alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Velox et exactus : Sang pejalan sunyi (based on true story)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfdb4749e740439688b4568/velox-et-exactus--sang-pejalan-sunyi-based-on-true-story

Velox et exactus : Sang pejalan sunyi (based on true story)

salam hormat agan agan.....
sebenernya ini bukan cerita ane, ane hanya meneruskan cerita dari kawan deket ane yang kebetulan, memiliki perjalanan hidup yang unik... ini cerita tentang perjalanan seorang "operative", memang berbau dunia abu abu yg biasa kita sebut intelijen, saya kenal beliau sebagai seorang "operator" hebat, kebetulan beliau ingin membagi pengalaman masa lalunya, tentu yang udah di edit dan sadur, sehingga tempat,nama tokoh dan teknik bisa disamarkan, keinginan beliau sederhana...membagi wawasan dan pandangan bahwa menjadi intelijen adalah profesi yang normal namun unik..... semoga agan agan berkenan, salam hormat.

(update berkala sesuai kiriman yang punya cerita)

Siang itu langit kota solo tertutupi awan gelap, waktu menunjukan hampir pukul 2 siang. Suara desingan senjata MP7 terus bersautan, sesekali diiringi suara desingan MP5 yang ku tembakan dari tanganku. Lapangan tembak di pinggiran kota solo hari itu cukup ramai, riuh percakapan terdengar diantara para penembak yang sedang berlatih. Tanpa memperdulikan penembak lain aku terus menghabiskan magasen MP5 ku yang kuisi sekitar 15 peluru. Aku terhenti sejenak. Aku pikir cukuplah untuk siang ini ku abiskan sekitar 80 peluru.


Sejenak aku duduk dipinggir lapangan tembak, kebetulan tidak jauh dari posisiku menembak ada saung yang diperuntukan untuk istirahat para penembak, aku terdiam dengan botol air mineral yang kubawa, sambil sesekali aku seruput isi botol tersebut yang kebetulan aku isi dengan jus buah naga. Pikiranku pengawang jauh kebelakang dalam benaku terbayang semua kejadian yang telah aku lalui hingga sampai pada titik ini.

Namaku Arthur, umurku 27 tahun aku lahir dari keluarga besar yang memiliki nama serta pengaruh luar biasa baik di kalangan politisi maupun kalangan preman di Indonesia. Namun itu hanya bagian dari keluarga besarku. Aku tumbuh di keluarga kecil yang sederhana, anak ke 2 dari 2 bersaudara, ya akulah si bontot yang terkenal dengan nakalnya serta keras kepala. Ayahku seorang karyawan dan ibuku seorang ibu rumah tangga.

Arthur kecil tidak pernah kekurangan kebutuhan, orang tua ku adalah pekerja keras yang sangat mendahulukan kepentingan anak anaknya. Terlebih ibuku, seorang wanita tangguh dengan disiplin sangat keras dan penanam rasa tanggung jawab yang handal pada anak anaknya. Aku tumbuh menjadi anak yang periang, pecinta petualangan dan cenderung di anggap nakal pada saat itu. Sedangkan kakak ku adalah laki laki yang tumbuh dengan segala “kelas dan elegansi”, sangat jauh bertolak belakang dengan ku.

Petualang? Yaa Arthur kecil senang menyusuri padang rumput, sungai-sungai, memanjat pohon di kebun kebun buah. Maklum dipinggiran Jakarta tempat aku tinggal pada jaman itu masih banyak sungai-sungai kecil, kebun kebun dan tanah lapang. Arthur kecil adalah anak yang aktif dan atletis yang bisa bergerak kemanapun dia  mau dan sejauh yang dia mampu.

Tumbuh di keluarga yang tinggi nilai nilai disiplin membuat ku harus pintar pintar mengatur waktu, Karena bila telat pulang bermain bukan tidak mungkin amarah mendarat disisa hari. Tugas sekolah dan kesiapan untuk sekolah harus sudah di kerjakan tepat pukul 7 malam. Dibalik jiwa petualangku aku menyimpan hobby yang tidak dibayangkan oleh anak seusiaku pada saat itu, yaitu membaca. Apapun aku baca dari Koran hingga komik, tidak heran koleksi bacaan yang ada di kamarku sangatlah banyak mulai dari bacaan berat hingga ringan.

