alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Tradisi Seren Tahun
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be4d468642eb64c518b456f/tradisi-seren-tahun

Tradisi Seren Tahun

Tradisi Seren Tahun

Doa Kesuburan Seren Taun

Oleh : Abdullah Fikri Ashri Dan Nawa Tunggal

Harian Kompas – Minggu, 17 September 2017

Tradisi Seren Tahun

Kehadirannya hanya satu kali dalam setahun. Itulah tarian sakral Pwah Aci Sanghyang Sri yang dibawakan Juwita Djatikusumah (47) pada malam puncak perayaan adat Seren Taun Sunda Wiwitandi Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (13/9). Ini doa meminta kesuburan atas tanah-tanah sawah padi kita dengan cara ungkap beda.

Tradisi Seren Tahun

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Warga bergiliran menumbuk padi saat Puncak Perayaan Seren Taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Kamis (14/9). Seren Taun di Cigugur ini disambut meriah, baik masyarakat Sunda Wiwitan maupun masyarakat umum yang berbaur dengan sukacita. Tarian ini sekaligus doa bagi roh kehidupan yang ada di setiap makanan yang kita makan, roh urip tanah pakumpulan,” ujar Juwita.

Tradisi Seren Tahun

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Masyarakat menyambut dengan meriah puncak Perayaan Seren Taun 1950 Saka Sunda di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat,Kamis (14/9). Mereka berkumpul bersama dan berbaur menyatu dengan sukacita dalam perbedaan. Atas saran ayahnya, Pangeran Djatikusumah (85), Juwitasendirilah yang mencipta tari Pwah Aci Sanghyang Sri tersebut pada 2001. Djatikusumah merupakan sesepuh Masyarakat Adat Karuhun Urang yang kemudian lebih dikenal sebagai Sunda Wiwitan. Ia cucu Pangeran Madrais Sadewa Alibassa Kusuma Wijaya Ningrat (1832-1939) yang merintis ajaran Agama Djawa Sunda, disingkat ADS, cikal bakal ajaran Sunda Wiwitan.

Tradisi Seren Tahun

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Lebih dari seribu warga memadati acara seribu kentongan di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Minggu (10/9). Acara yang bertujuan mengingatkan manusia akan hukum kodrati tersebut merupakan rangkaian tradisi Seren Taun yang akan berlangsung hingga Kamis (14/9). ADS dibubarkan pada 1964. Pada 1981, Djatikusumahmendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang, disingkat PACKU. Setahun berikutnya, pada 1982 pemerintah membubarkan PACKU karena dinilai menghidupkan kembali ADS yang sudah dinyatakan bubar.

Tradisi Seren Tahun

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Masyarakat adat Sunda Wiwitanmengumpulkan 1.000 kentongan dalam rangkaian upacara adat Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Ajaran Madrais di antaranya mengajarkan ritual berdoa dalam keheningan dan kesunyian di depan tungku perapian. Api hanya diperbolehkan dinyalakan dengan pembakaran bambu atau awi dalam bahasa Sunda. Menurut Dewi Kanti Setianingsih(42), putri bungsu Djatikusumah dari delapan bersaudara itu, istilah awi ini yang kemudian dikembangkan menjadi kata asal wiwitan. Jadilah, kemudian istilah bagi penganut ajaran Madrais sebagai penganut Sunda Wiwitan.

Seren Taun sebuah tradisi turun-temurun masyarakat Sunda untuk mengungkap rasa syukur atas hasil bumi yang dipetik. Puncak peringatannya pada setiap 22 Rayagung tahun Saka Sunda atau delapan hari menjelang pergantian tahun. Tahun ini 22 Rayagung 1950 Saka Sunda jatuh pada 14 September 2017.

Di masa Orde Baru, perayaan Seren Taundilarang selama 17 tahun, dari 1982 sampai 1999.

Dewi Sri Tari Pwah Aci Sanghyang Sribertutur tentang sosok Nyai Pohaci atau Dewi Sri atau Dewi Padi yang dikenal di dalam sejumlah legenda di Nusantara. Juwita mementaskannya dengan khidmat dengan durasi sekitar 10 menit di hadapan para pemuka setiap agama yang diakui negara dan beberapa pemuka aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pementasannya setelah Kidung Spiritual, yaitu acara penyampaian doa oleh setiap pemuka agama dan aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Paseban Tri Panca Tunggal. “Tarian sakral ini terkait dengan tarian sakral berikutnya, yaitu tari Ngareremokeun,” kata Juwita.

