alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Merawat cagar budaya, mencatat peradaban
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf8ed23d44f9fd4548b4570/merawat-cagar-budaya-mencatat-peradaban

Merawat cagar budaya, mencatat peradaban

Merawat cagar budaya, mencatat peradaban
Pekerja Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta membongkar atap bangunan Candi Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (19/20/2018)
Perawatan cagar budaya butuh komitmen para pihak. Minimnya dana dan petugas atau tenaga ahli yang merawat cagar budaya menjadi persoalan utama mencatat peradaban. Sekadar komitmen tak cukup dalam upaya pelestarian.

Pada pekan kedua November 2018, arkeolog dan tim peneliti menggali artefak Candi Duduhan di Kecamatan Mijen, Kota Semarang untuk mencari tangga yang diduga menuju bangunan utama candi. Penggalian ini menyusul temuan Yoni pada 2015 dan bagian candi lainnya pada Agustus 2018 lalu.

Candi Duduhan bakal melengkapi daftar candi di provinsi Jawa Tengah. Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dari 220 kabupaten kota di 30 provinsi, Jawa Tengah menjadi provinsi nomor wahid dengan jumlah candi terbanyak, 67 buah. Di provinsi ini juga ditemukan 484 artefak, arca, dan batu lainnya.

Baik candi maupun artefak yang tak utuh adalah daftar cagar budaya yang perlu dilestarikan sebagai warisan budaya, merujuk Undang-Undang Cagar Budaya. Alhasil, penggalian candi ini tak bisa hanya berhenti pada proses penemuan benda, tetapi juga proses pelestariannya.

Selain candi, bentuk cagar budaya lainnya yang berhasil diinvetarisasi di antaranya makam atau komplek makam, rumah adat, rumah tradisional, rumah hunian, menara, tempat ibadah, dan lainnya.

Data cagar budaya yang diolah Lokadata Beritagar.id menunjukkan ada 17,2 persen cagar budaya tidak terawat. Mayoritas dalam kondisi yang tidak bersih, lapuk, rapuh, roboh, atau bahkan sudah hilang separuh bagian. Sementara 52,5 persen lainnya masih terawat meski beberapa di antaranya sudah tak lagi utuh.

Jawa Tengah adalah provinsi dengan jumlah cagar budaya tak terawat paling banyak, 302 buah, disusul Sumatra Selatan sebanyak 126 buah.

“Di antara persoalan yang masih banyak ditemui di akar rumput adalah pengelolaan cagar budaya. Sejatinya, cagar budaya tidak hanya berkaitan dengan kebudayaan, melainkan juga tata ruang, ekonomi, dan sosial,” kata budayawan Fahmi Prihantoro dalam acara Pra Kongres Kebudayaan, awal November 2018 lalu, dalam Medcom.id.

Perawatan cagar budaya butuh komitmen para pihak. Satu cara untuk melihat komitmen pemerintah lokal bisa dilihat dari apakah cagar budaya tersebut dilindungi dengan aturan atau produk hukum yang mewajibkan perawatan.
Merawat cagar budaya, mencatat peradaban
Pentingnya dasar hukum
Tak semua cagar budaya punya dasar hukum di tingkat daerah. Padahal, dasar hukum menjadi mandat kuat bagi pemerintah lokal untuk merawat cagar budaya.

Dari total 5.890 cagar budaya yang diketahui kondisi perawatannya, hanya 17,1 persen yang berdasar hukum baik dalam bentuk Peraturan Daerah, Surat Keputusan Bupati, atau bentuk aturan lainnya.

Mayoritas cagar budaya yang berdasar hukum ini cenderung terawat, sementara hanya 17,4 persen yang tidak terawat.

Dari seluruh bentuk cagar budaya, artefak, arca, dan bentuk batu lainnya merupakan jenis yang paling banyak ditemukan--sekaligus paling tidak terawat. Sebanyak 93,2 persen dari artefak yang rusak atau tak dipelihara ini belum memiliki dasar hukum.

Mayoritas arca patah tanpa kepala atau bagian tubuh lainnya. Misalnya, arca Nandi berbentuk lembu jantan yang terbelah menjadi dua, depan dan belakang, serta kakinya yang patah dan tertindih badan. Arca ini berada di Desa Lembu, Kecamatan Bancak, Kota Semarang.

