alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Orang Gila Ikut Memilih?
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfd27a05a5163b0078b4569/orang-gila-ikut-memilih

Orang Gila Ikut Memilih?

Orang Gila Ikut Memilih?
Peraturan soal tunagrahita bisa memiliki hak pilih dalam Pemilu harus dibarengi dengan keputusan dari dokter jiwa. Jika tidak memiliki kesadaran dalam menentukan pilihan, maka tidak bisa dipaksakan untuk memilih.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PPP, Romahurmuziy, menjawab wartawan saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad di Pesantren Al Hasaniyah Desa Kedawon Kecamatan Larangan Brebes, Minggu (25/11/2018).

"Pertama yang diperlukan adalah rekomendasi dari dokter (jiwa) karena yang memiliki kapasitas memeriksa kondisi kejiwaan. Apakah masih memiliki kesadaran atau tidak dan mampu dalam kapastitas sebagai pemilih," kata Romahurmuziy.

Sebelum didaftarkan sebagai pemilih, tambah Romy, sebaiknya dilakukan pemeriksaan kondisi kejiwaan terlebih dulu. Jika hasil pemeriksaan dianggap bisa memilih maka perlu diberi surat rekomendasi kepada orang gila tersebut.

Dia mencontohkan, dalam ajaran Islam jika seseorang sudah mukallaf atau akil baligh maka dianggap sudak membedakan hal hak yang benar dan salah. Demikian pula seseorang yang akan memilih dalam pemilu.

"Jadi bila seseorang tidak bisa membedakan mana benar dan salah, berarti belum memiliki kapasitas sebagai pemilih dan negara tidak bisa memaksakan untuk (tunagrahita) menjadi pemilih," tegasnya.

Sumber: https://m.detik.com/news/berita-jawa...enjadi-pemilih

Lihat video Cara orang gila memilih calon presiden.

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
hmmmm....
kegilaan gag menghapus hak buat nyoblos kan
Suara kita setara org gila dong

Sebegitu gamangnya kah rezim ini??
Sampai sampai suara orang gila pun ingin diraup
yg penting dibuat aturannya saja bahwa keputusan dia menyoblos tidak ada manipulasi atau pengaruh orang lain, murni pilihan dia (kalau dia bisa sadar menjawab) emoticon-Big Grin
Terserah orangnya mo nyoblos yg mana...
mo coblos semua juga gak masalah..
Yg penting hak-nya diberikan..
cuma ditakutkan, bikin kacau TPS...
Jadi perlu pendampingan....









TS narsis..
Foto diri dipajang...
Balasan post masmomon
Quote:


Quote:
lah pemilu 2014 TS ikut Milih g ??
emoticon-Bingung
biar nambah yang milihemoticon-Leh Uga
Kita harus berpikir dua kali, kadang yang gak gila, yang waras malah pilihannya gak jelas, yang diajuin juga banyak yag gak sesuai dengan janjinya. Orang gila ini kan pemikirannya jujur dari hati, gak ditutupi apalagi dengan uang 50rb an pas mau nyoblos
Balasan post masmomon
Quote:


kacau bakalan, orang gila itu tidak mengenali dirinya sendiri gimana dia mau menentukan pilihan

Orang Gila Ikut Memilih?

emoticon-Peace
Orang Gila Ikut Memilih?

kelar idup lu bong !!! emoticon-Peace
kemenangan sudah didepan mata bong !!!!!

Orang Gila Ikut Memilih?


emoticon-Peace
Yang gila saja bisa nyapres terus tong emoticon-Leh Uga


Gila presiden emoticon-Leh Uga
Orang Gila Ikut Memilih?
Yang diatas ane contoh orang orang gila yang lolos seleksi jadi warga bepeh....
emoticon-Belgia
pas nyoblos semua harus liat, tanpa ada yg mengarahkan



karena suara NASTAK sangat di butuhkan Wiwik emoticon-Ngakak makanya aturan super goublokpun di sahkan emoticon-Wakaka





Quote:


Selanjutnya, Pasal 148 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan penderita gangguan jiwa mempunyai hak yang sama sebagai warga negara . Secara Medis, kapasitas seseorang untuk memilih dalam Pemilu tidak ditentukan oleh diagnosis atau gejala yang dialami penderita, melainkan dari kemampuan kognitif (kemampuan berpikir). Artinya, penyandang disabilitas mental seperti penderita skizofrenia , bipolar atau depresi berat tidak otomatis kehilangan kapasitas menentukan pilihan.
Diakui, penyandang disabilitas mental dengan disfungsi kognitif yang berat akan mempengaruhi kemampuan kapasitasnya, tetapi fungsi kognitif tetap dapat ditingkatkan dengan pembelajaran dan pelatihan. Umumnya penyandang disabilitas mental bersifat kronik dan episodik (kambuhan).

Jika periode kambuhan terjadi di hari pemilu, khususnya pada waktu pencoblosan, tentu tidak mungkin memaksakannya datang ke TPS untuk berpartisipasi memberikan suaranya. Namun, di luar periode episodik, pemikiran, sikap, ingatan dan perilaku penderita tetap memiliki kapasitas untuk memilih dalam Pemilu.

Kehilangan kapasitas memilih pada episode kambuh ini terjadi juga pada penyakit non-jiwa atau penyakit fisik lainnya. Penderita epilepsi misalnya, tentu tidak dapat datang ke TPS untuk memilih jika pada hari pemilu ia sedang mengalami kekambuhan (kejang-kejang). Juga untuk penderita sakit gula ( Diabetes Mellitus ), bila pada hari pemilu sedang mengalami koma diabetikus sehingga harus masuk ICU maka tidak mungkin bagi penderita untuk datang ke TPS.

Bahkan kehilangan kemampuan memilih juga dapat terjadi pada orang sehat yang tiba-tiba pada hari pencoblosan mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga tidak sadar dan memerlukan perawatan intensif.
“Jika situasi sedang tidak memungkinkan, tidak hanya penyandang disabilitas mental, siapapun tidak bisa menggunakan hak pilihnya,” ujar Ketua Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia, Irmansyah.



BANYAK BACA BIAR GAK DONGO..!! JIJIK GW SETIAP LIAT KOMENTAR LO!!
Diubah oleh noisscat
Sudah dari lama rsj di minta nyoblos.. kaum nyonyor yang gila kalo sampe tidak tahu


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di