Tari Ngareremokeun dipentaskan sembilan laki-laki dari Kanekes, Baduy, Lebak, Banten. Tarian ini sebagai doa permintaan restu untuk mengawinkan apa yang akan ditanam ke dalam tanah dengan tanah itu sendiri. Kedua tarian sakral itu saling menggenapi. Tari Pwah Aci untuk pengharapan akan kesuburan tanah dalam menumbuhkan padi. Tari Ngareremokeun menjadi doa harapan agar perkimpoian antara tanaman dan tanah menghasilkan buah baik.

Keesokan harinya menjadi puncak perayaan Seren Taun 22 Rayagung 1950Saka Sunda. Kemeriahan sudah terasa sejak pukul 07.00 di halaman Paseban Tri Panca Tunggal.

Tari-tarian memeriahkan suasana. Ada tari Jamparing Apsari, Puragabaya Gebang, Kaulinan Barudak Lembur, dan Buyung. Ada penampilan musik Angklung Kanekesdan Angklung Buncis hingga berujung pada upacara penumbukan bersama hasil panen padi dalam bentuk gabah usai petik. Gabah sebanyak 22 kuintal dikumpulkan. Angka 22 bertepatan dengan tanggal 22 bulan Rayagung tahun Saka Sunda. Tidak semua gabah itu ditumbuk. Dari 22 kuintal, disisihkan dua kuintal untuk pembenihan. Sebanyak 20 kuintal ditumbuk secara tradisional. Mereka menggunakan puluhan lesung dan alu untuk menumbuk sepanjang hari. Beras hasil penumbukan kemudian dibagikan kepada masyarakat. Inilah pesan moralnya. Seren Taun memuliakan padi sebagai simbol kemakmuran. Tetapi, Seren Taun sejatinya memuliakan usaha-usaha bersama untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Keterkaitan dengan konteks keadaban kini, korupsi sangatlah bertentangan dengan semangat tradisional yang nilainya diwariskan melalui tradisi-tradisi seperti Seren Taun.

Pembuangan hama Seren Taun selalu diawali dengan ritual Damar Sewu. Ritual yang bertutur tentang proses yang harus dilalui manusia ini digelar Sabtu (9/9). Pada keesokan harinya digelar ritual Pesta Dadung dan Pembuangan Hama di Situ Hyang. Kawasan situ ini sekarang dinamakan sebagai Taman Kota Mayasih di Cigugur, Kuningan.

Ritual Pesta Dadung untuk menghormati para gembala. Ritual Pembuangan Hama memiliki makna menyingkirkan atau mengendalikan hama, bukan untuk memusnahkannya.

Ini selaras dengan prinsip ajaran Madrais. Manusia haruslah mampu hidup berdampingan dengan berbagai hal yang menjadi energi negatif, termasuk hama yang menyerang tanaman pangan.

Hama dapat dikonotasikan sebagai energi negatif, yang harus mampu dikendalikan manusia. Untuk itu, ritualnya disebut sebagai pembuangan hama, bukan pemusnahan hama.

Korelasi dengan persoalan kekinian misalnya dengan banyaknya hoax atau informasi palsu di media sosial. Hoax ibarat energi negatif pula. Manusia semestinya mampu mengendalikan energi negatif ini.

Berikutnya, setelah ritual Pembuangan Hama, dilanjutkan dengan ritual Seribu Kentongan. Para peserta ritual membawa dan memukul-mukul kentongan yang terbuat dari bambu sambil berjalan kaki menuju Paseban Tri Panca Tunggal. Jauhnya, kira-kira 1,5 kilometer.

Seribu Kentongan sebagai seruan bersama untuk segera mengawali Seren Taun. Pukulan kentongan menjadi sambutan atas segala daya yang ingin dikerahkan untuk mengucap doa-doa, terutama doa untuk Pwah Aci. Doa untuk meminta semesta mendukung setiap usaha mencapai kesejahteraan bersama.

http://www.tripeventbali.com/2018/05...i-seren-tahun/
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Menjaga budaya indonesia Tradisi Seren Tahun
Diubah oleh violie.jahad.12
Dampak Pelarangan Seren Taun Di Masa Orde Baru

Sejak bulan September hingga November 2012..Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) telah dipercaya Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis), Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI untuk menyelenggarakan Short Course Metodologi Penelitian Aksi Partisipatoris (Participatory Action Research) untuk Dosen PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) se-Indonesia. Short Course ini diselenggarakan selama 3 (tiga) bulan di tiap wilayah di Kecamatan Cigugur Kuningan. Dari penelitian itu didapat beberapa temuan kajian dari kehidupan faktual masyarakat Cigugur.

