alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Langkah tujuh terahir..
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfd142cded770ce648b456b/langkah-tujuh-terahir

Langkah tujuh terahir..

“Ayo lub, mayat adikmu kamu buang kemana lub… kok kebangeten kuwe to lub. huhuuu…”

“Sudahlah bu… Munsorif tak mati, sekarang dia di rumah sakit…, kalau ibu mau kesana ayo saya antar…” kata Gimo. “Itu becaknya masih ku suruh nunggu di luar.”

Gimo pun membawa ibunya naik becak, dan mengantarkan kerumah sakit, menunggui Munsorif.

Gimo lelah dia tiduran di atas bangku panjang di depan kamar tempat merawat adiknya, dia berpikir, satu malam, berapa tangan yang jadi korban tangannya, ah ini pasti karena keris dan batu akik yang semalem di terimanya, ah dia harus mengembalikan kedua benda itu, maka ketika setelah subuh itulah dia bertemu denganku.

Memang aku sendiri merasakan perbawa yang jahad, pada kedua benda ini, ketika memegang keris dan batu akik itu, seakan-akan dada terasa tersumbat, suntuk, sumpeg, dan berbagai perasaan yang seakan ingin marah.

Setelah pulang, aku segera masuk kamar, dan kedua benda itu ku taruh di depanku lalu kututup bantal, aku mulai wirid, membaca fatehah kepada Nabi, dan membaca fatihah kepada ketiga hadam surat ikhlas, membaca wirid tiga kali, menyalami kepada hadam yang mendiami kedua benda tersebut, dan “Demi kekuasaan Alloh yang mutlak, kembalilah kalian ke asal kalian, dengan izin Alloh… Allohu akbar,” lalu ketepuk bantal, dan kubuka, kedua benda itu telah tak ada, dan itulah pengalamanku pertama kali aku mendapatkan wesi aji, dan batu akik, setelah kejadian itu, telah tak terhitung aku didatangi, khadam-khadam, keris, batu akik, dan aneka macam pusaka, minta dirawat, tapi aku tak pernah mau menerima.

Akan aku ceritakan sedikit pengalamanku tentang aku didatangi khadam pusaka.

Waktu itu aku sedang mencari udara segar, dan sedikit hiburan, aku memutuskan pergi ke Nglirip, yaitu tempat wisata air terjun, di daerah Jojogan Singgahan, Tuban. Sampai di Nglirip setelah membeli makanan kecil dan minuman ringan aku naik ke atas bukit kecil, yang ada pemakamannya.

Aku duduk di tepi jurang, sambil makan kacang dan menikmati pemandangan.

Sungguh pemandangan yang elok, jauh di bawah sana persawahan terhampar seperti permadani beludru, rumah-rumah kecil yang cuma terlihat gentengnya saja, betapa kecilnya kita di tangan kekuasaan ALLOH Taala, pohon-pohon seperti gerumbul kecil saja, lalu kalau mata menghadap ke timur, nampak bukit kecil, dengan persawahan tumpanp sari, seperti anak tangga raksasa, suara lenguh sapi yang dibuat membajak oleh petani, seperti suara panggilan lugu alam desa. Jalan tikus para petani yang akan pergi ke sawah, seperti ular kecil yang memanjang,

Tepat di bawah kakiku, sekitar sepuluh meter, nampak jalan raya, mengitari bukit, di bawahnya lagi sungai yang mengalir terus sampai ke kampung-kampung dan sawah-sawah, menjadi tumpuan hidup para petani, satu meter ke bawah ada taman, tempat muda mudi berpacaran, sambil menikmati alam, saling bercengkrama, atau menghayalkan masa depan. Lalu di bawah lagi ada penjual makanan kecil. Dan warung minuman juga jalan kampung menurun, nampak anak kecil dan beberapa perempuan memanggul kayu bakar di punggung, berjalan. Menuruni jalan kampung.

Di belakang warung, sebuah jurang menganga, dan tempat air terjun tercurah, saat begini kemarau baru mulai, air di bawah kulihat berwarna hijau.

Air yang jatuh dan percikannya tertiup angin, menjadi uap tersedot mentari, ketika cahaya mentari menyentuhnya, terciptalah bias pelangi, melengkung. Sungguh lukisan alam yang sempurna.

Keindahan yang tumpang tindih, menjadikan mata orang menatap kagum, dan hati berperan, penilaian mengembalikan pada Sang Khalik bagi yang ada iman di dadanya, dan bagi orang yang kosong iman, menganggap ini kejadian biasa.

Aku memutuskan ziarah sebentar ke syaih Abdul Jabar. Makam orang yang ada di situ, yang menurut orang tuaku masih ada hubungan nasab kepadaku, dan sampai kepada Jaka Tingkir, mas Karebet.

Tapi aku mau berziarah saja, mengingat dia Ulama zaman dahulu, yang memperjuangkan Islam, karena hari telah sore aku memutuskan untuk bermalam di mushola, sebelah pemakaman, di mana banyak juga para musafir yang bermalam.

Usai sholat magrib dan isyak berjamaah, aku meneruskan membaca dzikir harianku, sampai malam kemudian tidur. Dalam mimpi aku merasa ditemui oleh orang tua berikat kepala putih, dan wajahnya menatap lembut kepadaku.
Kumis dan jenggotnya putih dan tak terlalu banyak, bajunya hitam legam dia berkata.

“Ngger..! Besok tunggulah warisan yang menjadi hakmu, di pertigaan Anjlog..” Cuma itu yang diucapkan lalu dia menghilang.

Aku terbangun, dan kulihat semua orang tertidur di sana-sini, aku pun melanjutkan tidur lagi.

Paginya setelah sholat subuh, aku mandi di sungai, yang airnya teramat dingin, kabut yang turun membuat pendek jarak pandang. Hanya sejauh dua meter.

Embun di rumput pun terlihat amat tebal seperti permadani putih tipis terbentang, setelah mandi, dingin tak begitu terasa lagi menggigit tulang. Karena kabut yang turun teramat tebalnya pohon-pohon besar seperti bayangan raksasa.

Tapi perempuan-perempuan desa kulihat keluar dari kabut, suara mereka bercanda seakan tak ada kesulitan hidup yang dihadapi, BBM yang harganya melambung, bahan-bahan pokok yang ikut melonjak naik, seakan bukan masalah bagi mereka, setiap wajah dihiasi keceriaan, padahal aku yakin para perempuan itu bukanlah orang-orang kaya.

Mereka hanya orang yang teramat sederhana, masak dengan kayu bakar yang diambil di hutan, yang mereka masak adalah padi yang mereka tanam dan mereka panen, lalu dibawa ke penggilingan, lauk mereka juga mereka tanam sendiri, jadi apa yang perlu dikawatirkan lagi, mungkin pergi naik mobil, belum tentu dua atau tiga tahun mereka naik mobil, jadi walau bensin oleh pemerintah dinaikkan seliter satu juta, juga tak mempengaruhi mereka, sebab naik mobil bagi para orang gunung ini adalah siksaan tersendiri, yaitu siksaan mabuk perjalanan. Mereka seperti punya negara sendiri, yang bernama Republik bersahaja. Hidup tak neko-neko, seadanya saja.

Perempuan-perempuan itu menyapaku ketika lewat di depanku.

“Nderek punten gus…!”

“Manggo… ngatos-atos…” jawabku.

Aku melangkah meninggalkan Nglirip, dan segala keindahannya.

Aku penasaran dengan mimpiku semalam, hanya bunga tidurkah. Pertigaan Anjlog sekitar dua kilo, jalan menurun, kalau ditempuh dengan sepeda mungkin tak sampai sepuluh menit tanpa dikayuh, karena jalanan menurun, malah berbahaya kalau tak punya rem.

Aku tempuh jalan itu dengan jalan kaki, disamping hari masih pagi, dan kabut tebal sekali, jalan kaki tentu menyehatkan.

Sampai di pertigaan Anjlog, matahari telah meninggi, dan kabut tinggal tipis, menyisakan butiran air di pucuk daun dan rumput, bercahaya berkilauan seperti manik-manik mutiara.

Beberapa anak sekolah bergerombol menunggu bus, ada yang berseragam biru tua, berarti anak SMP, ada juga remaja berseragam abu-abu, berarti anak SMA, kalau ada SMA di sini ya sekolah Bukit Tinggi, itu adalah nama sekolah lanjutan yang ada di bukit jadi dinamakan Sekolah Bukit Tinggi, aku sebenarnya sekalian mau cari sarapan, tapi setiap warung pinggir jalan yang kutanya, selalu menjawab belum matang, kulihat juga ada gerobak bakso, ah bakso juga tak apa-apa kalau ada lontongnya, jadi kalau kepedesan ngrokok juga lebih enak, kulihat tukang bakso menata mangkok, aku dekati.

“Baksonya sudah ada bang?” tanyaku.

“Bentar lagi gus…., silahkan duduk dulu…!” katanya hormat.

“Lontongnya ada bang…?”