Aku ingat  betul bagaimana kelas 6 SD aku menghabiskan waktu dimalam hari dengan membaca buku karangan Ir soekarno berjudul “ dibawah bendera revolusi jilid II” walaupun ejaan yang dipakai di buku kepunyaan oom ku itu memakai ejaan lama dan kertasnya mulai menguning, dengan telaten aku baca, banyak hal yang sulit ku mengerti pada saat itu dan baru aku mengerti belasan tahun kemudian.

Mungkin kedekatan ku dengan ayahkulah yang membuat aku memiliki rasa senang untuk membaca, beliau adalah orang yang memiliki wawasan luas yang didapat dari membaca buku, seorang ayah yang dibesarkan dikehidupan tentara (karena kakekku seorang tentara) yang akhirnya menurunkan jiwa petualangku, aku ingat betul sedari kecil aku tertarik pada persenjataan, ayahku membelikan ku buku tentang senjata, darisitulah aku mengenal mekanisme senjata baik tradisional maupun modern, mungkin pada saat itu aku  satu satunya anak SD yang dapat menjelaskan secra detail bagaimana sejarah senjata AK 47 serta mekanisme kerjanya…. Hahahah.

Aku sering menanyakan segala hal pada ayahku dan hampir semua pertanyaanku bisa dia jawab, seorang lelaki penyayang keluarga yang sangat hebat. Arthur kecil tumbuh menjadi anak yang periang dan tergolong cerdas untuk ukuran seusianya. Berbeda dengan aku, kakaku seorang yang cenderung “rapih” dalam hidupnya terkadang kami selalu berkelahi karena dia melihat diriku sebagai sosok yang cuek, terutama soal penampilan, aku cenderung suka apa adanya, tidak menuntut haris mix and match terutama dalam berpakaian.

Kakaku cenderung menganggap rendah gaya ku, mungkin karena dia hidup  penuh penggambaran seorang priyayi kerajaan (kebetulan keluargaku memiliki garis keturunan pangeran solo) yaa kalau di ibaratkan tentara amerika kakakku sosok Military police yang  cenderung rapih dan tertata sedangkan aku adalah sosok navy seal yang bisa berpakaian urakan dan tanpa aturan kerapihan yang baku.

Tidak jarang aku direndahkan di tengah keluarga besarku oleh kakaku sendiri, terkadang aku  merasa rendah diri, namun terkadang aku tidak peduli. Tidak jarang kami bertengkar hebat sampai pukul pukulan untuk menyelesaikan sebuah masalah, walaupun akhirnya masalah tidak juga terselesaikan.

Memasuki masa SMP kami  sekeluarga mengalami takdir yang besar, ayahku meninggal  dunia disebabkan oleh penyakit jantung bawaan dari lahir yang diketahui setelah beliau umur 47 tahun. Aku kehilangan seorang sahabat, teman sharing, seorang ayah yang tangguh. Pada saat itu pikiranku bergejolak hingga tak setetes air matapun sanggup aku jatuhkan. Sejak itu hidupku berubah, Arthur kecil tidak lagi punya tempat bertanya, tempat mengadu dan tempat berbagi cerita. Keadaan ekonomi juga berubah walaupun keluarga ayah ikut membantu sehingga untuk sekolah dan kebutuhan dasar kami tidak pernah kekurangan.

Beranjak dewasa aku tumbuh menjadi anak yang bisa dibilang aktif, walau secara fisik aku cenderung jauh lebih kecil dibanding kawanku yang lain. Masa SMP ku cukup menyenangkan, bukan karena aku anak yang pintar secara akademis, namun karena ibuku sangat aktif sebagai komite sekolah, jadi guru guru agak sungkan seandainya aku bertindak naka disekolah. Walaupun mereka yakin kalau dilaporkan ke ibuku hari itu juga aku bisa di damprat habis habisan. Walaupun nakal aku tidak pernah membolos atau mengambil uang bayaran sekolah,  mungkin karena kedisiplinan yang ditanamkan oleh ibuku itu yang membuatku menganggap bolos sekolah dan korupsi uang bayaran bukanlah hal yang “boleh dicoba”.
Masa masaku SMP inilah aku kenal dunia dunia tongkrongan. Mulai dari minum hingga judi, walaupun aku sendiri tidak suka bermain judi, paling pada saat itu aku minum sebatas beer atau anggur yang dibeli sembunyi sembunyi. Walaupun dikenal anak yang periang namun aku cenderung menghindar dari sorotan publik, aku tidak terlalu suka menjadi anak yang menonjol dan cenderung  memilih menjadi “biasa” di tengah- tengah kehidupan sosialku.padahal jika mau aku mampu lebih berprestasi dan bisa jauh lebih terkenal.

