alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfb8d8aa09a3966798b4567/taw

Taw

**Aku tak habis pikir, kenapa bisa sampai di Kuningan. Aku segera wudhu. Dan kembali ke tempat di mana Kyai duduk. Aku selama sholat jum’at masih tak habis pikir dengan yang kualami, benar-benar tak masuk akal, bagaimana bisa terjadi, ini jelas-jelas bukan mimpi, kalau dulu aku diajak ke kampung dayak oleh Kyai tapi dalam mimpi, walau akhirnya aku tau itu adalah nyata, sekarang ini bukan lagi mimpi, semua nyata adanya, wajar sewajar-wajarnya. Selama sholat sampai selesai aku tak berani meninggalkan Kyai, takut kalau ditinggal bagaimana aku pulang nanti, sampai sholat jum’at selesai dan semua orang pergi, aku duduk menyanding Kyai.

“Ini namanya ilmu rogo sukmo, tingkat menengah, tingkat di atasnya lagi bisa melipat bumi, sehingga bisa sholat di Makkah, di atasnya lagi bisa menjadikan diri menjadi banyak sesuai kehendak hati, sehingga bisa sholat di berbagai tempat, dan tingkatan paling rendah yaitu melepas sukma, meninggalkan raga. Pejamkan matamu mas.” aku segera memejamkan mata, beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Kyai, “Sudah. Buka mata.” aku pun membuka mata dan aku heran karena telah kembali di rumah Kyai.

“Bisakah saya mempelajari ilmu itu Kyai?”

“Semua orang bisa mempelajarinya, harus menjalankan puasa dan laku yang berat, sebenarnya ilmu Alloh itu teramat banyak, jikalau semua air dibuat tinta, semua pohon dibuat pena, umur kita panjang dari masa nabi Adam diciptakan, sampai sekarang, lalu setiap waktu kita menulis ilmu Allah, kemudian mempelajari, dan mengamalkan, niscaya ilmu itu tak akan habis, walau umur kita berlipat lipat lagi, orang Islam saja kalau mau sungguh-sungguh ilmu Alloh, maka sebetulnya tak perlu merasa takut kelaparan, dan tak akan pernah merasa sedih, tak membutuhkan pesawat. Tapi karena telah terjajah oleh kepentingan dan tersihir oleh nikmat dunia, jadi ilmu Alloh tak diperdulikan lagi, iman cuma diucapkan di lisan tak melewati tenggorokan, jangankan mendapatkan ainul haq, mata telanjang aja menjadi buta.” aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kyai, saat mengalami itu aku masih menjalankan puasa empat puluh satu hari.

Memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah diajari, tak pernah ada pengajaran kanuragan, tak pernah ada pengajaran pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Alloh, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Dibiarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol puasa, aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, karena mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta. Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang Indah. Aku pun berangkat ke Jakarta, dan mencari rumah kontrakan.

Kesana sini aku mencari kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongku, padahal aku harus ngirit, seharian aku jalan, naik angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren Sawit, Jatinegara, karena lewat petunjuk orang ada rumah kontrakan yang murah, tapi hati-hati mas, pada kgak krasan, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tau sambil wajahnya dibuat mimik ngeri. Akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mau ku tempati. Rumahnya cukup besar, bertingkat di belakang, ada kamar mandi, wc, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu.

“Kalau mau nempati ditempati aja mas, kagak usah bayar, gratis.” kata pemuda sepantaranku, anak yang punya kontrakan.

“Lho kok bisa gitu.”

“Yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang repot, karena uangnya terlanjur kepakai.”

“Apa emang bener ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.

“Wah kalau saya kgak percaya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau bener ada trus saya dicekik.” aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak percaya tapi kok ya takut.

Akhirnya aku menyetujui, rizqi emang tak kemana, kalau udah dicap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling enggak empat ratus ribuan per bulan, wah kalau disuruh nempati gratis kayak gini ya jelas enak lah. Aku segera bekerja membersihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya, wah bener-bener bisa kerasan. Tapi aku cuma mau nyari tempat tinggal sampai kerjaan di Cipinang Indah selesai. Besoknya aku mulai kerja membuat motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Karena sambil kerja waktu tak terasa berlalu.

Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang diajarkan Kyai ini hanyalah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah selesai aku puasa tiga bulan, kemudian tujuh bulan, kemudian sembilan bulan, satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tuju tahun, semua harus dilakukan berturut, artinya misal mau puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, nah kalau sudah selesai, baru berhenti, mau satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah.

Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memilih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi karena lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, karena keasyikan nonton tivi.

Malam ini wirid terakhirku, setelah sholat isya, aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku kubuat sesantai mungkin, karena wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam. Napas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan napas, napas perlahan lahan kukeluarkan, sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti. Setelah napas kukeluarkan semua, diam sejenak, aku mengulang pernapasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpangkal, lalu di jauh sekali kulihat setitik cahaya, aku seperti meluncur ke arah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning, biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu cahaya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tau ruang apa itu, kurasakan dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamaikan mengalir ke semua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pegal-pegal, seketika hilang rasa pegalku.

Tiba-tiba angin keras mener
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di