alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Langkah ke tujuh
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfd0c59902cfe030f8b4568/langkah-ke-tujuh

Langkah ke tujuh

'Penguasa raja raja jin:7'
Aku segera mencari arah tulisan yang menunjukkan Musholla. Dan melakukan sholat jamak dan koshor. Selesai sholat, setidaknya hati tentram. Aku mengagumi mushola dan rumah makan ini begitu besar sekali. Tiba-tiba seseorang lelaki setengah baya menghampiriku, dan mengucap salam kepadaku, dan ku jawab salamnya.

“Mas Ian kan?” tanyanya kepadaku, aku jelas kaget karena tak pernah merasa kenal dengan orang ini. Apa ini penggemarku lagi? Betapa susahnya kalau jadi orang terkenal macam artis. Kemana-mana tentu tak bebas. Aku mengiyakan.

“Ah sudah saya kira…” wajah lelaki itu sumringah, kemudian menyalamiku.

“Bapak siapa?” tanyaku masih tak mengenali.

“Aku pak Dadang, yang sering ketempat kyai, mungkin mas Ian tak mengenaliku, tamunya kyai kan banyak.” kata pak Dadang memperkenalkan diri. Lalu pak Dadang memanggil pelayan dan membisikinya. Dan pelayan itu segera cepat berlalu, sebelumnya membungkuk, rupanya pak Dadang dikenal dan dihormati.

“Mari kerumah mas.” kata pak Dadang yang membuatku heran.

“Tapi saya ikut bus malem pak, apa rumah bapak ini dekat sini?” tanyaku, takut ditinggal bus.

“Itu rumah bapak di belakang, kelihatan dari sini, mas Ian singgah aja di sini, barang tiga empat hari, lagian kyai juga tiga hari lagi mau ke sini, jadi nanti ke Bantennya bisa bareng.”

“O, kyai mau ke sini?” pak Dadang manggut.

“Ya kalau begitu saya ngambil tas saya yang masih di bus, sekalian bilang kalau saya tak ikut melanjutkan perjalanan.”

“Ya sebaiknya begitu.” maka aku pun menuju bus yang diparkir mengambil tas dan bicara pada supir kalau turun di sini saja.

Aku segera menemui pak Dadang yang masih berdiri di depan Mushola. Dan dia mengajakku kerumahnya, rumah besar mewah yang didomisili marmer dan kayu jati dipadukan sedemikian artistik.

“Mas Ian tidur di kamar ini aja.” suara pak Dadang mengagetkanku. Karena aku sibuk menikmati arsitektur rumah yang dibuat demikian sederhana namun elegan, dengan lemari bifet tinggi menyentuh plafon. Dan lantai dari marmer yang mengkilap.

Aku segera masuk kamar didahului pak Dadang. Setelah menyuruhku mandi dulu, pak Dadang pun pergi. Aku segera mencopot baju untuk mandi, kamar ini luas, kurang lebih empat meter persegi, dua ranjang besar dalam kamar, dengan selimut yang tebal, salah satu dinding kamar tertutup lemari bifet yang besar, ada tivi dua puluh sembilan inc. Juga Dvd player Aiwa, AC yang selalu menyala. Sehingga udara terasa dingin, aku segera memasuki kamar mandi yang ada dalam kamar, bak mandi untuk berendam telah penuh, dan di sampingnya terdapat minuman segar entah apa namanya, aku terlalu ndeso untuk menjelaskan semuanya. Tubuhku pun ku rendam air yang terasa hangat. Dan mencicipi minuman, kujilat-jilat dulu, takutnya memabukkan.

Setelah mandi dan tubuh terasa segar, aku segera ganti pakaian, pintu kamar diketuk, lengkap memakai pakaian ku buka pintu, seorang pemuda berpakaian seragam biru muda dengan krah baju warna kuning.

“Ini mas silahkan makan, sudah disiapkan..” katanya sambil membungkuk, aku hanya manggut dan keluar kamar, wah di depan kamarku di depan tivi di atas tikar yang terbentang, beraneka masakan telah terjajar rapi.

