alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Meja Rahasia by Nur Prasetyo Fajri
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be6bea8dc06bdc2138b4572/meja-rahasia-by-nur-prasetyo-fajri

Meja Rahasia by Nur Prasetyo Fajri

Meja Rahasia by Nur Prasetyo Fajri

Chapter One: Rumah Kecil


Detik-detik senja menuju kelam, hempasan angin dari selatan tertiup sangat kencang hingga menembus ke sela-sela pepohonan seperti lepasan panah. Kawanan burung cucak rawa berterbangan mengelilingi sekitar pekarangan Universitas Gadjah Mada (UGM). kicauannya seolah menyerupai paduan suara yang bernyanyi serempak hingga membentuk nada-nada nan syahdu. rupanya mereka mengikuti getaran bunyi dari seruling yang dimainkan oleh seorang mahasiswa Fakultas Geografi bernama Agus Pratikno yang duduk di balkon lantai 3 gedung A. Ketika itu Agus diminta ke ruang dosen Pak Sasrowidjojo untuk membahas mengenai proyek penelitian di kawasan Luano, Purworejo. Menurut Pak Sasro, penelitian ini awalnya sudah dilakukan oleh mahasiswa sebelumnya di tahun 1955. Sayangnya, pihak kampus memberhentikan penelitiannya dikarenakan ada salah satu mahasiswa yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. 

Selama 20 tahun, Pak Sasro tidak ingin diam begitu saja. Yang dilakukan beliau adalah memecahkan kasus kehilangan mahasiswa UGM, bukan melanjutkan penelitiannya. Tanpa sepengetahuan pihak kampus, Pak Sasro sudah merencanakan ekspedisinya secara matang. Beliau mengutus Agus tentunya bukan tanpa alasan. Memang, Agus adalah mahasiswa bimbingannya dan kebetulan dia sedang mengerjakan tugas akhir. Menurut Pak Sasro, Agus itu bukan mahasiswa biasa, walaupun dari penampilan tampak seperti pemuda nakal dengan pakaian semrawut khas penyanyi rock di era tahun 70an. Beliau bisa mengetahui kemampuan khusus yang dimiliki Agus yaitu pemikiran taktis, licik dan pandai menerawang situasi layaknya pemain judi kelas atas. Pak Sasro menyadari ekspedisi ini beresiko dan Agus mengakui penolakannya apalagi bahkan 3 bulan berikutnya, dia harus menghadiri sidang tugas akhirnya. Sebagai janjinya, Pak Sasro memberikan harapan besar bagi Agus bahwa apabila kasus ini terpecahkan, maka beliau akan mengusulkan ke pihak kampus sebagai pengajar tetap sekaligus ketua riset di salah satu program studi Geografi Lingkungan

Tepat jam 11.25, Agus tiba di Desa terpencil yang berjarak 1km dari Luano, Purworejo. Agus bertemu kepala Desa bernama Mbah Diman yang masih memiliki hubungan darah dengan Pak Sasro. Sebenarnya Mbah Diman bukan nama aslinya. Beliau memilki nama lengkap Tjokro Siswomihardjo. Nama Mbah Diman disemat ketika menyelamatkan seorang gadis terjatuh dalam kubangan air yang saat itu digunakan sebagai tempat penampungan air ketika hujan turun. Karena penduduk setempat memanggil beliau "Diman" yang berarti Sang Penyelamat. Hingga kini, sudah lebih dari setengah abad Mbah Diman menjabat sebagai kepala Desa setempat. 

Agus menghampiri 100 km dari perjalanan 

Mbah Diman pergi tanpa alasan yang kuat hingga kini. Namun, apakah hal ini berpengaruh besar bagi Mbah Diman 

Tiba di Luano, Purworejo, Agus segera menghampiri Mbah Diman yang kebetulan masih ada kerabat dengan Pak Sasro.  
 
kemudian Agus tiba-tiba pergi tanpa alasan yang kuat 

Pagi kelabu di awal tahun 1976, Agus berangkat menuju Banyuurip dengan membawa peralatan yang sudah dipersiapkan oleh Pak Sasro. Perjalanan dari Kampus UGM Bulaksumur ke Banyuurip memakan waktu 1 jam 34 menit, melewati jalanan diantara persawahan yang membentang perbatasan Wates (Yogyakarta) - Bagelen (Purworejo). Tepat pukul 11:00, Agus tiba di desa Banyuurip. Di depan kantor kelurahan, berdiri seorang lelaki paruh baya berpakaian safari dengan membawa tongkat rotan tua. Lelaki itu tiba-tiba mengetuk keras pintu mobil dan menyapa dengan wajah kaku tampak seperti tentara veteran. Penduduk setempat biasa memanggil namanya Pak Mochtar. Beliau sudah menjabat sebagai kepala Desa Banyuurp selama 30 tahun dan sepertinya beliau akan menjabat selamanya. 
"tok... tok... tok..,".
"keluar...," panggilan Pak  
"nuwun sewu Pak, saya disini hanya ditugaskan oleh pihak kampus untuk melakukan penelitian di kawasan Desa Banyuurip," kata Agus 
"perkenalkan, saya Agus mahasiswa Fakultas Geografi UGM," tanya Agus
"saya ingin bertemu Pak Mochtar," tanya Agus 

"Apa maksud anda?," tanya Pak Mochtar 
"Anu pak, Pak Sasro meminta saya untuk bertemu Pak Mochtar, karena beliau kepala desa ini," kata Agus 
"Dia lagi, sang pengacau," jawab Pak Mochtar dengan ucapan ketus. 
"kamu tau disini ada peraturan yang harus ditaati bagi pendatang?,"

"mboten Pak, saya tidak tahu apa-apa. karena Pak Sasro tidak pernah menceritakan tentang itu,"
"Darno, periksa isi mobilnya!,"
"Baik Pak," Darno dengan sigap memeriksa mobil yang saya tunggangi

Darno membongkar seluruh isi tas saya, "hanya ada pakaian, sama beberapa perangkat," 

"Karena tidak ada bukti surat ijin, untuk sementara saya amankan mobilnya,"

kemudian saya dipaksa naik mobil bak pengangkut hasil kebun milik Pak Mochtar. Agus berharap semoga mobil dinas Pak Sasro tidak dijarah oleh beliau. Aku tampak tak nyaman dan terpaksa menahan bau tak sedap dari aroma sayuran busuk. 
Aku merasa seperti tahanan 


harus menahan bau tak sedap yang ada di dalam mobil itu. 
 

Tiba-tiba beliau menjulurkan secarik kertas yang 

perkenalkan saya Agus Pratikno 

Beliau mengenal Pak Sasro ketika bertemu pada saat menghadiri Program Penyuluhan bagi Petani di Desa Banyuurip.  Menurut Pak Sasro, beliau tampak tidak senang jika ada orang kota yang ingin mencampuri urusan wilayahnya 


Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Pertamax gan emoticon-Smilie


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di