alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be4c3bedc06bd2b348b4567/intel-dibalik-kasus-bendera-habib-rizieq-bin--menuduh-itu-paling-enak

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak

Soal Kabar Ada Ulah Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
Kamis, 8 November 2018 10:55 WIB

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
Pimpinan Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab

TRIBBUNNEWS.COM -- FPI yang diwakili Slamet Ma'arif menyebut ada sebuah operasi yang menyebabkan kasus Habib Rizieq Shihab berbuntut panjang.
Slamet Ma'arif mengungkap bahwa ada upaya fitnah yang hendak diarahkan ke Habib Rizieq Shihab.

Diberitakan sebelumnya, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab sempat diamankan aparat kepolisian Arab Saudi pada 5 November 2018.

Habib Rizieq Shihab diamankan pihak kepolisian Mekkah terkait adanya bendera hitam yang dipasang di depan rumahnya.

Pihak kedutaan Besar RI untuk Arab Saudi langsung memastikan kabar penangkapan Habib Rizieq Shihab tersebut.

Habib Rizieq Shihab harus menjalani pemeriksaan selama lebih dari 24 jam oleh Kepolisian Arab Saudi.

Kini, Habib Rizieq Shihab telah dibebaskan oleh pihak Kepolisian Arab Saudi namun dengan menggunakan jaminan.

Meski sudah dibebaskan, pihak Habib Rizieq Shihab kabarnya akan terus menyelidiki kasus tersebut.

Dilansir dari tayangan Apa Kabar Indonesia Malam Tv One, Rabu (7/11/2018), Slamet Ma'arif mengungkap beberapa kejanggalan berkenaan dengan kasus bendera di rumah Habib Rizieq Shihab tersebut.

"Ada beberapa kejanggalan yang kita lihat dari kejadian itu. Termasuk pengambilan atau pencurian cctv di sekitar rumah Habib Rizieq sebelum kejadian," ujar anggota FPI.

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
Foto yang dikaitkan dengan kabar Habib Rizieq Shihab ditangkap di Arab Saudi (Twitter)

Lebih lanjut, Slamet Ma'arif juga mengatakan ada oknum yang memasang bendera tersebut di rumah Habib Rizieq.
Usai dipasang, ada pula pihak lain yang sudah siap mengambil gambar perihal pemasangan bendera tersebut di depan rumah Habib Rizieq.

"Kemudian ada seseorang yang memasang bendera kalimat tauhid di sekitar rumah Habib Rizieq. Lalu sudah disiapkan orang yang mengambil gambar ketika Habib keluar menemui pihak keamanan di sana dari jarak yang cukup jauh. Bisa dilihat dari foto yang beredar," sambungnya


Karenanya, pihak FPI pun akan melakukan pengkajian lebih teliti soal kasus tersebut.

Sebab menurut Slamet Ma'arif, ada sebuah operasi yang berniat ingin mengerjai Habib Rizieq di Arab Saudi.
"Kita sedang teliti betul. Kelihatannya memang ada upaya operasi yang kembali ngerjain Habib di sana," imbuh anggota FPI.

Mendengar tudingan soal adanya operasi yang mengarah pada ulah intel tersebut, pihak Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto buka suara.


Direktur Komunikasi dan Informasi BIN itu membantah adanya operasi intelijen dalam kasus bendera di rumah Habib Rizieq.
Pihak BIN justru heran dengan tudingan tersebut.


Meski begitu, pihak BIN memaklumi tudingan itu sebab menyalahkan suatu pihak atas satu perkara memang tindakan yang sering dilakukan.

"Ya itu tidak benar (ada operasi intelijen). Langsung tunjuk aja. Kalau memang ada operasi intelijen. Kalau lantas menuduh, paling enak. Menuduh intelijen itu paling enak. Karena mau membuang ke mana ? paling arahnya ke situ," jelas Wawan Purwanto.

Lebih lanjut, Wawan Purwanto juga menjelaskan tugas dari BIN itu apa.

Bagi BIN, melindungi segenap warga negara adalah tanggung jawab mereka, termasuk melindungi Habib Rizieq.

"Tujuan dari intelijen adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, termasuk keselamatan Habib Rizieq ini," pungkas Wawan Purwanto.

Namun ketika ada tudingan bahwa kasus bendera Habib Rizieq itu adalah ulah intel, pihak BIN pun menanyakan soal bukti.

Sebab menurut Wawan Purwanto, pihak Habib Rizieq hanya menggumamkan asumsi soal adanya operasi intel tersebut.

"Kalau kita dituduh sebagai intelijen melakukan operasi-operasi tanpa ada bukti ini kan semuanya asumsi. Ini pendapat yang diotak-atik," lanjutnya.

5 Fakta Habib Rizieq Shihab Diamankan di Arab Saudi, Kronologi Hingga Dilaporkan Warga Soal Bendera

Selain itu, Wawan Purwanto pun mengatakan bahwa asumsi soal adanya operasi intel tersebut hanyalah kumpulan dari prakiraan.

Sedangkan bukti dan bahan penguat lainnya belum juga diketahui.

"Dia menyebut ada cctv yang hilang, tanpa mengatakan di mana letak cctv kan tidak. Ini kan prakiraan. Musti ada saksi. Ini digabung-gabungkan seolah-olah pembenaran," kata Wawan Purwanto.

Mendengar bantahan dari pihak BIN, anggota FPI, Slamet Ma'arif pun langsung membalasnya.