“Silahkan mas dinikmati, saya tinggal dulu…” katanya sambil segera berlalu.

Aku yang ditinggal tingak-tinguk, melihat makanan sebanyak ini, bingung mau pilih yang mana.

Nasi di bakul, sebelahnya ada sotong goreng tepung, pepes ikan laut, pepes jamur, sambel tomat, lodeh ikan pari, soto sapi, ayam goreng kering, sotong masak hitam, pecel lele, burung dara goreng renyah, hati sapi goreng kering. Ah masih banyak lagi, aku tak tau namanya, ada juga jengkol goreng, lalapan petai, terong ungu dan segala macam daun yang aku tak tau namanya. Aku pun mulai makan, ku cicipi satu-satu, toel sana sini, sampai piringku penuh, ketika aku lagi makan, pak Dadang muncul,

“Mas Iyan, dikenyangkan lo makannya, jangan sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri saja…” cuma berkata itu dia pun berlalu.

Seumur-umur baru kali ini aku makan sampai seramai ini, dengan berbagai macam masakan dan aneka warna lauk, pertama aku begitu bersemangat, karena kecendrungan nafsu, semua pengen aku embat, tapi setelah kupikir-pikir, ah rasanya tetap itu-itu saja, kenikmatan semu, sebatas tenggorokan, renyah, gurih, asin, pahit, manis, kecut, kenyal, alot, pedas… ah membosankan, ku ambil teh poci dan menuang ke cangkir kecil, menyruputnya pelan-pelan. Kuambil hati sapi goreng dan melangkah keluar, ku ambil rokok Djisamsoe filter, dan kunyalakan, aku duduk di undakan emperan depan rumah pak Dadang, malam makin larut, tapi mobil yang mengunjungi rumah makan ini makin rame saja. Khususnya bus malem dari Jakarta ke arah daerah, juga dari daerah ke arah Jakarta. Juga tak sedikit mobil-mobil pribadi.

Akhirnya ku tau rumah makan ini adalah miliknya pak Dadang, nama Nikki adalah nama pendiri pertama rumah makan di daerah Subang, sekarang setelah H. Nikki meninggal, maka rumah makan diteruskan oleh anak dan saudara-saudaranya termasuk pak Dadang. Itu penjelasan dari pelayan yang melayaniku.

Setelah rokok habis dua batang, aku pun kembali ke kamar dan berangkat tidur. Menunggu kyai selama tiga hari di rumah pak Dadang, membosankan juga, ketika kyai datang tiga hari kemudian, aku teramat bahagia, aku segera mencium tangannya, takzimku sebagai murid, seperti biasa, kyai tidur di pangkuanku, dan minta kupijit kepalanya, oh rasa cinta karena Alloh sungguh nikmatnya. Aku sangat tahu kyai sangat mencintaiku sebagaimana aku mencintainya karena Alloh. Bila kyai tiduran di pangkuanku maka sudah pasti, ia akan menanyakan tentang keadaan keluargaku, dan memperingatkan akan ada orang yang iri dengan keluargaku, akan terjadi begini begitu, dan tak lupa kyai menurunkan ilmu kepadaku.

Aku kadang terharu akan cinta kyai kepadaku yang teramat besar, sampai kyai hafal betul orang yang ada di ruang lingkup kehidupanku, walau aku tak pernah menyebutkan nama-namanya, tapi kyai hapal satu-satu. Sebegitu sayangnya kyai padaku, di manapun aku bekerja, kyai pasti menjengukku, bahkan kadang menungguiku berhari-hari, karena tak ingin aku didholimi oleh orang yang memakai jasaku. Pernah kyai mengatakan padaku, jika ada orang yang memusuhimu, maka akulah yang akan menjadi tameng hidupmu, maka jangan takut berdiri di atas kebenaran.

Berlanjuut....>>
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di