Sungguh miris, dalam Kemajuan yang seolah terlihat mata, ternyata Cigugur sudah mengalami banyak kemerosotan baik dalam Menjaga Sumber Daya Alam maupun Karakter manusia Cigugur. Pergeseran Mata Pencaharian dan Pola Pendidikan sedikit banyak telah mendegradasi nilai kearifan lokal dan kemandirian yang sejak Abad 19 dimiliki masyarakat Cigugur. Dari hasil2 Penelitian itu menunjukkan kemunduran ini terjadi sejak 1980. Angka Potential Economic Lost di Persawahan wilayah Paleben dan Cipager merugi minimal Rp 200 juta di setiap musim tanam nya. Baik karena kesulitan Air maupun Menurunnya Hasil Pertanian.

Penelitian Anthropologi Kritis ini juga melihat ada keterkaitan nya Kemunduran itu dengan beberapa faktor Utama yakni :
1. Penurunan itu terjadi sejak Pelarangan Terhadap Seren Taun selama 17 tahun.
2. Perubahan Nilai Masyarakat dari Pertanian ke sektor yang lebih Modern spt : Karyawan dan urban yang meninggalkan Penghidupan awal yang dianggap tidak maju, kolot dll..

Pelarangan Seren Taun berakibat Masyarakat Cigugur Kehilangan Modal Sosial nya dan Etalase Market dari Basis Produksi Masyarakat nya.. Tahap lanjut nya muncul Pembunuhan Karakter yang dilakukan secara sistematis dan konspiratif oleh kelompok2 yang dengan sengaja melakukan penghancuran nilai2 Kearifan Leluhur. Sehingga dengan Pelarangan SEREN TAUN selama 17 tahun berakibat Hancurnya Basis Produksi dan Basis Kultural masyarakat Cigugur . Dan sekaranglah dampaknya..sawah tinggal 30% dari luasan tahun pra 80 an, Kebun2 Kekeringan sehingga di Jual ke Pengusaha Besar dari Kota Besar.

Ladang2 dan Kebun kesulitan Air hingga lebih untung digadai atau dijual pada tuan2 ijon tanah yang berlagak malaikat penolong kesulitan dan menabur uang. Generasi muda Cigugur dilempar ke kota dibutakan untuk tidak mengenal tradisi. Dan lebih mengenal mimpi2 metropolitan dan anti terhadap Nilai2 Luhur Lama. Sehingga Cigugur tidak bisa menjadi daerah swasembada pangan lagi, Cigugur daerah Air yang kini Rusak Kekeringan, Cigugur telah menjadi objek pemerkosaan dan pengkhianatan manusia terhadap alam dan tradisi budaya nya. Baik manusia terhadap alam, maupun manusia terhadap adat dan tradisi lama nya yg dianggap kolot, bodoh dan tidak maju ?? Semoga Hasil Penelitian PAR para dosen Perguruan Tinggi Agama Islam tersebut Menyadarkan kita, karena sistem penghancuran kini makin menggecar mungkin tanpa sebagian masyarakat Cigugur sendiri sadari.

Ya…dampak pelarangan sebuah UPACARA adat selama 17 tahun ini bukan main2, karena telah merubah CARA penghidupan dan kehidupan masyarakat yang tidak membumi.

Kembali tergelarnya Seren Taun beberapa tahun ini bukan perjuangan mudah, seindah kemeriahan yang bisa kita tonton. Ada banyak liku, ada banyak tantangan yang mencoba terus menghadang, ada perjuangan yang lebih untuk bisa mempertahankannya.. karena jika kita diam, jika kita terbuai terus dalam pelacuran jati diri, menjadi budak2 pembinasa budaya.. Mari kita saksikan ALAM akan tegak mengadili. Dan kiranya para pembaca tahu..orang2 yang dianggap bodoh, terbelakang,justru mereka para pahlawan yg memiliki prinsip dan jatidiri yang jelas..Dan merekalah yang membuat Seren Taun kembali ada.

http://dedymatias.blogspot.com/2013/...-masa.html?m=1

#serentaun #cigugur #kuningan #ordebaru


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di