Pada masa itu HP merupakan barang baru dan menjadi barang mewah,  semua kawan-kawanku memiliki HP dan saling bersosialisai melalui SMS maupun telepon ( walau padasaat itu tariff masih tinggi) sedangkan aku memilih untuk tidak memegang HP bukan karena tidak mau namun cenderung tidak mampu, kasihan ibuku kalau aku meminta barang yang tergolong barang tersier pada saat itu. Tapi aku tidak sendiri, masih banyak kawanku yang tidak ber HP sehingga dalam lingkup  permainanku tidaklah mempengaruhi banyak.

3 tahun masa SMP tidak meninggalkan kesan yang mendalam bagiku keculai saat ayahku pergi menghadap Sang Pencipta. Saat kelulusan aku bingung memilih SMA, nilaiku terbilang pas-pas an tidak bagus tidak pula jelek. Akhirnya aku memilih sebuah SMA swasta (lagi….. karena SD,SMP ku juga swasta) sekolah di selatan Jakarta ini dahulu terkenal dengan tawurannya. Dan ini pertama kalinya aku sekolah jauh dari rumah.
Wilayah baru,tradisi baru, lingkungan baru memberikan tantangan tersendiri bagi diriku, aku yang notabene datang dari sekolah dengan tradisi “bermain” bukan tradisi “bertempur” harus adaptasi dengan cepat. Aku tidak sendiri, beberapa kawan SMP  ku juga masuk sekolah yang sama dengan ku, namun tidak semuanya bertahan setidaknya 1 dari kawanku keluar karena tidak tahan tekanan mental kakak kelas yang luar biasa, bahkan seorang yang di cap jagoan di SMP ku saat masuk SMA ini kehidupannya bagai kucing basah.

Kelas 1 SMA hidup  bagai neraka, setiap hari tidak kurang dari 2 kali tamparan senior mendarat di mukaku dan kawan kawanku, setiap pagi dan sore perintah tawuran selalu tersiar di telingaku,setiap hari uang kolektif selalu diminta oleh seniorku sebesar 2000 per orang, uang jajanku hanya 10.000 sehari, 4000 ongkos pulang pergi, 3000 untuk makan, 3000 uang kolekan, karena kolekan terjadi pada 2 sesi, istirahat pertama 2000 istirahat ke 2 1000 rupiah. Kadang kalau kolekan lagi banyak aku tidak makan sama sekali.

Ekonomi keluargaku memang sedikit menurun pada masa ini, karena ibuku harus fokus mengkuliahkan kakaku, dimana kuliahnya cukup mahal, meskipun keluarga besar ayahku membantu biaya kuliah kakaku namun ibuku tetap bertanggung jawab atas kuliah kakaku dan sekolahku. Pernah sewaktu-waktu aku tidak punya ongkos dan harus pulang jalan kaku ke rumah yang jaraknya kira kira 18 km dari SMA ku. Disiksa,dipalak,segala tindakan sudah pernah aku rasakan bahkan saat di tatar, yang namanya tendangan dan pukulan senior mendarat dibadanku yang cenderung kurus dan muku yang kutu buku ini (aku memakai kacamata sejak kelas 4 SD).

Masa SMA begitu sulit bagiku, semua penderitaan aku terima dengan lapang dada walaupun tidak ikhlas, pernah suatu hari kami dikumpulkan di WC pria hanya untuk di tamparin. Atau si suruh merokok  dengan rokok yang dibasahi air kencing senior, semua tindakan itu atas dasar kekompakan. Di tengah semua siksaan itu aku berfikir dan bergumam dalam hati “ada tidak ya yang lebih tersiksa dari ini…? Tanggung kalo Cuma gini, kalo udah kecebur sekalian aja…!!!”.
Suatu hari kakak kelasku menawarkan ikut pencinta alam SMA, dari desas sesus yang ku dengar ini merupakan ekskul sekolah yang illegal, diisi jagoan jagoan sekolah dan pendidikannya terkenal keras kadang tidak masuk akal. Pikirku “ apalagi yang lebih tersiksa dari ini” aku meng-iya-kan ajakn tersebut walaupun setiap waktu pendidikan tiba ibuku selalu melarang sehingga aku tak urung berangkat pendidikan, namun tiap latihan aku selalu ada dan loyalitasku tidak main main di tempat itu.