Ia berujar bahwa dugaan adanya operasi intelijen dibalik kasus bendera Habib Rizieq tersebut masih dianalisa.

Ia pun meminta kepada BIN untuk mengungkap kasus 'fitnah' yang dialamatkan pada Habib Rizieq.

Mengingat tugas BIN sendiri yang tadi disebutkan bahwa akan melindungi Habib Rizieq.

"Iya kan tadi kita menganalisa. Dengan indikasi yang ada bahwa ada sebuah operasi. Kalau memang BIN ingin melindungi Habib Rizieq sekarang waktunya BIN ungkap siapa yang melepas cctv, siapa yang pasang bendera tauhid, siapa yang ambil gambar dari jauh, siapa yang bikin berita ?" pinta Slamet Ma'arif.

Mendengar permintaan tersebut, pihak BIN pun langsung menjawabnya.

Menurut Wawan Purwanto, kasus bendera yang menimpa Habib Rizieq akan ditangani oleh pihak Arab Saudi.

Sebab hal tersebut kewenangan dari pemerintahan Arab Saudi.

"Jadi kalau operasi intelijen di luar negeri, sampai ketahuan di negara yang bersangkutan, itu bisa dideportasi dia. Itu pelanggaran. Jadi tidak boleh ada seperti itu. Pengungkapan itu adalah kewenangan dari pemerintah Arab Saudi," imbuh pihak BIN.
http://www.tribunnews.com/nasional/2018/11/08/soal-kabar-ada-ulah-intel-dibalik-kasus-bendera-habib-rizieq-bin-menuduh-itu-paling-enak

Fadli Zon Sebut Bendera di Rumah Habib Rizieq Kerjaan Intel, Yunarto Wijaya Sindir Soal Drama
Kamis, 8 November 2018 08:16

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling EnakYunarto Wijaya, Fadli Zon, Habib Rizieq Shihab 

Fadli Zon berpendapat bendera di kediaman Habib Rizieq Shihab merupakan fitnah

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Mulai dari Fadli Zon hingga Fahri Hamzah mulai menanggapi soal Habib Rizieq Shihab ditangkap karena bendera di rumahnya.

Bahkan, Fadli Zon menganggap bahwa Habib Rizieq Shihab ditangkap karena bendera di rumahnya merupakan sebauh fitnah.

Fadli Zon menulis, bisa saja ada orang yang secara sengaja memasang bendera tersebut di rumah Habib Rizieq Shihab.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, bahwa Habib Rizieq Shihab ditangkap atas dasar laporan warga Arab Saudi yang melihat bendera di rumahnya.

"Dari hasil penelusuran diperoleh konfirmasi bahwa MRS sedang dimintai keterangan oleh aparat keamanan Arab Saudi di Makkah, atas dasar laporan warga negara Saudi yang melihat bendera yang diduga mirip dengan bendera ISIS terpasang di depan rumah MRS di Mekkah," ujar Arrmanatha dikutip dari Kompas.com.

Arrmanatha menerima laporan Habib Rizieq Shihab ditangkap pada Senin (5/11/2018).

Pun demikian Fadli Zon yang mengaku mendapat pengaduan dari keluarga Habib Rizieq Shihab.
Fadli Zon menulis pendapatnya soal Habib Rizieq Shihab ditangkap karena bendera melalui akun Twitternya yang terverifikasi.

Fadli Zon menganggap bahwa penangkapan terhadap Habib Rizieq Shihab merupakan kerjaan dari 'intel'.

Yunarto Wijaya menulis bahwa ada pihak yang merasa dizolimi atas penangkapan Habib Rizieq Shihab.

"Ada yg lg bikin drama terdzolimi lagi nih...."

Yunarto Wijaya juga menulis bahwa yang menangkap Habib Rizieq Shihab Pemerintahan Arab Saudi, namun Pemerintah Indonesia ikut terkena imbasnya.

"Yang nahan pemerintahan arab saudi, yang disalahin tetep pemerintahan indonesia...
Nah tapi yg kaya gini gak masuk kategori 'dun*u' nih menurut maha benar @rockygerung ..." tulis Yunarto Wijaya.
http://bogor.tribunnews.com/2018/11/...l-drama?page=3

BIN Siap Bantu Habib Rizieq soal Kasus Bendera Tauhid di Saud
Kamis 08 November 2018, 22:00 WIB

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling EnakIlustrasi Habib Rizieq (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
Jakarta - Meski sempat dituding sebagai pihak berada di balik penahanan Habib Rizieq Syihab di Arab Saudi, namun Badan Intelijen Negara (BIN) menyatakan tak menaruh dendam. Bahkan BIN siap membantu Rizieq menghadapi masalah di Saudi, termasuk dalam kasus bendera tauhid yang mengakibatkan Rizieq ditahan 28 jam.

"BIN selalu siap membantu HRS, sebagaimana Kedubes RI juga siap membantu jika HRS dalam kesulitan, termasuk memberikan jaminan atas pelepasan HRS," kata juru bicara Kepala BIN, Wawan Hari Purwanto, dalam keterangan pers tertulisnya, Kamis (8/11/2018).

Setelah ditahan dan diperiksa intelijen Saudi, tepatnya pada Selasa (6/11) pukul 20.00 WIB kemarin, Rizieq telah dikeluarkan dari tahanan kepolisian Mekah. Rizieq dilepas dengan jaminan, meski belum jelas betul jaminan apa yang dimaksud. 

