alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Cetak PNS Dengan Pola Pikir Revolusi Industri 4.0
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf88c9796bde6e5498b4567/cetak-pns-dengan-pola-pikir-revolusi-industri-40

Cetak PNS Dengan Pola Pikir Revolusi Industri 4.0

Birokrasi Indonesia pada 20-30 tahun mendatang akan dihadapkan pada sejumlah tantangan. Kemajuan teknologi, perkembangan penduduk dengan tren kebutuhan soft skills yang berbeda dari era sebelumnya.


Selain itu, kompetisi fiskal dan tenaga kerja yang ketat, serta semakin tingginya ekspektasi masyarakat terhadap kinerja birokrasi, menjadi sejumlah tantangan yang harus mendapatkan solusi.

Cetak PNS Dengan Pola Pikir Revolusi Industri 4.0

Menjawab itu, Pemerintah Indonesia menyusun rencana rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ditargetkan mampu untuk memberikan layanan publik secara lebih matang, menghadirkan tenaga kerja dengan kapabiltas yang dapat menjawab tantangan zaman, berkinerja lebih profesional dengan cara yang efektif, dan meningkatkan dukungan publik terhadap pelaksanaan pembangunan.


Quote:



Dalam pelaksanaan SKD, ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Peraturan Menteri PAN RB) Nomor 37 Tahun 2018 yang mengatur adanya passing grade (PG) sebagai penentu kelulusan, menjadi salah satu acuan yang harus ditaati.

Namun, jelang akhir pelaksaan SKD, data center BKN, menyebutkan tingkat kelulusan peserta SKD di tingkat kementerian/lembaga Pemerintah Pusat berjumlah 12,5 persen; Wilayah Barat sebanyak 3,7 persen, Wiliyah Tengah 2,2 persen, dan Wilayah Timur 1,4 persen.

Jika bertahan dengan kondisi itu, dikhawatirkan Pemerintah pada 20-30 tahun mendatang tidak mampu menjawab tantangan masa depan khususnya dalam memberikan percepatan pelayanan kepada publik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Mencegah potensi munculnya hambatan pelayanan publik yang bakal terjadi di masa mendatang, Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri PAN RB Nomor 61 Tahun 2018 (PermenPANRB No. 61) tentang Optimalisasi Pemenuhan Kebutuhan/Formasi Pegawai Negeri Sipil Dalam Seleksi CPNS Tahun 2018 sebagai bagian treatment memenuhi kebutuhan pemenuhan formasi CPNS.

Dengan ketentuan yang termuat dalam Peraturan Menteri PAN RB Nomor 61 Tahun 2018 tersebut, rata-rata tingkat kelulusan peserta SKD kementerian/lembaga Pemerintah Pusat diproyeksikan dapat mencapai angka 73,8 persen, Wilayah Barat 66,6 persen, Wilayah Tengah 54,9 persen, dan Wilayah Timur 44,2 persen.

Dalam Peraturan Menteri PAN RB itu ditegaskan, peserta seleksi CPNS 2018 yang mengikuti SKD dapat melanjutkan ke tahapan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).


Quote:



Spoiler for Sumber:

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
PNS pemersatu bangsa..
itu udah jellybean apa oreo ? emoticon-Wakaka
Profesi idaman mertua emoticon-Big Grin
selama pns cetakan orba masi ad ya susah merubah mental emoticon-Ngakak
Balasan post rumputteki99
Quote:


setuju bre bakal berubah tp lambat banget.
nunggu yg lahir '60-'80 lulus duluemoticon-cystg
gak usah ngarep gitu, gak lolos PG aja pada mewek2.
lbh fatal lg pemerintah "mengalah" buat aturan baru soal PG buat yg gak lolos SKD emoticon-Hammer
Quote:


Lulus tidak lulus dari SKD tahun ini lebih berat ke hoki sih kalau menurut gw, gan. Pemerintah sampai buat aturan baru (sebenarnya gak baru sih, sama kok dengan tes PNS sebelumnya, di-ranking juga) pun itu menurut gw karena kesalahan mereka sendiri yang nampaknya tidak pernah mengevaluasi secara serius model tes penerimaannya.

Kalau tidak lulusnya kena di TWK model tahun ini masi bisa diterima deh. Tesnya kelewat mudah. Gw yakin anak SMP tingkat 3 bisa mengerjakan mayoritas soal TWK. Begitupun TIU-nya, terhitung mudah juga. Hanya nampaknya kesalahan pada jawaban (tidak sesuai kunci) masih terjadi. Bagian ini masih begitu-begitu saja sejak dahulu.

