alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Demokrat: Ojek Online Bukti Kegagalan Jokowi Ciptakan Lapangan Kerja
4.2 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf6450bde2cf2b14e8b4569/demokrat-ojek-online-bukti-kegagalan-jokowi-ciptakan-lapangan-kerja

Demokrat: Ojek Online Bukti Kegagalan Jokowi Ciptakan Lapangan Kerja

Capres Prabowo Subianto menyesalkan masa depan anak bangsa Indonesia yang hanya akan menjadi tukang ojek online saat lulus sekolah. Pernyataan Prabowo itu lantas menuai respons dari banyak pihak, khususnya dari kubu Jokowi-Ma’ruf.

Menanggapi hal itu, Kadiv Hukum dan Advokasi DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan bahwa saat ini kubu Jokowi-Ma’ruf sedang dalam kepanikan. Sebab, menurut Ferdinand, profesi ojek online merupakan pekerjaan alternatif dari kegagalan rezim Jokowi dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi anak bangsa.
“TKN Jokowi-Ma’ruf itu terutama Ruhut (Sitompul) tampak jelas menunjukkan kepanikannya. Bahwa fakta tentang ojek online yang menjadi lapangan kerja alternatif, membuka fakta kegagalan rezim Jokowi membuka lapangan kerja bagi anak-anak bangsa, terutama anak-anak yang baru lulus kuliah,” kata Ferdinand saat dihubungi, Kamis (22/11).
Menurut Ferdinand, lulusan sarjana itu tujuannya bukan untuk menjadi tukang ojek online, melainkan untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik dan mampu mengangkat derajat hidup seseorang ke depan.

Prabowo dan tukang ojek. (Foto:Ricad Saka/kumparan, Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

“Jadi apa yang disampaikan Prabowo itu bukan merendahkan ojek online, tapi justru ingin menyampaikan bahwa sarjana itu harus dapat lapangan kerja yang lebih baik,” terang Jubir Prabowo-Sandi itu.
Menurut Ferdinand, justru kubu Jokowi-Ma’ruf-lah yang telah merendahkan anak bangsa bahwa lulusan sarjana hanya mendapat pekerjaan sebagai tukang ojek online.
“Ketika TKN Jokowi ingin sarjana jadi ojek online karena tak mampu ciptakan lapangan kerja, maka kami BPN Prabowo-Sandi ingin sarjana harus bekerja di tempat yang lebih baik,” tutupnya.
Pernyataan Prabowo soal ojek online disampaikan dalam pidatonya pada Rabu (21/11).
"Saya sedih dengan realitas yang ada, seperti di meme yang ada di internet terkait jalan karier anak muda di Indonesia. Dari SD, SMP, SMA dan setelah lulus dia jadi ojek driver. Sedih, tapi itulah realitas," kata Prabowo dalam acara Indonesia Economic Forum di Hotel Shangri-La, Jakarta Selatan. Namun, Prabowo tak menunjukkan meme yang dimaksud.

https://m.kumparan.com/@kumparannews/demokrat-ojek-online-bukti-kegagalan-jokowi-ciptakan-lapangan-kerja-1542860791129505006
Diubah oleh venomwolf
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 8
ya udah bubarin aja ojol
solusinya: perbanyak orang aseng emoticon-Cool
bubarkan gojek dan grab emoticon-Cool
wow si ferguso bersabda..

emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo
lah kok goblok...

ojol bukannya juga buka loker ???

daripada nganggur imbasnya jadi kriminal kakap..

10 tahun yang sia sia..
kamu bilang apa ciripah?
ojol malah dipake komoditi politik

mestinya apresiasi noh ceo nya, inovasi dia bikin lapangan kerja banyak
Wkwkwk

Sibuk bersihin kotoran sendiri.
Perogram ente apa Wo'? emoticon-Motret nyimak.
Quote:


Kesemua diatas memiliki Uber di negaranya, termasuk negara yang gagal menciptakan lapangan kerja
Balasan post karikai04
Quote:


guguk nya dulce maria yak emoticon-Leh Uga
jadi intinya, apa NGOCEH NGOCEH merupakan solusinya?
paniknya oposisi, apapun dijadikan komoditas politik, benar2 menyedihkan.
“People fear what they don't understand and hate what they can't conquer.”
Quote:
Logika yg ga nyambung.

Secara logika nyambung, bila banyak ojek karena banyak permintaan pengantaran baik barang maupun orang. Itu artinya selain ojek ada juga usaha usaha yg berkembang.

Jadi kl ga ada pekerjaan atau usaha maka ga akan ada order ojek

Jadi bukan gagal menciptakan lapangan kerja. Malah menciptakan lapangan kerja dan ada usaha dari masyarakat sehingga memerlukan ojek

Kl masalah sarjana kerja ojek itu lain soal. Itu Maslah kompetensi dari masing masing individu dan mungkin hasrat dari individu bekerja di bidang apa, sekali lagi ga ada hubungan sama menjadi ojek.

Oposisi kok downgrade banget, kampanye nya seperti yang penting menjelekkan jelekan pemerintah saja
Manusia sampah ini gak usah didengarkan emoticon-Leh Uga

Spoiler for img:
Diubah oleh kelazcorro
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Harus di akuin itu benar walopun gue ga sepakat kalo itu salah jokowi sepenuhnya..

Siapa sih yg punya cita2 jadi tukang ojek..??

Ga ush tersinggung deh, itu tukang2 ojek yg pada demo ngaku dengan jujur situ jadi tukang ojek karna apa?