masa masa neraka kelas 1 bisa aku lewati hingga aku naik kelas 2  dan memilih IPS (bukan karena nilaiku buruk namun hasil psikologi yang diadakan sekolah mengatakan aku cocok di IPS). Kelas 2 semua seudah berubah, tidak ada lagi siksaan, tidak adalagi kelakuan aneh senior dll. Ada satu yang aku sadari semakin aku dewasa bahwa aku tidak memiliki kawan yang abadi, aku tidak tau sedari kecil walaupun memiliki kawan dekat bahkan hampir seperti saudara, namun, aku tidak pernah terlalu terbuka akan hal hal pribadi kepada temanku, buatku semua kawan sama tidak ada yang berhak tau lebih dalam tentang diriku, semua dimataku sama dan aku main dengan mereka tanpa membedakan ras,status ekonomi ataupun agama.

Prinsip inilah yang  membuat aku bisa berada di tengah semua tongkrongan baik kakak kelas maupun adik kelas. Namun tak satupun mereka tau detail tentang aku sebagaimana persahabatan masa SMA yang di penuhi “sahabat sejati”,”geng”,”tongkrongan”. Buat aku semua sama dan aku bisa ada dimanapun aku mau, sehinggka kawanku ada dimana-mana pada saat itu.

SMA kelas 2 hobby ku tetap sama berpetualang dan membaca, aku bisa menghabiskan waktu di took buku dengan membaca buku buku biografi tokok tanpa membeli (yak arena tidak punya uang). SMA penuh kisah cinta? Mungkin tidak bagiku, dekat dengan wanita?? Banyak sekali….aku banyak dekat dengan wanita baik teman seangkatan maupun adik kelas, perasaan suka ada, namun apa  daya aku cenderung rendah diri saat mau melangkah pada hubungan yang lebih dalam. Banyak pertanyaan bergejolak di kepalaku ( HP tak punya…bagaimana mau berkomunikasi, duit pas pasan…  bagaimana mau ajak jalan, kendaraan gak ada….apa mau cewe di ajak kemana mana naik angkot dan bis???) ya aku lebih minder karena prihal ekonomi.

Hal ini yang membuat aku sering “memutus” komunikasi kepada wanita yang aku suka  walaupun sebenarnya tinggal selangkah lalu jadian. Kadang aku menghilang tanpa kabar, bukan karena PHP atau jahat tapi lebih cenderung takut tidak bisa membuat pasangan bahagia (maklum  masa itu jiwa muda). Sedangakan semua kawanku punya punya kendaraan, HP mereka up to date, membuat mereka mudah berkomunikasi dengan pasangan mereka dan berpergian dengan pasangan,aku bukannya tidak ingin seperti itu tp apa daya teringat kembali kepada ibuku yang susah payah mencari uang pasca ayah meninggal, tidak sampai hati bila aku meminta lebih.

Untuk menhilangkan rasa iri, aku lebih senang menghabiskan waktu ku di toko buku yang berada di mall-mall di selatan Jakarta. Suatu hari pada saat membaca buku biografi aku melihat buku tentang intelijen, disitu tertulis cerita tentang matahari, seorang intelijen wanita yang terkenal sepanjang masa. Aku cukup tertarik membaca cerita tentang Matahari sang intel legenda tersebut. Aku mulai berfikir dunia intelijen merupakan dunia yang menarik, aku mulai menelisik apa itu dunia intelijen, walaupun masih sebatas mencari lewat biografi-biografi tokoh atau buku buku cerita perang, karena internet pada saat itu belum semudah sekarang.

Rasa penasaranku kembali bergejolak kali ini bukan tentang “apa yang paling menyiksa” namun pada “apa itu intelijen?”. Aku tidak tau sama sekali dunia itu, bahkan cenderung asing di telingaku. Aku mencari berbagai sumber, terutama buku buku biografi, pada suatu hari aku menemukan buku biografi intelijen duni, wah senangnya bukan kepalang, karena saat aku membacanya aku seolah membayangkan tugas mereka yang penuh aksi dan intrik. Aku jadi senang nonton film seperti james bond yang penuh aksi.