Kemudian tes TKP.. Tes TKP itu tes yang paling ajaib yang pernah gw lihat. Tes itu sama sekali tidak bisa dibilang sebagai tes kecerdasan pribadi, lebih tepat disebut sebagai tes kesamaan pribadi dengan yang buat soal dan kunci jawaban. Lebih lucunya lagi, passing grade untuk tes yang paling tidak jelas semacam ini malahan paling tinggi. Padahal sama sekali tidak menunjukkan kecerdasan apa pun. Mungkin menunjukkan tingkat keberuntungan pribadi juga, jadi tes keberuntungan pribadi. Harusnya Tes Intelegensi umum yang ditingkatkan kesulitannya atau dikombinasikan sekalian antara TIU dan TKP jadi lebih mirip tes logika berpikir namun praktikal.

Gw sudah lihat-lihat tesnya dan menurut gw memang soal TKP-nya agak cacat. Mulai dari penggunaan kalimat yang tidak efektif baik untuk soalnya sendiri sampai ke kalimat opsi pilihannya sehingga kalimatnya menjadi panjang dan bertele-tele. Opsi-opsinya pun sepertinya tidak mempertimbangkan proses berpikir manusia secara real. Contohnya ada pilihan jawaban soal seperti ini (tidak persis seperti yang ada di tes, kalimatnya gw sederhanakan. Gw gak gitu ingat kata per kata):
Instansi A memutuskan untuk melakukan peningkatan mutu layanan. Dalam pelaksanaannya, dibutuhkan pemakaian program IT baru. Namun program tersebut belum familiar bagi instansi. Untuk tetap menjamin kualitas dan juga kerahasiaan dokumen negara, apa yang sebaiknya diperbuat?
a. memeriksa dan menganalisa program baru yang didapat apakah memiliki potensi kerugian negara atau tidak
b. memakai program baru yang didapat karena program baru itu dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
c. melakukan pelatihan untuk program baru yang didapat agar tidak terjadi kesalahan yang merugikan negara dalam pemakaiannya
d. tidak memakai program baru tersebut dan tetap menggunakan program lama yang telah terjamin kualitasnya
e. mengusulkan program lain yang sudah terbukti dipakai oleh perusahaan atau instansi lain

Opsi macam ini buat gw sesat sih. Kalau menurut logika berpikir runut dan logika berbahasa maka:
Opsi A stop sampai pelaporan hasil analisa, belum masuk ke pengaplikasian.
Opsi B langsung lompat ke pengaplikasian tanpa ada pemeriksaan terlebih dahulu atau pelatihan. kemungkinan terjadinya error cukup besar.
Opsi C satu step setelah fase di opsi A, ada pelatihan. namun tetap belum bicara pengaplikasian
Opsi D opsi aman, namun bentrok dengan semangat kemajuan dan perubahan. Opsi ini menutup kemungkinan perubahan dan peningkatan layanan yang mungkin terdapat dalam program baru.
Opsi E alternatif program dengan memakai program lain yang terbukti kualitasnya karena dipakai oleh perusahaan lain.

Dari opsi seperti di atas, jawaban dengan poin tertinggi ada di opsi B. pakai saja langsung. Padahal sih opsi B itu opsi paling berbahaya. Tanpa pemeriksaan, tanpa pelatihan, langsung pakai. learning by mistake. JIka ini pekerjaan individu, lingkup kecil maka tidak bermasalah. Namun ini instansi pemerintah yang kamu tahu sendiri gimana ribetnya dan saling terkaitnya. Satu kesalahan bisa merambat kemana-mana. Harusnya ada opsi yang lebih komplit untuk soal seperti ini, namun malah tidak ada. Kebanyakan orang lapangan akan pergi ke opsi C, E atau D. Sedangkan opsi D adalah yang terendah poinnya. Orang yang risk averse atau orang kantoran biasa akan ambil A, C atau D. Kalau niatnya untuk mencari orang yang ready dengan industri 4.0 dimana kemelekan pada teknologi itu jadi suatu keharusan maka opsi B itu bukan opsi terbaik. Tidak banyak orang yang melek teknologi mau pakai program baru begitu saja untuk pekerjaannya tanpa ada proses pengecekan kualitas atau melatih dirinya sendiri dahulu sebelum dipakai kerjain proyek. Berbahaya, bisa rusak kerjaan. Pasti dia latihan dulu. Coba-coba sendiri dahulu. Tapi ini malah opsi B yang jadi pilihan terbaik, opsi "Leap of Faith". Make it or break it.