Selain itu, bentuk cagar budaya yang populer yakni makam atau komplek makam. Sebanyak 225 makam di 30 provinsi di Indonesia dinilai tidak terpelihara. Misalnya, pemakaman Mangkubumi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah yang hanya tinggal pendopo, kondisi pilar rapuh, dan hanya dibungkus papan jati.

Ada pula pemakaman umum korban pembantaian masal Westerling di Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae, Majene, Sulawesi Selatan yang juga rusak berat. Padahal, pemakaman tersebut menjadi saksi sejarah kekejaman pasukan Belanda Depot Speciale Troepen saat operasi militer pada akhir 1947.
Merawat cagar budaya, mencatat peradaban
Siapa yang bertanggungjawab?
Persoalan pengelolaan cagar budaya memang laten, mulai dari siapa yang berhak mengelola hingga bagaimana bentuk pelestariannya. Dari 1.454 daftar cagar budaya yang tak terawat, 449 di antaranya menjelaskan detail permasalahan yang dihadapi. Minimnya dana dan petugas atau tenaga ahli yang merawat cagar budaya menjadi persoalan utama.

Merujuk Rencana Anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018, sebanyak Rp1,83 triliun dialokasikan untuk meningkatkan kesadaran pemahaman masyarakat terkait keragaman budaya. Anggaran ini justru turun 7,5 persen dari anggaran tahun 2017 sebanyak Rp1,93 triliun.

Dalam pagu tersebut, termasuk di antaranya melestarikan 2.502 cagar budaya, hubungan kerja sama dan pertukaran informasi budaya, pelestarian mata budaya, revitalisasi museum dan taman budaya, serta standardisasi museum.

Menurut mantan Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat, dana pemeliharaan cagar budaya seharusnya mencapai Rp1 triliun untuk tiap tahun anggaran. Faktanya, misalnya pada 2009, pemerintah hanya mengalokasikan sekitar Rp200 miliar untuk cagar budaya.

Selain soal dana, minimnya renovasi atau perawatan infrastruktur juga disorot. Ada pula masalah yang dihadapi karena minimnya petugas. Ironisnya, dua permasalahan ini juga dialami oleh cagar budaya yang sudah berdasar hukum. Artinya, komitmen tak cukup hanya di atas kertas meski aturan hukum menjadi bagian penting dalam pelestarian.
Merawat cagar budaya, mencatat peradaban

Masalah lain yang muncul yakni ketidakjelasan status kepemilikan. Misalnya, bangunan bekas penjara tentara peninggalan penjajahan Belanda di Desa Gemuh, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Yang menjadi persoalan adalah status kepemilikan lahan di lokasi berdirinya cagar budaya belum jelas, apakah milik warga atau pemerintah setempat.

Dengan rentetan masalah tersebut, tak semua tantangan pengelolaan mampu dijawab pemerintah. Di beberapa daerah, telah muncul kesadaran dari masyarakat untuk ikut melestarikan cagar budaya yang menjadi saksi sejarah peradaban.

Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Tanudirjo, berpendapat ada keraguan masyarakat terhadap arah kebijakan pelestarian warisan budaya. Ia pernah menuliskannya dalam makalah bertajuk Warisan Budaya untuk Semua (2003).

“Situasi ini akhirnya yang memuncukan perhatian (masyarakat) terhadap pelestarian warisan budaya. Masyarakat pada hakekatnya mempunyai konsep pelestariannya sendiri, ethnoconservation,” tulisnya.

Menurut Daud, justru upaya konservasi dari masyarakat terbukti efektif dan membantu pemerintah. “Karena itu, peran serta mereka amat perlu diberikan tempat dalam arah kebijakan pengelolaan yang baru,” menurut Daud.

Mengamini Daud, mantan Kepala Sub Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Agus Dono Karmadi, menyebutkan masyarakat berperan penting dalam perawatan dan pelestarian cagar budaya.

“Karenanya, sangat diperlukan penggerak, pemerhati, pecinta, dan pendukung (cagar budaya) dari berbagai lapisan masyarakat,” seperti yang ditulis Agus dalam makalahnya berjudul Budaya Lokal Sebagai Warisan Budaya dan Upaya Pelestariannya (2007).
Merawat cagar budaya, mencatat peradaban


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...atat-peradaban

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Merawat cagar budaya, mencatat peradaban Jelang akhir masa jabatan, kinerja DPR tetap jeblok

- Merawat cagar budaya, mencatat peradaban Boeing, paus sperma, Ibu Nuril, hingga ranking CPNS

- Merawat cagar budaya, mencatat peradaban Jumlah investor saham melonjak

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di