alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jujur, Masih mau kah kamu duduk sambil menemani ayahmu makan?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfbd256925233d1568b4573/jujur-masih-mau-kah-kamu-duduk-sambil-menemani-ayahmu-makan

Jujur, Masih mau kah kamu duduk sambil menemani ayahmu makan?

Judul di atas bukan hanya sekedar judul, tapi itu pertanyaan. Pertanyaan yang harus ditanyakan kepada kamu yang sudah besar. Kepada kamu yang sudah mapan. Kepada kamu yang sudah berkeluarga. Dan kepada kamu yang biasa menemani istri dan anak-anak mu.

Rasanya kita patut tersungkur lesu, menerima rasa malu, dan mengakui atas kekhilafan diri kita yang sudah mulai melupakan sosok seorang ayah.

Satu sisi wajar memang ketika kita sudah dewasa, kita lebih fokus pada diri dan kehidupan kita yang sudah mulai kompleks.

Tapi apakah kita sekali saja masih mau duduk bersama di samping ayah kita? Menemaninya makan, seraya melihat raut wajahnya yang sudah mulai keriput. Rambut nya sudah mulai beruban bahkan lebih banyak ubannya dari pada rambut hitamnya. Kelopak matanya yang sudah mulai menjorok ke dalam akibat kulitnya tak sekencang dulu?

Masih kah kita menemani dia? Atau geser sedikit pertanyaan nya, pernah kah kita menemani dia lagi?

Beberapa menit yang lalu saya menemani ayah saya yang sedang makan. Memperhatikan semua perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Perubahan fisik, perubahan sikap, bahkan perubahan usia.

Pada saat itu hal yang paling saya benci adalah waktu. Karena waktu telah membawa semua perubahan perubahan itu. Perubahan yang dulu tak pernah saya bayangkan kini menjadi kenyataan. Namun dari waktu juga saya pun belajar bahwa, perubahan itu pasti terjadi. Apakah saya siap atau tidak.

Menemani ayah makan adalah cara bagi saya membuka lembaran masa lalu. Dimana dalam lembaran itu semua kenangan akan hadir di depan mata kita.

Coba kita lihat, bagaimana saat ayahmu bekerja untuk menafkahi ibumu yang sedang hamil dirimu. Lihat bagaimana ayahmu pucat pasi ketika melihat ibu mu sedang dalam keadaan hidup dan mati karena perjuangannya melahirkan mu. Lihat bagaimana ayahmu menjadi orang yang kedua setelah ibumu yang merasa bahagia ketika kamu hadir di dunia dalam dekapannya.lihat juga bagaimana ayahmu rela menjadi bapak rumah tangga yang saling bergantian dengan ibumu demi mengurusi mu hingga kamu bisa sebesar dan sesukses ini.

Ketika saya menulis ini, linangan air mata mulai membahasi kelopak mata ini. Menandakan bahwa rasa sayang ini begitu mendalam.

Rasakanlah olehmu bahwa perjuangan ayahmu bukanlah perjuangan yang mudah. Bukan perjuangan yang hanya mementingkan diri sendiri. Ia berjuang semata-mata demi ibumu dan kamu.

Kini di usiamu yang sudah mapan, di usia mu yang sudah menggendong anak, lihat lah ayahmu. Sudah tak sekuat dulu. Kekuatan nya lini beralih kepada mu.

Saat ini kamu lebih sehat, lebih kuat, lebih hebat. Maka satu-satunya caramu untuk bisa membalas jerih payah nya, rawatlah ia, taatilah ia, kasih sayangilah ia, sebagai mana ia menyayangimu di waktu kecil.

Sekarang kamu akan sadar mengapa waktu selalu membawa perubahan, karena waktu memberikanmu kesempatan untuk membalas jasa nya.

Dari aku untuk ayahku.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di