alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pinjaman Lunak China Kini Dikhawatirkan Sebagai Jebakan Utang
3 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfa763798e31b460a8b4567/pinjaman-lunak-china-kini-dikhawatirkan-sebagai-jebakan-utang

Pinjaman Lunak China Kini Dikhawatirkan Sebagai Jebakan Utang

Pinjaman Lunak China Kini Dikhawatirkan Sebagai Jebakan Utang
16 November 2018 at 8:04 am

(ABC News: Graphic by Jarrod Fankhauser)

Dalam upayanya mengukuhkan pengaruh ekonomi dan politik di dunia, Pemerintah China kini mengucurkan dana miliaran dolar berupa pinjaman lunak kepada negara-negara miskin dan berkembang.

Dana pinjaman itu umumnya digunakan dalam proyek-proyek infrastruktur. Namun apa yang terjadi ketika negara penerima tak sanggup membayar pinjamannya?


Sejumlah pengamat memperingatkan Beijing kini mempergunakan pinjaman sebagai bentuk jebakan. Tujuannya, memungkinkan negara itu mengukuhkan pengaruhnya di dunia.
Polanya seperti digambarkan berikut ini.


Diplomasi jebakan utang


Negara-negara miskin dan berkembang terpikat oleh tawaran pinjaman murah dari China demi membangun proyek-proyek infrastruktur.

Kemudian, ketika negara bersangkutan tak mampu memenuhi jadwal pembayaran utangnya, Beijing akan menuntut konsesi atau ganti-rugi lainnya sebagai bentuk penghapusan utang.


Proses ini dikenal sebagai diplomasi jebakan utang.


Proyek Pelabuhan Hambantota di Srilanka merupakan contoh nyata yang bisa menjadi peringatan bagi negara mana saja yang bermaksud menerima pinjaman tanpa syarat dari China.


Tahun lalu, Srilanka dilanda aksi protes ketika dipaksa menyerahkan pengelolaan pelabuhannya ke China - dalam bentuk sewa 99 tahun. Penyerahan itu terpaksa dilakukan demi menghapus utang Srilanka sekitar 1 miliar dolar AS ke Beijing.

[ltr]
[/ltr]
Kini China mengendalikan pelabuhan utama, tepat di ambang pintu saingannya, India. Pelabuhan itu juga sangat strategis di jalur komersial dan militer.

Kasus negara-negara Pasifik


Australia dinilai agak lamban menanggapi melusnya pengaruh China di kawasan Pasifik.


Pinjaman dan bantuan China di sana telah meningkat menjadi 1,8 miliar dolar dalam waktu satu dekade. Sejumlah negara kini sudah sangat bergantung pada utang dari Beijing.


China malah menjanjikan untuk mengucurkan 5,8 miliar dolar AS di seluruh kawasan Pasifik.


Di Papua Nugini misalnya, Beijing menjanjikan kucuran pinjaman tanpa syarat sebesar 3,5 miliar dolar AS untuk pembangunan infrastruktur jalan dari Port Moresby ke kawasan pedalaman.


Fiji kini berutang setengah miliar dolar ke China. Sementara Tonga terjerat utang lebih dari 160 juta dolar, yaitu sepertiga dari PDB negara itu.

China telah memaksa Tonga untuk mengakui gagal membayar utangnya.


Perdana Menteri Tonga yang sebelumnya menyerukan negara-negara Pasifik bersatu melawan China, akhirnya menarik pernyataannya tanpa alasan yang jelas.


Awal tahun ini, laporan bahwa China akan membangun pangkalan militer di Vanuatu memicu kepanikan di Australia.
Perdana Menteri Scott Morrison telah mengumumkan pembentukan bank infrastruktur untuk proyek-proyek di kawasan Pasifik.


Presiden Xi Jinping yang kini berkunjung ke Port Moresby untuk menghadiri KTT APEC, dijadwalkan mengadakan pertemuan khusus dengan pemimpin negara Pasifik.


Presiden Xi diperkirakan akan menawarkan lebih banyak pinjaman lunak kepada mereka.


Proyek One Belt One Road (OBOR) China


Isu utama terkait investasi China di berbagai negara, adalah kebijakan utama Pemerintahan Presiden Xi, proyek bernama One Belt One Road (OBOR).

OBOR bernilai triliun dolar dengan tujuan menghubungkan negara-negara di berbagai benua untuk tujuan perdagangan, dengan China sebagai pusatnya.


Beijing menyebut proyek OBOR sebagai sama-sama menguntungkan bagi ambisi perdagangan globalnya dan bagi negara-negara berkembang yang butuh infrastruktur.


Namun kenyataan di lapangan, kini sejumlah negara rentan terjebak dalam lilitan utang dari China.


Pada tahun 2011, Tajikistan misalnya telah menyerahkan tanah di perbatasannya yang disengketakan dengan China, sebagai bentuk pembayaran utang.


China juga mengucurkan pinjaman satu miliar dolar lebih bagi Montenegro untuk membangun jalan raya yang menghubungkan Port of Bar dengan Serbia. Proyek itu sendiri dikerjakan perusahaan konstruksi China.
Namun, akibat nilai tukar mata uang dan cetak-biru proyek itu, terjadi pembengkakan biaya sehingga hanya bisa terbangun sebagian.


