alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Putaran tujuh..
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfd12ab529a4576778b4568/putaran-tujuh

Putaran tujuh..

Dan “krek…nyut…krek nyut…” Ternit memantul-mantul seperti dibuat nyot-nyotan kaki yang besar, mengingat ternit yang kuat, nampaknya tak mungkin kucing atau tikus. Tapi aku tak bergeming dan terus melanjutkan wirid sampai selesai.

Ternit mental-mentul itu terjadi hanya sampai setengah jam, kemudian berhenti.

Jam tiga aku baru menyelesaikan wirid, kemudian ikut tidur di dekat kedua temanku. Paginya setelah sholat subuh aku tidur lagi, karena mata yang masih mengantuk, jam sembilan aku baru bangun, setelah memakan sarapan yang disediakan, aku menghampiri Zamrosi, yang tengah menyapu halaman,

“Lutfi kemana Zam?”

“Pulang dulu mas… ada apa mas..?”

“Aku mau naik ke atas ternit..”

“Wah mau ngapain mas, kok repot…”

“Mau melihat ada apa di atas ternit,”

Tanpa menunggu jawaban Zamrosi, aku segera mencari jalan naik ke ternit. Dan ku temukan di atas dapur, untung ada planggangan di sana-sini, sehingga memudahkanku naik ke atas.

Untung aku ingat membawa senter, sehingga kalau terlalu gelap bisa ku lihat, aku juga membuka genteng, sehingga penerangan masuk, dan dalam ternit tak terlalu gelap, aku menyusuri kayu sampai ke arah di atas tempatku semalam melakukan wirid, dan itu melewati satu ruangan, kubuka genteng lagi, sehingga penerangan masuk, dan suasana terang, kulihat kayu penahan ternit kuat, ku injak dengan kakiku tepat di mana semalam kayu ini melengkung, sembari berpegangan pada usuk takut jatuh, tapi aku merasa aneh, memang tanpa pegangan sekalipun kayu ini kuat menopang tubuhku, bagaimana semalam bisa melengkung-lengkung tak karuan, tiba-tiba mataku melihat dua benda menggeletak, aku segera memungut.

Benda itu ternyata sebuah batu akik sebesar jempol tangan tanpa emban dan sebuah keris kecil, dan warangkanya, keris itu cuma sebesar jari kelingking anak kecil, tapi bentuknya amat antik sekali, walau bentuknya teramat kecil tapi sangat antik sekali, warangkanya terbalut kain rapi, tapi sudah sangat usang dan kuno, ketika ku tarik lolos keris itu dengan kedua jariku, ah betapa mungilnya tapi teramat indah, karena keris itu dihiasi ukiran teramat detail, aku tak sanggup membayangkan bagaimana mungkin, seseorang mengukir dalam keris kecil ini sedemikian detailnya.

Tapi aku bukan orang yang suka keris dan batu akik, walau banyak beredar cerita tentang batu dan keris yang mempunyai kesaktian.

Aku hanya orang yang tak punya pikiran neko-neko, bagiku mengamalkan agama sebaik mungkin, hidup tenang, istri sholehah, anak-anak yang sholeh-sholehah, serta keluarga selamat, sejahtera. Walau aku percaya keampuhan keris, karena jin yang menghuninya. Tapi aku lebih percaya Alloh penolongku.

Aku pun turun dari internit.

“Kamu mau keris Zam?“ tanyaku setelah turun.

“Keris? Untuk apa mas?” tanyanya dengan pandangan heran.

“Ini aku dapat keris dari atas, ya kalau kamu mau?”

“Wah kalau saya ini kalau ada di kasih duwit aja, jangan keris, saya ini orang susah mas, butuhnya duwit…”

“Ya udah kalau tak mau…”

“Coba lihat kerisnya mana mas?”

Keris segera ku keluarkan, dan dilihatnya, setelah dijinggleng dan diteliti, keris diberikan lagi padaku.

“Wah aku gak ngerti sama sekali tentang keris mas, tapi kok kecil sekali ya, kayak mainan anak-anak aja.”

“Tapi kalau mas Ian mau, aku punya teman yang sukanya mengoleksi keris, dia pasti mau dikasih keris,”

“Nanti malem suruh aja datang kesini.”

“Tapi dia preman stasiun mas, gimana?”

“Ya nggak papa, suruh aja datang, siapa namanya?”

“Namanya Gimo mas… baik nanti aku hubungi.”