Baca juga: Dituduh Rekayasa Penangkapan Habib Rizeq, BIN: Itu Hoax

BIN dituding Rizieq berperan merekayasa kondisi sedemikian rupa sehingga Rizieq diperiksa dan ditahan aparat Saudi. Rizieq ditahan karena ada laporan warga terkait bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di tembok belakang kediaman Rizieq di Mekah. BIN menegaskan tidak terlibat dalam penangkapan Rizieq di Saudi.

"BIN justru menghendaki agar masalah cepat selesai dan tuntas, sehingga tidak berkepanjangan dan berakibat pada berkembangnya masalah baru, apalagi di luar negeri, dimana sistem hukum dan pemerintahannya berbeda," kata Wawan.

Dijelaskan Wawan, BIN bertugas melindungi semua warga Indonesia, termasuk Rizieq. BIN tidak menganggap Rizieq sebagai musuh. Terkait posisi politik Rizieq yang berseberangan dengan pemerintah, BIN tak masalah dengan hal itu.

Baca juga: BIN Bantah Kontrak Rumah dekat Kediaman Rizieq dan Ambil CCTV

"BIN tidak pernah mempermasalahkan aliansi politik HRS. Itu hak seseorang dan sah-sah saja. BIN ingin agar anak bangsa ini tidak terpecah karena beda pandangan. Perbedaan adalah memperkaya khasanah kebangsaan dan bukan alasan untuk terpecah," tutur Wawan.

BIN tak mengenal istilah kriminalisasi. "Tidak benar ada dendam politik. BIN adalah lembaga negara yang tetap ada meskipun silih berganti kepemimpinan nasionalnya, dan berkewajiban menjaga agar program pembangunan berjalan lancar demi kesejahteraan rakyat," kata dia.

https://news.detik.com/berita/d-4293730/bin-siap-bantu-habib-rizieq-soal-kasus-bendera-tauhid-di-saudi?tag_from=wp_nhl_judul_9&_ga=2.204408848.1460416535.1541150767-912962638.1541150767

-------------------------

Bisa saja itu memang pekerjaan intelejen, hanya saja institusi intelejen yang mana? Asing atau lokal dalam negeri? Tentu ada banyak lembaga intelejen yang sedang bermain di tahun politik dan menjelang Pemilu dan Pilpres tahun 2019 yad itu. Itu suatu fakta yang sulit kita bantah semua bahwa banyak intel asing yang beroperasi di negeri kita ini, seperti yang pernah diutarakan oleh seorang mantan pejabat intelejen Indonesia di masa lalu. 

Tiap Kedubes Asing itu pada intinya adalah markas intel negeri asing di tiap negara yang mereka hadir disitu. Belum lagi kehadiran institusi intelejen negara asing yang besar dari negara-negara besar dari seluruh dunia, yang  semua orang juga tahu bahwa SINGAPORE itu markas utama mereka di Asia Tenggara. Dan jarak Singapore ke Jakarta itu hanya butuh waktu kurang dari 2 jam terbang saja! Bahkan tidak menutup kemungkinan organisasi teroris semacam ISIS atau JI atau Al-Qaeda, juga termasuk organisasi kejahatan mafia kelas Dunia semacam Yakuza atau Trinidad serta kartel Narkoba internasional, juga memiliki perwakilan intelejennya di negeri kita ini

Belum lagi unit intelejen yang dimiliki oleh berbagai instansi Negara dan Swasta yang ada di dalam negeri. Bukan hanya BIN saja yang resmi punya lembaga intelejen di negeri ini. TNI, Polri, Kejaksaan, Kemenlu, Kemendagri, bahkan tiap Pemrov dan Pemkab/Pemkot pun pasti punya lembaga intelnya sendiri. Swasta Besar juga sama saja, pasti punyalah, minimal untuk kegiatan intelejen industri mereka. Parpol juga jelas punya. Bahkan  saya yakin, Timses Capres yang maju Pilpres pun pasti memilikinya. 

Jadi memang sulit untuk menunjuk hidung sebuah unit intelejen A atau B yang bermain dalam mempengaruhi opini masyarakat kita saat ini, misalnya dengan menuduh itu pekerjaan BIN. Bagaimana kalau itu ternyata pekerjaan intelejen asing? Bagaimana bila itu kerjaan intelejen MNC atau Konglomerat yang ada disini? Semua kemungkinan bisa saja terjadi, bukan? 

Yang penting, kita sebagai anak bangsa jangan mudah di adu domba oleh mereka. Polltik 'devide et impera' peninggalan VOC dan Belanda dulu, masih saja efektif untuk memecah belah persatuan di negara ini. Itu yang perlu kita sadari semuanya! 

emoticon-Sorry
Diubah oleh naniharyono2018
Halaman 1 dari 6
NSEAS:
Pilpres Tahun 2019 Dalam Persaingan AS-CINA
By TYS - May 28, 2017

Oleh: Muchtar Effendy Harahap

Pada tahun 2019 mendatang, akan dilaksanakan sekaligus Pilpres dan Pileg. Khusus Pilpres 2019, akan dipengaruhi persaingan AS-Cina. Penyelenggaraan Pilpres 2019 dalam persaingan AS-Cina sebagai adikuasa masing-masing berupaya membantu memenangkan Paslon Presiden dan Wakil Presiden.