Itu satu soal aja, gan. sudah gw sederhanakan tuh bahasanya. Soal-soal lain yang bisa gw dapetin sih lebih absurd lagi kebanyakan. Gak heran kenapa pada mentok di TKP tahun ini. hahaha... Beberapa orang cerdas yang gw cobain soal-soalnya rata-rata gagal jawab 10 soal. Di 10 soal itu mereka dapat poin 1-3 doang. hahaha... sudah nyaris tidak lolos kalau begitu kondisinya. Gimana mau dapat PNS bermutu kalau soalnya aneh begitu.
Diubah oleh mony372an
Balasan post mony372an
Quote:


banyak yg terjebak di TKP, pada dasarnya TKP itu jawabannya bkn "apa yg anda lakukan" tetapi lebih ke "apa yg harusnya anda lakukan", menjawab TKP dgn persepsi (idealnya) seorang PNS.

blm lg TKP kecil krn pada terlalu berfokus ke TWK n TIU, di TIU banyak yg ngabisin waktu dgn berusaha ngitung buat cari jawaban, akhirnya di TKP gak keburu lg waktunya n gak fokus lagi baca soal n jawabnya.

sebenarnya bkn metode tes atau PG nya salah, tp emang banyak pendaftar yg blm memenuhi standart, realita banyak yg gak lulus. no offense ya.
ibarat kompetisi, bukan standar nilainya yg diturunin tp pesertanya yg mesti upgrade kemampuan.

kalo pake sistem nego2 PG/ranking gitu, terus kenapa masih pada ngeluh kalo banyak PNS yg gak kompeten segala macem? emoticon-Embarrassment
Diubah oleh entecavir
Quote:


Memenuhi standar apaan? PNS sih gak ada standarnya kalau gw perhatikan. kerjanya gitu-gitu saja kok. Gw banyak berurusan dengan PNS dan yang menurut gw cerdas, piawai mengerjakan kerjaannya itu gak banyak. Hal-hal sederhana dalam tanggung jawabnya saja banyak yang gak paham kok mereka. Jadi kemampuan apa yang mesti diupgrade? itu satu pertanyaan. Lalu apakah soal tes yang dipakai sebagai benchmarking itu apakah sudah mendukung hal tersebut? menurut gw sih nggak. Sama sekali nggak. Jauh dari itu. Sama sekali gak kena.

Soal TWK itu level anak SMP dan sejujurnya aja menurut gw itu gak berguna. Hapalan level sekolah dasar yang tidak banyak keterkaitannya dengan kondisi nyata. Anak SMP pasti bisa lulus TWK, makanya gw bilang kalau kena gagalnya di TWK, you should be ashamed sih. parah namanya. Apa gunanya soal seperti itu? hapal pancasila bikin kamu berlaku pancasilais? hapal undang-undang negara bikin kamu taat hukum? sama sekali nggak tuh. Jadi apa guna TWK semacam itu? gw gak ngerti deh.
TIU menurut gw harusnya jadi garda depan utk PNS, ini malah dibuat biasa saja soalnya. Dari bentuk soal, jumlah soal dan nilai PG-nya kita tahu TIU ini gak dianggap terlalu penting. Padahal menurut gw harusnya ini yang penting karena namanya intelegensi umum. Hal-hal logika berpikir umum, berperilaku umum yang baik atau pengetahuan umum bisa diujikan di sini. Jangan melulu soal matematika lah, gak guna di tingkat ini. Orang yang kuliah apalagi yang sudah kerja hampir pasti lupa rumus-rumus begituan, harusnya fokus lebih ke soal logika. Anak teknik yang jago hitung-hitungan banyak yang gw temui sangat parah kecerdasan sosialnya yang berimbas pada perilaku mereka yang juga kurang peduli pada lingkungan hidupnya. Harusnya TIU ini bisa untuk benchmarking itu, tapi malah cuma kayak begitu saja soalnya kalau gw lihat. Level SMP-SMA juga.

