alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Terus di gali..
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfb8e9598e31b24458b456c/terus-di-gali

Terus di gali..

Dari part:5....
Tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, karena sejenak aku berpikir, bagaimana mungkin ada angin yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa. Tak terasa aku telah lelap, kira-kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga, ah mimpi pikirku. “Duar..!,duar…!” terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan, atau seperti suara pespa yang distarter lalu meledak dan copot kenalpotnya, aku sempat terbangun karena ada percikan api di atasku, kukira konsleting listrik, tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, kumatikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih, bisa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, ah perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup.

Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi benar-benar membuatku kaget, aku pun membuka mata, uh! Betapa terkejutnya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul menggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala. Wah celaka kalau ini orang gila yang masuk ke kontrakanku, melihatku membuka mata dan bangkit, orang tua itu mundur.

“Hei siapa kau? Orang edan dari mana?!” tanyaku membentak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mau melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku lihat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayangkan pukulan ke orang itu.

Namun dengan cepat tanpa ku sangka-sangka orang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, kuraba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin, setan, siluman? Tapi kenapa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek banget, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah kerenku. Aku kembali ke sofa, membaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu melihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang.

Kisahku ini kuceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan mengatakan kalau menjalani puasa tingkat pertama memang akan bersentuhan dengan dunia gaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawaran melukis di sebuah rumah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak karena mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hanya untuk sekedar buat makan di pondok, beli sabun dan pasta gigi, apalagi aku orangnya cepat bosan, dan melukis juga kalau lagi mud ya seneng tapi kalau lagi males, ya males.

Jadi ku katakan aja kalau aku nanti mau melukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mau aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun disetujui. Aku tinggal di musholla yang ada di tengah-tengah rumah makan itu, sebenarnya aku diminta untuk tinggal di rumah pemilik rumah makan itu, tapi aku lebih memilih tinggal di musholla.

Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku memutuskan melukis di malam hari agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan, juga konsentrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku diminta melukis pakai kuas, jadi tidak lukisan airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sembilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah membereskan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran pikiranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk dinikmati siapa saja. Seperti menyeret orang ke dunia hayalku, tanpa batas tanpa tepi.

Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat sekali, dan wirid kulakukan di siang hari, wirid masih tahapan ringan, kalau dibanding tahapan puasa di atasnya, walau menurut orang yang tak pernah menjalankan wirid, wirid adalah berat. Tapi dibanding puasa yang tuju bulan, di samping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, disamping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tenggelam, pertama aku membayangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, imam syafii aja menghatam Alquran sehari tujuh kali.

Sudah tujuh hari aku bekerja di rumah makan ini, pak Kosasih pemilik rumah makan ini, seorang DPR, MPR, Cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergaul, kadang pak Kosasih ini memintaku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama.

“Mas Ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol.” katanya sambil duduk di kursi, memangilku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya.

“Duduk dulu.” katanya lagi. “Wah mas Ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri.”

“Ah biasa aja pak.”

“Ah ya enggak biasa lah, apa ada di Indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu sebagai santri ini mas Ian ilmu agamanya pinter?”

“Wah bapak ini, karena saya tak tau ilmu agama inilah saya mondok pak, kalau saya udah pinter mungkin saya jadi tukang ceramah, kalau pekerjaan melukis, ya karena orang tua saya tak kaya, jadi kalau saya mau mesantren harus cari makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan ngelukis dijalani.”

“Ck..ck..hebat, hebat, memang jadi pemuda itu harus mandiri, tak hanya menjagakan orang tua.”

“Wah kalau saya karena kepaksa aja.”

“Wah udah hebat masih bisa membawa diri.”

“Ah jangan terlalu dilebih-lebihkan lah pak, nanti saya gede kepala.”

“Ngomong- ngomong apa menurut mas Ian tentang sholat?”

“Sama dengan yang ada di Alquran dan hadis, sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikan sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan sholat merobohkan agama, karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan penyakit, tentu efek sembuh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelah mengkonsumsi obat itu, begitu juga pada sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala macam perbuatan buruk dilakukan, ya diyakini aja sholatnya tak bener. Sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus dipenuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukannya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa dibolak balik, habis diguyur air pake sabun diguyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pake baju, tentu diketawain orang. Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam niat mandi itu mau mejeng atau mau agar bersih, agar sehat. Dan orang yang mandinya bener tidaknya tentu dilihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak bener, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar.”

“Lalu menurut mas Ian gimana kalau ada orang mengatakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mau sholat.”

“Kata-kata orang itu benar tapi dia tak mau sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata-kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinnya, tentu kata itu benar, karena mesin bagus lari motor jadi kenceng, tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, ger, jeruji, rantai, ban dalem ban luar, semua penting, satu aja tak ada motor tak akan kemana, kecuali dituntun, gitu juga sholat, satu aja rukun tak ada maka sholat itu walau masih dianggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat diangkat ke langit aja kgak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onderdil yang lain, orang tak akan mau menyebut mesin motor itu adalah motor.”

Begitulah pak Kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu berusaha untuk menanggapinya dengan memberi contoh yang bisa dinalar dengan rasio masuk dalam logika, sampai-sampai orang itu menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mau menghadiahiku rumah tingkat di belakang rumahnya harapannya agar aku bisa diajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mau hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mau bekerja di rumah orang yang masih ada hubungan saudara dengan Kyai, aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu.

“Mas Ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ikhlas, lha kalau beramal itu harus ikhlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing-masing. Kalau mas Ian kerja ya harus minta gaji, nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringatnya, kalau amal kan banyak caranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan dicampur-campur.”

Malam itu aku sendi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di