Tentu saja maksud dan tujuan Negara Adikuasa mendukung masing Paslon agar pihak pemenang mendukung dan memenuhi kepentingan nasional dan motif kekuasaan Adikuasa bersangkutan di Indonesia. Dinamika politik ekonomi di Asia Tenggara ditentukan persaingan AS-Cina.

Persaingan AS-Cina dipengaruhi “kepentingan nasional” masing-masing negara adikuasa tersebut. Secara geopolitik, persaingan global antar negara adikuasa AS dan Cina (RRC)-Rusia, telah bergeser dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Asia Tenggara dan Laut Cina Selatan.

Artinya, Asia Pasifik menjadi “medan perang” baru berbagai kepentingan Negara-Adikuasa seperti AS, Cina dan Rusia. Indonesia sebagai suatu negara bangsa di kawasan Asia Tenggara otomatis akan menjadi “sasaran arena persaingan” negara adikuasa.

Untuk memperkuat kehadiran militer di kawasan, AS akan kembali mempengaruhi penguasa negara Indonesia dengan mendukung kekuatan-kekuatan politik pro AS dan anti Cina (RRC) di Indonesia, yakni:

1. Kelompok pensiunan perwira tinggi militer seperti group SBY (Perwira Militer Pensiunan), group Prabowo (Perwira Militer Pensiunan), group Cendana (keluarga dan pendukung mantan Presiden Indonesia Orde Baru, Soeharto)

2. TNI/Polri

3. Islam politik umumnya turunan dari Partai Masyumi (era Orde Lama)

4. Kelompok politisi Parpol non aliran Islam dan Marhaenisme turunan Partai Golongan Golkar (era Orde Baru)

Baca juga : Pengamat: Rumah Sekap KPK, Indikator Kebusukan
5. Kaum terpelajar didikan Barat khususnya AS, dll.

Kelompok-kelompok politik ini pada prinsipnya anti Komunisme dan lebih pro AS ketimbang Cina. Khusus bagi kelompok Islam politik, Cina masih dipercaya memiliki ideologi Komunisme dan akan tetap mempengaruhi kebangkitan Komunisme di Indonesia.

Sekalipun ekonomi Cina cenderung kapitalisme, namun negara Cina tetap memiliki hanya satu parpol, yakni Partai Komunis Cina (PKC). Hal ini juga berlaku pada negara komunisme lain seperti Vietnam dan Korea Utara. Ekonomi boleh kapitalisme, tapi politik tetap komunisme.

Di bawah Rezim Jokowi, hubungan kerjasama ekonomi Indonesia-Cina berkembang pesat. Investasi Cina sudah nomor tiga, setelah Singapura Nomor satu dan Jepang nomor dua. Pesatnya hubungan kerjasama ekonomi ini mempercepat kristalisasi dan pengelompokan kekuatan politik menjadi dua kekuatan raksasa.

Pertama, kekuatan raksasa anti komunisme dan lebih pro AS dan para sekutunya. Kedua, kekuatan raksasa berasal pada umumnya dari kekuatan Nasakom (era Orde Lama) dan lebih pro Cina.

Kekuatan raksasa lebih pro AS dan lebih pro Cina ini akan bertarung dalam perebutan kekuasaan negara pada Pilpres 2019 mendatang. Sekalipun Pilpres masih paling cepat dua tahun lagi, tetapi suasana politik sekarang ini (awal 2017) mulai menunjukkan beragam indikasi ke arah kristalisasi dan polarisasi dua kekuatan raksasa.

Salah satu indikasi mulai kencang menentang Rezim Jokowi lebih pro Cina. Bahkan, ada penilaian bahwa konsep Jokowi Tol Laut dan Poros Maritim sesungguhnya bagian komponen strategis atau tindak lanjut program OBOR Cina.

Baca juga : Pengamat AEPI : Pengkhianatan Jokowi dan Para Menteri dalam Negosiasi Freeport (Bagian 2)
Kembali pada Pilpres 2019, Cina tentu mendukung Jokowi lanjut sebagai Presiden RI melalui Pilpres 2019. Sebaliknya, AS takkan mendukung Jokowi.

AS akan mendukung tiga kemungkinan, yakni SBY, Prabowo, atau Calon dari Group Cendana. Kami memperkirakan, jika SBY tampil lagi sebagai Calon Presiden 2019 ini, AS sangat mungkin mendukung ketimbang Prabowo atau Calon Cendana.

Namun, jika SBY tidak tampil lagi, sangat mungkin AS mendukung Prabowo. Walau Pilpres 2014 AS tak mendukung Prabowo.

Untuk Pilpres 2019, sesuai semakin meningkatnya kerjasama Cina dan Indonesia dibawah Rezim Jokowi, maka AS akan intens mendukung Calon Prabowo. Dari variabel internasional ini, dapat diperkirakan bahwa Prabowo akan lebih unggul ketimbang Jokowi.

Sedangkan untuk Group Cendana, masih belum terbaca siapa Calon Presiden. Jika Tommy Soeharto, tentu AS lebih percaya terhadap Prabowo. AS mendukung Prabowo bisa jadi tidak ada pilihan karena Cina semakin merapat dengan Rezim Jokowi.

Jika perkiraan ini faktual, Pilpres tahun 2019 dalam persaingan AS-Cina sangat mungkin Jokowi tumbang dari jabatan Presiden. Karena itu, Jokowi harus membuat kebijakan tidak mengutamakan Cina ketimbang AS. Harus mengambil kebijakan lebih pro AS, bukan Cina.