“Oh ada-ada, banyak…”

Aku masuk ke dalam rumah-rumahan bambu, yang dibuat serampangan dan seadanya, hanya untuk melindungi para pemesan bakso agar bisa menikmati bakso pesanannya dengan nyaman. Saos, kecap, sambal, berjejer di depanku.

“Nak mas…, anak ini kan yang namanya Febrian…?” kudengar suara lembut di belakangku, aku menoleh, nampak orang tua yang kurus sedang, duduk di belakangku, aneh kenapa aku tak merasakan kedatangannya.

Kakek ini ku taksir umurnya tujuh puluh tahunan, badannya kurus namun tegap. Wajahnya penuh kerutan ketuaan tapi bersih, alis matanya sebagian memutih, ikat kepalanya bercorak lurik batik. Kumisnya dan jenggotnya sedikit, matanya teduh dan bersahabat.

“Kakek ini siapa, kok tau nama saya?” tanyaku heran.

“Itu tak penting nak mas, aku hanya mau menyerahkan warisan nak mas yang selama ini dititipkan pada saya…” kata kakek itu.

“Warisan apa kek…?” aku teringat dengan mimpiku tadi malam, kakek di depanku ini mengarahkan kedua tangannya ke balik baju di punggung, lalu mengeluarkan dua buah keris dari balik baju, keris ditunjukkan di depanku.

Satu keris dan warangkanya panjang kurang lebih empat puluh cm, dan yang satu pendek kurang lebih tigapuluh cm. Lalu kakek misterius di depanku ini melolos keris yang panjang dari warangkanya, aku tak tau keris, tapi melihat bentuknya keris ini indah, ada ukiran di pangkal keris, berwarna seperti emas, keris ini berluk banyak.

“Ini namanya kyai sapto paningal,” katanya sambil mengulurkan keris kepadaku. Kurasakan ada getaran aneh menjalari tanganku ketika menerima keris itu.

Kemudian kakek itu mencabut keris yang kedua, “Ini namanya kyai condong pamelang.” katanya sambil mengulurkan keris kepadaku.

Aku mengamat-amati kedua keris di depanku, sekedar menyenangkan pada kakek ini, tapi aku benar-benar buta dan tak tertarik dengan aneka macam wesi aji. Aku menyerahkan kedua keris itu kepadanya.

“Karena nak mas sudah ada di sini, maka keris ini kuserahkan padamu…” kata kakek ini, mengulurkan kedua tangannya terbuka ke hadapanku, dan kedua keris ada di atas tangan itu.

“Nanti dulu kek…” kataku dengan isyarat tangan menahan.

“Kenapa nak mas?”

“Aku ini sama sekali tak tau, seluk beluk tentang keris, dan aku tak tau bagaimana merawatnya, ah alangkah baiknya kalau keris ini tetap di tangan kakek, mungkin akan lebih baik keris ini tetap di tangan kakek, aku takut kalau di tanganku akan rusak…” kataku berdalih dengan alasan setepat mungkin.

“Tapi nak mas, keris ini nak maslah pewarisnya…”

“Begini lo kek, aku ini punya keyakinan, bagiku Allohlah sebaik-baiknya dzat tempatku bergantung dan tempatku meminta menyelesaikan segala urusanku, aku tak mau menomer duakan Alloh karena mempunyai kedua keris ini..”

Kakek tua itu manggut-manggut, ”Baiklah aku mengerti, tapi aku tak mau disalahkan oleh orang yang telah mempercayakan amanahnya kepadaku, maka sudilah nakmas menerima keris ini dan nanti menyerahkan padaku lagi…?”

“Oh aku mengerti kek, baiklah aku terima keris ini, dengan kelapangan hati…” kataku, sambil menerima kedua keris. Lalu ku lanjutkan berkata setelah keris ada di tanganku.

“Dan keris ini ku serahkan padamu untuk menjaga dan merawatnya…”

Kataku sambil mengulurkan keris kepada kakek ini, sebagai tanda penyerahan. Kemudian kakek itu pun menerima lagi keris. Dan menempelkan ke jidatnya, “Akan ku jaga dengan sebaik-baiknya.” Setelah itupun kakek itu mohon diri.

Aku menarik napas lega, tukang bakso mengulurkan bakso ke depan mejaku, matanya menatapku heran.

“Ada apa bang, kenapa menatapku begitu?” tanyaku pada tukang bakso.

“Tak apa-apa gus.., saya hanya heran saja..”

“Heran kenapa?”

“Yah saya lihat dari tadi, agus ini ngomong sendiri, jadi saya mau memberikan bakso, saya urungkan, karena melihat agus ngomong sendiri.”

“Maksud abang tadi saya ngomong sendiri, jadi abang tak lihat saya tadi ngomong sama kakek-kakek.”

“Kakek-kakek yang mana to gus, wong dari tadi agus di sini sendirian…”

Aku segera turun dari kursi, dan melihat ke arah mana tadi kakek itu pergi, maunya menunjukkan pada tukang bakso tentang kakek yang ku ajak ngomong, tapi walau jalan raya itu lurus, aku tak melihat bayangan kakek yang ngomong denganku. Ah pupus harapanku, aku dianggap gila dah.

Cepat-cepat aku kembali ke tempat duduk, menghabiskan bakso, dan dua lontong, lalu cepat-cepat beranjak pergi, dengan tatapan aneh dari penjual bakso.

“Aku sering Can, mau dikasih segala macam wesi aji, batu akik, tapi selalu aku tolak, apa pula perlunya…?” kataku pada Macan.

“Ah kamu ini gimana sih Ian, kalau ada yang ngasih mbok ya diterima, kalau kamu tak mau biar aku yang mengkoleksinya, aku aja udah mengkoleksi banyak sekali,”

“Wah hebat Can…”

“Ayo aku tunjukkan..” katanya kemudian mendahuluiku berdiri dan masuk rumah, akupun mengikuti dari belakang.

Kulihat ia menurunkan tiga dus sarimi dari atas lemari bifet. Dah uh banyak sekali, satu dus berisi aneka macam keris panjang penuh, satu dus berisi berbagai batu akik, setengah, dan satu dus berisi aneka macam keris kecil, berbagai bentuk dan macam.

“Dari mana semua barang begini Can?”

“Ya ada yang ngasih, kadang juga ketemukan sendiri, macam-macamlah kejadiannya.”

“Wah kamu ini mungkin cocoknya ngumpulin barang seperti ini,”

“Yah semoga saja ini bermanfaat Can.” kataku.

“Ian…, aku ini sebenarnya punya masalah..!” kata Macan menatapku serius.

“Masalah apa?”

“Gini Ian, aku punya anak buah, dari anak-anak nakal yang aku insyafkan, dan aku membuatkan mereka warung tenda masakan Lamongan, tapi aku menemui kendala, warung yang ku buka itu sepi pengunjung, nah kalau begitu, aku takut anak-anak muda itu patah arang, melihat warung sepi begini, mereka akan kembali menjadi pemabuk lagi, bagaimana menurutmu Ian?”.

Aku merenung sejenak.

“Coba Can, kamu bel mereka, sekarang ini warung sepi apa enggak?”

“Maksudmu..?”

“Iya kamu bel aja, tanyakan warungnya sepi apa enggak? Dan bilang nanti kalau warungnya rame, mereka suruh ngebel kemari, biar aku wirid sebentar.”

“Aku segera duduk menghadap kiblat, berdoa pada Alloh supaya warungnya Macan ramai pengunjung dan melakukan wirid, baru aku melakukan wirid setengah jam, hpnya macan berdering, dan terdengar olehku Macan berbicara, aku tetap konsentrasi dengan wiridku.

“Sudah ramai Ian, warungnya, katanya sampai antri, dan terpaksa digelarkan tikar, karena tempat sudah tak muat.”

“Syukur Alhamdulillah… semoga bermanfaat, dan bisa menjadikan keimanan mereka menjadi kuat.” kataku mengakhiri wirid.

Malam itu aku tidur di sofa, karena memang rumah Macan sempit, dan cuma ada satu kamar dan ruang tamu, jadi aku tidur di sofa ruang tamu.

Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, aku mau pamit pada Macan. Dan ternyata Macan telah menungguku.

“Aku balik ke pesantren dulu ya Can…” kataku sambil meletakkan tasku di dekat pintu.

“Nanti dulu Ian… duduk dulu sini, aku ada masalah serius nih.., nanti aja pulangnya setelah sarapan…” kata Macan, dengan mimik muka serius.

“Ada masalah apa lagi Can..?”

“Saudara perempuanku ada yang kena musibah…”

“Musibah apa? Apa kecelakaan…”

“Bukan, tapi sakit usus buntu, dan mau dioperasi, wah bagaimana nih ibuku minta kiriman untuk biaya operasi, tapi aku tak punya uang… Apa kamu punya uang Ian..?”

“Wah aku juga tak punya, ini ada juga paling tiga ratus, dari kyai dua ratus, dan uangku sendiri seratus, nih pakailah…” kataku mengeluarkan dompet budukku, dan mengambil uang tiga ratusan ribu. Dan menyerahkan pada Macan.