Karena terpaksa atau karena hobi?

Kalo lu ga percaya coba lah liat, itu aplikasi2 transportasi berbasis motor ramenya di mana?

Di negara maju apa di negara berkembang..

Janganlah dikit2 ngamuk kaya sumbu pendek begitulah..

Segala sesuatu itu pasti ada alasannya... emoticon-Cape deeehh
Diubah oleh filusufpisang
“Jadi apa yang disampaikan Prabowo itu bukan merendahkan ojek online, tapi justru ingin menyampaikan bahwa sarjana itu harus dapat lapangan kerja yang lebih baik,” terang Jubir Prabowo-Sandi itu.

========================
wowo gak ngomongin sarjana tuh bos, tapi ngomongin sd, smp, sma emoticon-Embarrassment
udah salah kenceng lagi emoticon-Big Grin

lagian mang ngapa kalo jadi kang ojek? kalo panggilan jiwanya biker lo mau apa?
Balasan post Betutu_Bali
Quote:


logika lo emang jeblok tong..idiot kog ngaku pinteremoticon-Najis (S)


TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Perkumpulan Pengemudi Transportasi dan Jasa Daring Indonesia (PPT JDI) Igun Wicaksono mengatakan, saat ini, pengemudi ojek online menjadi korban perang tarif antara Grab dan Go-Jek.


Saat ini, Igun melanjutkan, yang terjadi adalah kedua aplikator yang saling berlomba menyajikan tarif paling murah. Dampaknya, Igun mengklaim penghasilan para pengemudi saat ini jauh berkurang.

"Otomatis, semakin rendah tarif yang ditetapkan aplikator, maka pendapatan kami semakin berkurang. Sangat tidak memadai saat inilah," tuturnya saat dihubungi Rabu, 11 April 2018.

Bahkan Igun juga mengklaim banyak pengemudi yang kesusahan untuk sekadar menservis sepeda motor. Sebab, pendapatan mereka sudah habis untuk biaya operasional di jalan.


Baca juga: KPPU Pantau Bisnis Grab Pasca Akuisisi Uber

Para pengemudi ojek online menuntut kenaikan tarif, dari semula Rp 1.600 per kilometer menjadi Rp 4.000 per kilometer sebagai batas atas. Sementara batas bawahnya Rp 3.000. Hal tersebut, kata Igun, merupakan saran dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha saat mediasi dengan pengemudi ojek online pada Maret lalu.

Igun menuturkan kenaikan tarif yang mereka minta tidak seluruhnya dibebankan kepada pelanggan. Ia meminta tetap diberlakukan harga normal kepada penumpang, sementara selisihnya disubsidi aplikator.

"Aplikator kan dapat profit tidak dari tarif perjalanan saja. Dari download data saja, mereka sudah dapat rupiah. Ya, subsidilah kami ini para pengemudi," tuturnya.

Persoalan tarif jasa ojek online bermula dari aksi unjuk rasa pengemudi Go-jek dan Grab di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa, 27 Maret 2018. Mereka menuntut tarif ojek online Rp 1.600 per kilometer dinaikkan menjadi Rp 4.000 per kilometer sebagai batas atas, sementara batas bawahnya Rp 3.000.

Mereka berencana kembali melakukan aksi besar-besaran secara serentak di seluruh Indonesia pada Senin, 23 April mendatang. Sebanyak 100 ribu orang pengemudi ojek online ditargetkan berpartisipasi dalam demo yang akan digelar di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat itu.

Kecilnya pendapatan pengemudi dikuatkan pula dengan penelitian yang dilakukan lembaga Prakarsa. Penelitian yang dilakukan pada 2017 itu menyatakan pengemudi ojek daring atau online memperoleh pendapatan bersih yang tidak sesuai dengan iklan perusahaan penyedia aplikasi.

Peneliti Prakarsa, Eka Afrina, mengatakan 43 persen pendapatan kotor pengemudi ojek online Rp 2-4 juta per bulan. "Jika melihat pendapatan bersihnya, sebagian besar turun 50 persen menjadi Rp 1-2 juta per bulan," ucapnya di Jakarta, Selasa, 10 April 2018.

Eka menjelaskan, pengeluaran operasional harus ditanggung sendiri pengemudi Grab ataupun Go-Jek. Dalam sebulan, mereka mengeluarkan Rp 856 ribu. Bukan hanya itu, pengemudi juga harus memiliki kendaraan sendiri yang digunakan untuk beroperasi. Nilai cicilan belum masuk dalam hitungan pengeluaran sebulan.

Yang menjadi sorotan, kini tren pendapatan ojek daring sedang mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir karena ketatnya persaingan antar-pengemudi. "Jika disamakan dengan rata-rata upah minimum di Jakarta dan Surabaya, bisa dikatakan pendapatan ojek daring di bawah standar," ujar Eka, seperti dikutip dari Bisnis.com.

https://bisnis.tempo.co/amp/1078455/ojek-online-mengeluh-kami-korban-perang-tarif-grab-dan-go-jek

https://m.tabloidbintang.com/amp/berita/peristiwa/read/97876/driver-ojek-online-mengeluh-jadi-korban-perang-tarif-grab-dan-gojek


https://www.kompasiana.com/lannang/586eb8b7f57a61870c0c06db/cerita-ojek-online-dulu-dan-sekarang


http://bogor.tribunnews.com/amp/2018/09/10/driver-taksi-online-demo-tolak-eksploitasi-oleh-grab
Diubah oleh venomwolf
Halaman 1 dari 8


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di