alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Dalamnya lima..
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfb80e5902cfe3a448b4567/dalamnya-lima

Dalamnya lima..

Ketika terjadi pemilihan lurah, Sanusi pun mencalonkan diri, dan lawannya adalah pak Lurah yang sekarang, tapi ternyata Sanusi yang kalah dan pak Lurah pun menduduki jabatan lurah. Tak ada apa-apa setelah itu, tapi suatu hari Sanusi yang telah diangkat jadi carik, datang ke rumah pak Lurah untuk melamar Anggraini, tentu saja ditolak walau secara halus, karena Sanusi umurnya lebih tua dari pada pak Lurah, yang pantasnya menjadi ayah Anggraini. Juga Sanusi adalah seorang duda, cerai dengan istrinya, sering cekcok dan kalau sudah cekcok istrinya sering dipukul.

Pak Lurah menghela napas berat, “Tak menyangka, Sanusi yang pendiam mampu melakukan kekejian seperti itu.”

Aku hanya manggut-manggut, lalu mau pamitan pulang ke pondok Pacung. Tapi pak Lurah mencegah, kemudian mengajakku ke dalam, katanya ingin bicara empat mata, dan kami berdua masuk meninggalkan Mujahidi yang masih duduk mengebulkan rokok djisamsoe. Sampai di dalam kami segera duduk di sofa, sebentar kemudian bu Lurah pun menyusul ikut duduk. Aku bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ada apa? Keheningan sebentar terasa karena pak Lurah tak segera bicara, nampak bu Lurah menjawil suaminya, seakan memberi isyarat supaya lekas bicara.

“Anu…nakmas Ian, apakah nak mas tidak berkeinginan untuk menjadi orang desa Pasir seketi?”

“Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku, seperti orang bodoh.

“Maksud kami, kami ingin menjodohkan Anggraini, dengan nak Ian.” walau aku telah menyangka sebelumnya, secuek-cueknya aku, tetap terkejut juga. Bagaimana tidak, menikah adalah kehidupan suami istri yang berwatak berlainan, kalau bisa sekali untuk seumur hidup, jadi tak bisa asal comot, tanpa memikirkan resikonya, tidak asal pilih kayak memilih jajanan pasar. Atau kalau tidak akan menyesal selamanya.

“Menurut saya, Anggraini itu gadis yang cantik, setiap pemuda yang melihatnya pasti akan tertarik, termasuk saya.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi?” tanya pak Lurah bersemangat.

“Tapi pak Lurah, saya ini masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, saya masih ingin menuntut ilmu.” kataku dengan nada rendah karena takut kata-kataku menyinggung.

“Ah pondok Pacung kan dekat dari sini nak mas? Kalau mau mengaji nakmas kan bisa berangkat dari sini kalau sudah jadi istrinya Anggraini,” suara pak Lurah nyerocos suaranya seperti mengemplangku dari kanan kiri.

Bu Lurah pun menambahi, “Iya nak jadilah mantu kami, kami sudah sediakan semua, dari rumah, kebun, pokoknya nak mas tinggal menjalani.”

“Bu, pak, sekali lagi saya tidak menolak, tapi untuk saat ini saya benar-benar belum berani menikah, nanti saja kalau Anggraini memang jodoh saya, pasti saya akan menjadikan dia istri saya.” kataku panjang lebar tapi masih dengan nada sehalus mungkin, karena takut menyinggung.

Setelah membujukku sekian lama tak berhasil, pak Lurah dan istrinya pun menyerah juga. Wajah mereka tertunduk mengguratkan kekecewaan. Sementara dari dalam kamar Anggraini, terdengar suara tangis gadis itu. Tapi memang itulah hidup, kadang kita harus berani mengambil keputusan awal, terluka pun tak terlalu dalam, dari pada akar telah dalam tertanam lalu baru kita cabut pasti luka akan teramat dalam dan susah disembuhkan.

Setelah kurasa cukup aku pun mohon diri, tapi pak Lurah memaksa mengantar dengan mobil kijangnya. Di luar banyak sekali pemuda kampung mau mengantar kepergianku, bergantian menyalamiku. Dan beraneka macam pemberian kuterima, aku tak menolak sampai mobil pak Lurah tak muat lagi. Akhirnya aku dan Mujahidi pergi meninggalkan desa Pasir Seketi. Kulihat mata-mata berlinang dan melambaikan tangan. Orang-orang desa yang baik, gumamku. Setengah jam kemudian aku tiba di pesantren Pacung. Suasana pesantren sangat sepi, tak ada mobil tamu di tempat parkir, kulihat Kholil berlari-lari kecil mendekatiku.

“Kenapa sepi sekali Lil?” tanyaku setelah Kholil ada di depanku.

“Kyai lagi sakit.” jawabnya dengan mimik muka serius. Ku suruh Kholil menurunkan barang-barang yang ada di mobil.

“Sakit apa?”

“Kena santet, dan muntah darah.” aku tak begitu kaget, karena memang sudah tak terhitung lagi, Kyai terkena santet yang dikirim seseorang, karena Kyai menolong orang yang disantet, jadi Kyai jadi sasaran.

“Parah?” tanyaku menyelidik.

“Sekarang ini parah mas, soalnya tubuh Kyai sampai memerah, dan mengeluh kepanasan.” karena penjelasan Kholil itu, aku segera bergegas ke tempat Kyai berada setelah ditunjukkan Kholil.

Bergegas aku melangkah masuk rumah Kyai, suasana hening, nampak Kyai duduk memejamkan mata, sementara semua santri duduk melingkar, tangan mereka tak henti memutar tasbih di tangan, sedang Kyai duduk kedua tangannya di pangkuan, baju putihnya yang di dada belepotan darah muntahannya sendiri, sementara di depannya nampak bak plastik juga banyak darah di dalamnya.