Montenegro kini terancam menghentikan proyek itu atau menegosiasi pinjaman lebih besar ke China, menyebabkan negera itu kian terjerat lebih jauh dalam pengaruh Beijing.


Di Afrika, Cina membiayai proyek-proyek besar di seluruh benua, dan tingkat investasi Beijing semakin cepat.
Pada bulan September, Presiden Xi menjanjikan pinjaman 82 miliar dolar untuk negara-negara Afrika selama tiga tahun. Jumlah yang sama telah dikucurkan pada tahun 2015 lalu.


Investasi China di Zambia misalnya sangat menonjol. Pembangunan sekolah, rumahsakit dan konstruksi memiliki simbol-simbol China, termasuk jaringan jalan raya baru.


Namun utang dari China di Zambia kini mencapai sepertiga dari total utang negara 13 miliar dolar.
Kesepakatan utang mengkhawatirkan


Saat ini banyak negara telah menikmati jaringan jalan raya dan bandara baru. Namun mungkin hanya masalah waktu sampai mereka akhirnya terjebak utang.


Meningkatnya ketergantungan pada investasi China di seluruh dunia meningkatkan kekhawatiran tentang dinamika geopolitik di abad ke-21.


Sejumlah negara, dipicu oleh kasus Srilanka tahun lalu, mulai melepaskan diri dari ketergantungan mereka pada pinjaman China.
Nepal dan Pakistan misalnya telah membatalkan proyek-proyek infrastruktur pada tahun 2017.
Tapi bukan hanya negara berkembang yang berhutang kepada China.


Beijing kini tercatat sebagai pemberi utang terbesar ke AS, yaitu sebesar 1,1 triliun dolar AS dalam bentuk obligasi pemerintah.


Namun patut dicatat, di tengah kekhawatiran meningkatnya pengaruh China, hanya ada satu pangkalan militer mereka di luar negeri. Yaitu, di sebuah negara kecil bernama Djibouti di Afrika Timur.


Bandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki 800 pangkalan militer di 70 negara.

Artinya, China bukanlah satu-satunya negara di dunia yang memproyeksikan kekuatannya ke negara lain.
Seberapa besar ambisi Presiden Xi dalam hal itu masih belum jelas. Namun tak diragukan lagi dia jelas menghendaki China memimpin apa yang dijuluki sebagai Abad Asia.

https://www.abc.net.au/indonesian/2018-11-16/pinjaman-lunak-china-kini-dikhawatirkan-sebagai-jebakan-utang/10503984

Quote:


AS Peringatkan Negara Indo-Pasifik dari Perangkap Utang China
Senin, 19 November 2018 - 11:01 WIB

Pinjaman Lunak China Kini Dikhawatirkan Sebagai Jebakan Utang

Presiden China Xi Jinping saat pidato di KTT APEC di Papua Nugini, Sabtu (17/11/2018). Foto/Fazry Ismail/Pool via REUTERS 

PORT MORESBY - Amerika Serikat memperingatkan negara-negara di kawasan Indo-Pasifik untuk tidak jatuh ke dalam perangkap utang China. Wakil Presiden Mike Pence mendorong negara-negara Indo-Pasifik untuk memilih Amerika sebagai opsi pengganti yang lebih baik dalam pembiayaan pembangunannya.

Kritikan Washington terhadap Beijing itu disampaikan Pence dalam pertemuan puncak Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Papua Nugini, Sabtu 17 November pekan lalu.

“Kami tidak menenggelamkan mitra kami dalam lautan utang. Kami tidak memaksa atau mengganggu kemandirian Anda. Kami tidak menawarkan sabuk yang mencekik atau jalan satu arah," kata Pence, menyindir program ambisius "Belt and Road Initiative", sebuah pembelanjaan infrastruktur senilai satu triliun dolar yang didukung Beijing. 

Pence memang tidak menyebut nama China dalam kritik pedasnya itu, namun sindirannya jelas merujuk pada Beijing.

"Beberapa menawarkan pinjaman infrastruktur kepada pemerintah di seluruh Indo-Pasifik dan dunia yang lebih luas, namun persyaratan pinjaman tersebut seringkali tidak jelas," ujar Pence, yang dilansir Straits Times, Minggu (18/11/2018).

"Proyek-proyek yang mereka dukung seringkali tidak berkelanjutan dan berkualitas buruk. Terlalu sering mereka datang dengan ikatan dan menyebabkan utang yang mengejutkan," imbuh Pence dalam pidatonya, yang disampaikan segera setelah Presiden China Xi Jinping berpidato.

"Izinkan saya mengatakan dengan sangat hormat kepada semua negara di wilayah yang lebih luas ini dan dunia: Jangan terima utang luar negeri yang dapat membahayakan kedaulatan Anda. Lindungi minat Anda. Pertahankan kemandirian Anda. Dan seperti Amerika, selalu utamakan negara Anda terlebih dahulu."

