itu,” sambung Direktur South China Sea Think Tank, Jonathan Spangler dalam lansiran Forbes.

Di sisi lain, upaya Tiongkok mendekati negara-negara Asia Tenggara demi memuluskan megaproyek OBOR ini mendapat cibiran dari Amerika Serikat (AS).

Wakil Presiden AS Mike Pence dalam pertemuan APEC di Papua New Guinea, pekan lalu, mengingatkan negara-negara ASEAN untuk tidak mudah termakan rayuan program infrastruktur Tiongkok. Pence menyebut program-program tersebut hanyalah jebakan utang pada masa depan.
Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...-dari-tiongkok

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok Operasi di PN Jakarta Selatan dan korupsi di lingkungan pengadilan

- Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok Sektor Infrastruktur memerah, biang pelemahan IHSG hari ini

- Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok Tahun depan kemungkinan lebih panas dari 2018

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di