*) Penulis merupakan pengamat dari Network for South East Asian Studies (NSEAS)
https://majalahayah.com/nseas-pilpre...rsaingan-cina/
Pasca Aksi 212, Habib Rizieq De Facto Pimpinan Gerakan Islam di Indonesia
Minggu, 4 Desember 2016 08:55 WIB

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
Habib Riziek Shihab

Sudah sejak Aksi Bela Islam 2 saya katakan bahwa Allah swt mem-baypass ormas-ormas, parpol-parpol, dan tokoh-tokoh mainstream Islam yang menyumbat kebangkitan Islam dengan melahirkan fenomena baru Aksi Bela Islam.

Apa yang dipikirkan AS Hikam (tulisan ada di bawah) sama dengan yang saya pikirkan.

Sore tadi saya ditanya, apakah setelah Aksi Damai Bela Islam 212, ahoq akan ditangkap? Tegas saya menjawab: TIDAK.

Tetapi jangan kecewa dulu. Mungkin Allah swt punya rencana perubahan besar di Indonesia. Maka, Aksi Bela Islam akan dilakukan lagi dan lagi hingga kesadaran massif terbangun di tengah rakyat. Saat itu bukan ahoq saja yang akan dihempaskan tsunami politik persatuan umat Islam, tetapi juga semua kekuatan politik dan kekuatan ekonomi di belakangnya. (Hafidin Achmad Luthfie)

Berikut tulisan AS HIKAM yang diposting di akun fbnya:

PASCA-AKSI 212: HABIB RIZIEQ SEBAGAI PEMIMPIN ISLAM POLITIK INDONESIA?

Gelar aksi demo yang diberi nama “Super Damai” di kawasan Monas pada Jum’at 2 Desember 2016 barangkali layak disebut sebagai sebuah babak baru dalam konstelasi perpolitikan Indonesia pasca-reformasi. Yaitu munculnya Habib Rizieq Syihab (HRS) sebagai representasi kekuatan Islam politik yg fenomenal dan harus diperhitungkan secara serius oleh Pemerintah Presiden Jokowi (PJ) dan masyarakat Indonesia serta pihak-pihak di luar negeri ini.

Kehadiran PJ dalam acara tersebut, mengikuti sholat Jum’at, mendengarkan Khotbah HRS yg sangat jelas menyampaikan tausiah/ pesan-pesan politik kepada PJ, pidato singkat sang Presiden di panggung bersama HRS dan para petinggi Kabinet, dan, last but not the least, konsistensi tuntutan agar Ahok ditangkap, dan kesuksesan acara sampai selesai tanpa ada kericuhan sedikitpun, semuanya merupakan fakta-fakta yg dapat ditafsirkan bahwa HRS lah yang menjadi tokoh utama alias “man of the hour” dalam event tsb.

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
(Presiden Jokowi dan jajaran kabinet saat menyimak Khutbah Jumat Habib Rizieq)

Bukan hanya itu saja. Pasca-212, suka atau tidak suka, HRS adalah pemimpin yang tak dapat diragukan lagi (undisputed leader) dari kekuatan Islam politik Indonesia, dan PJ adalah salah satu pihak yg ikut mengukuhkan posisi tsb! Para perjabat negara boleh dan sah sah saja mengatakan bahwa PJ sudah menunjukkan kepemimpinannya dengan tampil di dalam acara tsb; bahkan ada yg bilang PJ telah menang tanpa harus mengalahkan (menang tanpo ngasorake) lawan, dll pujian seperti itu. Namun secara politis, hemat saya, PJ menang hanya secara taktis, tetapi HRS lah yang mendapat keuntungan secara strategis. Jika PJ bisa disebut meraih keuntungan politik dalam jangka pendek, tetapi pengaruh HRS dan Islam politik di negeri bisa saja akan meluas dalam jangka panjang.

Implikasi politik jangka pendek yg paling nyata adalah thd kasus Ahok akan bergulir. Prediksi saya, tekanan dari kelompok anti-Ahok akan makin besar bukan saja agar Gubernur DKI non-aktif tsb ditahan, tetapi juga sampai ujung proses dengan vonis dinyatakan sebagai pihak yg bersalah. Kehadiran PJ di Monas akan dikapitalisasi secara politik oleh kubu ini untuk terus meningkatkan tekanan agar “hukum ditegakkan” dan “keadilan dijunjung tinggi” dalam proses peradilan yag akan datang. Pengaruhnya thd kampanye Pilkada pasangan Ahok-Djarot (Badja), tampaknya akan semakin negatif dan merugikan pemulihan elektabilitasnya. Jika survei-2 yg dilakukan sebelum 212 saja hasilnya sudah cenderung “sepakat” bahwa elektabilitas Badja mengalami penurunan akibat status tersangka Ahok, apalagi setelah ini. Pihak anti Ahok akan semakin agressif dalam kampanye mereka utk memarginalisasi sang petahana. Paslon Badja mesti kerja “super keras” agar tidak mengalami penurunan drastis lebih lanjut!

