alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Andika Perkasa di tengah tuduhan nepotisme dan kasus Theys Eluay
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf65afd54c07a41418b456e/andika-perkasa-di-tengah-tuduhan-nepotisme-dan-kasus-theys-eluay

Andika Perkasa di tengah tuduhan nepotisme dan kasus Theys Eluay

Andika Perkasa di tengah tuduhan nepotisme dan kasus Theys Eluay
Presiden Joko Widodo (kanan) memasangkan tanda pangkat jabatan ke pundak Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang baru Jenderal TNI Andika Perkasa (kiri) seusai pelantikan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (22/11/2018).
Presiden Joko "Jokowi" Widodo lebih memilih perwira tinggi dari angkatan muda untuk menduduki jabatan penting di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Pada Kamis (22/11/2018), Jokowi melantik Letnan Jenderal Andika Perkasa (53 tahun) menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), menggantikan Jenderal Mulyono yang akan pensiun pada Januari 2019.

Keputusan Jokowi itu juga membuat tiga angkatan di atas Andika dilewatkan. Jenderal Mulyono adalah Akademi Militer (Akmil) angkatan 1983, sementara Andika angkatan 1987.

Namun Jokowi menyatakan angkatan tidak menjadi faktor utama yang dipertimbangkannya dalam memilih pemimpin tertinggi matra TNI AD itu.

"Ini bukan masalah dari muda atau tua, ya. Sekali lagi, semua ada hitung-hitungannya. Terutamanya, yaitu pengalaman, rekam jejak, khususnya pendidikan-pendidikan yang telah dijalani. Semuanya itu kami lihat," terang Jokowi dalam Kompas.com.

Sang Presiden menambahkan, tidak ada instruksi khusus yang diberikannya kepada KSAD baru itu karena ia pasti sudah tahu apa yang harus dikerjakannya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Sebelum pelantikan itu, Andika menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad). Jabatan barunya ini membuatnya menjadi jenderal penuh dengan empat bintang di bahunya.

Mengutip CNN Indonesia dan Kompas.com, lelaki kelahiran Bandung, 21 Desember 1964 ini adalah lulusan Akademi Militer (Akmil) angkatan 1987. Walau bukan lulusan terbaik--Adhi Makayasa angkatan itu didapat Letjen Muhammad Herindra yang sekarang menjabat Inspektur Jenderal TNI AD--karier Andika terbilang melesat cepat.

Sebagian besar kariernya dihabiskan pada Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Berbagai jabatan di korps baret merah itu dipegangnya, mulai dari komandan kompi hingga Danton 32 Grup 3/Sandha Kopassus pada tahun 2002. Pada tahun 2000 ia menjadi lulusan terbaik Sekolah Staf dan Komando AD (Seskoad).

Kemudian, pada periode 2003-2011, Andika kerap bolak-balik ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan pendidikan tingginya di The Military College of Vermont, Norwich University. Andika juga mendapat gelar Master of Philosophy dalam bidang kebijakan publik dan administrasi dari George Washington University pada 2011.

Bintang pertamanya didapat pada 2013 ketika Panglima TNI saat itu Jenderal Moeldoko mengangkatnya sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI AD.

Naiknya Jokowi dan Jusuf Kalla ke jabatan eksekutif tertinggi di Indonesia usai Pemilihan Presiden 2014, membuat karier Andika makin melejit. Jokowi menunjuknya sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres).

Danpaspampres adalah jabatan dengan pangkat Mayor Jenderal. Oleh karena itu, banyak yang mempertanyakan keputusan Jokowi untuk memilih orang yang belum genap setahun menyandang bintang satu. Penunjukan tersebut bahkan dilakukan sebelum Jokowi-Kalla resmi dilantik.

Rumor merebak bahwa keputusan itu adalah keputusan politik. Pasalnya, Andika adalah menantu dari Jenderal (purn) AM Hendropriyono, mantan kepala Badan Intelijen Nasional (BIN).

