alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Petaka pernikahan anak di Indramayu
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfa31f5529a45924a8b4574/petaka-pernikahan-anak-di-indramayu

Petaka pernikahan anak di Indramayu

Petaka pernikahan anak di Indramayu
Aksi protes menolak pernikahan anak di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 November 2018.
Jalinan pernikahan muda yang dirajut X (16 tahun) dan Y (15 tahun)--bukan nama sebenarnya--berakhir petaka. Y dinyatakan meninggal dunia oleh Rumah Sakit Umum Indramayu, Jawa Barat, akibat penganiayaan, 21 September 2018.

Sekujur tubuh Y luka, begitu juga di beberapa bagian kepalanya. Kecurigaan mengarah kepada X, suami yang baru dinikahinya dua tahun silam.

Polisi sempat menahan X. Namun, penahanan ditangguhkan lantaran penyidik tidak berhasil menemukan bukti-bukti yang memperkuat dugaan penganiayaan.

Kepolisian Resor Indramayu mengaku masih menggelar penyelidikan untuk mengungkap pelaku penganiayaan. Di sisi lain, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Indramayu mengaku akan terus memantau jalannya kasus ini.

Kekerasan dalam rumah tangga dalam pernikahan anak yang kembali terulang ini mengingatkan kita atas lambannya revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkimpoian, utamanya pasal yang mengatur batas usia.

Sudah banyak contoh kasus pernikahan anak yang berakhir tragis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati pernah mengingatkan, pernikahan anak usia dini merugikan masa depan anak.

Sebab, secara psikologis, anak belum memiliki mental yang cukup untuk menjalani bahtera pernikahan, alhasil kekerasan dalam rumah tangga rentan terjadi.

Koordinator Pokja Reformasi Kebijakan Publik Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Indry Oktaviani menganggap, aturan pernikahan anak secara sepihak melegitimasi anggapan setiap perempuan Indonesia boleh dikimpoikan saat usia anak atau belum dewasa.

Selain berpotensi menimbulkan kekerasan, aturan ini juga menghilangkan hak seorang anak.

Desakan untuk menghapus praktik perkimpoian usia anak semakin menguat. Namun, upaya itu tetap akan menemukan jalan buntu manakala aturannya tak kunjung direvisi.

Untuk diketahui, Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 1/1974 mengatur batas minimal usia perkimpoian perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.

Permohonan judicial review atlas pasal ini yang diajukan sejumlah lembaga swadaya masyarakat, salah satunya Koalisi 18+, ke Mahkamah Konstitusi (MK) juga mandek.

Laporan RMOL bahkan menyebut, perkara uji materi yang dimasukkan sejak tahun lalu ini hilang dari daftar registrasi.

"Hingga satu tahun lebih, proses pemeriksaan perkara ini tidak dilanjutkan. Alasan MK malah tidak jelas. Jawaban mereka adalah 'kelanjutan persidangan masih menunggu hasil sidang musyawarah majelis hakim konstitusi," sebut Maidina Rahmawati, anggota Koalisi 18+ yang juga peneliti Institute for Criminal Justice Reform (ICJR).

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise memiliki cara pandang yang sama dengan LSM terkait pernikahan anak. Mengutip KOMPAS.com, Yohana mengaku sudah mengoordinasikan upaya revisi itu dengan kementerian lain, seperti Kementerian Agama.

Dalam koordinasi tersebut, dua kementerian ini bersepakat untuk menaikkan batas usia dari 16 tahun (untuk perempuan) menjadi 18 tahun. "Menteri Agama sudah back-up saya untuk usulkan apakah revisi atau Perppu," sebut Yohane, Februari 2018.

Namun, sampai tragedi X dan Y terjadi, nasib dari revisi itu tetap tak kunjung jelas.

Kasus ini menjadi rumit ketika DPR menyatakan pendapatnya bahwa pasal-pasal lain yang ada dalam UU Perkimpoian sebenarnya sudah cukup untuk mencegah perkimpoian anak.

Pendapat resmi DPR yang dikutip detikcom dari situs Mahkamah Konstitusi, Mei 2018, menilai dalam UU tersebut diatur mekanisme perizinan dari orang tua bagi mempelai yang berada di bawah 21 tahun dan mekanisme pembatalan perkimpoian apabila tidak memenuhi persyaratan.

DPR menganggap, ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU Perkimpoian adalah salah satu bentuk kodifikasi (penggolongan hukum) batasan usia perkimpoian yang sebelumnya secara adat istiadat berbeda-beda.

Berdasarkan Susenas 2008-2015 yang diolah Lokadata Beritagar.id menunjukkan, prevalensi perempuan pernah kimpoi usia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 16 tahun trennya memang menurun, namun masih ditemui.

Guru Besar dan Dosen Masalah Sosial Anak Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, dalam Telatah Beritagar.id menyatakan, upaya merevisi payung hukum diharapkan bisa menjadi dasar legalitas untuk mencegah terjadinya pernikahan dini bagi anak perempuan.

"Namun demikian, agar upaya menyelamatkan anak perempuan dari perangkap perkimpoian yang merugikan masa depannya dapat direalisasi, maka yang juga dibutuhkan adalah pendekatan berbasis budaya," sebut Bagong.

Yang dimaksud pendekatan budaya yakni bagaimana pemerintah dan masyarakat bisa memberikan narasi alternatif untuk mengubah pemahaman masyarakat tentang usia perkimpoian yang ideal bagi perempuan.
Atas nama 'zina'
X dan Y bisa menikah lantaran permohonan kedua orang tuanya kepada Kantor Pengadilan Agama Indramayu untuk melakukan dispensasi perkimpoian.

Dikutip dari radarcirebon, orang tua pasangan beranggapan, X dan Y sudah berpacaran dan dikhawatirkan melakukan zina. Alhasil, menikah adalah solusi terbaiknya.

Malang bagi Y. Cinta monyetnya itu berakhir tragis. Y sudah tidak memiliki ayah, sementara sang ibu bekerja sebagai buruh migran. Sebelum menikah, Y diurus oleh sang nenek.

Lima bulan setelah menikah, Y mengandung. Kehamilannya bermasalah. Y melahirkan janinnya yang berusia 7 bulan itu. Sang janin juga tak mampu bertahan. Sekitar dua pekan pasca-lahir, sang janin meninggal dunia.

Perilaku kasar X mulai muncul setelah itu. Sesekali Y pulang dan mengadu kepada neneknya soal kekerasan fisik yang diterimanya dari X.

Sang nenek awalnya hanya mengira X hanya "khilaf". Hingga Jumat (21/9/2018), sang nenek mendapat kabar Y jatuh dari toilet. Ketika disambangi ke kediaman X, Y sudah dilarikan ke IGD RSUD Indramayu.

Kondisi Y sudah kritis. Bukan hanya luka di pelipis dan darah di kepala, tubuh Y penuh dengan luka. Y "bukan" jatuh dari toilet.

Sudah tidak ada yang bisa dilakukan sang nenek, Y mengembuskan napas terakhirnya di kamar darurat itu.
Petaka pernikahan anak di Indramayu


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...k-di-indramayu

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Petaka pernikahan anak di Indramayu Kebijakan impor Solar B20 rawan celah korupsi

- Petaka pernikahan anak di Indramayu Dahnil dan dugaan penggelembungan dana kemah

- Petaka pernikahan anak di Indramayu Upaya KPK menekan jumlah politisi korupsi

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di