Siang itu aku mengisi batu untuk ku tanam ke empat penjuru rumah, sebagai pagar gaib. Malamnya Gimo datang, setelah berkenalan denganku, aku mengajaknya duduk di teras, membicarakan keris yang aku temukan.

Gimo orangnya tinggi besar, dempal, dan berotot, sangat suka mempelajari ilmu kesaktian, dan suka mengumpulkan wesi aji dan batu akik.

“Bener nih kang sampean mau ngasih saya keris?” tanyanya setelah duduk di sampingku. Dan Lutfi juga Zamrosi ikut nimbrung ngobrol.

“Ia mas Gimo, mas Ian ini, mendapatkan keris tadi siang,” sela Zamrosi.

“Dapat dari mana to mas?” Lutfi yang belum tau bertanya.

“Dapat dari internit..” kata Zamrosi, mendahuluiku menjawab.

“Kamu ini mbok ya diam dulu to Zam, biar mas Iyan cerita,” kata Lutfi.

“Iya Zamrosi benar, aku mendapatkannya di ternit,”

“Wah bagaimana itu bisa tau kang? Ah pasti sampean ini orang sakti.” kata Gimo sumringah.

“Ya kebetulan saja…”

“Ah tak mungkin kebetulan, wong tadi pagi tiba-tiba aja pengen naik ke ternit, kan aneh?” kata Zamrosi nyerocos.

“Gimana to gak sakti mas Gimo? Mas Ian ini kan kesini untuk memagar rumah ini, diminta bos yang punya rumah ini,” kata Lutfi, menjelaskan.

“Wah semuda ini, masih bocah..!,” kata Gimo.

“Tapi nyatanya begitu…”

“Sudah-sudah, nih mas Gimo keris dan batu akiknya, silahkan diterima…” kataku sembari mengeluarkan kedua benda, dan menyerahkan pada Gimo, dia menerima dengan gemetar.

“Wah kecil amat kerisnya?” kata Lutfi, yang memang baru melihat keris ini.

“Wah ini keris dan batu tak bisa dipisahkan kang, dan keris ini ampuh sekali.” kata gimo setelah mengamat-amati sebentar.

Saat kami tengah asyiknya ngobrol, tiba-tiba “Duaar!!, bruakkk..!!” suara ledakan tabrakan motor dengan motor, kulihat sekilas, sebuah motor Gl pro, menyalip ke kanan mendahului kendaraan lain, tak taunya ada mobil angkot di depan, maka motor itu membanting ke kiri, untuk menghindari mobil angkot, dan ternyata di samping angkot ada motor lain yang juga mau mendahului angkot, maka tak terelakkan lagi kecelakaan pun terjadi, kedua pengendara sampai terpental dan terbanting di aspal. Pengendara Gl pro langsung tewas di tempat. Keadaan menjadi ribut sekali, jalanan macet total, karena kecelakaan tepat di tengah jalan, tubuh pengendara Gl pro tergeletak, dan darah meleleh kemana-mana, mungkin kepalanya pecah.

Orang-orang membludak, karena memang masih berlangsung kegiatan Agustusan, makan gratis.

Ku lihat Gimo tangkas juga, dia segera menggotong pengendara Gl pro, di masukkan ke pikup dan disuruh membawa ke rumah sakit, sementara pengendara Karisma musuh Gl pro tak apa-apa, walau luka lecet-lecet, tapi kedua motor hancur sana-sini pecahan onderdil, dan kaca lampu berserakan di sana sini.

Ah ini benar-benar tak beres, tak bisa dibiarkan, aku segera masuk, mengambil air wudhu, kemudian duduk dalam kamar, menyatukan rasa dan cipta, membaca semua wirid dalam hitungan tiga-tiga, kemudian membaca doa hijab yang diajarkan kyai kepadaku. Mengalir kekuatan dari pusarku, kemudian tersalur ke tanganku. Kubayangkan aku mengitari jalan depan rumah lalu menangkap semua lelembut, jin, siluman, mengikatnya jadi satu kemudian kubuang ke belakang rumah dalam keadaan terikat.

Aku bernapas lega, dan mengusap keringat yang keluar mbrendol-mbrendol sebesar jagung dari pori-pori tanganku, keringat bahkan menetes-netes dari ujung hidungku, juga mengalir dari pori-pori kepalaku, mengalir ke leherku, dan punggungku sampai lengket, basah oleh keringat.