Rasa semangatku mengetahui dunia intelijen sangat besar, terlebih ada 1 kejadian yang membuatku semakin kagum dengan “keagungan” dunia intelijen. pada saat itu aku datang ke sebuah pameran pendidikan dan disana ada booth sekolah tinggi intelijen Negara, salah satu taruni mempraktekan memasang senjata dengan mata tertutup. Bukan main aku kagumnya, aku ambil brosur daari booth tersebut dan mulai berfikir “ I have to be there…..i want that uniform”.
Semakin kudalami artikel-artikel tentang intelijen dan apa yg ku dapat??? NOTHING!!! I’ve got NOTHING….namun impian itu terus hidup di dalam pikiranku. Tidak terasa aku sudah mau kelas 3 SMA. Semakin dekat dengan masa masa akhir sekolah.

Menurutku masa kelas 2 SMA adalah masa dimana semua lebih menyenangkan namun Arthur tetaplah Arthur yang dulu. Di cap anak nakal,pembuat onar, frontal dalam menyampaikan pendapat namun paling disiplin tetap tidak pernah bolos,berpakaian rapih dan taat bayaran sekolah. Hahahahah.
Ketertarikan ku dalam dunia intelijen semakin mendalam, aku semakin penasaran dengan dunia yang diselimuti kabut dan banyak orang menganggap sebagai dunia yang penuh tipu daya. Sedikit demi sedikit aku mulai mempelajari dari PDF-PDF yang ku download, dari membaca cerita-cerita Intelijen yang kudapat dari buku. Dan aku tersadar bahwa ilmu-ilmu intelijen hakikatnya melekat pada diri setiap manusia, namun banyak orang yang tidak menyadari bahwa ilmu tersebut sebenarnya diaplikasikan pada kehidupan sehari hari setiap orang.

Pada dasarnya intelijen adalah masalah 3 hal, penyelidikan,penggalangan dan pengamanan. Ya ketiga hal tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seorang manusia. Namun kita sering tidak sadar menggunakan teknik-teknik intelijen dalam kehidupan sehari-hari atau lebih tepatnya tidak tahu bahwa itu adalah dasar kemampuan intelijen.hal inilah yang membuatku semakin mudah dalam bergaul,mengambil dasar keputusan bahkan dengan mudah akumendapat informasi-informasi yang krusial baik di tingkat tongkrongan anak anak maupun lingkup guru-guru. Hal ini pula yang membuatku mudah mendapatkan pengaruh baik dimata guru maupun dimata kawan kawan lainnya.
Suatu hari terjadilah keributan kecil di sekolah “besar” ku. Keributan sepele antara guru dan murid, namanya santo, tipikal murid urakan namun memiliki banyak teman dan terkenal dengan solidaritas yang tinggi, konflik kecil tersebut membuat santo harus di keluarkan dari sekolah, karena entah sengaja atau tidak lawan yang ia hadapi adalah guru yang terkenal punya pengaruh di lingkungan sekolah maupun yayasan.

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Part 2

Sore hari, pada saat jam sekolah usai, aku datang ke warung biasa kami anak anak tongkrongan berkumpul. Disana sudah terlihat beberapa anak anak “berpengaruh” sedang mendiskusi kan kejadian di pagi hari, yang membuat santo di keluarkan dari sekolah pada hari itu juga. Aku ingat betul bagaimana beberapa temanku seberti Hendrik,Roy,Fredo,Irvan,Udin,Raufik sedang berdiskusi.

“gimana tadi, kok bisa jadi begini” saut ku pada mereka. “ iya nih thur, gmn menurut lo?” jawab Irvan, “gue?? Kalo gue sih ya gampang, kalo kalian merasa gak adil demo aja…” jawabku.
“gimana gerakin masanya?” Tanya Hendrik. Lalu tak lama udin yang notabene kakak kelas kita (damn I hate this guy, sooooooo bullshit) menjawab “ yaudah bsk kita demo aja, kelas 3 nanti gue kordinir”. “oke.” Jawabku singkat.
“yaudah, besok kita gerak setelah jam istirahat pertama” kata raufik. BTW raufik memang terkenal pentolan sekolah, pengaruhnya besar walaupun dia masih kelas 2 (karena veteran). Nyalinya terkenal besar dan nekat.
Pikir ku pada saat itu bagaimana mengambil hati anak anak yang lain agar pergerakan kita serentak dan massive, kebetulan aku dekat dengan seorang wanita yang cukup popular di sekolah, namanya Ussy, “sy, menurut kamu gmn kasus si santo?” ,” kasian juga dia thur…masa langsung di cabut dari sekolah” jawab ussy. “ iya ya kasian, bsk kita mau medias sm sekolah, kira kira anak anak cw angkatan kita bisa dukung nggak?” tanyaku. “pasti lah, santo kan angkatan kita juga” jawab ussy.

