alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Benarkah kita perlu Mengosongkan GBK saat Timnas vs Philipina AFF 2018?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf95c8060e24b09118b4576/benarkah-kita-perlu-mengosongkan-gbk-saat-timnas-vs-philipina-aff-2018

Benarkah kita perlu Mengosongkan GBK saat Timnas vs Philipina AFF 2018?

Setuju Supporter Timnas Kosongkan GBK saat Timnas vs Philipina ?

Poll ini sudah ditutup - 5 Voters

Lihat poll
Setuju Supporter Timnas Kosongkan GBK saat Timnas vs Philipina ?
Setuju biar Edy dan PSSI tahu Timnas sangat tergantung oleh Suporter
100.00%
Tidak Setuju dukungan nyata thd Timnas harus di stadion
0%
Benarkah kita perlu Mengosongkan GBK saat Timnas vs Philipina AFF 2018?

Trit ini dibuat bukan karena saya tidak cinta dengan Timnas, tetapi justru ingin Timnas berubah dibawah pengelolaan manajemen (PSSI) yang lebih baik dan professional. Mengapa muaranya ke PSSI dan harus mengosongkan GBK saat partai terakhir AFF 2018 melawan Philipina? Kita lihat bersama "dosa" PSSI dibawah kepemimpinan Edy Rahmayadi :

1. Manajemen yang amburadul

Hal ini yang disampaikan mantan coach Timnas Luis Milla dengan sebutan "poor management" saat memutuskan tidak memperpanjang kontrak dengan PSSI. Meskipun Milla tidak merinci dengan jelas, kabar yang menyebutkan Luis Milla menukangi Timnas saat tampil di Asian Games dalam kondisi belum dibayarkan gaji selama 3 bulan, Luis Milla enggan di intervensi dalam pengambilan keputusannya saat melatih dan lain sebagainya hanya Luis Milla yang tahu. Yang jelas pelatih se-profesional Milla tentu sangat merasakan sebuah management yang amburadul dibanding saat ia membawa Spanyol U23 menjadi Juara Eropa.
Spoiler for luis milla claim:


Bukti lainnya amburadulnya manajemen PSSI adalah sampai sekarang PSSI tidak mampu mengatur sebuah Liga Indonesia yang kalendernya sesuai dengan federasi sepakbola ASEAN dan ASIA (AFF dan AFC). Liga 1 Indonesia tetap bergulir dan bertabrakan jadwal dengan kalender AFF dan AFC. Lihat saja saat AFF digelar Liga 1 Indonesia justru sedang dalam masa-masa penting menjelang penentuan juara. Hal yang memberatkan klub untuk melepas pemainnya karena tenaga pemain timnas sedang dibutuhkan di klub dan konsentrasi serta energi pemain terpecah antara klub dan timnas. Hal ini jauh berbeda dengan Federasi Sepakbola di Eropa misalnya yang pada saat Piala Eropa atau Piala Dunia digelar semua kompetisi lokal sedang libur.
Spoiler for liga1:


2. Penampilan dan Prestasi Timnas yang makin jauh dari harapan

Skema dan filosofi bermain yang dibangun Luis Milla selama menukangi timnas dapat kita lihat di gelaran Asian Games 2108. Betapa garangnya timnas tampil hingga perempat final sebelum tersingkir dari konyolnya hadiah dua tendangan penalty yang diberikan wasit kepada Uni Emirat Arab. Timnas tersingkir di perempat final tapi pemain keluar lapangan dengan kepala tegak dan kita bangga walau kalah melihat Timnas tampil dengan sebuah visi bermain yang jelas dan prospek yang besar dimasa depan. Tapi dengan gagalnya PSSI mempertahankan Luis Milla sebagai pelatih dan menunjuk Bima Sakti yang notabene belum ada prestasi apa-apa, kita dapat melihat betapa melempemnya penampilan Timnas di gelaran AFF 2018. Bermain seperti tanpa skema, tanpa visi, passing dan umpan yang tidak jelas dan segudang penyakit klasik lainnya. Hasilnya untuk menang lawan Timor Leste saja harus bersusah payah dan kita semakin kalah kelas dibanding Singapura, Philipina apalagi Thailand. Kalau hal ini terus dibiarkan, jangankan mimpi berbicara banyak di level Asia maupun Dunia, level Asia Tenggara saja Timnas hanya akan jadi bulan-bulanan.
Spoiler for timnas-mengecewakan:


3. Arogannya seorang Edy Rahmayadi.

Dalam wawancara live dengan sebuah stasiun TV, saat ditanya apakah "apakah dia merasa terganggu ketika tugas dan tanggungjawab sebagai gubernur kemudian juga menjadi ketua umum PSSI?' justru dijawab dengan kata-kata yang arogan “Apa urusannya anda menanyakan itu?”. Sebuah jawaban yang sangat miris dari seorang pimpinan organisasi besar seperti PSSI. Itu baru sebuah contoh dari berbagai tindakan kontroversial nan arogan dari seorang Edy Rahmayadi. Belum lagi kelakuan lainnya seperti menampar seorang supporter PSMS Medan saat laga melawan Persela Lamongan, dan yang terbaru saat diminta komentarnya mengenai kegagalan Timnas di AFF 2018 malah dijawab Edy dengan komentar yang sangat tidak nyambung selayaknya seorang pemimpin, "wartawannya yang harus baik, ketika wartawannya baik timnas juga baik".
Spoiler for edy sombong:


Spoiler for si sombong ngamuk:


Spoiler for malah nyalahin wartawan:


4. Rangkap Jabatan nan kemaruk

Aturan formil seperti Surat Edaran Mendagri Nomor 800/148/sj 2012 tanggal 17 Januari 2012 tentang Larangan Perangkapan Jabatan Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah pada Kepengurusan KONI, PSSI, Klub Sepakbola Profesional dan Amatir, serta Jabatan Publik dan Jabatan Struktural tampaknya hanya angin lalu bagi seorang Edy Rahmayadi. Dia tetap bergeming memegang dua tampuk jabatan sekaligus. Ketum PSSI sekaligus Gubernur Sumatera Utara. Bagaimana mungkin dia dapat mampu fokus mengurusi sebuah Provinsi sebesar Sumatera Utara sekaligus organisasi nasional sebesar PSSI?

Parahnya rangkap jabatan ini juga dilakukan oleh wakilnya Joko Driyono, selain sebagai Wakil Ketua PSSI dia juga merangkap sebagai pemilik mayoritas saham Persija Jakarta yang saat ini sedang berlaga di Liga 1 Indonesia. Siapa yang bisa menjamin tidak terjadinya conflict of interest dalam pengambilan keputusan dan kebijakan oleh PSSI terkait Liga 1? apalagi jika kebijakannya menyangkut Persija Jakarta.

Solusi / Langkah Nyata :

Jadi, ketika aturan tidak berlaku bagi Edy Rahmayadi, ketika berkali-kali menjadi trending topik di media sosial (dengan hashtag #EdyOut #JokoDriyonoOut #BimaOut) tampaknya hanya menjadi angin lalu, masyarakat Indonesia dalam hal ini pendukung Timnas perlu melakukan langkah yang lebih nyata. Sebuah langkah nyata yang memberikan efek bagi Edy dan PSSI, mengosongkan GBK saat partai timnas melawan Philipina akan memberikan "tamparan' keras bagi mereka yang selama ini bermuka tembok dan berkuping sekeras kulit badak. Biarlah Edy dan PSSI menjadi pusat perhatian media luar apabila GBK kosong saat Timnas bertanding. Mengosongkan GBK bukan berarti kita tidak cinta Timnas, bukan berarti membiarkan Timnas berjuang sendiri. Kita tetap mendukung dengan menyaksikan lewat siaran langsung dan dukungan doa tentunya. Kita hanya ingin Edy dan pengurus tidak kompeten lainnya OUT dari PSSI dan PSSI berevolusi menjadi sebuah organisasi yang profesional dikelola oleh orang yang faham sepakbola dan imbasnya kepada prestasi Timnas yang lebih baik.

emoticon-I Love Indonesia

#KosongkanGBK
#EdyOut
#RevolusiPSSI
#JokoDriyonoOut
#BimaOut

Bantu tanda tangan petisi utk #KosongkanGBK saat laga Timnas vs Philipina agar jadi kritik dan langkah nyata dari Masyarakat Pendukung Timnas untuk #EdyOut
- Tandatangani Petisi!
via @ChangeOrg_ID

emoticon-I Love Indonesia
emoticon-I Love Indonesia
emoticon-I Love Indonesia
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
haissss udah eneg gan sama pssi bobrok dah
kalah lagi lawan filipina besok
Kalo kosong gak balik modal emoticon-Ngakak
Kayaknya sih mustahal, td sore liat diberita yg kejual tiketnya udah 29 rb tiket..
tetep beli tiketnya, tp nongton neng tv emoticon-Cool
GILA! MAHAL2 DAN SUSAH PAYAH BISA NGERAYU LUIS MILLA NGELATIH INDONESIA EH MALAH DIKERJAIN SAMA PSSI,
DAN SEKARANG MALAH BIMA SAKTI DISURUH JADI PELATIH TIMNAS,
KEBAYANG?SEKALIBER TIMNAS INDONESIA DILATIH SAMA PELATIH YANG PENGALAMAN MELATIHNYA MASIH SANGAT MINIM??INI JELAS KEMUNDURAN BUAT SEPAKBOLA INDONESIA,
PADAHAL DI ASIAN GAMES TIMNAS KITA SUDAH PUNYA SKEMA PERMAINAN YANG LUAR BIASA DARI POLESAN LUIS MILLA,
PEMAIN KITA JUGA SANGAT POTENSIAL,MUNGKIN INI SKUAD TERBAIK TIMNAS SEJAK BEBERAPA TAHUN TERAKHIR,TAPI KARENA MANAGEMEN GA BECUS JADINYA ANCUR2AN GINI emoticon-Hammer2

maaf capslock jebol,emosi gara2 tim tetangga justru bermain bagus dan membanggakan negaranya emoticon-Mewek
Lebih baiknya GBK di isi oleh suporter tim indonesia sampai penuh sesak, sementara seluruh pemainnya wajib piknik ke Australia. Sebagai gantinya edy memberikan siraman rohani kepada para suporter utk melindunginya dari serbuan pertanyaan para wartawan. Ingat ! Jangan sampai paoknya edy terlihat , malu nanti suporter kalau punya ketua selongor edy emoticon-Leh Uga
PSSI kapan sih nyadar diri ...apa menunggu kiamat baru mau perbaiki sepakbola tanah air
Apa mesti gua yg turun tangan mengenai hal semacam ini ??

emoticon-Cool


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di