Aku segera beranjak keluar, tak lupa mengambil keempat batu yang tadi siang kuisi, dan di luar keadaan sudah sepi, Lutfi dan Zamrosi masih duduk, ngobrol ditemani beberapa tetangga toko sekitar, aku memanggil mereka berdua, lalu kuajak menanam dua batu di pojok belakang rumah, dan dua batu di pojok depan rumah.

Malam itu aku tak tidur terlalu malam, mengingat wiridku telah selesai. Esok paginya, setelah subuh aku mengajak kedua temanku itu jalan-jalan, sekalian mencari sarapan bubur kacang hijau, di tengah perjalanan kami bertemu Gimo, sedang menggenjot sepedanya,

“Mau kemana kang Gimo?” sapaku. Dia langsung berhenti.

“Ee…kang Ian, kebetulan sekali kang, aku mau ke tempat kang Ian, mau mengembalikan keris dan akik pemberian kang Ian semalem.” katanya, sembari menuntun sepedanya di sampingku.

“Lho emangnya kenapa? Bukankah kang Gimo ini pengoleksi benda antik…?” tanyaku heran.

“Wah cilaka kang..” katanya masgul.

“Cilaka bagaimana to?” tanyaku.

“Kang Gimo mbok sampean ceritakan yang jelas.” Zamrosi menyela.

Pemuda kekar yang penuh tato di tubuhnya itu menarik napas dalam lalu mulai bercerita.

Semalam setelah terjadi kecelakaan Gimo mencariku, dan menanyakan kepada kedua temanku tentang keberadaanku, tapi oleh kedua temanku aku dilihat dalam keadaan wirid, jadi Gimo pun pamit pulang, dia mengendarai sepeda pancalnya pulang, karena memang rumahnya di daerah Pekalongan utara.

Saat sedang bersepeda itu dia melewati gerombolan pemuda yang nongkrong di gang sambil ketawa-ketawa, aneh Gimo marah dan menghampiri pemuda yang ada enam orang itu.

“Hei, mengetawakanku!” bentaknya.

“Tidak kang, kami ketawa sendiri.” jawab seorang pemuda yang duduk paling pinggir, menatap heran pada Gimo.

Gimo maju memegang kerah baju pemuda itu, melihat gelagat yang kurang baik, kelima teman pemuda yang dipegang kerah bajunya oleh Gimo segera menyerang dengan bogem mentah bertubi-tubi. Yang kesemuanya dapat ditangkis dan dielakkan oleh Gimo, kini Gimo yang mengamuk, keenam pemuda itu dihajar semua sampai nyungsep, tak ada yang bangun lagi, padahal biasanya untuk mengalahkan satu dua orang Gimo takkan bisa mengalahkan dengan semudah itu. Tapi ini ada enam orang, dengan mudahnya dapat ia robohkan tak sampai sepuluh menit.

Dia juga heran kekuatannya juga dia rasakan berlipat-lipat. Pasti ini karena keris dan batu akik yang dibawanya. Gimo pun melanjutkan perjalanan pulang, meninggalkan keenam pemuda yang terkapar.

Lalu dia sampai di rumah, menggedor-gedor pintu, Gimo cuma hidup di rumah bertiga, ibunya, adiknya lelaki yang bernama Munsorif dan dia sendiri.
Gimo masih menggedor pintu, tapi pintu tak kunjung dibukakan, darahnya mulai naik ke ubun-ubun, maka dia menggedor sampai keras.

“Ia sebentar…!” terdengar suara ibunya. Dia makin tak sabar.

Setelah pintu dibuka, ia membentak ibunya.

“Buka pintu lama banget, apa perlu pintu ini aku jebol?”

“Wah jangan begitu to, ibu kan harus jalan dulu…” kata ibunya lembut.

“Buka kan gak perlu ibu, Munsorif mana? Pasti sudah ngorok!!” kata Gimo membentak.

“Dia lagi sholat ngger…, jadi ibu yang harus buka.”

“Ah sholat aja diurusi, hidup tak berbakti, masak ibu disuruh membuka pintu!!”

“Sudahlah ngger, ibu senang kok membukakan pintu untukmu, ndak usah marah-marah, tapi kamu harus sabar, ibu ini sudah tua, jadi jalannya pelan.”