Nah terakhir TKP, ini yang paling absurd. Dengan pakai logika "apa yang harusnya anda lakukan" sekalipun, terapkan saja pada soal yang ada. Tuh satu contoh yang gw kasih, banyak yang gagal kok. Bahkan orang yang cerdas dan profesional kerjanya sekalipun gagal (sejauh sejumlah orang yang gw tes). Benar-benar sebuah "tes kesamaan pribadi" atau "tes keberuntungan pribadi". Dengan berhasil memilih jawaban yang poinnya paling gede di sini, memangnya akan memperbesar didapatkannya PNS ideal? gw perhatikan sih ngga. Soal jenis ini sudah dipakai dari dulu bahkan sebelum pakai CAT. Bentuknya agak berubah, pilihan yang kali ini gw lihat lebih ambigu karena tidak ada pilihan buruk yang mencolok seperti yang dahulu banget. Tapi gw perhatikan, seperti yang sudah gw kasih contoh di post sebelumnya, itu satu soal yang bahkan cacat secara logika tindakan dan logika bahasa. "Apa yang harusya anda lakukan" adalah pertanyaan untuk mencari opsi terbaik, dari contoh yang gw kasih, sejak kapan pilihan macam "leap of faith" macam gitu adalah pilihan terbaik? langsung pakai tanpa ada pemeriksaan dan pelatihan? yang bikin soal kayak nggak pernah terlibat dalam proses bikin program dan proses pengaplikasiannya pada sebuah sistem yang sudah terlebih dahulu ada. Tapi ya itu logika mereka, makanya poin tertinggi ada pada pilihan perilaku seperti itu. Coba saja pakai perilaku semacam itu pada kondisi kerja nyata, pengen lihat gw bakal seperti apa. Pengalaman gw kerja selama ini, pilihan itu bukan pilihan bijak sih

Rangking itu bukan soal neg, tapi karena gak tercapainya kebutuhan kuota untuk mengisi posisi yang dibuka. Tetap diurut dari nilai tertinggi. Kalau gak dibuat begitu, untuk tahun ini akan sangat banyak yang gak terisi. Mengulang tes kata mereka duitnya tidak ada. Jadi opsi ini yang diambil dan bukan nurunin nilai PG-nya.

Gw cek hasil-hasil kemarin, yang lulus gak sampai 10% dari peserta kok. Ngecek satu sesi di Jakbar, dari 500 orang, wipe out mamen.. gak ada yang lolos. wkwkwk.. Awalnya gw kira kenapa, begitu gw cek gak lulusnya dimana, ternyata di TKP. Gw cek bentuk soalnya TKP yang katanya jadi momok itu, baru gw nyadar. Pantesan, soalnya cacat macam itu kok. Jadi gak heran gw kalau ingat kata temen gw yang PNS, "keterima atau tidak, semua masalah hoki". hahaha..

Selama pakai soal model seperti itu sih, jangan harap lah bisa dapat jajaran PNS yang kerjanya benar atau minimal berlogika akal sehat lah. Aneh ini pemerintah kita. Bagian diklat piye ini..?
Balasan post mony372an
Quote:


wkwkwk.. ente coba aja tes di lembaga lain, apa psikotes nyocokin gambar n logika gitu dipake buat kerja? emoticon-Big Grin
psikotes segala macem banyak yg lebih berat lagi dr TKP CPNS.
blm lagi ngerjain tes koran/kraeplin segala macem, dipake gak tu kemampuan jumlahin buat kerja?
tp tetap kan dipake sbg standar buat seleksi pegawai.
krn bukan itu yg mau dicapai dari seleksi yg ada.

tes CAT itu di desain idealnya buat memenuhi 3 kriteria supaya pemerintah dapet ASN : yang berwawasan (TWK), cerdas (TIU), dan berkepribadian yg baik (TKP). diharapkan ketiga aspek ini seimbang (terutama buat yg umum).
kalo emang mau fokus ke TIU, ambil formasi selain yg umum, simpel kan?

kalo pun gak lolos SKD, gak usah berkecil, apalagi dgn arogan nyalahin pemerintah segala macem.
belum lagi nuduh yg lolos SKD krn hoki emoticon-Hammer ck ck ck ini naif bgt, tipikal loser bgt emoticon-Embarrassment

percaya lah, kerja itu gak harus jadi PNS, masih banyak yg lain.
ngabdi juga gak mesti jd PNS, banyak lembaga/kementrian buka loker kontrak non PNS buat ngabdi di pelosok.
yg lolos SKD pun harus berdarah2 lagi bersaing di SKB dgn yg lain.
Diubah oleh entecavir
Quote:


Kreplin itu tujuannya untuk melihat daya tahan konsentrasi dalam tekanan. Seberapa konsistennya dia bisa perform terlihat dari hasil pengerjaan kreplinnya. Kombinasi kecepatan dan ketepatan. Tes kreplin itu memang dibuat dengan serius dan tujuan yang spesifik. Kombinasinya pun masih banyak kok selain kreplin. Tanyain anak psikolgi deh, HRD sih belum tentu paham juga, apalagi yang sudah stuck lama di perusahaan. Sejauh yang gw uji, tes kreplin masih lebih reliable untuk memberi gambaran performa seseorang. Makanya tetap dipakai bahkan oleh perusahaan kelas nasional dan internasional seperti Garuda atau Danone, dkk. Sedangkan tes yang seperti PNS itu adanya dimana coba? yang kayak TKP yang gw bilang ajaib itu, siapa yang pakai? Seumur-umur gw berurusan dengan HRD berbagai perusahaan, gak pernah gw nemu tes semacam itu untuk menjaring karyawan. Yang lebih unik malah banyak, biasanya perusahaan internasional tuh. Tes psikologinya malah seperti game, tapi masih jelas benchmarkingnya apaan. Gak ambigu macam TKP itu.

Tes PNS itu aneh ya menurut gw. Untuk tipe cum laude, malah diambil nilai total tanpa melihat PG per kategori. PG total mereka pun rendah, cuma 287. Standar cum laude macam apa itu. Soalnya pun sama, TWK-TIU-TKP. Kemarin yang gw cek itu pun kalau pakai standar umum si cum laude banyak yang gak lolos juga. Keistimewaan yang aneh untuk level cum laude.

Pendapat gw sih demikian, yang lulus PNS itu, yang benar-benar berkualitas cuma sedikit. Biasanya yang persiapannya panjang karena membabat soal-soal tes yang banyak tersebar, soal yang itu-itu saja. Yang begini bisa masuk dengan skor 400an lebih, minimum 350an lah. Mudah melihat yang mana orangnya. Kemarin ada yang bisa mengerjakan semuanya dan lulus ketiganya dalam waktu cuma 30an menit emoticon-Big Grin saking hapalnya dia dengan tipe soalnya. Apresiasi untuk persiapannya, tapi buat gw belum teruji dengan soal yang bukan soal PNS.

SKB-nya juga agak lucu sih kalau menurut gw. sama aja itu. memang kompetisi juga hitungannya, tapi standarnya itu loh, bikin ketawa aja. Bagi orang yang memang kerja di bidang itu, level soal di SKB (jika soal tertulis), itu benar-benar rendah. Contoh kecil saja: di bidang arsitektur ada soal semacam ini: "berapa ukuran kertas A2?", soal lainnya "1 meter berapa cm?", dan seperti itu. Agak sulit mungkin soal random macam "siapa arsitek bangunan A?". Bidang kerja gw arsitek, pertanyaan seperti itu gak layak ditanyakan bagi orang yang melamar kerja bidang arsitektur. Level mahasiswa arsitek tingkat 2 saja soal demikian itu terlalu mudah. Kompetensi macam apa yang dicari dari soal seperti itu?
Soal bidang dokter, keluarnya macam: "Apakah stetoskop itu?" ini awam banget deh. Sisanya gw sebagai arsitek gak paham, karena memang bukan bidang gw. Soal bidang keuangan: "Salah satu fungsi uang adalah..?". seriously..
SKB agak sulit dan lebih serius menurut gw yang buat pengajar, guru atau dosen. Ada tes mengajarnya. Jadi nanti dilihat bagaimana kamu mengajar. Yang seperti ini bagus, mengena langsung, sesuai kebutuhan. Kalau yang tipe yang ini bagus lah. Tapi tipe yang di atas tuh.. aduh..

Gw sih gak ikutan PNS, cuma dari dulu gw mantau pelaksanaan dan kebetulan kerjaan gw pernah berurusan erat dengan PNS. Jadi gw sendiri merasa jengkel dengan performa PNS dan begitu tahu model tes masuknya seperti apa, ya gw gak bisa ngarep banyak memang. Jauh lah dengan kualitas tes di perusahaan BUMN dkk. Padahal abdi negara tapi logika dasar dan mentalnya saja ampun-ampunan. Gw gak bilang semua PNS tapi buat gw lumayan banyak sih karena sudah cukup sering gw berurusan dengan mereka dahulu. Yang jago-jago skill dan mental pelayanannya mantap itu biasanya malah bukan PNS-nya, tapi honorernya. Gw heran bisa begitu. Apa karena PNS terlalu nyaman kali ya.

