alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Kyai Ma’ruf Belum Tentu Saleh?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf6b738902cfead2c8b4588/kyai-maruf-belum-tentu-saleh

Kyai Ma’ruf Belum Tentu Saleh?

Pilpres adalah kontestasi A sampai Z. Kalau masih bisa alfabet itu ditambah maka tambah saja, supaya perlombaan semakin panjang.


Di antaranya yang diperlombakan itu adalah kesalehan. Baik calon presiden maupun wakil presiden diungkat-ungkit kesalehannya. Orang awam mengartikan saleh dengan banyaknya dan taatnya mengerjakan ibadah mahdhoh. Lantaran semua kontestan beragama Islam, maka diperiksa hajinya, shalatnya, puasanya, zakatnya,  dan lain-lain.


Haji adalah kesalehan mutlak nomor wahid. Dalam musim pemilu, haji lebih penting dari apa pun. Dahulu antropolog Belanda Snouck Hurgronje mengidentifikasi pemikir Islam yang berpotensi mengancam kolonialisasi dengan sebutan haji. Sebab orang berhaji saat itu diikuti dengan belajar agama serta pemikiran sosial. Dus, haji mengandung konotasi negatif.


Namun sekarang gelar haji bagaikan mahkota. Wajib dipakai, terutama untuk menyongsong pilpres. Islam saja tidak cukup. Harus haji, meski hajinya kilat. Karena haji bermakna saleh.


Kesalehan kedua ialah shalat. Khalayak bertanya apakah si calon anu shalatnya tertib, benarkah calon yang lain tak bisa pimpin shalat? Pertanyaan itu bisa juga dikombinasikan dengan syak wasangka.  Misalnya, memang dia bisa shalat? Ngomong fatihah saja patekah.


Publik menyukai kesalehan ritual. Seperti ada jaminan bahwa yang ritusnya tertib dia takkan korupsi, tak macam-macam. Jadi jangan terpukau dengan kontestasi kesalehan. Supply creates its own demand. Para orang tua berdoa agar kelak anaknya saleh, maka mereka tak ingin dipimpin pemimpin yang tidak saleh. Barangkali begitu.


Saleh merupakan kata serapan bahasa Arab. Memahaminya tentu mesti dengan metode Arab dan etimologi Arab. Sebagaimana kata apartment diserap jadi apartemen, tidak mungkin ada orang membangun rumah satu lantai berisi 100 kamar lalu menamainya apartemen.


Dalam bahasa Arab, diperkuat dengan definisi dalam Al Quran, saleh tidak mutlak berarti ibadahnya tekun dan sudah haji. Saleh (shalahan) ialah masdar yang terbentuk dari asal kata shaluha-yashluhu, artinya baik, terhindar dari keburukan, atau pantas.


Al Quran menyebut kata saleh sebanyak 124 kali dengan pengertian amat luas. Perbuatan saleh di antaranya membaca Al Quran, menyuruh kepada perbuatan baik, mencegah kemunkaran, bersedekah, berbuat adil, membantu orang lain.


Jika shalat malam dan membaca Al Quran dijadikan syarat mutlak kesalehan hamba-Nya, maka alangkah iba orang-orang yang sibuk bekerja hingga malam hari. Begitu pula andaikan bersedekah dan berzakat dicantumkan Tuhan sebagai daftar wajib kesalehan, maka kaum dhuafa takkan mencapai kesalehan.


Agar lebih terang, mari membandingkan definisi saleh dari KH. Mustafa Bisri. Menurut Gus Mus, saleh itu maknanya pantas. Kedengarannya mudah, tapi kompleks sekaligus fleksibel. Saleh tidak tergantung sebanyak apa rakaat, sekelu apa mulut dalam berzikir, tapi tercermin dari kapasitas tiap-tiap orang.