Diamnya parpol-parpol pendukung Badja pasca kehadiran PJ ke Monas, bagi saya, adalah juga pertanda kurang baik bagi paslon ini. Elite PDIP, Nasdem, dan Hanura seperti sedang “kebingungan” dan akhirnya memilih “diam” dengan keputusan PJ yang konon dibuat mendadak utk bergabung dalam acara di Monas tsb. Demikian pula respon senyap dari tim sukses Badja terkait dengan dinamika politik seperti itu menunjukkan bahwa mereka pun mengalami semacam kekagetan yg serius. Ini berbanding terbalik dg persistensi kelompok anti-Ahok dalam kampanye mereka sangat nyata, seperti kita lihat dalam bermunculannya meme-meme baru di sosmed yg bertema desakan agar Ahok ditahan. Upaya pemulihan elektabilitas paslon Badja jelas semakin dipersulit oleh keputusan PJ hadir di Monas tsb. Setidaknya peluru baru bagi kampanye lawan bertambah lagi, sementara paslon Badja tidak siap dengan counternya..

Bukan hanya pihak paslon Badja saja yg terimbas implikasi politik dari langkah PJ kemarin. Hemat saya, ormas-ormas besar Islam yang selama ini berusaha membantu PJ agar eskalasi demo dapat dibatasi, bisa jadi juga sama kagetnya. Sampai sehari setelah demo 212 berakhir, saya belum menemukan reaksi resmi dari NU dan Muhammadiyah, atau tokoh-tokoh Islam terkemuka yang sebelumnya ikut mengerem ummat agar tidak berpartisipasi di dalam gelar aksi tsb. Ini tentu sangat menarik utk dicermati. Bisa jadi merekapun sedang berusaha memahami dan mencermati dinamika ini. Setidaknya mereka mesti mengevaluasi utk apa anjuran-2 mereka kepada ummat agar tidak ikut hadir dalam aksi 212 jika kemudian PJ sendiri justru hadir di sana? Bukankah ini merupakan sebuah pengakuan dan endorsement politik terhadap keberadaan HRS dan para pendukungnya sebagai sebuah kekuatan nyata dalam konstelasi perpolitikan nasional? Wallahua’lam..

Sebuah fenomena politik baru pasca-reformasi di Indonesia sedang bergulir, yakni muncul dan berkembangnya kekuatan Islam politik dalam panggung demokrasi, bukan melalui pintu politik elektoral (electoral politics), tetapi melalui pintu politik massa (mass politics). Apakah PJ menyadari sepenuhnya bahwa kini kepemimpinan HRS dan Islam politik kian mantap kehadiran dan pengaruhnya dalam panggung perpolitikan negeri ini? Silakan para sahabat utk memperbincangkannya
https://www.eramuslim.com/berita/nas...m#.W-TAOZMzbIU
Indef: Indonesia Jangan Masuk Proxy War Cina-AS
Sabtu, 7 November 2015 | 05:18 WIB

INILAHCOM, Jakarta - Potensi pasar di Indonesia menjadi incaran Cina dan Amerika Serikat dari sisi demografis dan populasi penduduk.

Sehingga tidak heran jika Indonesia terkesan dijadikan taruhan oleh China dan Amerika secara geoekonomi dan geopolitik.

Peneliti Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Bhima Yudistira menegaskan bahwa dua negara raksasa yakni Cina dan Amerika Serikat (AS) sedang mengincar Indonesia. Saat ini, Indonesia terkesan dijadikan taruhan oleh China dan Amerika secara geoekonomi dan geopolitik.

Dalam hal ini, baik Cina maupun AS tidak secara langsung namun menggunakan boneka (proxy). Cina dengan RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) dan AS melalui TPP (Trans Pasific Partnership).

"Keduanya (TPP dan RCEP) sama-sama sedang mengincar negara-negara dengan potensial market tinggi yakni Indonesia, Thailand, Kamboja dan Vietnam," kata Bhima di kantor Indef, Jakarta, Jum'at (6/11/2015).

Bhima, menilai negara-negara (yang diincar) tersebut adalah negara yang proyeksi ekonominya makin turun dari tahun ke tahun.

Dalam hal ini, kata Bhima, pemerintah jangan mau ditarik kesana-sini. Jangan karena politik luar negeri yang bebas aktif, Indonesia mau dirangkul pihak sana maupun sini.

"Tanpa di sadari kita sedang di jebak dalam proxy war. Bisa jadi Indonesia hanya diincar pasar untuk tujuan ekspor negara TPP maupun RCEP. Hal inilah yang harus diwaspadai mengingat pasar domestik Indonesia sangat besar," tukas Bhima
https://ekonomi.inilah.com/read/deta...xy-war-cina-as
ya gak usah di tolong pak,buang buang tenaga,operasi intelijen jg gk ecek ecek gt mainnya
nuduh tp kok kronologinya bs lengkap diceritain.

Rizik lagi bermasalah diarab, lagi terancam keselamatannya...

MALAH BACOT SEMUA DIMEDIA INI ANTEK2NYA..

BUKAN LINDUNGIN RAME2 PERGI KE ARAB NGASIH BANTUAN HUKUM KIRIM 300 PENGACARA APA GIMANA

MALAH KOAR2 DIMEDIA FITNAH PEMERINTAH FITNAH BIN...



WOWOK + OPOLOSAN + DEMO JILID2


GUOBLOOOOG!!!!!!!
Diubah oleh adhietampan
Nah cctv nya mungkin belum lunas cicilannya jadi ditarik tuh. Yg jadi masalah, letak cctv itu dimana? Jangan2 di kamar si f
masih percaya omongan mereka????







kalau ane si kagak
















emoticon-Cool
bingung fitnah dimana ya? jelas2 kan si rizik sendiri yg dengan gagahnya teriak kibarkan tuh bendera di mana saja kalian berada... kok malah logikanya jadi kebalik gini...
Yang nuduh mainan Intelejen pasti kebanyakan nonton film intel intelan... emoticon-Big Grin

Kalo menurit gue, pelaku pemasang bendera itu inisialnya ES....