Ini baru bahas tes SKD-SKB loh, belum bahas yang ada FGD atau lebih mundur lagi ke awal saat seleksi administrasi. Banyak yang gugur cuma karena gelarnya gak sama dengan standar yang dipakai. Yang kena terutama untuk kalangan pengajar seperti dosen yang berasal dari lulusan luar negeri. Data instansi belum update dengan rincian standar gelar-gelar terbaru yang dipakai, akhirnya cuma berpatokan pada edaran lama. Akhirnya banyak yang gugur di administrasi cuma karena gelarnya tidak sesuai walau sebenarnya sama saja. ini lelucon lain lagi.

Kalau memang pemerintah serius mau cari orang terbaik, masih banyak PR-nya utk seleksi PNS sejak tingkat awal juga.
Balasan post mony372an
Quote:


ya tes gitu kan sesuai kebutuhan, sama jg penggunaan tes kraeplin/koran segala macem. beda tujuan beda tes yg digunakan, tp intinya sama buat seleksi.
pemerintah buat kriteria, BKN buat metode tes n standartnya.
lah ngapain ente samain dgn perusahaan, kan mereka seleksi sesuai kebutuhan mereka.

toh kalo emang SKD remeh n mudah, kenapa masih banyak yg gak lulus?
ane lebih lihat ke manajemen waktu, banyak yg berfokus ke TWK n TIU, akhirnya gak sempat ngerjain TKP. kok yg disalahin soal TKP? kan lucu..

formasi cumlaude ada TIU n nilai total. ente ngutamain TIU tp ngabain TWK n TKP? hehee.. seleksi SKD (TIU dasar/umum ini lo) aja pada gugur, belum dapet TIU di SKB (yg kata ente lelucon itu) yg sesuai bidang masing2 emoticon-Big Grin

ane dah pernah ngadepin tes TPA, psikotes, FGD, dan wawancara di satu waktu yg beruntun tanpa jeda/istirahat.. ini jg ada tujuannya tersendiri.
ane ngerti maksud tesnya, n ane ngerti juga maksud tes dgn pola SKD/SKB skrg.
buat apa mewek gak terima? udah lah, gak lolos selesai.
makin protes mah makin keliatan kalo anda itu lemah, dgn alasan bla bla bla.

ente protes kenapa pelayanan masih buruk? lah dgn tes SKD buat seleksi seorang ASN yg ideal sesuai kebutuhan pemerintah ente, malah protes.
terus pemerintah kudu piye jal? emoticon-Ngakak (S)

lagian di SKD itu baru dasar, masih dasar.. gak lulus kok langsung mewek.
belum lanjut SKB yg metodenya bervariasi antar lembaga daerah dgn pusat.

terkait gak lulus gelar dari luar ya baca aja alasan kenapa gak lulusnya.
apakah ijazahnya udah penyetaraan atau blm ya ikuti aturan dikti. gak ngerti jg ane. panitia seleksi jg ikut sesuai aturan yg udah ditetapkan.
lagian yg nentuin kebutuhan pegawai itu kan pansel lembaga masing2, kalo gak lolos berarti gelar/pendidikannya gak sesuai dgn formasi yg dilamar.

pake metode yg kata ente mudah n anggap remeh aja banyak yg gak lolos, dari seleksi admin sampe SKD.
terus maksud ente mau pake metode perusahaan gede atau BUMN? emoticon-Hammer
bayangin sendiri jadinya gimana..
Quote:


Tahun ini setahu gw yang gak lulus itu mayoritas kena di TKP, hampir semua yang tes komentarnya sama, kira-kira begini: "soalnya ajaib deh". Gw juga awalnya nganggap mungkin perasaan mereka aja kali. Baru gw telusuri gimana soal tes TKP-nya. Gw coba kerjain, gw iseng bawain ke temen dan rekan gw yang lain yang sama penasarannya. Eh sama aja hasilnya, mereka juga gak pada lewat passing grade padahal secara kinerja orang-orang yang gw tes itu cerdas dan profesional semua. Lalu gw tanya-tanyain orang-orang yang ngikut tes-nya. Justru banyak dari mereka start dari TKP dulu, sudah dikasih tahu dari tes-tes yang mereka ikutin buat persiapan. Jadi mundur alur kerja mereka: TKP-TIU-TWK. kenanya semua itu di TKP. Ada memang yang gak lulus di TWK, ini sih memang keterlaluan dengan soal yang ada. TIU juga masih mudah, tapi okelah masih lebih menantang dari TWK. Tahun-tahun kemarin, justru yang banyak tidak lulus itu di TIU, soal berlogika itu. TKP malahan lancar jaya.