Kami terdiam sebentar, aku menyeruput kopi yang disediakan Ida istri Macan, lalu kunyalakan rokok djisamsoe filter, tiba-tiba ada ide kuat terlintas di benakku.

“Ah kenapa kita tak coba obati sendiri Can? Kita mintakan kesembuhan pada Allah, bagaimana?”

Kataku seketika mendapatkan ide, karena aku pernah mendengar kyai mengatakan padaku, jika ilmu yang ku miliki dan ilmunya Macan digabung, kekuatannya akan teramat dahsyat, karena Macan diberi ilmu yang bersifat dingin, sebab Macan yang sifatnya gampang emosi, sementara aku diberi ilmu yang bersifat panas, karena sifatku yang lembek, Macan aja sering mengolokku, kalau aku ini ditipu orang, maka yang nipu itu akan kesenengan sampai mati karena terlampau seneng.

“Ah kalau mengobati dari dekat biasa, tapi dari jauh itu apa bisa? Masak obat ditransfer?” katanya ragu.

“Ee kamu lupa, selama ini kita mengobati, hanya dengan doa, doa kepada Alloh, dan Alloh itu kuasanya tak ada batas, kalau dia bisa menyembuhkan orang yang di dekat kita, tentu tak sulit bagi Alloh menyembuhkan orang yang jauh dari kita, sebab, Alloh tak dibatasi jauh dan dekat kuasanya,”

“Tapi caranya gimana Ian, aku tak ngerti?”

“Wah kalau itu aku juga tak mengerti, selama ini, kita kan memang tak diajar apa-apa sama kyai, tapi jangan takut aku ini kan tukang ngayal, moga-moga Alloh melimpahkan rahmatnya, dan memberikan kesembuhan yang mutlak.”

“Lalu bagaimana Ian?”

“Begini, kamu telfon ortumu, saudarimu yang sakit siapa namanya?”

“Nafisah..”

Sambung ke part: 8....》》
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
om cerita2 seperti ini baiknya d tulis d SFTH
Balasan post dimasfilipus
Trims infonya
Quote:


Kemudian kalau mau lanjutin cerita lanjut aja di thread yg sama, gk usah buat thread baru lagi hehe
Balasan post dimasfilipus
Maksdnya pindah forum ??
Quote:


Quote:


ini ane nemu thread di SFTH kisah tentang kiyai lentik
sang penakluk jin
Balasan post nomorelies
Iya.. semoga tujuannya sama,berjuang untuk islam
Bag: 8

“Nafisah..”

“Si Nafisah suruh duduk menghadap kiblat, dan di sini aku menghadap kiblat kau mengahadapku, bayangkan saja Nafisah di antara kita, kau arahkan tanganmu ke perutnya dan aku ke punggungnya, salurkan tenagamu, selanjutnya serahkan padaku, bagaimana?”

Macan mengangguk, lalu tanpa banyak cakap ia pun menelpon ibunya, dan menyarankan seperti yang ku katakan.

Sementara itu Nafisah yang dirawat di rumah sakit Aisiyah Bojonegoro, diminta duduk oleh ibunya menghadap kiblat, aku dan Macan juga duduk berhadap-hadapan, kami berdua berkonsentrasi membangkitkan kekuatan sirri yang ada di tubuh kami.

Aku rasakan kekuatanku telah bangkit dan mengalir ke telapak tanganku, juga kurasakan ada angin dingin, menghembus lembut dari arah Macan ke arahku, udara serasa bergumpal-gumpal, aku membayangkan tubuh Nafisah ada di depanku.

Memang kekuatan anugrah Alloh yang tak terlihat ini begitu dahsyad, aku pernah mencoba pada temanku Tarsan, saat itu pemuda yang jago manjat kelapa itu di depanku, kami sedang membicarakan tenaga yang ada di pusar, tapi pemuda itu tak percaya akan ada tenaga sehebat itu, lalu aku menyalurkan tenaga ke tangan dan mengaduk isi perutnya, padahal jaraknya denganku tiga meter, Tarsan muntahkan semua isi perutnya, lalu aku coba menulis namanya di udara dengan jariku, dan kupukul dengan tanganku, walau tanpa menyentuhnya dan Tarsan terpental.

Aku memejamkan mata dan membayangkan tanganku mengambil penyakit usus buntu yang ada di perut Nafisah, sementara gadis itu yang tengah duduk, merasakan hawa dingin merasuk dari depan dan hawa panas merasuk dari belakang, lalu dia merasakan seperti ada ribuan semut memasuki tubuhnya, dan seperti mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya.

Nafisah merasakan seluruh tubuhnya seperti kesemutan. Aku dan Macan masih duduk, menyalurkan tenaga.

“Turunkan pelan-pelan Can, tenaganya jangan disentak…” kataku memberi aba-aba.

Dan selesailah proses pengobatan kami. Aku mengusap peluh di kening dan jidatku, begitu juga Macan.

Ku sruput kopi yang penghabisan dan menyalakan rokok.

“Selanjutnya bagaimana Ian?” tanya Macan.

“Ya nanti telpon lagi, minta dironsen ulang, moga-moga aja pengobatan kita berhasil, sekarang aku tak pamit dulu…” kataku.

Macan mengantarku dengan motornya, sampai ke terminal Kampung Rambutan.

Aku berangkat, memilih bus yang langsung menuju Labuhan. Aku mendapatkan tempat duduk, dan tidur setelah bus berangkat.

Kondektur membangunkanku, meminta uang tiket. Ah aku kaget, pias, setelah ingat uangku yang tiga ratus sudah ku berikan Macan semua.

Ah sial aku, sementara kondektur itu menungguku, aku bingung, dah merogoh-rogoh saku, dan serr..!

Di sakuku ada uang tiga ratus ribu, ah pastilah Macan yang memasukkan tanpa ku ketahui.

Ah sudahlah yang penting aku punya uang tuk membayar bus, ku berikan uang seratus ribu kepada kondektur, dan setelah diberikan kembalian, aku tidur lagi sampai bus nyampai di pertigaan Pandeglang, aku turun, ojek datang mengerubutiku, aku melihat mang Sofyan, yang rumahnya, di kampung dekat pesantren,

“Ojek mang..?” Kataku ke arah mang Sofyan.

“Ke rumah kyai ya jang..?” tanyanya.

“Iya mang., berapa?” tanyaku.

“Lima belas ribu jang…”

“Byuuh gak salah mang? Ini kan ojek bukan taksi…”

“Sekarang ini BBM dah naik jang, penumpang jarang.., jadi ya kenaikan berlipat, mau gak jang…”

Terpaksa aku menyetujui. Daripada ribet urusannya, padahal jarak antara pertigaan tugu dengan lereng gunung putri ini tak terlalu jauh, paling juga tiga kiloan, sebenarnya kalau jalan kaki lewat jalan kampung malah lebih cepat, tapi sudahlah.

Motor ojek mang Sofyan segera mengantarku, motor itu menggerung-nggerung, karena jalan aspal yang sudah rusak di sana-sini itu, lubang-lubangnya penuh dengan air bekas hujan semalam.

Jalan yang ku lewati ini sebenarnya telah diperbaiki berkali-kali, tapi uang untuk perbaikan jalan kebanyakan disunat sini, maka imbasnya jalanan hanya diperbaiki seadanya, jadi ya begini, baru beberapa hari kelihatan halus, jalanpun akan rusak lagi.

Akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang Sofyan berlalu, hpku bunyi, segera ku angkat, suara Macan dengan nada bahagia.

“Ian syukur, adikku tak jadi dioperasi, dah sembuh, dan sudah diijinkan pulang, makasih ya Ian…”

“Wah jangan berterimakasih padaku, kita kan cuma berusaha, kesembuhan ada di tangan Allah jua. Bersyukurlah pada-Nya.”

“Iya… iya… wah ceramah terus..”

“Eeh uangku, kamu masukkan sakuku, tanpa setahuku ya Can?” tanyaku ketika ingat uangku ada di saku.

“Ah enggak, ini masih ku pegang, iya… iya.., nanti aku kembalikan, sekarang ku pinjam dulu.. Jangan kuatir..” nadanya serius, setahuku Macan orangnya tak suka main-main, kalau bilang a ya a kalau bilang b ya b.

Lalu kenapa ada uang di sakuku..

Para santri segera menyambutku, dan bersalaman mesra, mereka-mereka seperti saudara-saudara kandungku.

“Mas Ian udah ditunggu kyai.” kata Mujahidi,. Bibirnya masih seperti dulu, dikelotoki karena sariawan, sehingga kelihatan jontor sana-sini, wajahnya juga makin banyak lubangnya bekas jerawat batu dipenceti, malah lebih kelihatan seperti kayu dimakan rayap, yah biarlah itu kesenangannya sendiri.

Aku segera berlalu, kulihat kyai berdiri di bawah pohon melinjo, aku segera menghampiri, dan bersalaman mengecup tangannya dengan takzim.