Dalam pidatonya, Pence mengisyaratkan bahwa Amerika akan terus mengambil bagian dalam operasi kebebasan navigasi di Laut China Selatan, wilayah yang sebagian besar diklaim China.

“AS akan terus menjunjung kebebasan lautan dan langit yang sangat penting bagi kemakmuran kita. Kami akan terus terbang dan berlayar ke mana pun hukum internasional mengizinkan, dan kepentingan nasional kami. Intimidasi hanya akan memperkuat tekad kita. Kami tidak akan mengubah arah," kata Pence.

Sebelumnya, Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa pinjaman dari negaranya untuk negara lain tidak memiliki agenda politik apa pun. "Ini tidak dirancang untuk melayani agenda geopolitik tersembunyi apa pun," kata Presiden Xi.

"Juga bukan perangkap, karena beberapa orang telah melabelinya," ujarnya.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan pada hari Minggu bahwa tidak ada negara berkembang yang akan jatuh ke dalam perangkap utang hanya karena kerja sama dengan Beijing.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying membuat komentar dalam pernyataan online menanggapi pernyataan yang dibuat oleh Wakil Presiden AS Mike Pence.

"Tidak ada negara berkembang yang akan jatuh ke dalam kesulitan utang karena kerja sama dengan China," kata Hua.

"Sebaliknya, bekerja sama dengan China membantu negara-negara ini meningkatkan kemampuan dan tingkat pengembangan independen, dan meningkatkan kehidupan masyarakat setempat."

https://international.sindonews.com/read/1355856/40/as-peringatkan-negara-indo-pasifik-dari-perangkap-utang-china-1542600086

-------------------------

Yaaa solusinya mudah saja agar nasib Indonesia tidak sampai dikuasai China seperti halnya negara-negara Afrika, Myanmark dan  Pakistan itu, yaitu dengan memilih capres yangt idak terlalu dekat ke China di Pilpres 2019 yad.

Gitu aja kok repot!

emoticon-Wkwkwk
Diubah oleh shahrani2019
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Ana kok khawatir ya negara ini jangan jangan sudah digadaikan ke tiongkok
emoticon-Imlek horeeee
yg lunak-lunak emang suka menjebak bre...

emoticon-Embarrassment
sepanjang hutang tersebut tidak dikorupsi dan menghasilkan infrastruktur dan alat produksi maka nggak perlu dikhawatirkan.
kecenderungan negara miskin dan berkembang adalah korupsi sebanyak mungkin seperti masa orba emoticon-Mad (S)
semoga saja pemerintah ini mengelola hutang dengan baik dan benar.

oposisi yang nyinyir tapi dengan data yang benar masih diperlukan supaya ada rem pemerintah.
Memangnya klo milih Prabowo hutangnya lunas? Indonesia dikuasai krn negara kismin tukang ngutang.
ada nastak yg bisa di jual buat nutupin
cetak duit sebanyak-banyaknya ajaemoticon-Big Grin
solusi genderuwoemoticon-Ngakak (S)
ati ati ae sama menglen...


emoticon-Traveller

contohnya tu negara negara mlarat di Afrika yang kena perangkap .
Diubah oleh matthysse67
Nasbung itu cuma parno aja. Ini ga ada bedanya ama dulu. Cuma ganti pemilik aja negara ini dari amerika ke cina.
Quote:
hati hati, sifat culas licik mereka

Bangsa kita IQnya harus dinaikin
Diubah oleh ontapesek
Quote:


pertaruhan sudah diletakan.

emoticon-Traveller
16 november?
uda lewat seminggu kan?
ga sesuai rule?
tapi tenang TS
sebagai nasbung
lu ga akan di ban
thread ga akan di lock
dan juga ga akan di delete sama moderator

slow saja

emoticon-Imlek
Diubah oleh kaskus.sajalah
Yang penting duit
Quote:

maaf pertaruhan telah diletakan tidak bisa diambil lagi taruhan yang sudah ada siapapun presidennya nanti.
ikutin kata TS.. yg artinya golput.. emoticon-Big Grin
Gak pernah dengar ente2 istilah "Yang berutang lebih galak dari yang menagih....?"

Bukti nyata tuh ameriki.....
Balasan post shahrani2019
bangkrutnya negara itu karena korupsi dan pengelolaan keuangan yang lemah, ditambah lagi negosiasi yang tidak adil.
contoh saja ketika kontrak freeport jaman soeharto sangat tidak adil buat negara, itu karena keserakahan dan kebodohan saat membuat perjanjian kontraknya.

kontrak beberapa infrastruktur di Indonesia dilakukan oleh perusahaan dengan skema bangun-operasikan-alihkan dengan jangka waktu tertentu

bedakan dengan kondisi akhir orba dimana Indonesia meminjam dana dari IMF untuk menambah cadangan devisa negara dan membayar hutang jatuh tempo, tidak ada untuk pembangunan, pasti makin blangsak.

tetap perlu pengawasan supaya tidak sampai terulang kondisi 98 itu
Quote:


Paling enggak bisa dikontrollah emoticon-Salaman
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di