alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Konsumerisme: Salah Kapitalisme atau Konsumen?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfcbf129e74048c1d8b4571/konsumerisme-salah-kapitalisme-atau-konsumen

Konsumerisme: Salah Kapitalisme atau Konsumen?

Dalam perspektif kapitalisme, pasar adalah raja. Barang siapa yang berhasil menyenangkan banyak konsumen, maka dialah yang akan memenangkan pertarungan. Perusahaan-perusahaan kapitalis akan melakukan apa pun demi menarik hati para konsumen. Itu sebabnya perusahaan-perusahaan kapitalis terlihat begitu gencar dalam melakukan beragam promosi agar dagangannya laris-manis tanjung kimpul. Survival of fittest. Siapa yang kuat dialah yang akan bertahan. Tak jarang sesama perusahaan kapitalis pun saling berseteru, berkompetisi, dan berusaha untuk menjadi sang pemenang.


Maka dikepunglah kita dengan beragam macam iklan produk. Pakailah sabun ini supaya kulitmu putih, belilah motor ini supaya kamu terlihat keren, makanlah permen ini supaya mulutmu wangi, minumlah obat ini supaya tubuhmu sehat, dan lain sebagainya. Maka pergilah kita ke supermarket untuk berbelanja. Aneka barang dagangan terhampar di depan mata, seperti memanggil-manggil: “Beli kami! Beli kami! Keluarkan kami dari ruangan yang dingin ini!” Kemungkinan besar produk yang paling gencar berpromosi itulah yang akan kita beli. Semakin sering kita membeli, semakin kita akan dianggap sebagai seorang konsumtif.


Well, memangnya kenapa kalau kita konsumtif? Memangnya salah kalau kita berbelanja? Jika memang budaya konsumerisme itu salah, lantas siapa sebenarnya yang patut disalahkan? Kapitalisme atau konsumen? Hampir kebanyakan orang pasti langsung menuding kapitalisme sebagai biang keroknya. Kapitalisme telah memberikan imaji-imaji kebahagiaan palsu secara massif ke dalam bentuk barang dagangan. Namun, bisakah sejenak saja kita merenung sebentar, sambil menatap jemari tangan kita yang sedang menunjuk. Ya, ketika kita sedang menunjuk, satu jari mengarah ke depan dan tiga jari lainnya mengarah ke diri kita sendiri! Dalam tulisan saya kali ini, tidak peduli saya akan dicaci, izinkanlah saya untuk menyalahkan konsumen.


Menurut Thomas Hobbes, secara alamiah setiap orang pasti akan mencari cara agar kebutuhan dirinya terpenuhi. Dari pernyataan Hobbes tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa para produsen kapitalis memenuhi kebutuhan dirinya dengan cara memproduksi suatu barang agar bisa diperjual-belikan. Para Konsumen memenuhi kebutuhan dirinya (makan, minum, gaya, hasrat, dll) dengan cara berbelanja.


Secara logika, adalah wajar jika para pedagang menawarkan dagangannya. Dan adalah bodoh jika para pedagang tidak pernah menawarkan dagangannya. Selama tidak ada unsur penipuan dan tidak bersifat koersi (pemaksaan), setiap orang bebas mempromosikan dagangannya. Bukankah Rasul juga pernah mengatakan bahwa usahamu mendekati takdirmu? Jika kita ingin dagangan kita laku, maka berusahalah untuk membuat dagangan kita laku. Kalau kata Homicide dalam Barisan Nisan, “Kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan.” Menurut saya, perusahaan-perusahaan kapitalis pun seperti itu. Mereka (para kapitalis) selalu berusaha untuk membuka segala pintu kemungkinan supaya dagangannya laku.


Kembali kepada budaya konsumerisme, yang jika memang budaya tersebut adalah salah, menurut saya kesalahan tidak melulu berada di pundak kapitalisme. Mereka hanyalah pedagang, yang adalah wajar jika mereka terlihat begitu agresif dalam menjajakan dagangannya. Dalam kapitalisme, menurut Ludwig Von Mises, konsumenlah yang berdaulat. Konsumenlah yang berkuasa. Kapitalisme hanya menuruti apa keinginan konsumen. Perusahaan-perusahaan kapitalis tidak akan membuat suatu produk dagangan jika konsumen tidak menginginkannya.


Ya, dari pemikiran Mises tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya keputusan “membeli” atau “tidak” tetap ada di tangan konsumen. Jika sedang di supermarket, kitalah sang raja. Kita bebas memilih dan tidak memilih. Kapitalis hanya menawarkan, perkara laku atau tidak, tetap tergantung konsumen. Tidak ada koersi di sana. Lagi pula, seperti yang Adam Smith katakan, setiap perdagangan terjadi “oleh kesepakatan bersama dan atas keuntungan bersama”. Jadi, sebenarnya dalam transaksi jual-beli itu telah terjadi simbiosis mutualisme antara pedagang (kapitalis) dan konsumen.

