alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Isu Sesat terkait BUMN Merugi, Mari Periksa Data
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be67926c0d77084508b4569/isu-sesat-terkait-bumn-merugi-mari-periksa-data

Isu Sesat terkait BUMN Merugi, Mari Periksa Data

Isu Sesat terkait BUMN Merugi, Mari Periksa Data
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diisukan bangkrut. Informasi ini disebarkan oleh sejumlah pihak, utamanya adalah pihak oposisi.

Disebutkan oleh para pendukung Prabowo-Sandi bahwa BUMN-BUMN kita dijual diam-diam tanpa transparansi, Pertamina merugi bahkan dijual, Garuda bangkrut, PLN bangkrut, Perusahaan Gas Negara (PGN) bangkrut, BRI menerbitkan bond, berarti banyak utang. Dan, sejumlah isu BUMN merugi lainnya.

Namun benarkah bahwa BUMN hari ini terus merugi hingga terancam bangkrut? Untuk menjawab ini, maka langkah baiknya kita menjawab dengan data.

Faktanya, berdasarkan data kementerian BUMN terkait perkembangan kinerja BUMN, bahwa total aset tahun 2017 sebesar Rp. 7.210 T. Angka itu naik sebesar Rp 737 T atau 11,39% dari tahun 2016. Dilihat dari perkembangan laba BUMN secara keseluruhan terjadi peningkatan Rp 14 T yaitu sekitar 8,8 % dari tahun 2014 ke 2017.

Kemudian, terkait kontribusi BUMN melalui deviden terhadap APBN juga bisa dilihat terus meningkat. Perkembangan deviden BUMN meningkat dari tahun 2012 sejumlah Rp 30,8 T menjadi Rp 43,9 T di tahun 2017 atau dalam presentase sekitar 42,5 %.

Deviden tersebut belum seluruhnya mencerminkan laba dari saham yang dimiliki pemerintah terhadap BUMN. Karena pemerintah juga menerapkan laba ditahan oleh BUMN sebagai strategi untuk memperkuat modal BUMN sebagai agen pembangunan.

Bila ada perusahaan BUMN yang rugi itu memang harus diakui ada, namun hanya sebagian saja. Tetapi bukan seluruhnya merugi. Hingga kini tercatat 24 perusahaan atau sekitar 20% dari jumlah total yang mengalami kerugian dengan total Rp 5,2 T.

Namun perlu dicatat, jumlah tersebut menurun drastis dibandingkan tahun 2013 dengan total kerugian di 30 BUMN yang mencapai Rp. 32,6 T. Kerugian dalam periode 2013-2017 menurun 84%.

Berikutnya, terkait kondisi Pertamina yang merugi itu juga tidak tepat. Sebenarnya kondisi Pertamina itu tidak merugi namun hanya mengalami penurunan laba bersih. Tahun 2017 lalu pendapatannya meningkat 17% dibandingkan tahun 2016 yaitu sekitar Rp. 565 T.

Pertamina mencatat laba hingga 75,5% atau US$ 1.093 juta pada tahun 2014, sedangkan dalam kurun waktu 2014-2017 hanya tumbuh secara rata-rata 10,03 %. Penurunan laba terjadi karena Pertamina melakukan kebijakan BBM Satu Harga di daerah terpencil dengan pengalokasian laba kepada biaya operasional untuk penyaluran BBM ke daerah terpencil.

Kondisi PLN juga sama. Perusahaan listrik negara itu tidak merugi namun hanya mengalami penurunan laba di tahun 2017 sebesar Rp 4,42 T (45,7%) dari laba tahun 2016 yaitu Rp. 8,15 T.

Penurunan tersebut dipicu oleh beberapa hal, antara lain: naiknya beban bahan bakar dan pelumas sebesar 6,8% menjadi Rp 116,95 T, meningkatnya pembelian tenaga listrik sebesar 21,3% menjadi Rp 72,43 triliun, turunnya pendapatan dari subsidi listrik pemerintah 21,2% menjadi Rp 45,7 triliun, rugi kurs sebesar Rp 2,9 triliun dan elektrifikasi sebagai penugasan dari BUMN.

Terakhir, isu Garuda Indonesia dikuasai asing dapat dipastikan bahwa hal tersebut tidak benar karena faktanya perusahaan maskapai penerbangan itu masih dimiliki Indonesia.

Berdasarkan Laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2017 menyebutkan bahwa pemerintah merupakan mayoritas pemegang saham yaitu 94,82 % dan sisanya 5,18 % dimiliki pihak internasional.

Selain itu, kerugian yang terjadi tahun 2017 merupakan akibat dari peningkatan beban operasional sebesar 21,27% yang merupakan dampak dari peningkatan bahan bakar 36,94 % dan ekspansi bisnis di internasional khususnya Eropa, Tiongkok, dan Timur Tengah yang diiringi juga dengan tingginya persaingan bisnis dengan kompetitor.

Dengan melihat data-data di atas, bisa dilihat bahwa isu mengenai BUMN merugi tidak benar. Itu hanya kabar bohong atau hoaks belaka. Oleh karenanya, kita harus bisa menyortir informasi yang benar, dan tak terpengaruh dengan isu sesat.


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di