“Bagaimana, Macan tak mau?” tanya kyai. Sambil mengajakku duduk di kayu pohon sengon yang telah mengering, dan telah tumbuh jamur di sana-sini, jamur kecil-kecil berwarna kuning kemerahan.

“Dia tak mau kyai….”

“Ya sudah kalau tak mau, nanti kamu menjalani sendiri, kamu sanggup, menjalani laku gila?”

“Sanggup kyai..” jawabku mantap, “Sekarang pun kalau kyai memintaku berangkat, aku akan berangkat kyai…”

“Tak usah buru-buru, mungkin sebulan lagi…, nanti setelah sholat ashar, kamu aku baiat, dan nanti malam mulai melatih ilmu rogo sukmo…”

“Bagaimana aku melatih ilmu itu kyai? Sedang aku tak punya…” tanyaku meragu.

“Ilmu itu telah ada dalam dirimu, hanya kau tak tau, nanti kalau ingin melepas sukma baca ini…” kyai membisiki telingaku.

“Wah cuma dua lafat itu kyai..” tanyaku heran.

“Iya cuma itu, dan bayangkan tempat yang akan kau tuju…” kata kyai.

“Apakah ada pantangannya kyai?”

“Tidak, tidak ada pantangan, tapi hati-hatilah, karena bila merogo sukmo, kau akan melihat aneka macam mahluq Alloh, dan kalau bertemu jin fasik, pasti akan berantem, kalau kau merasa tak mampu lebih baik menghindar, dan jika kau butuh sesuatu di alam sukma, bayangkan saja dengan hayalmu…”

“Terima kasih kyai, saya mau istirahat dulu…” setelah berpamitan aku pun menuju ruang pembuangan jin yang luas, untuk tidur siang sebentar, dan aku agak masuk angin, maka aku akan meminta pijit pada jin.

Pintu gerbang besi bercat hijau kubuka, suara menderit khas besi yang tak pakai oli terdengar. Dan udara dingin menusuk kontan kurasakan, nyeess! Lebih dingin dari AC karena udara dalam rumah pembuangan jin ini tak berjalan.

Rumah ini walau tak pernah dimasuki orang, tapi tampak bersih keramiknya. Cat temboknya banyak yang mengelupas, dulu cat ini aku juga yang mengecatkan, dengan motif whoss, yaitu kain disobek-sobek seperti kain pita, setelah segenggaman tangan lalu diikat, nah ujung kain itulah yang dibuat menjadi motif, dicelupkan ke cat dan dikecrok-kecrokkan ke tembok. Untuk hasil yang sempurna, cat tembok putih dicampur cat pigmen sebagai pewarna. Dan binder sebagai pengikat, maka setelah kering warna akan menyatu, jadi orang melihat seperti kertas wallpaper yang ditempelkan.

Warna tembok ku motif warna bunga lavender, dan di tembok lain ku motif bunga tulip.

Aku segera mencari tempat untuk tiduran, aku dekati tiang besar, ku cium bau wangi menusuk, aku tak jadi, karena mengira pastilah jin wanita, nanti bisa-bisa tak tidur, malah main cinta.

Aku memilih di ruang sebelah, ruang ini luasnya delapan kali lima meter, cukup luas, aku menggeletak di pinggir tembok. Ku eratkan jaketku, untuk mengurangi hawa dingin. Jam tangan ku lihat pukul sebelas siang.

Kurasakan ada jin yang mendekatiku, dari arah kananku, karena pipiku menebal, kuucapkan salam dalam hati, dan kukatakan aku ingin dipijat, walau aku belum bisa melihat mereka karena rendahnya ilmuku, tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka.

Kurasakan tanganku ada yang memegang dan memijid-mijid, juga kepalaku, lalu kakiku juga ada yang memijid, rupanya dua jin yang memijidiku, aku mulai keenakan dan mengantuk, sebelum tidur aku minta dibangunkan jam dua, akupun tertidur.

Aku terbangun, ketika kurasakan ada yang menggelitik kakiku, kubuka mata dan kulihat jam menunjukkan jam dua lebih satu menit.

Aku pun bangun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu beranjak pergi.

Mengambil sabun yang biasa kuselipkan di bawah para-para, kemudian pergi ke sungai,

“Gak makan dulu mas? Nasinya ada di dapur…” kata Jauhari dan Kholil ketika berpapasan denganku.

“Ah nanti aja.., ” aku segera berjalan di jalan berbatu yang menuju sungai, dan melompat ke pematang sawah, setelah melewati dua kotak sawah aku pun sudah sampai di tempat anak-anak pada mandi, masih ada Tarsan dan Majid masih sibuk mandi, aku pun bergegas mandi, setelah mengganti sarung dengan celana pendek khusus mandi, aku pun mencebur,

“Awas mas, banyak lintah…!” suara Tarzan memperingatkan, tapi terlambat, karena ada kurasakan sesuatu menempel di dekat mata kakiku, aku segera keluar dari air dan naik ke atas batu bundar pipih, sebesar kerbau yang ditempati Tarzan mencuci.

“Wah ketampel lintah nih…” kataku melihat binatang hitam ada garis coklat, yang tak lain lintah.

“Biar mas tak ambilnya mas…” kata Tarzan

Kemudian tanpa jijik, membetot lintah dari kakiku.

“Untuk apa Zan?”

“Biasa mas, untuk memperbesar…”

“Jangan terlalu besar, nanti tak ada wanita yang mau menikah denganmu lo…”

Setelah mandi aku cepat-cepat kembali ke kamar, dan sholat dhuhur, melakukan dzikir setelah sholat, dan pergi ke dapur, ternyata teman-teman masak urap, yaitu sambal kelapa, karena paling mudah, kelapa tinggal manjat, lalapan daun pepaya dan daun kopi muda, sedap juga.

Setelah makan terdengar adzan sayup-sayup sampai dari masjid yang teramat jauh. Aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat ashar, setelah dzikir aku pun menghadap kyai, untuk dibaiat. Teman-temanku semuanya telah berkumpul.

Aku pun diminta duduk menghadap kyai, tangan dijabat dan menerima ijab, dan kobul, seperti dalam pernikahan. Cuma isinya bukan tentang nikah, tapi siap sedianya diri menjalankan syariat Islam secara kaffah, dan bersedia menjauhkan diri dari segala macam perbuatan dosa.

Baiat pun selesai, dan kami mendengarkan petuah-petuah kyai, dari bagaimana baiat dilakukan oleh Rosululloh, dan dijelaskan untung ruginya.

Hari makin sore, para santri melakukan tugasnya masing-masing, aku memilih memasak.

Menggoreng jengkol dan membuat sambel tomat, wah sedap sekali.

Malam itu setelah isyak aku disuruh kyai latihan ilmu rogo sukmo dalam kamar.

Pintu kamar ku kunci, deg-degan juga aku, karena aku belum tau akan bagaimana nantinya. Ku duduk membaca Alfatehah tiga kali, Annas tiga kali, Alfalaq tiga kali, ayat kursi tiga kali, lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh.

Kemudian aku tiduran, memejamkan mata dan membaca doa yang tadi siang diajarkan kyai, tak lupa membaca basmalah tiga kali tanpa napas.

Leess!! Aku seperti begitu saja tertidur, tau-tau aku telah di atas tubuhku sendiri. Melayang di udara, sementara jasad kasarku tergeletak dalam kamar.

Aku segera keluar kamar menembus dinding, bersalto di udara, terbang kesana kemari, hinggap di pucuk pohon kelapa, lalu terbang lagi, sungguh terasa bebas dan nyaman, aku menghampiri majlis dzikir, masih melayang-layang, kulihat semua santri selain diriku tengah konsentrasi dengan wirid masing-masing, sementara kulihat kyai juga tengah duduk memangku bantal tidur, dan tangan kanannya tak henti memutar tasbih, kyai menatapku dan tersenyum, lalu mengangguk.

Itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku, akupun melesat pergi, membumbung tinggi ke angkasa yang gelap, dan hanya diterangi oleh beberapa bintang yang nampak.

Sebenarnya tujuanku adalah desaku sendiri di kawasan kabupaten Tuban, karena aku selama ini teramat heran, dengan sebuah sekolah madrasah, yang angker sekali, aku ingin menyelidiki ada apa sebenarnya di sekolah itu.

Madrasah itu awalnya di sebelah rumahku, tapi karena di sebelah rumahku terkena rencana perluasan masjid, maka madrasah itu dipindah ke lahan kosong, untuk membangun madrasah itu tentulah dibutuhkan tanah urukan untuk menyamaratakan tanah, dan tanah untuk batur itu diambil dari tanah sekitar, maka terciptalah parit, hampir mengitari madrasah, kalau kemarau parit itu sama sekali tak ada airnya, sampai tanah dasar parit retak-retak, tapi kalau musim hujan datang, parit itu penuh air, dan anehnya, akan banyak ikan muncul di parit itu, dari ikan sepat, mujaer, lele, bandeng, dan ikan-ikan yang lain, anehnya kalau ikan itu diambil dan dimakan, maka orang yang memakan akan keracunan.
Balasan post Semfak387
Lanjutan bag: 8
Madrasah itu jauh dari rumah penduduk, rumah paling dekat adalah tujuh puluh meteran, sehingga madrasah tak diberi penerangan listrik mengingat kalau malam madrasah tak digunakan kegiatan apa-apa, tapi memang ada lampu bohlam dan dulu sudah terlanjur dipasang, tapi belum sempat diberi saluran kabel listrik, tapi sungguh aneh walau tanpa saluran kabel, kalau malam lampu di madrasah itu sering menyala sendiri.