Kita sering melihat bagaimana seseorang yang, katakanlah, antikapitalisme gencar menyalahkan kapitalisme sebagai biang kerok dari lahirnya budaya konsumerisme, tetapi di sisi lain ia masih saja membeli dan menggunakan produk-produk terbaru kapitalis (handphone, komputer, TV[!], mesin cuci, buku-buku, rice cooker, kamera SLR, dll) dan merasa asyik-asyik saja dengan semua itu. Tanpa sadar mereka pun menikmati gaji hasil dari sistem upah yang diterapkan oleh perusahaan kapitalis tempat mereka bekerja. Termasuk saya, tentu saja.


Saya ingat, dulu saya pernah mencoret tembok depan supermarket Depok Town Square dengan menggunakan pylox, yang bertuliskan: “Stop Budaya Konsumerisme!”. Saat itu saya berpikir bahwa kelahiran mal-mal di kota Depok telah membuat warga Depok menjadi konsumtif. Saat itu saya tidak berpikir, bahwa kelahiran mal-mal di kota Depok pun bukan hanya atas keinginan pihak pengusaha yang kapitalistik, tetapi juga karena memang sebagian besar warga Depok menginginkan hal itu terjadi. Jika tidak, tentu mal-mal tersebut akan bangkrut dengan sendirinya. Nyatanya, mal-mal itu masih berdiri tegak lurus menghadap langit. Pengunjungnya pun selalu berdatangan. Sekali lagi, konsumen pun turut memiliki andil dalam kelahiran budaya konsumerisme.


Barangkali di antara pembaca ada yang kurang senang dengan pembahasan saya di atas dan akan berkata, “Tapi kan kapitalisme telah menggiring orang untuk beli, beli, dan beli. Kapitalisme telah berhasil membodohkan umat manusia tentang ilusi kebahagiaan dalam bentuk barang. Kapitalisme mencret itu telah berhasil membodohkan masyarakat sehingga tak ada lagi yang bisa membedakan apa itu want dan apa itu need! Kapitalisme telah membuat semuanya menjadi bias, sehingga fungsi pun telah berubah menjadi gengsi!”


Oke, kalau dibilang menggiring mungkin iya, namanya juga pedagang. Sama kayak di pasar, para pedagang berteriak-teriak, “Ember antipecah! Ayo beli, dijamin tidak akan pecah!”, “Sayang anak, sayang anak! Mainan untuk anak anda, ayo beli!”, “Dipilih, dipilih, dipilih!”, dll. Apakah ada yang salah dengan hal itu? Saya kira tidak. Dan tentang “membodohi” masyarakat, saya kira pernyataan itu terkesan sangat sok paling pintar sendiri. Pernyataan itu secara tidak sadar telah menggambarkan bahwa kebanyakan masyarakat itu bodoh-bodoh, sehingga gampang dibodohi sama iklan, dan dirinya adalah si pintar nan cerdas yang tidak mudah dibohongi citra-citra yang ditawarkan oleh iklan. Menurut saya itu tidak bijak. Saya yakin masyarakat kita sudah tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dan apa yang mereka butuhkan. Lagi pula, mengenai want dan need, se-tiap individu memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda. Jadi, menurut saya, para konsumen membeli karena memang mereka ingin membeli, tidak ada koersi dari kapitalisme. Sekali lagi, kapitalisme hanya menawarkan dagangan, hasil akhir tetap ada di konsumen: beli atau tidak. Konsumtif atau tidak, keputusan itu ada di tangan konsumen.


Jadi, jika kita benar-benar amat sangat antikapitalisme dan benar-benar amat sangat ingin menghentikan budaya konsumerisme, maka mulailah dari diri sendiri. Hentikan segala macam perilaku konsumsi terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh kapitalisme, seperti yang dilakukan oleh para Wong Sikep (Masyarakat Samin). Itu pun kalau kita mampu. Kalau ternyata tidak mampu, apa boleh buat, ternyata kita memang senang menyalahkan kapitalisme, padahal kapitalisme itu pada dasarnya berada di bawah kendali kita!


Sebelum menutup tulisan ini, sepertinya perkataan Jurgen Habermas asyik juga untuk kita simak, “Ketika kita ingin belajar kapitalisme, sesungguhnya kita belajar dari manusia itu sendiri.”[]

Disadur dari


#2019GantiGayaHidup #ubahcarapandang #gayahidupproduktif, #gayahidupproduktif #investasi #investasicerdas
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Dua-duanya gan kita nggak akan komsumtif klo nggak ada uang dan kita juga nggak akan komsumtif klo barang nggak didiskon ancur-ancuran
Salahnya uang gan, coba ganti dengan cara barter
emoticon-Hammer2
Free trade, free market, free apa lagi? Wkwk
salah konsumen juga mau jadi raja

ane ogah mah soalnya Raja bayar sih emoticon-Big Grin
Kembali lagi sesuai hukum Permintaan=Penawaran atau yang dikenal Demand=Supply dimana disitu ada permintaan pasti ada penawaran begitu juga sebaliknya. Apabila dilihat dari kacamata ideologi Kapitalisme tidak melulu salah dikarenakan kalangan tersebut melihat celah2 potensi tercipatnya suatu keuntungan, sedangkan dari sisi Konsumen didasari dari rasa kebutuhan dan keinginan suatu barang atau manfaat sehingga hal tersebut membuka celah kesempatan bagi para kalangan kapitalisme. emoticon-Wowemoticon-Toast


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di