Oke, dalam benakku ussy sudah bisa ku pengaruhi untuk melancarkan aksi esok siang. “oke sy, besok abis jam istirahat pertama ajak temen temen yak ke kantin,kita kumpul dulu”. “ emang mau demo thur?” Tanya ussy. “gak tau sy, yang penting kita kumpu dulu aja” jawabku dengan muka pura pura polos.
Lalu aku tinggal ussy, wanita semampai dengan rambut lurus hitamnya, mukanya yang manis, sebenernya saying untuk di tinggalkan begitu saja, tapi daripada semakin dia banyak bertanya dan efek kejut dari demo kami terendus sekolah, mending aku tinggalkan.
Hari itu membuatku cukup lelah, aku pulang dengan kepala penuh tanda Tanya, “apa yang terjadi esok?”. Aah sudahlah biar kita liat apa yang terjadi esok.

pagi hari sekolah berjalan seperti biasanya, saya melihat tidak ada tanda tanda pergerakan atau sikap antisipasi guru, semua berjalan normal, sepintas saya dengar di kantin saat pagi hari, SMS berantai tentang demo di siarkan subuh tadi. Pikirku pasti belom bocor SMS tersebut, dan beberapa kawan kawan menanyakan hal tersebut kepada ku, aku pura pura tidak tahu, tidak meng”iya” kan tidak juga berkata “tidak”.

Dalam pikiranku seandainya ini gagal pasti semua yang terlibat di “meeting” kemarin sore akan menjadi masalah baru. Bel istirahat mulai berbunyi, kami masih bergerak seperti biasa, aku mulai menyiarkan berita demo saat istirahat sedang berlangsung, dan ku iming imingi semua orang dengan bualan “solidaritas” padahal jujur dalam hati, demo ini akan sia sia, tapi aku tau ini baik untuk sebuah kejutan pada system sekolah yang aku nilai otoriter.
Taklama bel tanda masuk kelas berbunyi, bukan main kagetnya guru guru, tidak ada yang masuk ke kelas namun semua berkumpul di kantin dan berjalan ke lapangan sambil berteriak dan berorasi, namun tak sedikit yang menikmatinya sembari ngobrol “ mumpung tidak ada pelajaran”.

Hari itu aksi berjalan sampai sisa waktu pelajaran, bahkan guru guru dibuat sangat pusing dengan tingkah anak anak, beberapa kawanku seperti Hendrik,Roy,Fredo menjadi motor utama. Aku tau ketiga temanku ini butuh eksistensi, kalau aku??? Seperti biasa hanya duduk menonton, sembari berkata sama 3 kawanku tadi “bro,kayaknya kalo kita duduk di tengah lapangan bareng bareng lebih asik aksinya….” Saut ku pada mereka. “ wih bener tuh thur” jawab fredo.
Akhirnya mereka bertiga mengkoordinir anak anak lainnya untuk lebih merangsek ke dalam lapang, dari kejauhan aku liat ruang guru mulai panic, dan sempat terjadi teriakan, demi deriakan dari arah ruang guru, entah mereka takut atau marah…. Ah bukan peduli ku, yang penting aku senang ada demo.

Akhirnya sore hari tiba, seperti yang aku ramalkan demo ini tidak akan berefek signifikan, santo tidak kembali, pun guru guru tidak berubah sikap, setidaknya ini menjadi kejutan bagi mereka. Kami pun membubarkan diri, aku hanya tersenyum “hebat…keren…pada panic tuh guru guru….” Puji ku pada para coordinator aksi tersebut. Nama mereka melambung baik di antara guru, maupun murid murid, aku??? Tetap pada prinsip “aku tak mau menjadi raja, hanyak menjadikan orang menjadi raja”…. Yap berdiri di belakang layar, tanpa terendus.

next update...ASAP
Lanjut gan, jangan sampai kentang ya
Seruuu nih story nya lanjuut gan. Di tunggu update nya. emoticon-Blue Guy Smile (S)
lanjut bro.. jgn ada kentang diantara kita
Balasan post asob619
Begitu tulisan terkirim akan langsung di update gan
UPDATE

Semakin hari, ketertarikanku dengan dunia intelijen semakin menjadi, pembelajaran dari artikel ke artikel semakin ku dalami, tak terkecuali menjelajah dunia maya demi mendapat “apa dan bagaimana” intelijen itu. Jujur pada masa itu pandanganku terhadap intelijen masih hanya sebatas penjejakan fisik,penyusupan, dll, yaaaa bisa dibilang masih sangat teknis belum langkah strategis. Kebiasaan ku untuk “mempelajari” orang membuatku mudah untuk masuk dan berbaur dengan banyak kalangan. Ini menjadi semuah keuntunganku dalam bergaul dan mendapatkan informasi-informasi penting di tongkrongan.

