alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Untuk Laut; Yang Tak Akan Pernah Menjadi Muaraku
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf83c7814088def268b456e/untuk-laut-yang-tak-akan-pernah-menjadi-muaraku

Untuk Laut; Yang Tak Akan Pernah Menjadi Muaraku

            Hanya percakapan ringan dan singkat antara aku, dia dan teman-teman yang lain. Bisa dikatakan percakapan tak penting tentang tanggal, siang dan malam. Aku tak sedang dalam mood yang bagus. Kujawab perkataan salah satu temanku dengan asal-asalan. Dia terlihat ilfeel dengan sikapku. Andai aku menyadarinya sejak awal, mungkin aku tak akan begitu diabaikan ketika mencoba memulai percakapan. Hingga obrolan kamu berkahir, aku yakin ia memiliki kesan buruk tentangku. Setelahnya aku dan dia tak pernah saling berbicara.

            Jika kau tanyakan bagaimana asal mulanya, hingga aku dan dia terlibat banyak percakapan, bercanda, obrolan ringan hingga sedikir curhat, aku pun tak tahu. Lebih tepatnya aku lupa bagaimana awal mulanya hingga aku dan dia terlibat percakapan pribadi, tanpa melibatkan temna-teman kami yang lain. Seolah terjadi begitu saja. Dia bercerita dan aku menimpali, mengomentari, dan kadang mengejeknya. Setelah beberapa momen berlalu, aku beranikan diri untuk berkata “akhirnya kita saling mengerti”, dan semua mengalir begitu saja. Seolah kami memang berteman sejak awal.

            Mengenalnya seperti membuka pintu dari sisi lain dunia. Semakin jelas bahwa hidup tak sekedar yang bisa aku raih. Ada banyak dunia lain di luar sana. Dunia yang begitu indah, keras dan beberapa justru menakutkan. Tak kusangka ia begitu beruntung. Dunia yang selama ini aku impikan, hidup yang begitu aku damba, justru didapatnya dengan mudah. Aku iri padanya. Terhadap apa yang ia punya namun tak bisa kumiliki. Entah perjalanan terjal macam apa yang pernah ia lalui, hingga ia sampai pada titik yang selama ini kuinginkan namun tak pernah bisa kugapai.

            Baiklah, cukup tentang rasa iri hatiku. Karena terlepas dari perasaan itu, dari percakapan demi percakapan yang sering kami lakukan, aku mulai mengenalnya lebih banyak. Dari caranya berbicara, kata-kata yang ia pilih dan seberapa cepat ia merespon ucapan atau pertanyaanku, secara tidak langsung ia bercerita tentang dirinya. Bahwa ia bisa dengan cepat menjawab pertanyaan seseorang jika suasana hatinya sedang baik, bersedia mengobrol apa saja berjam-jam, menjawab pertanyaan apapun yang kutanya tentang dirinya, dan terkadang, entah karena apa, ia berbagi cerita tentangnya dengan suka rela. Satu hal yang menyebalkan darinya, ketika suasana hatinya buruk, entah bagaimana dengan yang lain, tapi padaku, ia bisa mengabaikanku selama berhari-bari. Tak merespon panggilan, pertanyaan apalagi sekedar sapaanku. Dan saat itu terjadi, aku hanya bisa menunggu sampai suasana hatinya membaik dan kembali merespon saat kupanggil.

            Entah seberapa banyak aku mengenalnya. Beberapa percakapan ringan antara kami hanya membuatku mengenal hal-hal kecil saja tentangnya. Dia anak pertama, memiliki dia adik dan seorang sepupu yang lebih tua darinya. Dia ceria dan senang berbagi kisah. Namun mengenalnya seperti ini seperti menatap seseorang di balik tabir transparan. Kau dapat melihatnya tapi tak benar-benar tahu apakah yang kau lihat adalah yang sebenarnya atau sekedar bagian kecil dari hal-hal yang tertutup tabir. Kadang aku berharap lebih darinya, dari diriku sendiri, dari keadaan. Berharap aku dapat mengenalnya lebih jauh dan menjadi salah satu tokoh yang ia anggap cukup penting dalam hidupnya, hingga aku tak perlu mengira-ngira apa yang tersembunyi tentangnya di balik tabir. Namun aku harus cukup berpuas diri dengan percakapan-percakapan ringan dan singkat yang kami miliki. Aku bukan bagian penting dalam hidupnya, mana mungkin aku meminta lebih.

            Aku ingat tentang masa kecilku yang pernah menyukai dongeng. Tentang seorang pangeran tampan dan putri baik hati. Pada satu titik, semua dongeng itu kembali. Rasanya seperti membangun lagi istana yang pernah runtuh karena bencana. Pangeran tampan, istana yang indah dan putri yang baik hati. Sayangnya, aku lupa satu hal. Pangeran akan selalu berdampingan dengan tuan putri, dan semua orang tahu, aku bukanlah seorang putri. Bisa jadi dalam dongeng ini aku hanyalah tokoh tempelan yang tak mempunyai peran apa-apa. Dongeng itu berlanjut, tanpa aku di dalamnya.

            Pernah kubahas seseorang yang kuanggap cukup membuatnya tertarik. Benar. Ia memiliki perasaan tertentu padanya. Lengkap sudah dongeng itu. pangeran sudah menemukan sang putri. Dongeng berakhir bahagia selamanya tanpa sedikitpun aku terlibat di dalamnya, karena dalam dongeng ini aku hanya berperan sebagai penonton—lagi.

            Ketika ia bercerita bahwa seseorang yang ia sukai menjauh, aku tak tahu bagaimana harus merespon. Entah karena aku diam-diam menyimpan rasa padanya atau karena aku tak pernah berhadapan dengan seseeorang yang patah hati, aku tak mengerti. makan kulakukan yang biasa kulakukan ketka ia menceritakan sesuatu. Bertanya dan memintanya untuk bercerita lebih banyak. Menurutnya tak ada yang begitu spesial, hanya cukup dekat, itu saja. Entah dia dapat merasakannya atau tidak, aku berusaha merespon senormal yang kubisa, meski sebenarnya aku tak tahu harus merasa bagaimana. Senang Karena aku masih punya kesempatan untuk menjadi sang putri atau sedih untuk seorang teman yang tengah sedikit patah hati. Sejak awal sudah kutahu bahwa dengan menyukainya sama saja aku menyakiti diri sendiri. Tak peduli seberapa sering kami mengobrol, membahas berbagai hal kecil, mendengarkan sedikit curahan hatinya, tak aka nada yang berubah. Ia tetap sama, seperti laut. Bergejolak indah dengan pasang-surutnya. Namun ia tetap disana, tak kemana-mana. Keterlibatan kecilku dalam hidupnya tak akan pernah mengubah fakta bahwa ia tetaplah laut, yang tak akan pernah menjadi muaraku. Maka kukirimkan perahu kertas mungil untuk menyampaikan rasa yang pernah tumbuh untuknya, laut yang aku tak akan pernah bermuara kepadanya.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di