Soal gagal administrasi yang bermasalah itu kalau dari yang gw dapat bukan masalah tidak sesuai dengan posisi yang dilamar. Tapi memang bermasalah dari instansinya, mereka yang tidak update dengan nama-nama gelar yang terbaru di dunia pendidikan, terutama yang dari luar negeri. Jadi mereka benar-benar cuma berpatokan pada peraturan tertulis. tertulisnya apa ya sudah yang itu saja yang diterima. Gelar lain yang sama saja namun beda nama langsung dicoret sama mereka. Kmrn kan banyak diprotes, tapi jalan terus aja tesnya. Beberapa instansi memang sempat respon protesnya para pelamar lalu rubah aturannya sendiri. Tapi banyak juga yang ngga sempat atau mungkin gak peduli. Yang penting show must go on.

Jelas lah gw protes dapat pelayanan buruk oleh PNS apalagi kalau sudah di lapangan. Wah gila, ngajak ribut banget blo'onnya. Mau menyaring orang macam apa dengan seleksi macam itu? Mendingan banyak gak lulus dengan model tes setingkat BUMN dkk lah, jelas mutunya, cara ngukurnya dan kualitas semacam apa yang dicari..hahaha.. emoticon-Big Grin
Balasan post mony372an
Quote:


tujuan TKP itu kan buat penilaian kepribadian saat bekerja.
ente pikir yg merumuskan itu orang biasa aja? ane berani jamin kok, ada tim khusus yg punya keahlian n kompetensi buat pertanyaan kek gitu.

banyak yg terjebak dgn kasus n jawabannya, itu pertanyaan relatif di saat kondisi tertentu, idealnya seorang ASN mesti ngapain aja.
itupun pake derajat nilai 1-5.

ente minta ini itu, yg ane dapat kesan dari ente, adalah ente gak terima temen ente gak lulus krn jatuh di TKP.
nyalahin sistem ini itu lah, gak terima gak lulus. what a joke.

banyak di luar sana kondisinya sama, toh pada terima2 aja n terima dgn lapang dada.

ente daftar kerja ke tempat orang, terus gak keterima, ente kok malah nyalahin tempat yg ente lamar krn gak bisa nerima ente dgn segala gelar keren dr PT LN? emoticon-Ngakak (S)
ente lebih suka kinerja honorer? ya udah, kasih saran tuh mrka2 buat jadi honorer.
msh banyak kerjaan di luar sana selain jadi PNS, yg kata ente PNS terlalu buat nyaman n menghilangkan potensi diri.
rezeki udah jalan masing2, gak bakal ketuker kok gan.

tp ya ini lah Indonesia dgn segala plus minusnya. banyak kinerja PNS dikritisi tp pada berebut jg mau jd PNS emoticon-Big Grin
Quote:


Gw cuma heran gak habis pikir lihat soalnya dan jawabannya. Seriusan deh, kalau dari logika orang yang sudah kerja, berpikir runut, sudah merasakan error-error di lapangan, kebanyakan jawaban TKP yang nilainya 5 itu adalah perilaku yang besar kemungkinan membawa masalah. Jadi gw ada rasa jengkel tersendiri, apa yang mau dicari dari soal-soal macam ini? seriusan ini? begitu lah. Temen gw gak lulus gak ada urusan sama gw, gan. hahaha..

Gw sih selama nyari kerja, rata-rata yang gak keterima bisa gw terima alasannya. Memang gw akui gw gak perform di tesnya, misal FGD atau hancur semenjak tes tertulis. Gw pernah tes di perkapalan dahulu banget, nah itu tesnya memang edan. Gw nyerah lah sama tes tertulisnya. hahaha.. Perusahan swasta, bumn, internasional yang gw pernah cicipin tes rekrutmennya, baik yang diterima maupun yang gw gagal itu tidak ada yang soalnya seabsurd soal PNS itu, gan. Makanya gw kaget lihat soalnya, apalagi ngerespon berita ini, be ready for industry revolution 4.0 ? are you kidding me?