“Ada apa to kang? Mbok ya sudah, jangan marah-marah, tak enak didengar tetangga,” suara seorang pemuda yang tak lain adalah Munsorif, pemuda ini sungguh jauh sekali dengan Gimo yang srampangan ugal-ugalan, pemuda ini lembut, wajahnya bersih, dan bercahaya karena air wudhu, maklum Munshorif orangnya selalu daimul wudhu, yaitu melanggengkan wudhu, jadi kalau batal wudhunya dia wudhu lagi, sehingga wajahnya mengeluarkan pancaran cahaya alami, penuh kelembutan, ditambah baju koko yang dipakainya, berwarna putih kebiruan, dan peci putih yang bertengger di kepalanya, melihat adiknya keluar, Gimo makin meluap marahnya,

“baik sok alim, mau menceramaiku…!?” katanya dengan mata berapi-api.

“Ya enggak kan, cuma kang Gimo jangan ribut, kan didengar tetangga, malu…” Munsorif suaranya dipelankan.

“Berani kau melarangku… rasakan ini!!” tiba-tiba Gimo menyerang mengayun bogemnya ke wajah adiknya.

Sebuah pukulan menderu ke arah kepala Munsorif, pemuda ini pernah juga hidup di pesantren, dan belajar sedikit ilmu silat, melihat kakaknya menyerang ke arah wajahnya dia melemaskan tubuh ke belakang dan mundur satu langkah, sehingga pukulan Gimo menerpa tempat kosong, dan itu membuat Gimo yang merajai stasiun marah, merasa ditantang dan dilecehkan, maka dia makin membabi buta menyerang adiknya, sementara ibu Duriah, ibunya kedua pemuda itu, menjerit-jerit melihat kedua anaknya berantem,

“Aduh lub… jangan berantem to lub, kalian ini saudara luuub… aduh piyo to iki yo kok kebangeten…” kata perempuan tua itu menangis.

Tapi Gimo memang sudah mata gelap, dia terus memburu Munsorif dengan serangan-serangan mematikan, sementara adiknya itu hanya mengelak dan menangkis serangan.

Satu kali Gimo melakukan tendangan sapuan ke arah perut, dan Munshorif menekuk perutnya ke belakang, sehingga serangan lewat tiga centi dari perutnya, tapi Gimo menyusul dengan pukulan tangan kiri menyamping ke arah wajah Munsorif, pemuda itu mengengoskan kepalanya, sehingga pipinya selamat dari kemplangan. Tapi ternyata itu hanya serangan tipuan, ketika terdengar tangan kanan Gimo menghantam pipi kiri Munsorif, “prok!!” Pemuda itupun terjengkang. Darah keluar dari hidung, telinga dan mulut Munsorif, sebentar dia berkejedan dan diam, ibu Duriah pun menghambur.

“Munsorif…! Nak jangan mati nak… nak Munsorif anakku… hu… huu… Gimo, kenapa kau bunuh adikmu..!? Tak puas-puasnya kau menyusahkan aku…huuk..”

Ibu Duriah yang tak kuat menahan goncangan batinnya itupun pingsan.

Sementara Gimo, tiba-tiba tersadar… ah apa yang kulakukan, suara hatinya…benarkah aku membunuh adikku.. oh..! Dia menghampiri Munsorif, dan meraba urat leher dan denyut nadinya… dan dia lega ternyata adiknya itu cuma pingsan saja.

Lalu Gimo yang merasa telah sadar dari pengaruh gaib keris dan batu akik dalam sakunya segera mengangkat ibunya ke amben. Juga mengangkat tubuh Munsorif ke amben yang lain.

Tetangga Gimo tak ada yang datang, karena sudah jadi adat, Pemuda bengal ini bikin ribut, tetangganya tak berani ikut campur, bisa-bisa malah kena sasaran. Jadi kalau ada ribut-ribut di rumah Gimo, mereka lebih memilih menutup pintu rapat-rapat.

Ah mungkin nanti Gimo kalau mati, berangkat ke kuburan sendiri.

Setelah membaringkan kedua orang itu Gimo keluar rumah, lalu mengayuh sepedanya ke arah pertigaan Ponolawen, jam telah menunjukkan jam setengah dua, biasanya masih ada tukang becak yang narik malam hari, dan prasangkanya tak meleset, ada beberapa tukang becak yang masih berjejer.

Gimo langsung membawa salah seorang tukang becak ke rumahnya, sampai di rumah dia menaikkan adiknya ke atas becak, dan mengantarnya sampai ke rumah sakit. Menyerahkan perawatan kepada dokter jaga, lalu pulang lagi, sampai di rumah, ibu Duriah, ibunya Gimo telah sadar dan sedang menangis sesenggukan, melihat Gimo datang, ibunya langsung menghambur.
Sambuuung....》》
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di