Hendropriyono, sosok kontroversial dalam dunia militer dan intelijen Indonesia itu, adalah Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang merupakan pendukung Jokowi-Kalla.

Sejak menjadi Danpaspampres itulah nama Andika Perkasa mendadak populer dan menjadi sosok yang diperhitungkan dalam dunia militer Indonesia. Dua tahun menjabat Danpaspampres, Andika lalu diangkat menjadi Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat.

Pada Januari 2018, ia dimutasi menjadi Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan AD (Dankodiklatad). Bintangnya kembali bertambah menjadi tiga, alias Letnan Jenderal.

Sejak menjadi jenderal berbintang tiga itu, para pengamat militer sudah mulai menebak ke mana arah karier Andika. Jurnalis Republika, Erik Purnama Putra, menulis bahwa jalan Andika menuju kursi KSAD terbuka lebar.

Satu-satunya orang yang bisa menyainginya, menurut Erik, adalah rekan seangkatan Andika dan pemegang Adhi Makayasa Akmil 1987, Letjen Muhammad Herindra.

Analisis Erik mendekati kenyataan ketika enam bulan kemudian Andika kembali dimutasi. Kali ini ia dipilih menduduki salah satu jabatan penting di TNI AD, yaitu Panglima Komando Cadangan Strategis AD (Pangkostrad).

Baru empat bulan menjabat sebagai Pangkostrad, dan belum lagi setahun mengenakan seragam bintang tiga, Andika Perkasa kini menjadi jenderal penuh berbintang empat setelah resmi diangkat menjadi KSAD.

Artinya, hanya dalam waktu lima tahun bintang Andika bertambah dari satu menjadi empat.
Tuduhan nepotisme dan pembunuhan Theys Eluay
Berbeda dengan Tito, suara sumbang soal peran sang bapak mertua menggelayuti kecemerlangan karier Andika.

Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Feri Kusuma, kepada Tempo.co, menyatakan pengaruh elit politik dominan dalam keputusan yang diambil Jokowi dalam memilih KSAD itu.

Andika menyatakan tidak mau terlibat polemik soal berbagai dugaan dan tudingan itu.

"Itu tadi monggo, mau ngomong apa juga, saya gini, dari dulu juga gini. Nggak ada yang saya komentar lagi, terserah," ujar Andika usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, dikutip detikcom (22/11).

Masalah lain yang menjadi sorotan adalah dugaan perannya dalam pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan tokoh adat Papua, Theys Eluay, oleh oknum anggota Kopassus dalam operasi militer pada 10 November 2001.

Tujuh anggota Kopassus divonis bersalah melakukan penganiayaan oleh Mahkamah Militer Tinggi III Surabaya, Jawa Timur, pada 2003.

Agus Zihof, ayah dari Kapten Rionardo, salah satu terhukum, dikabarkan Tempo.co, sempat menyatakan bahwa anaknya itu diminta Andika--saat itu berpangkat mayor--untuk mengaku ikut menganiaya Theys.

Andika mengaku tidak khawatir masalah tersebut bakal kembali diungkit. "‎Monggo, enggak ada alasan bagi saya melarang mereka, kalau mereka mau menelusuri itu silakan, kan enggak ada yang perlu saya khawatirkan," papar Andika, dinukil Tribunnews.com.
Andika Perkasa di tengah tuduhan nepotisme dan kasus Theys Eluay


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...us-theys-eluay

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Andika Perkasa di tengah tuduhan nepotisme dan kasus Theys Eluay Tokopedia disebut raih pendanaan Rp14 triliun dari SoftBank

- Andika Perkasa di tengah tuduhan nepotisme dan kasus Theys Eluay Survei integritas dan sarang suap di Sumut

- Andika Perkasa di tengah tuduhan nepotisme dan kasus Theys Eluay Gaji guru Rp20 juta dalam pusaran pilpres

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di