PNS nampaknya masih jadi primadona di Indonesia. Orang-orang yang sudah tua gw denger selalu nyaranin anaknya masuk ke situ karena jaminan hari tua, kecil kemungkinan dipecat palingan dimutasi. Pekerjaan, kalau gw lihat temen gw di pemprov DKI, kementerian perdagangan, dll kayaknya santai banget mereka. Kadang gw iri lihatnya sih. hahaha.. enak banget pola kerjanya. so slow.. emoticon-Big Grin

Pengecualian waktu kemarin Ahok masih jadi gubernur, untuk pertama kalinya gw lihat temen gw yang pemprov itu bekerja segiat pekerja swasta. wkwkwkwk..
Balasan post mony372an
Quote:


kalo gak ada urusannya, kenapa ente yg sibuk? malah nyalahin soal TKP..
soal ujian psikotes terutama untuk uji kejiwaan n daya tahan/komitmen lebih aneh lagi pertanyaannya. dan itu pertanyaan sama bisa di ulang puluhan kali dari ratusan soal. apa dianggap soalnya gak masuk akal/gak masuk logika?
ngerjain TKP gak perlu pinter logika n gak perlu banyak mikir, krn kita cuma disuruh jawab kondisi "IDEAL"nya seorang ASN bukan apa yg ente lakuin skrg atau apa yg akan ente lakuin nanti. ente jawab ya yg baik2nya aja, bukan jawab apa yg ente lakuin dikondisi nyata, mau itu gak sesuai logika atau bawa masalah. bukan itu jawaban yg diminta.
TKP itu ada tujuannya, yang di cari apa? ya kepribadian yang baik. seorang ASN yg berwawasan, pinter, dan kepribadian baik.
bukan ASN yang pinter berwawasan tp kepribadiannya yg arogan emoticon-Embarrassment

Quote:


ya elah gan gan.. ngapain ente samain metode tes lain dgn CPNS skrg, buat apa coba?
udah dibilang tujuan awalnya aja beda, kok ente samain metodenya, ente pahamin dulu ini emoticon-Hammer
jangankan dengan perusahaan lain, di SKB nanti metode ujiannya juga berbeda antara pusat dengan daerah, krn tujuannya jg beda.
standar yg dipake juga beda.
terus kenapa ente maksa, bandingin cara ujian di perusahaan segala macem dgn CPNS skrg emoticon-Hammer

Quote:


kalo yg terakhir ini ane setuju. emoticon-Smilie
Diubah oleh entecavir
Balasan post entecavir
Ya seperti yang gw bilang di awal, lebih tepatnya TKP itu tes kesamaan pribadi atau kecocokan pribadi. Pribadi ente cocok tidak untuk dengan pola perilaku PNS yang dianggap ideal itu. Gitu loh. Jadi ya begitu-begitu saja polanya. Jangan harap ada perubahan signifikan lah, apalagi bersiap ngejar industry revolution 4.0. Jauhhhhh...

Sekarang di pemprov dki santai lagi tuh gw denger-denger. hahaha.. herdernya sudah hilang.
Balasan post mony372an
Quote:


TKP itu buat menilai kepribadian, gimana idealnya seorang ASN bertindak atau ambil keputusan.
makanya dibuat skala 1-5. TKP kan salah satu dari 3 indikator.

kalo bandingin ma yg lain, psikotes malah lebih aneh lagi, apalagi yg uji kecendrungan seksual, kejiwaan/daya tahan thdp stress, ama konsistensi/komitmen.
itu soalnya udah ratusan, waktu mepet, padahal kerjaan yg dilamar malah profesi pada umumnya. tp tetap aja pake tes kayak gitu
ente mau kerja n diterima, ya harus lulus dulu tesnya. apapun jenis tesnya.

itupun psikotes segala macem bisa kita akali dgn jawaban gak sesuai kondisi kita sendiri, sama halnya dgn jawab soal TKP. yg diminta kan jawaban yg bagus2, mau sebelangsak apa ente di RL ya jgn jujur2 kali lah jawabnya kalo mau lolos emoticon-Ngakak (S)

lagian gak bisa lah ente bandingin tes yg satu tempat dgn yg lain, apalagi berdasarkan tafsir ente sendiri.
yg bikin TKP itu, ane yakin, gak hanya pemikiran satu orang, pasti mereka punya dasar/pertimbangan.
ke depannya pasti ada monev terkait CAT tahun ini.


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di