alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Indonesia Update /
Ini Langkah Tegas BI Membentengi Rupiah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfdf055dc06bd03078b4581/ini-langkah-tegas-bi-membentengi-rupiah

Ini Langkah Tegas BI Membentengi Rupiah

Ini Langkah Tegas BI Membentengi Rupiah



JPP, JAKARTA - Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga Rupiah sebesar 0,25 persen (25 bps) menjadi 6 persen, dalam upaya menjaga nilai tukar Rupiah, mendapat acungan jempol Presiden Joko Widodo. Karena itu, Presiden pun menyampaikan apresiasi tinggi atas kinerja BI.

Hal itu disampaikan Presiden saat menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Selasa, 27 November 2018. “Bahwa di tengah gejolak ekonomi global yang mengguncang kita, Bank Indonesia terus berusaha menjaga kurs Rupiah. Kita sadar betul betapa beratnya pertempuran dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan,” kata Presiden dalam sambutannya.

Sejumlah langkah yang ditempuh Bank Indonesia guna menstabilkan nilai tukar Rupiah antara lain melakukan dual intervension di pasar uang dan pasar modal (SBN), serta terus menjaga daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi dengan manajemen suku bunga. “Alhamdulillah dalam dua-tiga minggu terakhir, Rupiah menguat signifikan dan kemarin saya lihat sudah kembali ke kisaran Rp.14.500 per dolar Amerika Serikat,” ucap Presiden.

Presiden secara khusus memuji langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga Rupiah sebesar 0,25 persen (25 bps) menjadi 6 persen. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan ketegasan BI mengantisipasi dinamika ekonomi global. Langkah ini diluar prediksi para ekonom. “Yang saya anggap berani itu bukannya besarnya kenaikan, tapi kejutannya itu. Karena saya membaca laporan bahwa 31 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, hanya tiga yang punya ekspektasi BI akan menaikkan bunga hari itu,” ungkapnya.

Hasilnya, langkah kejutan BI tersebut disambut positif oleh pasar. Menurut Presiden, BI telah menunjukkan ketegasan, menunjukkan determinasinya untuk membentengi Rupiah. “Bisa saja disebut taringnya Bank Indonesia keluar. Keberanian seperti inilah yang kita butuhkan, disaat menghadapi kondisi ekonomi dunia yang sekarang ini, kita melihat banyak ketidakpastian,” ujar Presiden.

Turut mendampingi Presiden dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia ini antara lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Selain itu tampak hadir juga Wakil Presiden RI ke-11 Boediono, dan sejumlah menteri Kabinet Kerja.

Langkah BI

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan untuk  fokus menjaga stabilitas di 2019. Sementara itu, kebijakan yang akomodatif akan ditempuh di bidang makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, dan ekonomi syariah.  

Perry menjelaskan, kebijakan moneter yang antisipatif akan berlanjut untuk menjaga stabilitas, khususnya inflasi agar sesuai sasaran yaitu 2,5-4,5% dan nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi. "Kebijakan moneter yang pre-emptive dan ahead the curve akan dipertahankan di 2019,” kata dia dalam pidatonya pada Pertemuan Tahunan BI di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Sepanjang tahun2018, kebijakan moneter yang antisipatif ditunjukkan BI dengan menaikkan bunga acuan total 175 basis poin ke level 6%. Kebijakan tersebut untuk merepons kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang memicu pembalikan modal asing. Selain itu, untuk meredam defisit transaksi berjalan imbas peningkatan aktivitas ekonomi. Dengan begitu, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan terjaga.

Ke depan, Perry meyatakan stabilisasi nilai tukar rupiah juga akan tetap dilakukan lewat jalur intervensi di pasar valuta asing dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). “Terutama saat terjadi pembalikan modal asing,” ujarnya.

