alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Tukang Ojek Online Bukan Profesi Hina
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfd4dc06208810e568b4568/tukang-ojek-online-bukan-profesi-hina

Tukang Ojek Online Bukan Profesi Hina

Tukang Ojek Online Bukan Profesi Hina

Untuk kesekian kalinya Calon Presiden (Capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto mendapat protes dari masyarakat terkait narasi pidatonya. Pekerja transportasi, khususnya tukang ojek online atau lebih dikenal dengan sebutan ojol merasa sakit hati dengan pernyataan Prabowo.
Unjuk rasa driver ojol menuntut Prabowo untuk meminta maaf terjadi di beberapa kota, seperti Bojonegoro, Malang dan Madiun. Apabila tuntutan itu disanggupi, kemungkinan Prabowo menjadi Capres yang paling banyak minta maaf dalam sejarah perpolitikan Indonesia.
Awal cerita dimulai ketika Prabowo Subianto berpidato dalam acara Indonesia Economic Forum di Hotel Shangri-La, Jakarta Selatan pada 21 November lalu. Dirinya konsisten membawa isu-isu ekonomi sebagai amunisi politik dalam panggung Pilpres 2019. Prabowo menyatakan keprihatinan terkait banyaknya lulusan SMA yang berakhir sebagai driver ojol.
“Ada meme yang menunjukkan bahwa perjalanan karir pemuda Indonesia setelah lulus sekolah dari SD sampai SMA akan menjadi tukang ojek,” katanya. Prabowo menyatakan pernyataan ini sambil menunjukkan sebuah meme. Meme itu menampilkan topi bergambar logo Tut Wuri Handayani berwarna merah, yang menggambarkan tingkat SD. Sedangkan di ujung belakang gambar, terdapat sebuah helm berwarna hijau yang menyimbolkan seorang pengemudi ojek dengang platform online.
Menurut Prabowo, driver ojol bukan merupakan pekerjaan yang baik meskipun sudah dilengkapi dengan gadget canggih dan aplikasi modern. Standar pekerjaan yang baik di mata Prabowo mungkin adalah insinyur, pilot, dokter, dan pengusaha. Secara sederhana, pernyataan Prabowo mewakili pemikiran orang-orang zaman dahulu yang tidak begitu paham dengan persoalan dan perkembangan zaman. Seperti halnya sudut pandang ibu-ibu di desa yang mengidamkan menantu PNS atau minimal juru tulis kantor desa.
Terkait pandangan prihatin Prabowo terhadap profesi driver ojol, sebenarnya sisi sebelah mana yang dimaksud? Apakah pada tingkat upah atau sistem keamanan kerja? Tidak begitu jelas dinyatakan. Jadi terkesan Prabowo prihatin hanya karena melihat pekerjaan driver ojol hina sehingga dia berkeinginan untuk menghapus profesi ini ketika berhasil berkuasa.
Sebenarnya persoalan upah rendah merupakan hal yang klasik. Insinyur, pilot, dan dokter, yang menurut Prabowo adalah profesi hebat, apabila jumlahnya berlimpah maka akan turun juga tingkat upahnya. Mereka bisa menikmati tingkat upah tinggi karena tidak banyak tersedia para pekerja dengan keahlian seperti itu. Maka keinginan Prabowo meningkatkan kesejahteraan pekerja dengan mendorong alih profesi menjadi sekelas insinyur, pilot dan dokter, merupakan omong kosong tanpa ada dasar pemahaman terkait kondisi pasar tenaga kerja.
Permasalahan khas driver ojol saat ini bukanlah soal upah, melainkan sistem keamanan kerja. Jika melihat ke belakang pada era tahun 2000, permasalahan serupa terjadi pada sopir yang bukan sebagai buruh, namun lebih dipandang sebagai mitra perusahaan.
Perusahaan pemilik aplikasi bertindak sebagai pengusaha, sedangkan upah ojol berupa komisi atas layanan yang terjual ditambah bonus sebagai hadiah atas kinerja menjual layanan dengan jumlah tertentu. Dengan status ini, pekerjaan dan karir driver ojol tidak aman karena hubungan kemitraan dengan perusahaan bisa berakhir kapan saja.
Selain Gojek dan Grab di sektor transportasi, beragam agen pemasaran berupa penjualan tiket, pulsa dan industri media dengan platform online kini mempekerjakan tenaga lepas yang dibayar dengan sistem bagi hasil atas pendapatan iklan. Ketika hal itu menjadi jalan bagi kapitalis untuk bertahan, menolak mentah-mentah sistem ini sama saja dengan membuang kesempatan investasi yang menyediakan lapangan kerja.
Misalkan Prabowo memaksa Grab atau Gojek menjadikan driver ojol sebagai buruh, kedua perusahaan ini bisa saja pindah lokasi usaha ke negara lain atau bahkan menutup perusahaannya. Hal itu akan berdampak buruk karena tenaga kerjanya tidak terserap dalam model bisnis tradisional sehingga angka pengangguran meningkat, tindak kriminalitas naik, kemiskinan merajalela, demonstrasi terjadi di mana-mana, dan prediksi Prabowo terkait Indonesia bubar pada 2030 mungkin saja terwujud.
Maka jalan terbaik yang mungkin dilakukan pemerintah adalah menyediakan regulasi agar mampu melindungi kesejahteraan, keamanan kerja, dan hal normatif lainnya seperti tanggungan asuransi. Beberapa hal tersebut yang seharusnya dipikirkan Prabowo dan tim suksesnya apabila benar-benar peduli dengan angkatan kerja yang katanya hanya lulusan SMA. Bukan malah mengumbar janji-janji aneh yang mustahil untuk ditepati jika benar dirinya terpilih sebagai Presiden RI.