Keluarga yang tinggal paling dekat dengan madrasah itu adalah keluarga pak Makrum, yaitu istrinya bu Rah, anak perempuannya usia sebelas tahun, dan kedua anak laki-laki, yang satu berusia sembilan tahun, yang satu berusia dua tahun, keluarga pak Makrum adalah pindahan dari desa lain.

Tapi tak sampai setahun tinggal di situ, semua keluarganya meninggal satu persatu, dari si balita meninggal, disusul kakaknya, kakaknya lagi, kemudian istri pak Makrum, dan terakhir pak Makrum sendiri meninggal selang satu bulan, anehnya tanpa didahului sakit sama sekali. Yang selamat adalah anak pak Makrum yang telah menikah dan dibawa hidup di daerah suaminya.

Sekitar lima puluh meter di depan madrasah ada sebuah sumur pompa, dibuat oleh santri, dan saat kemarau panjang, di sumur pompa ini tak perduli siang maupun malam sumur ini selalu didatangi orang untuk mengambil air, mengingat sumur lain kering, tapi sumur di depan madrasah ini tak pernah kering.

Dan pasti di musim kemarau, akan ada cerita-cerita aneh, dari orang yang tunggang langgang saat mengambil air di malam hari, lalu melihat hantu, macem-macem ceritanya, ada yang melihat orang yang tinggi tiga meter, ada yang melihat pocong, ada yang melihat orang menggantung di pohon.

Sukmaku melesat cepat, angin menggemuruh di telingaku, dan kibasan angin sampai melepas ikatan rambutku, sampai rambutku berkibaran. Kulihat ke bawah, kerlip lampu beraneka warna, dan gedung-gedung menjulang, pasti ini Jakarta, pikirku, karena kulihat dari angkasa, di sana-sini, lampu-lampu mobil berkelak-kelok, berderet-deret seperti sisik naga raksasa.

Baru beberapa menit terbang aku telah sampai di Jakarta. Ku membumbung tinggi, kadang menukik ke bawah. Ah betapa enaknya terbang, aku jadi ketagihan, kulihat dari atas kerata api berjalan, aku menukik turun, dan terbang di samping kereta api, kulihat penumpang di dalamnya, lalu aku terbang di atas kereta dan hinggap di atasnya. Tapi segera terbang lagi, mendahului kereta api, dan lebih cepat sehingga rumah, pohon, jalan, desa, berkelebat cepat, hanya nampak bayangan berkeledepan.

Sekejap saja aku telah sampai di sekolah madrasah yang ku tuju. Sebentar aku berdiri di udara depan madrasah.

Perlahan aku masuk, keadaan sangat sepi. Aku kitari ruangan demi ruangan.

Ini mungkin jam sepuluh atau jam sebelas, karena aku tak bawa jam, jadi kurang tau waktu.

Kulihat dua orang pemuda, kira-kira umur tiga puluhan, dua pemuda ini wajahnya kembar, kalau kulihat rasanya bukan dari golongan jin, tapi dari golongan arwah penasaran, wajahnya cukup ganteng cuma pucat seputih kapas, di kedua lingkar mata mereka ada lingkar hitam.

Aku turun ke tanah, dan berjalan menghampiri mereka berdua.

“Siapa kalian??” tanyaku

“Hei kau bisa melihat kami?” jawab mereka hampir serempak.

“Kenapa tak bisa?”

“Berarti kau juga arwah penasaran seperti kami…?” tanya mereka balik.

Dan prasangkaku tak salah. Bahwa mereka arwah penasaran.

“Oo jadi kalian yang selama ini membuat isu hantu, menakut-nakuti warga sini..?”

“Kami hanya butuh tempat, dan tak mau diganggu, jadi kami takut-takuti warga…”

“Apakah kalian juga yang menewaskan seluruh keluarga pak Makrum?” tanyaku.

“Ah, apalah artinya hidup buat mereka… malah susah aja, miskin, dan kalau mati setidaknya membantu kami, agar orang takut tinggal di daerah ini..” kata salah satu arwah itu.

“Kalian keji sekali, melihat kalian jadi arwah penasaran, tentu kalian hidup selalu berbuat jahat, tapi setelah matipun masih melakukan kejahatan…”

Aku jadi ingat kejadian waktu aku kecil teman sekolahku meninggal dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar ketika pulang dari sekolah.

“Apakah kalian juga yang membunuh Muflida, gadis kecil yang berumur sepuluh tahun?” tanyaku penasaran.

“Heh gadis itu, aku yang mencekiknya…, karena dia melihatku…” kata salah satu arwah, dengan senyum mengejek.

“Apakah kalian juga yang membuat anak bernama Saeri, yang tulang kering kakinya patah, dan sekarang jadi anak pincang?”

“Aku yang memukul kakinya dengan kayu… hahaha..” kata arwah satunya.

“Sekarang juga kalian harus hengkang dari sini, minggat sejauh-jauhnya ….!”

“E,e,e kau ini siapa? Berani melarang kami tinggal di sini, kami di sini sebelum kau lahir,”

“Baiklah aku akan memaksa kalian,” kataku melompat menerjang.

Aku ingat kata kyai kalau di alam gaib supaya membayangkan yang kita inginkan, maka aku membayangkan tanganku membara, mengelurkan panas yang berlipat-lipat, lalu dengan tangan itu aku memukul mereka, mereka berdua kaget dan meloncat mundur, tapi tubuhku yang enteng bisa melayang segera memburu, dan satu pukulan mengenai salah satu dada arwah itu… Dia menjerit diseret kawannya mundur, karena dadanya telah berlubang, segenggaman tangan, dan mengeluarkan bau sangit terbakar.

Asap tipis mengepul dari luka yang terbakar itu, dan arwah itu mengaduh-aduh, sementara temannya segera memanggulnya.

“Tunggu besok di sini kalau berani, guru kami akan menghajarmu…” katanya sambil melesat pergi , melompati jendela madrasah yang tinggi.

Aku tak mengejar, aku juga melesat pergi, pulang ke rumahku dan mau melihat jam dinding, ah ternyata baru jam dua belas kurang seperempat.

Aku keluar lagi melayang ke atas masjid, turun di ujung mustaka, berdiri melihat sekitar, depan masjid adalah jalan raya, dan tempat angker lagi adalah dekat jembatan, dimana waktu pembangunannya dulu, mengakibatkan banyak korban, entah korban jatuh dari menara bok, atau tertumbuk palu paku bumi.

Aku melesat ke arah jembatan yang berjarak dua ratus meter dari masjid, dan hanya tiga detik aku telah berdiri di atas jembatan, suasana sepi, tapi pandangan mataku menangkap sosok baju putih melayang malah di jauh sekali di pertigaan jurusan makam, tanpa pikir panjang aku melesat mengejar sampai di pertigaan aku turun dan clingak-clinguk, aku ingat di pertigaan ini sering terjadi kecelakaan, ada anak taman kanak-kanak yang dihantam mobil dan seketika meninggal di tempat.

Juga ada seorang petani yang mau pergi kesawah ditabrak mobil dan terseret lima meter, walau tak sampai mati.

Keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya Wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya, tiba-tiba ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sendalnya, lalu beranjak ke gerobak baksonya.

“Iiih mrinding… ada apa ini..?” keluhnya.

Dan Wakman mendorong gerobak baksonya berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso,

“Hei siapa kau…!?” bentakku.

Perempuan itu kaget dan melayang pergi. Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma. Aku pun segera mengejar, ah pasti ini kuntilanak… Dia melesat ke arah rumah salah seorang pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan mudah menyusul, dan menghadangnya.

“Huu….huuu… jangan tangkap aku… huu..” dia menangis.

“Aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku hanya ingin tau kau ini siapa?” tanyaku dengan lembut.

Dia menghentikan tangisnya, memandangku, aku dipandangnya begidik juga, perempuan ini sungguh menyeramkan sekali, jika aku bukan sukma mungkin aku telah lari pontang-panting.

Rambut perempuan ini awut-awutan, dan di sana-sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara, wajahnya putih, tanpa darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada ulat-ulat yang keluar dari pipi…putih, kecil-kecil menggeliat..

“Kau ini siapa nyai?” tanyaku lagi.

“Aku ini istri kamituwo Gerot.” katanya tanpa menggerakkan giginya, sehingga suaranya seperti suara yang teramat jauh, tapi jelas di telingaku.