Gak percaya?
Silahkan tanya Alm. Gusdur emoticon-Big Grin
Diubah oleh .maoe.
sekarang intelejen asing yg dicurigain ts..

Koplak..

emoticon-Ngakak
Diubah oleh khayalan
Emang ga tau diri si biang kerok
Udah ditolongin sekarang senenak silit e nuduh yg ga ada bukti
emoticon-Najis
Halah paling masalah ijin tinggal saja.....bendera dikos kosan imam besar itu hoax saja.........apes apesnya dia mau dikandangin disana ya uda biarin saja.
Hrs Muslim terbaik Di Indonesia
Sikap hrs sangat sangat Islami
Hrs ini cerminan Muslim sesungguhnya
Bersaing dengan abu bakar Al Baghdadi

emoticon-Ngakak
pihak berwajib di Arab saudi jg pasti sedang menyelidiki. toh masalah bendera kaya gitu sangat sensitif disana. kita tunggu hasilnya
"Banyak Agen Intelijen Asing Beroperasi di Indonesia"
31 Oktober 2016

Intel Dibalik Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN : Menuduh Itu Paling Enak
Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen As’ad Said Ali [Tirto/Arbi Sumandoyo]

Dunia spionase bukan hal baru dalam sejarah Indonesia. Keterlibatan CIA dalam penumbangan rezim Soekarno dan pembersihan paham komunisme menjadi catatan kelam perjalanan bangsa.
tirto.id - Di zaman serba terbuka, dunia intelijen juga mengalami perkembangan, termasuk juga cara mereka memperoleh informasi. Buat mencapai tujuannya, badan intelijen asing tetap merekrut mata-mata dari Indonesia.

As’ad Said Ali menelepon tirto.id pada Senin (24/10/2016), membuat janji berbincang mengenai operasi intelijen asing termasuk juga pola perekrutannya. Wakil Kepala Badan Intelijen Negara era Presiden Megawati Soekarnoputri ini memaparkan banyak hal mengenai intelijen asing di Indonesia. Menurutnya, sampai saat ini banyak agen telik sandi negara asing menyebar mata-mata mereka, termasuk juga melalukan perekrutan. Tujuannya memperoleh banyak informasi termasuk juga data.

Di sela-sela kesibukan menjadi pembicara seminar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, As’ad Said Ali meluangkan waktu untuk berbincang tentang spionase dan perekrutan badan intelijen asing di Indonesia. Berikut petikan wawancara As’ad Said Ali kepada Arbi Sumandoyo dari tirto.id:

Bagaimana cara intelijen asing merekrut orang-orang di Indonesia?

Pada waktu perang dingin, AS bermusuhan dengan Rusia. Rusia pun menginteli kita. Pada saat itu, AS anggap kita sebagai teman. Jadi yang diawasi terutama pihak lawan, yakni komunis. Jadi yang diawasi adalah Rusia atau Uni Soviet. Nah, bukti Rusia menginteli kita, terkait skandal peta laut yang penting untuk kapal selam. Uni Soviet merekrut orang yang bisa mengakses peta tersebut. Siapa yang bisa mengakses? Tentu saja seorang perwira angkatan laut. Namanya kalau tidak salah Letkol Susdaryanto. Dia yang membuat pemetaan.

Bagaimana pola perekrutan menjadi agen asing?

Merekrutnya biasalah. Cara-cara klasik. Ditanya hobinya apa? Itu dipenuhi keinginannya. Dalam pola pikirnya juga diyakinkan (pekarjaan) tidak bahaya. Padahal peta laut tadi itu bahaya.

Kalau sekarang menjadi repot ya. Dunia intelijen saat ini menjadi repot. Sesungguhnya dengan dunia seperti ini, banyak hal menjadi terbuka walau masih ada yang dirahasiakan. Sekarang polanya sudah terbuka. Misalnya, pihak barat ingin menguasai jalan pikiran kita. Kemudian mereka bekerjasama dengan para NGO di sini. Mereka menyebarkan pemikiran-pemikiran. Apalagi sekarang jaman demokrasi.

Saat ini relatif lebih susah untuk mengambil tindakan. Namun yang spesifik, masih ada yang dirahasiakan seperti misalnya undang-undang militer yang saya tidak bisa katakan. Kemudian juga kebijakan-kebijakan negara. Sekarang rekrutmen bagi barat relatif lebih gampang, karena memang yang dirahasiakan lebih sedikit.

Misalnya, kebijakan-kebijakan atau perintah-perintah khusus di kawasan tertentu, atau proteksi kepada presiden dan penjaganya. Misalnya, dulu telekomunkasi belum bagus seperti saat ini. Tapi kalau saat ini bisa disadap. Sekarang ini intelijen bertugas untuk menjaga kekayaan nasional. Daerah-daerah mana yang harus diawasi, Counter-nya, kira-kira dia mau cari apa, begitu lho. Kalau asing mau ke sini, dia mau apa?

Negara mana yang memiliki kepentingan untuk merekrut agen di Indonesia?

CIA memiliki perwakilan di sini. KGB punya di sini. Semua memiliki agen di sini. Keberadaan mereka resmi. Jadi untuk hal-hal umum, kita tidak ragu dan bisa langsung bertemu. Kadang-kadang kita bekerja sama dan bertukar informasi. Misal memerangi ideologi ISIS, yang harus dilindungi spesifik, bagaimana mental kita tidak berubah. Bahkan kita banyak melakukan kerja sama bagaimana mengatasi ISIS.