sumber : https://www.qureta.com/post/tukang-ojek-online-bukan-profesi-hina
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
yang protes cebong projo, nyaru jadi ojol
tar bikin partai aje driver ojol biar nyalonin sendiri emoticon-Smilie
jama dulu lulusan sd - sma ngapain ?
kalo ga ada kerjaan, bertelur dirumah kan ?

kalo sekarang lumayan kan ?
yang repot nya OJOL / Taxol ini dijadikan pendapatan utama, bukan sampingan
saat kena suspend dadakan jadi mati langkah

gak ada salah nya minta maaf, itu menandakan mengakui kesalahan dan seharusnya tidak di ulangi kembali
tapi khusus yang satu ini sepertinya maaf itu hanya lips service saja, gak ada makna nya
lu sekolah sma,smk atau sarjana yg pada dasarnya punya ilmu dan keahlian kok bangga kerja sebagai ojol yg pada dasar cukup sebagai sampingan
Halalan toyyibah......
Kenalan ane yg tukang ojol malah banyak pro prabowo
akibat overdosis air kobokan, kadang bisa memanpatkan logic seseorang.udah itu aja.
jaman mukidi, ojol itu ilegal, gak punya payung hukum, boro boro intervensi masalah tarif.

ojol, buruh, serabutan, OB/ pekerjaan kasta bawah CUMA BATU LONCATAN jadi jgn di jadikan sbg zona nyaman dan stuck disana emoticon-army
Diubah oleh paman.beruang
yang bicara begitu kemarin adalah orang yang sudah kehabisan bahan bicara.
Bukan profesi hina kalo kerjanya bener2 narik ojol buat nafkahin diri sendiri atau keluarga, kalo sembari nyari cewek sampingan ya lain cerita, apalagi udah berkeluarga emoticon-Malu
Diubah oleh yxgk
Kgk usah melintir2 pidato deh. Kgk ada disana si wowo menghina prodesi ojol, yg diper masalahkan adalah jika ojol itu jadi profesi utama dan si pemuda ini stuck di zona nyamannya sebagai ojol. Nah misal ojol ini bermasalahan kedepannya krn tidak punya ijin mirip meikarta, nah lu orang mau kerja apa lagi? Wong kgk punya skill yg mumpuni

Jgn orang niat mau diajak maju malah dianggap menghina

Yang penting halal....
Temen adik saya S1 lulusan teknik mesin, saat lulus kmrn dia cerita kalau sempet cari kerja, karena lama tidak ada panggilan si anak ini ijin ke bokapnya utk jadi Driver Online, awalnya bokapnya g stuju,krn bokapny berpikir dia biayain kuliah slama 5thn anaknya dgn uang yg cukup gede,dan mnrt bokapnya harus bekerja di tempat sesuai. Setelah perdebatan panjang, dia meyakinkan sang bokap klo pekerjaan ini hanya sampingan saat dia nunggu panggilan kerja.
Quote:


Trus driver ojol yg masih dukung prabowo tu kampret probowo, nyaru jadi ojol gitu? emoticon-Ngakak (S)
Ojek mana hina. Sama aja kek pak pos. Apa hina?

Ojek ama petani sama aja cape kerja nya
Diubah oleh bajier
Balasan post fahm182
BetuL itu
sejujurnya sangat terbantu sekali dgn adanya ojek online, apalagi pas jam2 macet dan ke tempat yg minim parkiran.................
bicara ekonomi pakai basis data Meme??????

emoticon-Ngakak
Lebih pilih punya mantu ojol atau pegawai negeri ?
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di