Adapun kecukupan cadangan devisa akan dijaga dan kerja sama bilateral dengan bank sentral negara lain, maupun kerja sama multilateral dalam Chiang Mai Initiative akan terus diperkuat. Kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi di kawasan juga akan diperluas. Selain itu, kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan juga akan dijaga.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan ditempuh untuk mendorong intermediasi perbankan dalam pembiayaan ekonomi. Menurut Perry, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) akan ditinjau dari waktu ke waktu untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan sekaligus memperluas pendanaan dan pembiayaan ekonomi melalui penerbitan surat-surat berharga.

Ketentuan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) juga akan dipantau untuk mendukung manajemen likuiditas perbankan. Lebih jauh, BI menyinggung tentang penyempurnaan rasio pembiayaan untuk UMKM dan pengembangan rasio pembiayaan untuk sektor prioritas, yaitu ekspor dan pariwisata.

Pengawasan juga akan diperkuat terhadap bank-bank besar dan korporasi yang sistemik, khususnya di sektor komoditas primer, properti, dan mempunyai utang luar negeri yang tinggi. Hal ini untuk menjaga ketahanan ekonomi.

Kemudian, kebijakan sistem pembayaran akan terus dikembangkan untuk kelancaran, e­fisiensi, dan keamanan transaksi pembayaran nontunai maupun tunai, termasuk dalam mendukung ekonomi dan keuangan digital. Dari sisi nontunai, pengembangan infrastruktur dan instrumen akan terus dilakukan. Sedangkan dari sisi tunai, pengedaran uang akan terus ditingkatkan ke berbagai wilayah di Tanah Air.

Selanjutnya, akselerasi pendalaman pasar keuangan akan terus didorong untuk mendukung efektivitas kebijakan BI dan pembiayaan ekonomi secara lebih luas. Di pasar valas, volume transaksi dan penggunaan instrumen spot, swap, dan Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF) terus didorong untuk meningkatkan likuiditas, efisiensi, dan market conduct dalam penentuan nilai tukar rupiah sesuai mekanisme pasar.

Demikian juga di pasar uang, volume transaksi dan penggunaan instrumen repo dan Interest Rate Swap (IRS) terus didorong untuk meningkatkan likuiditas, efisiensi dan market conduct di pasar uang antarbank dalam pembentukan yield curve di berbagai tenor.

"Kami meyakini kedalaman pasar uang akan mendukung semakin berkembangnya penerbitan dan transaksi surat-surat berharga jangka panjang dalam pembiayaan ekonomi," ujar dia.

Pendalaman pasar uang tersebut juga diperkuat dengan penerbitan regulasi market operator serta pengembangan infrastruktur Electronic Trading Platform (ETP), trade repository, dan pendirian Central Counterparty (CCP) untuk transaksi derivatif. Di sisi lain, BI akan terus berpartisipasi dalam berbagai instrumen pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur.

Terakhir, kebijakan yang akomodatif juga akan terus diterapkan untuk pengembangan ekonomi keuangan syariah. Ekonomi Syariah diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Menurut Perry, pengembangan ekonomi syariah akan didorong melalui pengembangan ekosistem halal value chain, khususnya di sektor makanan, fashion, dan pariwisata. Selain itu, kapasitas usaha syariah di lingkungan pesantren akan kami tingkatkan melalui berbagai linkage usaha antar pesantren, termasuk melalui pengembangan virtual market.

BI juga akan menerbitkan Sukuk Bank Indonesia (SUKBI) sebagai instrumen moneter syariah yang dapat diperdagangkan sehingga memperkuat manajemen likuiditas perbankan syariah dan mendukung pengembangan instrumen keuangan syariah jangka panjang. (bi/bs)


Sumber : https://jpp.go.id/keuangan/perbankan...entengi-rupiah

---

Kumpulan Berita Terkait KEUANGAN :

- Ini Langkah Tegas BI Membentengi Rupiah Indonesia Kembali Pimpin Sidang Internasional Terkait Kekayaan Intelektual

- Ini Langkah Tegas BI Membentengi Rupiah Nol Rupiah Pungutan Produk Sawit dan Turunannya

- Ini Langkah Tegas BI Membentengi Rupiah Inilah Wujud Pemerataan Ekonomi Melalui Dana Desa dan Dana Kelurahan

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di