alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfd0d65c1d770206c8b456a/dalamnya-tujuh

Dalamnya tujuh

“Mas Ian…!” kata kyai yang tiduran di pangkuanku, sementara beberapa tamu lelaki perempuan, mengitari kami, ada sekitar sembilan orang.

“Iya kyai…”

“Nanti mas Iyan kembali ke pondok dulu ya..! Sekalian mampir ke rumah Macan…” kata kyai sambil memegang tanganku mengarahkan supaya memijit arah di atas kedua mata.

Macan adalah panggilan santri, yang seangkatanku, asalnya orang rusak, suka mabuk, teler, main perempuan, berantem, jadi raja gank, tapi kemudian ditobatkan, dan menjadi murid kyai, yang ditugaskan untuk menyadarkan para pemabuk dan preman. Pengikutnya dari para orang-orang yang rusak di daerahnya sudah banyak, walau dalam keadaan tersembunyi.

“Ada apa kyai, kok saya harus ke tempat Macan?”

“Nanti ajak dia nglakoni nggila, tapi dia tak akan mau, orang udah rusak seperti itu kok masih ada di sudut hatinya pengen di-wah orang, ah Macan…Macan….!”

“Kalau kyai sudah tau dia tak mau ngedan, kenapa aku ke rumahnya Macan kyai?…”

“Sudah nanti pokoknya kesana aja..! Masih punya uang gak?” tanya kyai, memang begitulah kyai, di mana-mana rasanya tak ada seorang kyai yang berdialog dengan murid santrinya sedetail itu, kyai tau uang di sakuku tinggal berapa, tapi dia masih bertanya,

“Masih kok kyai…”

“Ini untuk beli rokok, rokoknya gak punya kan?” kyai mengangsurkan uang dua ratusan ribu, memang rokokku telah habis, aku ingat kalau di pondok, aku sama sekali tak punya uang dan rokok juga tak ada, tembakau dari uthis juga tak ada, maka kyai memanggilku, dan memberi rokok yang anehnya saat itu ku bayangkan, walau kadang aku membayangkan rokok yang aneh-aneh, misalkan roko Cigarilos. Maka kalau kyai memanggilku akan memberi rokok cerutu Cigarilos. Pernah satu kali temanku menemukan bungkus rokok Djisamsoe yang dari plastik pak berwarna hitam, bukan dari kertas, dan kami membicarakan, bagaimana ya rasanya, tiba-tiba kyai memanggilku dan memberi rokok Djisamsoe dari plastik itu.

Aku segera menerima yang diberikan kyai, kenapa tak ditolak? Nah itulah unggah ungguhnya, tata kramanya, diperintah apa saja, atau diberi apa saja harus siap menerima, walau kadang tak masuk akal.

Karena beda dengan kyai biasa, sambil masih tiduran di pangkuanku, kyai pun menanyakan keperluan tamu satu persatu, dan memberikan solusi.

Setelah tamu semua telah pergi, kyai bangun dari pangkuanku.

“Apa yang dipesankan oleh Syaih Abdul qodir Al jilani….?” tanya kyai. Dan walau aku telah menyangka akan ditanya soal itu, aku kaget juga, tapi segera maklum kalau kyai tau.

“Anu kyai saya disuruh menyempurnakan ilmu, dan diminta segera baiat Toriqoh kodiriyah wanaksabandiyah.” jawabku.

“Ya kalau begitu nanti sampai di pondok aku baiat.” kata kyai menepuk pundakku. ”Sekarang segera saja berangkat ke rumah Macan…!”

Aku segera mencium tangan kyai, dan melangkah pergi, karena tamu-tamu yang lain telah datang ke depan kyai.

Kyai adalah pembaiat Toriqok kodiriyah wa naksabandiyah yang diserahi baiat dari Abah Anom, sesepuh pesantren Suryalaya, juga diserahi baiat dari Abuya dari pesantren Syaih Nawawi Tanahara, Serang. Walau kyai tak mondok di kedua pesantren itu.

Aku segera mengambil tasku yang masih dalam kamar, dan tak lupa pamitan kepada pak Dadang.

Aku pun menyetop bus di depan rumah makan, jam menunjukkan jam sepuluh siang, panas serasa menyengat kepalaku, untung aku memakai tutup kepala kain coklat susu, yang terbuat dari beludru, seperti kain sajadah tebal, jadi kepalaku walaupun panas agak nyaman, rambut kuikat kebelakang dan ku masukkan baju.

Setelah memilih bus akupun akhirnya mendapatkan bus yang jurusan terminal Kampung Rambutan.

Jam tiga siang memasuki terminal Kampung Rambutan. Aku segera mencari ojek di belakang terminal dan setelah tawar menawar harga aku pun diantar ke daerah Ciracas, tempat tinggal Macan.