Aku mengingat-ingat nama kamituwo Gerot, ingatanku pun tertuju pada sumur gerot, yaitu sumur yang dibangun sesepuh desa dulu, ada enam sumur penjuru desa, yang dibuat oleh pendiri desaku. Enam sumur juga disebut sumur gede. Karena memang sumbernya teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk yang kekeringan.

Dulu sumur-sumur itu selalu diadakan ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk mengucap terimakasih pada danyang penunggu desa, tapi setelah disadarkan oleh kyai Fatah dan kyai Sidik maka acara-acara itu pun dihilangkan.

Kamituwo Gerot, aku berpikir.

Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan,

“Sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?…”

“Aku dari kampung Degan…” suaranya masih tetap terdengar dalam.

“Kok sampean klambrangan gak karu-karuan begini nyi? Boleh aku tau sebabnya?”

Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu…ah perempuan.. jadi hantu masih juga cengeng.

Aneh begitu saja kisah perempuan di depanku ini, terpampang runtut seperti melihat filem layar lebar, namanya juga alam gaib, jadi serba gaib, nyleneh dan tak masuk akal.

Perempuan ini bernama Sunti. Seorang ledek dari daerah Tambak Boyo, untuk mendapatkan penglaris maka dia mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang yang menyarankannya ke tempat kamituwo Gerot, maka pergilah Sunti ke tempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur delapan belas tahun dan kamituwo umur empat puluh lima tahun.

Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya minta cerai, karena tak tahan dengan kesenangan suaminya yang suka main perempuan.

Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih perawan, yang sudah punya suamipun bisa dibuat meninggalkan suaminya.

Melihat Sunti yang cantik, menik menik, tentu saja ki gerot langsung jatuh hati, maka ketika tau gadis itu meminta susuk pengasihan, maka ki gerot pun memberikan susuk yang terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat.

(maaf, sebenarnya ini tak pantas diceritakan, tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak mendatangi aneka macam dukun dan paranormal.)

Pelet yang dipakai ki gerot adalah kulit kemaluan wanita perawan yang meninggal di rebu wage,

Jika ada perempuan meninggal di saat itu maka ki gerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti kemaluannya mayat, setelah itu, kemaluan tadi dikeringkan, dan bila dibutuhkan akan dicuil sedikit dan dicampurkan dalam minuman, dengan mantra-mantra.

Malang nasib Sunti, dia meminum teh yang telah dicampur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk kepayang pada ki gerot, dia seperti telah minum bergalon arak cinta.

Maka ketika ki gerot menuntunnya ke kamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa menolaknya.

Begitu juga ketika Sunti telah pulang ke rumahnya dan ki gerot melamarnya, maka Sunti pun ho-oh aja.

Setelah menjadi istri ki gerot, Sunti masih menjadi penari ledek, karena didukung oleh susuk ki gerot yang ampuh, Sunti pun menjadi ledek yang laris dengan bayaran tinggi, dan uangnya semua masuk ke kantong ki gerot, membuatnya jadi orang terkaya di kampung Degan.

Tapi sesuatu yang dilakukan di luar sunatulloh atau aturan hidup yang diatur oleh Sang Pencipta, maka adalah kerusakan.

Alloh Taala melarang sesuatu, bukan untuk kepentingannya, tapi untuk kehidupan tentram manusia, sebab sesuatu dilarang itu karena bahayanya lebih besar dari manfaatnya.

Seperti memasang susuk, karena Alloh melarangnya, maka itu adalah perbuatan yang membahayakan diri, dunia dan akhirat.

Disamping tidak bersyukur atas anugrah Alloh, juga terlalu tak menerima kodrat yang telah Alloh berikan.

Satu ketika, seperti biasa, Sunti ditambah lagi susuk intan di dagunya oleh ki gerot.

Awalnya tak apa-apa, tapi selang tiga hari dagu Sunti membiru, dan Sunti kejang-kejang.

Ki gerot pontang-panting, membawa Sunti ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tak tau penyakitnya..

Sementara Sunti sudah berulang kali tak sadar, dan akhirnya Sunti meninggal dengan wajah lebam membiru.

Hari itu juga Sunti dikuburkan, dengan sederhana.

Namun esoknya semua orang kampung Degan geger karena melihat makam Sunti kosong. Dan mayatnya hilang tak tau kenapa.

Awalnya yang tau adalah penggembala kambing yang biasa menggembala di area pemakaman. Ketika dia tau bahwa kubur Sunti dibongkar orang.

Sebenarnya apakah yang terjadi? Malam itu setelah siang tadi Sunti dikuburkan, kira-kira jam satu dinihari, nampak pekuburan Sunti bergerak-gerak, asap tipis bau daging terbakar menyeruak, tiba-tiba, “bleg..!” Terdengar ledakan seperti petasan dalam tanah, dan terlemparlah tubuh Sunti, seperti gedebok pisang tapi langsung melayang pergi.

Sementara itu ketika jam menunjukkan jam tiga seperempat, seorang perempuan tua tergopoh-gopoh, berjalan melintasi jalan raya dekat pemakaman, orang biasa memanggilnya Nyiyam, seorang dukun beranak yang mendapat panggilan di desa Karanglor, dia harus melewati pekuburan Degan, ada rasa merinding di tengkuk Nyiyam.

Perempuan umur enam puluh tahunan itu menguatkan hati, memang dia rasa malam ini terasa sunyi, suara jengkrik aja tak ada, atau suara katak setidaknya untuk menghiburnya.

Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di atas pun yang tinggal seujung kuku seperti diselimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh Nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya.

Soal digoda hantu, perempuan tua ini pengalamannya sudah tak terhitung lagi, dari ditiup obornya terus, dilempar ke kali, bahkan pernah ditemukan warga di tengah-tengah pohon bambu, sehingga warga harus mengeluarkanmya dengan menebangi pohon bambu.

Keadaan teramat sunyi, hanya sandal jepit tipis, yang sebagian sudah berlubang karena gesekan, terdengar srek-srek, seakan paling berisik sendiri, ah entah telah berapa tahun sandal ini menemani tugasnya. Melintasi malam, mengukur keihlasannya menolong perempuan yang akan melahirkan, yang kadang hanya diupah setandan pisang, atau cuma ucapan terimakasih saja.

Nyinyam mengetatkan selendangnya, ketika dia rasakan bulu kuduknya makin meremang, ah makam juga sudah terlewati, dan di depan adalah pos kampling, apa yang ditakutkan, mungkin masih ada yang jaga…, tapi kenapa seluruh bulu di tubuhnya berdiri semua, Nyiyam mempercepat langkahnya, apalagi di pos kamling jarak sepuluh meter dia melihat bayangan orang dari mata rabunnya. Bajunya putih dan sarungnya putih.

Nyiyam telah memutuskan, dia tak akan menyapa pada petugas ronda, dan kalau dia disapa akan menjawab, dan kalau tak disapa maka akan berlalu saja, tapi kenapa dia merasakan makin merinding saja.

Tepat di depan bayangan yang ada di pos,

“Mau kemana Nyi…?” suara perempuan, serrr…! Semua bulu kuduknya berdiri tegak semua, kepalanya sampai terasa keribo, bukan suara perempuan yang membuatnya merinding, walau itu juga iya, tapi yang lebih membuatnya merinding adalah suara itu seperti suara dari alam lain, bukan alam ini, tapi alam kegelapan.

“ss….ssa…s..siapa., k..kau..?” Nyiyam merasakan lidahnya seperti selembar triplex yang diemutnya, kaku tak bisa digerakkan untuk mengeluarkan ucapan.

Perempuan di depannya ini menunduk, rambutnya gimbal, dan masih ada tanah menempel. Sebagian rambut menutupi wajahnya hingga tak terlihat.

“hii…hik…hihihh….” terdengar suara tertawa yang teramat aneh, yang membuat kaki Nyiyam gemetar. Bahkan kencing pun merembes dari jaritnya ketika bau bangkai menyengat terbawa angin, bau bangkai orang mati.

Walau bagaimana nenek tua ini masih berusaha tabah, untung ia ingat Alloh, setidaknya mengurangi, ketakutannya.

“Kau ini siapa nduk? Kembalilah ke tempatmu nduk…?” kata Nyiyam yang mulai kuat menahan batinnya.

“Aku Sunti nyai…, aku tak diterima nyai… tolooong aku nyai… huhuu…” suara perempuan itu mengguguk.

“Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ini orang bodo…” kata Nyiyam kemudian dalam hati membaca ayat kursi berulang-ulang.

“Aduh nyai panas… panas… Aduuuuuh kau apakan aku nyai..?” perempuan itu menjerit dan tubuhnya seketika melayang ke atas, dan melayang pergi sambil ketawa hahahihi.

Sejak malam itu, rumah ki Gerot pun diganggu dan diteror Sunti yang krambyangan, sampai karena sudah tak kuat, dukun yang anti ngaji itupun mengundang orang-orang untuk mengaji di rumahnya, sampai gangguan dari Sunti tiada lagi.

“Maukah kau ku sempurnakan?” tanyaku pada Sunti.

“Hihi…. bocah bau kencur… mau melawanku, hiiihii….!”