Saat ini berarti lebih kepada melawan gerakan radikalisme?

Iya karena saat ini radikalisme adalah lawan global. Banyak yang bisa kita lakukan dalam kerja sama. Apalagi saat ini kita sudah masuk dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Misalnya soal penyelundupan yang mengganggu komoditas kita. Contohnya penyelundupan produk garmen yang menggangu komoditas kita. Hal lain, misalnya pemalsuan obat-obatan. Dalam intelijen ekonomi tidak ada yang perlu direkrut. Kita dulu menggunakan ideologi lebih ketat. Saat ini dengan mengawasi bidang tertentu saja yang menjadi prioritas.

Jadi memang sebelumnya sudah ada kerja sama dengan intelijen asing seperti MI6 Inggris?

Iya yang satu ideologi. Misal sama-sama antikomunis. Jadi kita mengawasi dan kita tahu apa yang harus dilakukan. Saat ini penanganannya sudah berubah, sebab penanganannya yang dicari bukan hal-hal yang menjadi rahasia. Paling hanya kondisi kabinet seperti apa dan itu merupakan data intelijen terbuka.

Apa benar kantor kedutaan memang menjadi markas intelijen suatu negara?

Iya memang di situ perwakilan. Resmi kok. Dia punya di sini dan kita punya di luar negeri. Dan itu dilaporkan ke Badan Intelijen Negara. Kadang-kadang mereka kirim delegasi. Kita juga kirim delegasi dan semua terdaftar. Jadi kerjasama itu formal untuk mencari informasi formal. Mungkin kadang mereka juga merekrut orang.

Bagaimana Anda melihat konflik di Papua atau Aceh, apakah ada peranan intelijen asing?

Ya, secara langsung dan tidak langsung ada. Yang berkaitan dengan ekonomi pasti ada. Dan melakukannya lebih smart. Apalagi yang dicari juga bukan merupakan ancaman negara. Terpenting kita tahu, selama tidak mengancam keamanan negara.

Ketika Anda menjabat Wakil Kepala BIN, ada banyak agen asing yang tertangkap?

Tidak ada. Pada saat itu penanganan kita memang lebih kepada terorisme. Kalau Amerika dan Rusia memang ada hubungan resmi. Sebab dengan hubungan resmi itu, sebetulnya mengurangi spionase terhadap dua negara.

Waktu penangkapan agen Rusia terkait peta laut itu tahun berapa?

Tahun 1980 kalau tidak salah. Itu memang kita awasi.

Apa kepentingan Rusia pada saat itu?

Mereka mencari peta-peta. Kita sedang memetakan laut dan itu diambil. Mereka bayarlah. Itu hanya salah satu contoh. Tidak bagus kalau semuanya. Salah satu contoh itu ada dan itu kita berhasil (menggagalkan).

Apakah ada Badan Intelijen Asing yang tidak memiliki hubungan diplomatik, tetapi mereka beroperasi di Indonesia seperti Taiwan?

Kita dengan Taiwan ada kerja sama intelijen.

Bagaimana dengan Israel?

Kerja sama tidak ada, tetapi kita mengontak saja. Jadi intelijen itu punya moto, dalam keadaan perang pun harus ada jalur. Jadi kita mau berdamai atau terus, kita menggunakan jalur. Jadi kalau kita bukan dalam bentuk kerjasama, tetapi berhubungan melalui kontak. Jadi terbatas sekali. Kalau kerja sama ada levelnya. Misal, visit atau berkunjung berapa tahun sekali, atau kunjungan tim kerja. Kerja sama lain misalnya, exit informasi. Jadi kita bertukar informasi. Mereka kirim informasi dan kita kirim informasi.

Ada juga yang namanya regional meeting. Misal kita dengan Saudi, itu kita ganti-gantian setiap tahun. Ada juga multilateral dengan negara-negara Islam, itu kita bergantian juga. Kalau tidak salah ada sepuluh negara. Termasuk juga dengan negara ASEAN. Dengan kerja sama seperti itu sebetulnya mengurangi perang intelijen.

Sepanjang Anda menjabat di BIN, berapa orang agen asing terdeteksi di Indonesia?

Banyak, terutama wartawan dan NGO.

Sampai ribuan?

Tidak ada. Tidak sampai sebanyak itu. Tidak logis. Kalau dia hanya mendekati orang dan tidak ada rahasia yang diambil, kita tidak bisa berbicara direkrut. Misalnya sekedar dibayar. Direkrut itu misalnya, ada orang BIN didekati, itu baru namanya mau direkrut. Zaman KGB dulu ada dan itu langsung kita halangi.

Apakah masih ada operasi Intelijen asing di Indonesia?

Masih tetap ada, hanya bentuknya lain. Kadang-kadang sifatnya tidak rahasia. Tetap kontak-kontak biasa dan yang dicari itu untuk kepentingan politik praktis.
https://tirto.id/banyak-agen-intelij...indonesia-bZnN
tidak ada muslim yang lebih baik dari HRS.

banana suka ena ena

menuduh itu paling ena

biar ga da buktinya

yang penting laskar peca ya
subannalloh
ini ummat kok pada kemana ya? ga bikin aksi tah woy?

emoticon-Ngakak

emoticon-Ngakak
Halaman 1 dari 6


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di