Maka kata Gus Mus, kalau Anda seorang pejabat, tidak usah repot-repot shalat malam, puasa senen-kemis atau zikir yang lama. Cukup bikin peraturan yang genah, berbuat adil, itu sudah saleh.


Demikian juga dapat kita pahami kesalehan pada profesi lain. Misalnya Anda pengusaha, maka jalankan dan majukan bisnis Anda secara teratur dan legal, penuhi hak karyawan tepat waktu, bayar pajak, tunaikan zakat perusahaan, dan jangan merusak lingkungan. Atau katakanlah Anda seorang anggota militer, kesalehan Anda ialah menjaga pertahanan negara, taat pada komando atasan. Kalau tidak mampu berarti Anda keluar dari kesalehan.


Luasnya kriteria saleh menurut Al Quran menyiratkan Tuhan maha demokratis dan maha luwes dalam melihat kesalehan hamba-Nya. Kesalehan dapat dilakukan siapa saja, tak mesti kyai, ustad, guru agama. Seorang presiden tak usah bangun tengah malam dan melanggam kitab suci di Istana Merdeka kalau waktunya untuk rakyat malah habis. Cukup periksa data, pastikan kondisi lapangan, petakan keadaan, analisis, ambil keputusan yang adil, jujur, maka dia saleh.


Maka dalam pilpres 2019, berhubung kesalehan ritual masih menjadi bahan perlombaan yang digemari masyarakat, kita perlu menonton kesalehan para kontestan dari karakternya. KH. Maruf Amin belum tentu saleh, meski ia haji, terus bersorban dan sarungan, kyai pula!


Bahkan sangat perlu bertanya bagi siapa pun, salehkah Maruf Amin?


Dua kapasitas yang dapat diukur untuk menguji kesalehan Maruf Amin. Selaku ahli fiqh dan ahli ekonomi syariah.


Aktivitas MA di MUI berlangsung sekitar tiga dekade. Ia pernah mengisi pos bidang fatwa, komisi fatwa, dewan syariah nasional, dan Ketua MUI. Umumnya MUI hanya disorot dengan meluapnya kasus populer ke permukaan. Misalnya aliran sesat dan LGBT. Namun di belakang itu ada seabrek masalah yang harus diperiksa dan diambil keputusannya.


Wilayah kepakaran MA dalam fiqh sangat luas, antara lain fiqh ibadah, perkimpoian, muamalat, hubungan sosial, medis, teknologi dan lain sebagainya. Ratusan fatwa telah diumumkan dan tidak jarang di antaranya telah diadopsi menjadi hukum positif. Menyusun fatwa MUI tidaklah mudah. Sebab permasalahan umat selalu update. Misalnya dulu tidak ada dana tabungan haji, sekarang dana haji menumpuk triliunan rupiah dan dapat dimanfaatkan. Maka kasus baru ini perlu dicari jalan keluarnya.


Di bidang ekonomi syariah, MA punya peran besar menanamkan fondasi dan rancang bangun yang kokoh. Beragam pemikiran MA bidang ekonomi yang kemudian diadopsi dalam hukum nasional antara lain UU 21/2008 Tentang Perbankan Syariah, UU 19/2008 Tentang Sukuk, Peraturan BI 10/11/PBI/2008 Tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah, dan masih banyak lagi.


Di luar kapasitas itu, MA masih sibuk di bidang pendidikan. Ia mengasuh Pondok Pesantren An Nawawi di Banten. MA juga tercatat di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai guru besar profesor Hukum Ekonomi Islam berdasarkan Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 69195/A2.3/KP/2017 tertanggal 16 Mei 2017.


Masih banyak lagi catatan MA terkait kapasitasnya yang dapat dipakai untuk menguji kesalehannya. Soal ritual ibadah rasanya tak elok diuji, sebab itu zona privasi hamba dengan Tuhan-Nya. Yang pasti, MA mengerti caranya menjalankan ritual ibadah.

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
PERTAMAX emoticon-Cool


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di