Aku tanpa kata lagi jariku kuputar, seakan melingkarinya lalu kutulis bak di tengah, seketika.

“Hai apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya, karena tubuhnya terkurung.

Lalu kubaca basmalah tiga kali, tahan nafas, kullu saiin halikun illa wajhah. AllahuAllahu. Allahu akbar!!, tangan yang telah tersaluri tenaga dari pusarku ku hantamkan berbareng, dengan tapak tangan terbuka ke arah Sunti, dan “hlukgh!!”, terdengar ledakan kecil, dan sebuah asap mengepul, bersatu tersedok ke satu titik lalu lenyap.

Mungkin sudah jam tiga pagi, aku segera melesat, di atas desaku, melesat kucepatkan, aku ingin mencoba paling cepat les.. Kurasakan aku telah ada dalam tubuhku sendiri. Dan kulihat jam tanganku, jam tiga seperempat.

Aku menata bantal dan tidur, ah pengalaman rogo sukmo pertamaku. Lumayan mengesankan.
Balasan post Semfak387
Bag: 9


Setelah sholat subuh, aku membuat sketsa lukisan dinding, sambil menyelesaikan wirid. Dingin masih menusuk tulang, teman-temanku habis wirid subuh semua kembali ke dalam selimut sarung, kamarku terasa dingin apalagi ketika angin masuk dari sela-sela papan kayu dinding kamar, yang pemasangannya asal-asalan.

“Mas…! Gak nyarap?” suara Khanafi santri dari Cilacap, berdiri di pintu kamar.

“La kamu gak puasa to Fi?” tanyaku balik.

“Wah mutung kang,”

“Halah Fi… Fi… La gimana to, apa kamu mau terus di pondok nyampai tua? Masuk aja Fi, gak dikunci kok…” kataku sambil terus membuat sketsa gambar.

“Lagi bikin apa mas?” tanya Khanafi setelah masuk ke dalam kamar geladakku, yaitu kamar yang beralaskan papan kayu.

“Ah, ini Fi lagi bikin sket, buat lukisan di aula belakang, duduk, tunggu bentar, entar nyari sarapan bareng.” kataku.

Hari makin beranjak siang, dingin pun kian hilang, meninggalkan titik embun di rerumputan, suara burung ramai bercicit, menyambut matahari yang telah mulai menyembul dari puncak gunung Putri. Seakan dunia ini betapa damainya, tak ada problem, tak ada dendam iri dengki, tak ada pembunuhan, kematian hanya terjadi karena kewajaran, seperti daun yang berguguran, seperti matahari yang terbit kemudian tenggelam. Angin pun mengalir dengan kasih sayang, alam dan manusia seperti keselarasan yang saling melengkapi, tak ada kejahatan manusia, atau jin, tapi dunia di luar tak sesempit harapan setiap orang. Aku pun selesai membuat sketsa, ketika jam tangan butut telah menunjukkan jam 7 pagi.

“Ayolah Fi, kalau mau nyari sarapan…” kataku setelah selesai memberesi buku. Dan kami pun beranjak untuk pergi ke tempat nyari makan di warung bu Enur, biasa makan nasi uduk, tak mahal cuma 1500 sudah bisa mengganjal perut, plus teh pahit gratis.

Sebenarnya di warung bu Enur, sudah jadi rahasia umum, bahwa setiap pemuda yang datang bukan hanya yang dituju makannya tapi anak gadis bu Enur yang cantik, manis dan centil, itu juga tak ketinggalan si Khanafi, dan aku ujung-ujungnya juga ikut ngelirik. Ah memang syaitan paling gampang menularkan penyakit menular, yang paling mudah yaitu nafsu. Melewati got-got aliran darah, dan menghangatkan hati yang kasmaran dengan bisikan-bisikan menghanyutkan. Dan membumbui sesuatu yang sepele jadi besar, bahkan jadi gunung yang siap meletus. Karena jaraknya cuma seratus meteran dari pondok, maka kami berdua pun cepat sampai, tapi rupanya teman-temanku yang ku kira mendengkur di bawah selimut ternyata sudah pada nongkrong di warung, sembari menggoda Afifah, anak gadis bu Enur yang tak bosan-bosannya melempar senyum termanis.

“Oalah, kalian sudah pada di sini to?” tanyaku dijawab dengan cengengas-cengenges si Kolil, Udin, Tarsan, Majid, dan yang lain. Mereka tak segera beranjak padahal semua nasi di piring sudah tak ada sebijipun. Heran!

“Ah mbok ya gantian to!” kataku agak jengkel, karena kursi penuh sudah tak ada tempat duduk.

Teman-temanku pun segera beranjak, “Udah deh mas, dienak-enakin aja, ku tinggal dulu.” kata Udin mewakili yang lain. Aku dan Khanafi segera memesan nasi uduk, yang segera dibawa keluar oleh Afifah, biasa Khanafi pun mengeluarkan jurus menggoda,

“Aduh ini nasinya apa orangnya ya, yang baunya harum?”

“Ih mas Khanafi bisa aja…” jawab Afifah dengan nada kenes.

“Mas Ian, tolong dilukis Afif dong…” katanya manja sambil duduk di sebelahku.

“Kamu minta dilukis?”

“Heeh…”

“Emang kuat kamu musti duduk seharian?”

“Jangankan seharian, bertahun-tahun duduk di depan mas Ian pun aku kuat.” jawabnya makin kenes dan manja, wah bisa membuatku tak bisa tidur. Sementara Khanafi makin mbesengut melihat Afifah dekat di sampingku. Afifah memang cantik, wajahnya mirip Bunga Citra Lestari, malah mungkin lebih cantik, kecantikan yang alami tanpa polesan, sebenarnya beberapa hari yang lalu, ketika aku belanja sendiri ke warung bu Enur dan Afifah yang melayaniku membeli menanyaiku,

“Mas Ian ini dari Jawa Timur ya?” kata bu Enur.

“Iya bu…” jawabku singkat.

“Belum punya istri kan mas?” tanya ibu Enur lagi.

“Apa bu?” kataku pura-pura tak mendengar.

“Enggak, kalau mas Ian belum punya istri, nyari aja di sini…” wah gelagatnya makin tak baik.

“Afifah ini anak ibu juga sudah besar dan sudah pantas bersuami,” kata ibu Enur tanpa basa-basi.

“Wah saya ini sudah punya istri tiga bu…” kataku berbohong,

“Ah tak mungkin itu, masak masih muda, sudah punya istri tiga,” kata bu Enur sambil tertawa.

“La mau bilang apa bu, kenyataannya memang begitu, kalau saya punya istri 3 lalu bilang masih perjaka, la nanti kalau ketahuan kan berabe. Mending jujur aja,” kataku meyakinkan.

“Wah kalau tiga tentu masih bisa tambah satu, maukan Fa jadi istri yang ke empat?” kata bu Nur ditujukan pada Afifah yang sedang ngupas bawang merah, dan Afifah manggut. Edan, aku jadi melongo, salah tingkah, ibu sama anak kompak banget ngerjain orang.

“Gimana mas Ian? Afifah sudah mau itu,”

“Wah harus ngasih makan empat orang bu, tiga orang aja mumet, apa kuat ya, kalau ditambah satu?” kataku seakan-akan perkimpoian itu akan benar-benar terjadi.

“Mas, Ifah ini makannya sama tempe aja sudah mau, tak perlu yang mewah.” kata bu Enur, seakan memojokkanku.

“Sudah jangan terlalu dipikir, dijalani aja.” katanya.

Sementara itu Afifah yang masuk ke dalam, tiba-tiba menjerit, “Aduh tanganku terbakar…!” bu Nur pun lari ke dalam. Dan keluar lagi dengan Afifah sambil ngomel-ngomel.

“Kenapa tak hati-hati, sudah tau panci panas, malah dipegang.”

“Dikasih pasta gigi aja Fa, biar adem. Dan tak melembung.” kataku menyarankan. Afifah pun ke dalam dan keluar lagi sambil membawa pasta gigi yang disodorkan padaku.

“Oleskan…!” katanya manja, kulihat jarinya memang melepuh, dia mengulurkan jemarinya ke arahku dan aku pun mengoleskan pasta gigi perlahan. Mata bening Afifah menatapku, yang sedang tekun mengoleskan pasta gigi, lama ditatap aku jadi jengah.

“Mas, sayang aku enggak.?” tanyanya bergetar.

“Ya jelas aku sayang kamu, aku sayang semua manusia, walau kafir sekalipun, walau jahat sekalipun, kalau kafir, ya upayakan jadi muslim, kalau jahat ya upayakan untuk sadar, bukankah itu yang diperjuangkan Nabi, kalau tak bisa ya didoakan, bukankah Alloh menciptakan manusia atau hewan pasti ada maksud dan tujuannya. Kalau orang jahat dan kafir, itulah ladang amal yang harus digarap.” kataku panjang lebar.