Sebenarnya ada tiga orang murid kyai yang benar-benar seangkatanku yaitu aku sendiri, Macan, dan Haqi.

Haqi sendiri telah menjadi guru toriqoh di Jawa Timur, selain membuka pengisian badan, memagar rumah, mengobati orang sakit, dia juga sering dipanggil untuk mengisi orang-orang Pagarnusa.

Ojek menurunkanku di depan rumahnya Macan, rumah yang sederhana, seorang perempuan cantik istrinya Macan sedang mengasuh anaknya di depan rumah.

Perempuan itu yang memang sangat mengenaliku langsung menyambutku dengan sapaan, karena dulu dia salah satu kekasihku, ah masa lalu. Dia bernama Idaraya.

“Ee Iyan… sendirian?”sapanya.

“Iya nih Da… Macan ada?”

“Ada, tapi masih tidur.., ayo masuk dulu…”

Aku segera masuk dan duduk di sofa. Sementara Ida masuk ke dalam. Aku jadi ingat, saat itu di pesantren, aku dan Macan adalah teman yang teramat akrab, kami ini seperti tumbu dan tutup, kemana ada aku, pasti ada Macan, mandi, masak, dan tidur pun selalu bareng. Kalau soal tidur Macan ini tak bisa pisah dariku, kami selalu tidur satu bantal, bukan apa-apa, Macan sekalipun seorang jagoan tapi dia teramat penakut, takut pada hantu.

Karena dulu para santri belum punya kobong sendiri, jadi masih tidur di tempat pembuangan jin, yang luasnya dua puluh meter persegi, walau tempat itu luas dan bangunan rapi tapi karena sudah diputuskan untuk tempat membuang jin yang ditangkap, jadi angker banget.

Yah ruangan pembuangan jin ini didiami oleh beribu-ribu jin, bahkan mungkin berjuta, aku sudah biasa, bahkan kalau lagi tubuh pegel, tak jarang aku minta dipijiti, karena dihuni oleh banyak sekali jin, maka siang dan malam ruangan luas ini teramat dingin, seperti dalam kulkas saja, kalau siang pun walau di luar terasa panas, tapi udara di dalam teramat dingin, bahkan kalau tidur tak pakai selimut, maka tubuh terasa tak kuat, karena dinginnya.

Malam itu Macan ndesel dengan selimut sarungnya dan masih memakai celana levis, karena memang teramat dinginnya, dia tidur denganku satu bantal, kalau kutinggal dia pasti akan ikut bangun, apalagi kemaren malam ada tamu yang pingsan karena melihat pocong, kuntilanak dan tengkorak, itu semakin membuat Macan jerih sekali.

“Ian… Dah tidur belum…?” suara Macan terdengar dari balik sarungnya, karena wajahnya ditutupi sarung, takut kalau melihat hal-hal yang menyeramkan. Padahal Macan ini orangnya tinggi besar, wajahnya seram, pipi berlubang-lubang bekas jerawat batu, alisnya tebal, hidung mbengol, bibir tebal, mata mencorong merah, dan tubuh dempal berotot, kalau ngomong suaranya berat.

“Ada apa?” tanyaku yang memang belum tidur, aku terbiasa memutar tasbih sambil tiduran, melanjutkan wirid-wiridku.

“Aku ini sebenarnya mau menikah…” memang saat itu Ida belum menjadi istri Macan. Tapi sudah bekas pacarku.

“Kamu, mau nikah? Apa aku tak salah dengar Can…?”

“Bener, aku tak bohong…”

“Wah kamu jelek gitu, kok laku ya…”

“Ini perjodohan orang tua, sama orang tua, jadi aku sendiri belum melihat ceweknya…”

“Wah kalau belum ngelihat ceweknya, jangan mau Can..!”

“Ya kalau melihat ceweknya di foto sih udah Ian, tapi menatap langsung yang belum…”

“Oo gitu, kamu bawa photonya Can? Kalau bawa, coba aku lihat cakep enggak.”

“Kalau ceweknya jelas cantik.”

“Mana fotonya? Coba lihat?!” aku penasaran.

Masih menutup wajah dengan sarung, Macan kedesal-kedesel mengeluarkan dompet membukanya dan mengeluarkan foto, lalu menyerahkan padaku, dari balik sarungnya.

Aku menerima foto itu dan melihat, mengarahkan foto itu ke cahaya lampu listrik yang membias ke arahku.

“Bagaimana Ian, cantik khan?”suara Macan dari bawah sarungnya.

“Entar dulu, aku seperti kenal dengan foto ini……, wah tak salah lagi, ini Idarayya..!” kataku spontan.

“Lho kamu kok kenal Ian?” Macan sudah membuka wajahnya dari tutup sarung.

Sambuuung....》》
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di