alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Hoax menebar ketakutan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be2e4a5e05227707a8b4592/hoax-menebar-ketakutan

Hoax menebar ketakutan

Hoax menebar ketakutan
Ilustrasi: Hoax bukan cuma berbohong, tapi juga berbahaya.
Banyak orang tua resah. Kabar tentang penculikan anak-anak beredar luas dan intens lewat media sosial –termasuk aplikasi untuk bertukar pesan seperti Whatsapp. Apalagi, kabar itu disertai foto yang mencoba meyakinkan bahwa tujuan penculikan itu untuk mengambil organ tubuh si anak. Siapa yang tidak takut?

Kabar tentang penculikan anak itu bukan cuma tentang satu peristiwa. Menurut kabar itu, penculikan anak terjadi Pontianak, Cakung Jakarta, Kemayoran Jakarta, Jakarta Utara, Kabupaten Kerinci. Banyaknya kejadian itu menjadi elemen penting yang membuat banyak orang percaya bahwa kabar itu sungguh terjadi.

Nyatanya, kabar itu hoax belaka. Polisi sudah memastikan bahwa kabar-kabar tentang penculikan anak demi mengambil organ tubuhnya adalah kabar bohong.

Kabar bohong tentang penculikan anak bukan kali ini saja beredar. Tahun lalu, kabar bohong serupa juga terjadi dalam versi yang agak berbeda: penculikan terhadap anak-anak dilakukan oleh orang yang pura-pura gila.

Meski tahun lalu pun sudah ada penjelasan mengenai kabar bohong penculikan anak, namun publik tampaknya belum bisa dengan segera menyadari dan bersiap bahwa serangan kabar bohong serupa bisa terjadi pada waktu lain. Masih cukup banyak warga masyarakat kita yang reaktif terhadap kabar bohong tersebut.

Namun harus diakui, pembuat kabar bohong tentang penculikan anak ini sangat terkesan kuat mengetahui jenis isu yang mudah memicu reaksi impulsif pembaca sehingga dengan spontan mempercayai dan menyebarluaskannya kembali.

Daya tahan kebanyakan orang untuk mencerna dan menyaring terlebih dulu informasi menjadi sangat rapuh jika diterpa oleh isu yang berkaitan dengan keimanan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan.

Keempat isu itu sangat mudah membuat banyak orang mengendurkan daya saringnya terhadap informasi dan bahkan membuat gelap mata. Penalaran bukan menjadi proses yang pertama terpicu oleh keempat isu itu; sentimen emosionallah yang pertama-tama terbangkitkan oleh isu-isu tersebut.

Bahkan tak jarang terjadi mereka, yang sudah termakan hoax, melakukan penyangkalan (denial) ketika diberi tahu bahwa informasi yang mereka terima itu kabar bohong. Alih-alih menyadari telah menjadi korban hoax, mereka malah menunjukkan kerelaan menerima kabar bohong dengan dalih agar bisa bersikap waspada.

Mereka tidak bisa membedakan antara berwaspada dengan resah dan takut. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang dirundung keresahan dan ketakutan akibat hoax; bahkan kemudian ikut menyebarkan ketakutan itu dengan mengirim ulang kabar bohong di media sosial.

Para pembuat hoax tampak sangat menyadari proses dan kondisi psikologi itu.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menganalisa pemberitaan penculikan anak selama 4 bulan terakhir.

Jumlah berita penculikan anak sangat besar dan semakin besar. Pada Juli, ada 635.000 berita. Pada Agustus, ada 969.000 berita. Naik lebih dua kali lipat pada September menjadi 2.150.000 berita. Pada Oktober naik lagi dua kali lipat menjadi 4.300.000 berita. Pada hari kedua bulan November saja, suda ada ada 1.010.000 berita tentang penculikan anak.

Dari semua itu, sebagian di antaranya sudah dipastikan merupakan kabar bohong. Dengan masifnya penyebaran kabar bohong tentang penculikan anak itu, sukarlah untuk mengelak dari munculnya kepanikan, yang pada gilirannya mendorong histeria massa.

Berlebihankah menganggap kabar bohong bisa memicu histeria massa? Sama sekali tidak.

Bulan Juni lalu, seperti dikabarkan BBC, kabar bohong tentang penculikan anak yang beredar di India telah menewaskan 2 orang lelaki di Assam. Kedua lelaki itu dikabarkan berhenti di sebuah desa untuk menanyakan arah jalan.

Penduduk setempat meyakini kedua lelaki itu adalah penculik seperti yang disebut-sebut dalam kabar yang mereka terima lewat Whatsapp. Akibatnya, keduanya dikeroyok sampai tewas.

Jelas, itu adalah bukti histeria massa yang disulut oleh kabar bohong yang beredar lewat media sosial.

Di Indonesia, tepatnya di Kendal Jawa Tengah, histeria massa akibat kabar bohong tentang penculikan anak juga sudah memakan korban nyawa.

Sekelompok warga yang dirundung histeria mengeroyok Ahmad Fauzi Muslih –orang dengan gangguan jiwa- pada Kamis (1/11/2018) lalu yang dicurigai sebagai penculik anak. Setelah sempat dibawa berobat, keesokan harinya Muslih meninggal dunia.

Sebetulnya, Muslim bukanlah orang pertama yang menjadi korban histeria massa yang disulut oleh kabar bohong. Tahun lalu, histeria massa yang disulut hoax tentang penculikan anak juga memakan korban beberapa orang dengan gangguan jiwa.

Pada Februari tahun ini, histeria massa massa yang disulut oleh hoax tentang serangan terhadap ulama oleh orang yang pura-pura gila juga memakan korban tunawisma dengan gangguan kejiwaan.

Kabar bohong bukanlah perkara sepele. Untuk mengatasinya perlu tindakan yang terarah.

Penegakan hukum adalah salah satunya. Terkait dengan kabar bohong penculikan anak, polisi telah menangkap beberapa orang. Mereka disangka sebagai penyebar hoax itu.

Penegakan hukum jelas diperlukan untuk menimbulkan efek jera. Bahkan lebih dari itu, penegakan hukum memberikan pesan kepada warga masyarakat lain tentang bahaya dan larangan menyebarkan kabar bohong dan perlunya bersikap hati-hati dalam menyebarkan informasi.

Cuma saja, sayangnya, sejauh ini polisi hanya meringkus penyebar. Polisi harus bekerja lebih keras untuk menangkap dan menggali motif para pembuat hoax itu.

Tindakan selebihnya yang diperlukan adalah mengembangkan literasi masyarakat. Kata ajaib itu harus dirumuskan dalam langkah-langkah strategis yang implementatif, agar tidak menjadi mantra belaka. Tokoh-tokoh kunci komunitas dan para influencer harus dilibatkan dalam setiap langkah itu.
Hoax menebar ketakutan


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...ebar-ketakutan

---

Baca juga dari kategori EDITORIAL :

- Hoax menebar ketakutan Hentikan intimidasi terhadap jurnalis

- Hoax menebar ketakutan Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial

- Hoax menebar ketakutan Keselamatan penerbangan dalam tanda tanya



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di