“Alloh menjadikan ada yang muslim, ada yang kafir, ada kaya ada miskin, dan sebagainya, Alloh mampu menjadikan manusia muslim semua, tapi kenapa dia juga menjadikan garis manusia kafir. Alloh juga menjadikan kambing, tapi juga menjadikan srigala, kalajengking, macan.” kataku lagi.

“Wah mas maksudku bukan itu….” sela Afifah,

“Terus apa?” tatapku heran.

“Maksudku sayang antara lelaki dan perempuan?” kata Afifah menunduk.

“Kalau kamu gimana?” tanyaku balik, menutupi kebingunganku menjawab.

“Aku,” katanya sambil menunjuk hidung mancungnya yang mungil,

“Ah masak tak ngerti selama ini sikapku terhadapmu.” aku menerawang, memang Afifah selama ini sikapnya terhadapku teramat beda, cuma aku aja yang membutakan mata, tiap aku belanja di tokonya selalu dikasih apa-apa yang tak ku beli. Kadang dia sempat-sempatkan datang ke pondokku untuk memberi cemilan atau makanan. Ku pandang wajah Afifah, mata nan jeli, dan bening, bulu mata lentik, alis melengkung dan tertata rapi, seperti ditanam satu-satu, hidung mancung nan mungil, pipi putih seperti susu yang ditetesi setetes perasa strawberi, bibir yang tipis dan terbentuk seperti mudah pecah memerah tanpa gincu. Di atas bibir bulu kumis halus tumbuh seakan seperti polesan madu pada ujung es krim, dagu lancip tercetak penuh kehati-hatian, menunjukkan kekerasan hati.

“Gimana mas? Sayang enggak sama aku?”

“Siapa sih lelaki yang melihat bunga mekar sepertimu yang tak merasa sayang? Termasuk aku, aku lelaki normal,” kataku satu-satu.

“Makasih mas….” Afifah memotong ucapanku dan lari ke dalam rumah, dan sampai di pintu berhenti dan mengerling padaku, ah ancur-ancur kalau kayak gini…. bisa yang enggak-enggak, desah batinku, dan ku ambil belanjaan lalu pergi ke pesantren.

“Mas Ian, aku bener dilukis ya…!” suara manja Afifah memecah lamunanku. Ah kenapa perempuan lagi-perempuan lagi, yang akan memecah konsentrasi wiridku.

“Iya deh, kapan-kapan aku lukis,” jawabku daripada urusan jadi panjang dan bertele-tele.

“Berapa lama sih untuk nyelesaikan lukisannya?” tanya Afifah lagi.

“Ya tergantung media, dan cara nglukisnya, kalau pake pencil ya seperempat jam pun jadi, ya kalau pake air brush ya setengah jam jadi, kalau pake kuas, ya sehari jadi. Kamu maunya pake apa?” jelasku lengkap, kyak mau jual beli.

“Trus kalau air brush, itu nglukis apaan mas?” tanya Afifah serius.

“Ya kalau air brush, itu nglukis pakai pena brush, pake tekanan angin compresor, sebenarnya biasanya dipake nglukis di motor atau mobil, pernah lihat kan bus yang dilukisin kuda lagi lari?” Afifah manggut.

“Nah itu nglukisnya pake air brush,” kataku sambil ngelihat Afifah yang melongo.

“Wah berarti wajahku mau dilukis di mobil ya mas?” tanya Afifah.

“Ya enggak lah, di media apa aja kan bisa, maunya kamu di mana, apa di viber?”

“Wah itu apa lagi mas, kok kyak nama susu?”

“Viber ya plastik akrilik, aduh susah deh njelasinnya….” kataku agak jengkel.

“Ya udah deh terserah mas Ian aja dech.” katanya menatapku jidatnya mengkerut.

“Wah aku malah tak kebagian…” celetuk Khanafi. Yang sejak tadi diam aja mengunyah nasi uduk.

“Ini nanti kesiangan, ayo balik dulu…” kataku seperti diingatkan. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan jam sembilan lebih. Kami pun pergi meninggalkan warung, seperti biasa aku dibekali, kali ini krupuk jengkol sekresek. Lumayan buat cemilan.

Sampai di pondok aku segera mengajak Khanafi membuat adukan semen dicampur alkasit untuk memperlambat pengeringan semen, guna membuat ukiran kaligrafi semen. Hari berlalu begitu cepat, kebetulan malam nanti jum’at kliwon, tiap jumat kliwon di pesantren diadakan acara jamiyah khataman torekoh kodiriyah wanaksabandiayah, sejak sore, tamu yang akan mengikuti khataman sudah pada datang, selepas magrib mobil-mobil telah mulai memenuhi tempat parkir. Para santri sibuk menata dan mengarahkan parkir mobil agar mudah kalau mau masuk arena parkir, sementara santri yang lain menerima tamu, mengumpulkannya di majlis, majlis dzikir yang terbuat dari bambu. Berdinding kerai, dan beralaskan bambu yang dipecahkan dan dibentang, yah orang-orang yang datang dengan mobil mewah, dan yang datang dengan angkot, duduk bersama tanpa membedakan jabatan, atasan dan bawahan. Semua datang dengan niat masing-masing. Banyak yang membawa air botol aqua, juga berbagai macam senjata tajam semua ditumpuk di tengah-tengah majlis dzikir.

Kyai tak pernah menolak bagaimanapun orang yang datang, bahkan ada juga orang beragama Hindu dan Budha atau Kristen yang datang, walau ujung-ujungnya juga masuk Islam, tapi Kyai tak pernah memusuhi mereka, semua patut diajak ke jalan kebenaran dengan kehalusan budi, dengan kasih sayang, belum tentu yang sekarang jahat, yang sekarang kafir, nantinya malah meninggal dalam Islam. Dan sekarang yang Islam juga tak sulit bisa saja nanti mati dalam kekafiran.

Jam masih menunjukkan jam 9 malam, tamu sudah berjubel sampai jalan, padahal biasanya wirid dan dzikir dimulai pukul 11 malam. Aku masih di dalam kamarku, di depan kamar telah penuh orang, kunyalakan sebatang Djarum Super, dan kunikmati secangkir kopi Kapal Api Duo Susu, saat seperti ini apa-apa berlimpah, para tamu banyak yang membawa rokok berpak-pak, juga kopi dan makanan, kami anak pesantren yang jarang makan enak tentu seperti ketiban rizki, walau itu tetap kami anggap biasa. Kamarku dipakai nongkrong teman-temanku, sampai penuh sambil menunggu saat wirid dimulai, dan semuanya ngerokok, sampai asap memenuhi ruangan, kalau sudah begini pakaianku yang kugantung di gantungan baju, yang nantinya baunya kayak baju dukun lepus.

Nampak pak Made kepalanya nongol di pintu, pak Made adalah wartawan RCTI.

“Halah penuh.” katanya pendek.

“Iya pak, penuh asap,” kataku. ”Masuk pak?”

“Enggak lah aku di depan sini aja.”

Aku ingat waktu pak Made pertama ke pesantren rombongan empat orang, pak Made asalnya beragama Hindu. Saat itu setelah menghadap Kyai. Semua orang dikupas satu-satu, semua melongo karena Kyai tau mereka habis berzina dengan wanita panggilan di salah satu hotel. Semua wajah menunduk seperti dihadapkan pada pengadilan Tuhan.

“Aku saja tahu dengan apa yang kalian lakukan apalagi Alloh, apa kalian berani menghadapi adzabNya?” kata Kyai walau masih dengan nada lembut. Besoknya pak Made disuruh membershkan diri di laut pantai Carita, dan setelah pulang dari pantai, maka pak Made dituntun membaca dua kalimat syahadah untuk masuk Islam, sejak itu pak Made aktif mengikuti jamaah torekoh kodiriyyah wankhsabandiyyah, aktif mengikuti jamiyah setiap bulan melakukan khataman.

Jam telah menunjukkan pukul 11 malam, dan dzikir berjamaah pun dimulai dipimpin langsung oleh Kyai. Para santri termasuk aku duduk di sekitar Kyai, dan para jamaah memenuhi majlis. Keadaan teramat kyusuk. Semua mengalir pelan, namun penuh ketenangan, sampai jam 3 dini hari dzikir pun selesai, kami makan bersama dengan nasi yang dibawa dari rumah makan NIKKI dari Subang, dan orang yang ingin menyampaikan keluhan menghadap Kyai, antri satu-satu.

Masih ada waktu sebelum subuh datang, aku pun pergi ke kamar, menyelonjorkan tubuh dan melafatkan ilmu melepas sukma. Sukmaku pun melesat, melintasi ruang dan waktu, ke arah sekolah angker di desaku, mungkin cuma lima menitan aku telah sampai, keadaan sepi, aku segera masuk ke dalam, tiba-tiba ku dengar suara,

“Nah ini orangnya sudah datang,” suara itu dari 2 arwah yang kemaren berantem denganku.

Tapi dari pintu melompat dua bayangan tinggi besar menghadangku,

“Lho kok sampean kang?” kata bayangan satu ke bayangan yang lain. Seorang berkumis tebal melintang dengan pakaian ala Madura.


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di