Tak terasa saya memasuki kelas 3 SMA, senang rasanya, tidak lama lagi lulus sekolah dan mungkin bisa masuk STIN seperti harapan, nampaknya harapan tinggal harapan, dunia intelijen semakin abu-abu,STIN semakin “jauh panggang dari api”. Namun aku tidak putus asa, semakin ku cari bagaimana bisa mengabdi sebagai intelijen, pencarianku tanpa sengaja menemukan sebuah komunitas dunia maya, sekumpulan agen-agen senior yang berkomunikasi melalui wadah online. Kegemaranku akan membaca membuat aku cukup up to date dalam menelaah kejadian-kejadian baik nasional maupun internasional, walaupun secara analisis masih dangkal, apalah kemampuan anak SMA untuk menganalisis sebuah kejadian nasional dll… heheh

Dari pertemuan itulah saya mulai mempelajari pola pola komunikasi mereka, mempelajari gaya gaya tulisan mereka dan analisis-analisis serta informasi-informasi tersirat yang kadang mereka bagikan, saya memahami, bahwa mereka adalah agen agen senior yang memiliki kemampuan hebat, bahkan saya yang seorang anak kecil pada waktu itu melihat pola komunikasi mereka sangat kaget “ oooohhh….. ini dunia inteijen yang sebenarnya” gumam ku dalam hati. Sangat berbeda jauh dari apa yang ada di film dan bayangan diriku. Sesekali aku ikut mengobrol dengan mereka, hari semakin hari aku semakin dekat, setiap ada kesempatan online selalu aku mampir ke “rumah daring” perkumpuan itu.

Saat kelulusan tiba, aku dinyatakan lulus,sangat bahagia orang tuaku, namun apa daya, ibuku tidak memiliki biaya untuk aku mengenyam kuliah, sungguh hancur hati ini, tapi apa daya keterbatasaan membuat aku harus mengalah dengan kakak ku yang sudah lebih dulu kuliah, kebetulan kuliah kakaku di biayai keluarga ku, sedangkan untuk ku??? They left me behind.

Hari hariku hanya ku isi dengan kegiatan kegiatan di dalam rumah, kadang online dan berbincang dengan kawan kawan. Semasa “pengangguran” ku, aku terus menggali mengenai intelijen. hingga suatu saat salah seorang admin “rumah daring” mencoba menjalin kontak dengan diriku, bukan masalah intelijen namun hanya ngobrol-ngobrol biasa, seputar perkembangan situasi keamanan, ku ladeni obrolannya yang menurutku lumayan asik.

Sebut saja namanya Adrian, kami kenal melalui “rumah daring” dan dia adalah salah seorang admin dari “ rumah daring” itu. Kita berbicara panjang lebar, baik masalah keluarga maupun masalah yang lain, namun tetap pada batasan tertentu, saya tidak terbuka,begitupun dia. Komunikasi kami berjalan layaknya kawan. Hingga sekitar 8 bulan. Tidak terasa hampir setahun aku menganggur. Akhirnya ibuku memiliki rejeki untuk aku melanjutkan kuliahku.

Aku memilih kampus yang cukup murah namun bagus di wilayah Jakarta, dan mengambil fakultas FISIP. Masuklah aku dengan segala dinamika yang ada. Ya sebagai freshmen di kampus tentu banyak kegiatan yang aku ikuti, seperti ospek, baksos dan diklat-dilkat organisasi lainnya yang terkesan “wajib”. Semua kujalani dengan rasa iklas dan senang. Mungkin dasarnya sudah biasa menderita jadi di otakku hanya ada pikiran “what next??”. Aku senang membuka jaringan baru, melihat alur-alur politik kampus yang dinamis dengan segala konfliknya yang menurutku, penting gak penting… hahahah…. Dunia utopis aktivis kampus yang penuh kemunafikan.