“Kau mas Ian sudah datang,” kata Kyai datar, masih dengan mata terpejam.

“Sini duduk di sampingku.” Aku segera beranjak melangkah dan duduk bersila di samping kanan Kyai, dari dekat memang benar kata Kholil semua tubuh Kyai memerah di dalam, setelah aku duduk tangan kiri Kyai memegang pergelangan tangan kananku, uh panas sekali, lalu tanganku diangkat ke arah pahanya.

“Baca haukolah tiga kali, tahan napas.” kata Kyai masih dengan mata terpejam, suaranya datar namun tenang, aku pun segera membaca lahaulawalaquata illa billa hil aliyil adhim dalam hati tanpa napas, terasa ada aliran hawa sakti teramat dingin dari pusarku, mengalir bergulung-gulung di barengi sentakan-sentakan seperti setrum listrik, ke arah tanganku yang ada di pangkuan Kyai, sehingga kurasakan dengan pasti, aliran itu masuk ke tubuh Kyai, dan kurasakan perlahan tubuh Kyai mulai tak panas lagi, tiba-tiba Kyai terbatuk-batuk dua kali lalu memuntahkan darah, ke bak plastik, nampak darah yang ada di bak plastik itu sebentar bergolak, lalu diam, dan ada sesuatu yang bergerak-gerak, ternyata tiga kelabang sebesar ibu jari tangan, dan seekor kala jengking sebesar ibu jari kaki, yang warnanya hitam kebiru-biruan. Kyai segera memutar jari telunjuknya di atas bak plastik, maka aneh kelabang dan kala jengking itu berjalan-jalan mengitari bak plastik itu tanpa bisa keluar. Terpagar gaib.

“Ah Kyai kenapa serangan santetnya tak ditolak aja?” kataku kawatir.

“Mas, kalau tak merasakan bagaimana sakitnya kena santet, lalu gimana aku akan kasihan pada orang yang disantet, orang kalau tak pernah lapar, tak akan kasihan pada orang yang kelaparan, bagaimana orang yang perutnya selalu diisi dengan makanan-makanan enak bisa kasihan dengan orang yang kelaparan, salah-salah dia menyangka, kalau kata-kata yang namanya lapar itu tidak ada, karena telah buntu akal pikirannya dengan kekenyangan, juga sama dengan santet, selalu banyak orang bilang tak ada, karena telah mampet pikiran oleh rasa sok modern. Lalu siapa nanti yang akan menolong orang yang terkena sihir jahat seseorang yang bernama santet.” Kyai berkata panjang lebar, sambil membersihkan darah di sekitar bibirnya, kemudian melepas pakaian putihnya lalu memberikan pada santri untuk dicuci.

“Bagaimana tugasnya selesai?”

“Alhamdulillah Kyai, semua karena bantuan Kyai.”

“Oh rupanya ada pak Lurah juga…, sampai tak memperhatikan.” kata Kyai dengan senyum ramah.

Pak Lurah yang sedari tadi bengong menyaksikan, segala yang terjadi, langsung kaget, lalu tergopoh-gopoh menunduk-nunduk berjalan menghampiri Kyai, dan bersalaman dengan Kyai. Sementara aku sendiri pamit ke kamar, dalam hatiku, tak habis-habis mengagumi Kyai, Kyai yang masih begitu muda, dan ilmunya tak bisa diukur, tak pernah sombong tak membeda-bedakan segala macam tetek bengek jabatan, mau menteri mau presiden, jendral, jangan harap melihat Kyai menghormat, apalagi menjilat-jilat seperti para Kyai jaman sekarang.

Kyai yang tak membedakan antara dirinya dengan santri, tidur dan makan bareng santri, Kyai yang waskita tau semua keadaan orang di depannya, dari hari apa, tanggal berapa, dan di mana orang itu lahir, lalu siapa bapak ibunya? Tahu semua apa yang dilakukan dari semenjak orang itu lahir sampai duduk di depan Kyai, tapi Kyai tak pernah mengaku Kyai. Bahkan sepengetahuanku, Kyai tak pernah mengaku Kyai, panggilan Kyai adalah dari orang-orang yang datang, dan setahuku juga Kyai tak pernah menjadi imam masjid, bahkan sholat di masjid kampung aja jarang, aku pernah satu hari jum’ah, aku diminta memijit kaki Kyai, lalu kata Kyai, nanti aja jum’atan bareng saya, aku pun memijat Kyai sambil duduk, tak terasa aku tertidur.

Aku benar-benar pulas tidur sambil tanganku masih memegang kaki Kyai, dan kaget karena mendengar suara adzan keras seperti ditempel di telingaku, kontan aku bangun, mengejap-kejapkan mata, melihat kanan kiri, betapa terkejutnya aku, karena aku ada di dalam suatu masjid, dan banyak orang di sekitarku, ada yang berdiri, ada yang sedang sholat, dan ada yang menatapku aneh. Karena aku tidur sambil memegang kaki Kyaiku, membelakangi kiblat.

Ah malunya aku, “Mas Ian wudhu dulu…” kata Kyai karena melihat kebingunganku, aku segera beranjak, masih tak habis mengerti, lalu pergi ke tempat wudhu, di tempat wudhu aku mencoba mendekati seseorang yang sama-sama mau wudhu.

“Paman, ini desa namanya desa apa, daerah mana?” lelaki setengah baya itu memandang heran kearahku.

“Adik ini bukan orang sini ya?” tanyanya menyelidik.

“Bukan pak.”

“Oo, ini desa Kalianyar Kuningan dek.”

“Makasih pak.”

“Sama-sama dek.”

Nyambung..........
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di