Kampus yang ku masuki ini punya posisi strategis secara geografik, posisinya membelah Jakarta pusat dan selatan tepat di tengah-tengah. Dari awal masuk aku sadar bahwa jika terjadi sesuatu di wilayah ini akan ada minimal 2 polsek dan polres yang dilibatkan, “keramaian” yang sungguh hakiki. Namun aku tidak pernah mau terlibat hal hal politik kampus, sebagai freshmen kerjaanku hanya kuliah,main futsal dan pulang. Lama aku tidak berkomunikasi dengan komunitas intelijen yang pernah aku sambangi, bahkan keinginanku untuk menjadi intelijen hampir terlupakan.

Mungkin terakhir aku berbicara via YM (aplikasi chat by yahoo) dengan Adrian sekitar 7 bulan yang lalu. Aku ingat betul pembicaraan terakhir kita “can I have your number??” ucap Adrian, dan kuberikan nomorku begitu juga dia, memberikan nomornya. 7 bulan lamanya tidak berbicara dan berkontak, akupun menjalani kehidupanku sebagai mahasiswa dengan normal.
Saat itu memasuki masa ujian akhir semester, menandakan aku mau masuk semester 3 dan tahun ajaran baru. Siang itu aku ujian pukul 9 pagi hingga 12 siang. Aku menyelesaikan ujianku lebih cepat 1 jam dari waktu yang ditetapkan. Hari itu cukup cerah dan tampak normal. Tidak lama setelah ujianku selesai masuklah sebuah SMS dari nomor yang tidak ku kenal. SMS itu ber isi “meet me at gramedia (lokasi disamarkan) 1400”.

Intuisiku mengatakan ini Adrian. Aku berangkat ke daerah yang dijanjikan, butuh waktu 1,5 jam untuk menuju kesana, yaaa Karena memang pada saat itu aku masih menggunakan angkutan umum dan tidak memiliki kendaraan pribadi
20 menit sebelum waktu yang di tentukan saya tiba di lokasi. Saya mencoba men-screening lokasi gramedia, melihat gerak gerika orang sekitar, apakah ada yng mengikuti atau mengawasi saya, karena bisa jadi ini jebakan. Otak saya mulai membayang kan situasi evakuasi diri seandainya pertemuan tidak berjalan lancar. Hampir 1 jam saya menunggu. Tak lama SMS baru masuk “are you there??” Tanya nomor asing itu. “yap” ku jawab singkat lalu dia membalas “which one my friend?” tak berselang lama saya membalas “blue T shirt, Islamic book section”. Percakapan begitu menegangkan. “okey, pergi ke bagian arsitektur, disitu ada orang pakai cincin perak di tangan kanan, Tanya (sensor), kalo jawabnya (sensor) berarti itu saya” lalu nomor itu membalas.

Saya mulai menuju bagian buku arsitektur, selang beberapa menit saya menemukan ciri-ciri yang di sebutkan, lalu saya ucapkan sandi yang telah di sepakati. Ada tatapan dingin yang menyelimuti orang tersebut, jantung saya rasanya mau copot, tapi saya tetap berusaha PD tanpa terlihat grogi sedikitpun. “akhirnya kita ketemu” ucap Adrian. Benar intuisiku adrianlah yang mengajakku untuk bertemu. Lalu kami memilih pindah ke sebuah café donut tak jauh dari gramedia.

Banyak obrolan yang kami buka, mulai dari kuliah sampai masalah sepak bola, tak sedikit pun berbicara tentang intelijen dan semacamnya. Sampai pada satu titik dia menyanyakan “ are you ready my friend?” “for what?” jawabku… dia hanya tertawa namun menatap serius. “ you’ll be ready!” jawabnya. Semenjak itu aku tau hidupku tidak akan pernah sama

(bersambung)
wah seru nih tentang intelijen...

dilanjut om, ga sabar nunggu lanjutannya...
Jadi apanih, kedepanya ...emoticon-Shakehand2
ini nih kisah yang gw cari2... akhirnya ada juga cerita tentang dunia abu-abu yang penuh dengan intrik... semoga updatenya lancar...
Belum ada update bos?
Balasan post masbawor
Orangnya lagi ke papua
dunia abu abu. dia yang paling tahu siapa lawannya
Balasan post anakbaru123
Quote:


berarti nanti ada cerita2 tentang kondisi papua yang sebenarnya dong...
wah ane kenal banget ni semboyan nya velox et exactus ,
semoga ane bisa masuk kesana juga tahun depan
emoticon-Big Grin
emoticon-I Love Indonesia
mencoba menikmati konsep kisah ini..
lanjutkan................


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di