alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be27b62d44f9f21438b4568/dont-give-up

Don't Give Up

Mohon maaf sebelumnya cerita ini adalah hasil karya temanku punya teman, dengan nama unik Trondol Jaya 4smoro 4nggoro.

Semoga karyanya yang besar ini menjadi hiburan agan dan sista dimari, mohon maaf bila ada update yang terlambat, setidaknya karya ini bisa dinikmati banyak orang karena gaya penulisannya yang menurutku keren banget loh..tidak pakai lama kita langsung saja baca ceritanya.





Don't Give Up

PROLOG​




KUKURUYUKKK…!!!

Dering alarm dengan suara ayam berkokok, baru saja terdengar dari sebuah Handphone, membuat seorang pria terjaga dari tidurnya.

Sejak semalam pria itu sengaja tidur cepat, agar ia bisa bangun pagi-pagi sekali dikarenakan ada sesuatu yang harus ia kerjakan.

"Hoaemmm..." sayup-sayup, pria itu membuka kedua matanya. Mengusap wajah lalu mencoba mengumpulkan nyawanya sedikit demi sedikit.

Ia meraih Hp tersebut yang diletakkan di atas meja samping ranjang. Lalu melihat layar HP yang ternyata waktu saat ini telah menunjukkan pukul 06.00 pagi.


"Busyet... bisa telat aku nih." Ia terkejut, lalu bangkit dan dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi. Tak lupa ia mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar.

Seorang pria, bernama lengkap Ajie Prayoga. Berperawakan seperti pria biasanya. Tinggi biasa saja, tubuh sedikit atletis karena memang ia mempunyai hobi nge-Gym. Namun, tidak kekar seperti hal-nya para binaragawan yang seringkali memamerkan otot-ototnya di atas panggung.

Baru beberapa bulan yang lalu, Ajie meluluskan kuliahnya disalah satu Universitas swasta di ibu Kota propinsi Sulawesi Selatan. Pontang-panting cari kerja tak kunjung satupun yang nyangkut.

Namun, ia tak pernah berputus asa sama sekali. Berkali-kali ia mengirimkan CV beserta lamaran pekerjaan di berbagai situs yang memang menyediakan layanan pencari kerja seperti Job Str**t, maupun mengirim via email yang ia dapatkan dari informasi beberapa teman maupun surat kabar.

Dan berulang kali juga ia mengikuti tes interview dari berbagai perusahaan. Namun, karena memang belum jodoh maka sampai sekarang status Ajie masih pengacara. Pengangguran Banyak Acara.

Seperti halnya pagi ini, dimana Ajie mempunyai jadwal interview dengan salah satu perusahaan yang bisa dikatakan salah satu perusahaan besar yang ada di negara ini.



Beberapa saat kemudian...


Ajie sedang berdiri menatap pantulan dirinya di depan cermin yang terletak di samping lemari dalam kamarnya.

Tok... tok... tok...!!!

"Ji... kok belum berangkat sayang?" Suara ketukan pintu di iringi dengan suara sapaan merdu dari sang Mamah yang tak pernah sedikit-pun merasa lelah untuk menyemangati anak pertamanya itu.

"Nih, udah mau berangkat mah." Jawab Ajie saat membukakan pintu kamar buat mamanya.

"Hehe, anak Mama udah ganteng." Ujar si Mamah saat melihat penampilan Putranya yang pagi ini telah rapi. Dengan kemeja berwarna grey berpadu dengan celana kain hitam lengkap sepatu yang agak mengkilap membuat Ajie lumayan percaya diri untuk menghadapi tes interview kali ini.


"Mah... doakan Ajie yah mah." Ujar Ajie.

"Setiap saat Mamah selalu berdoa untukmu dan adik-adikmu sayang." Jawab si Mamah sambil mengelus pipi kiri putranya.

"Ya sudah, Ajie pamit pergi dulu yah Mah..."

"Jangan lupa pamit ma papah di depan,"

"Siap Bos... Ajie pergi dulu yah Mah... Assalamualaikum." Ujar Ajie sambil menyalim tangan mamahnya.


"Wa'alaikumsalam... hati-hati." Jawab si Mamah sambil mengikuti langkah putranya dari belakang menuju ke depan.


Saat tiba di teras depan, terlihat seorang pria setengah baya sedang duduk di salah satu kursi sambil matanya tak lepas membaca koran pagi ini. Dan juga seorang gadis terlihat baru saja masuk ke dalam pekarangan melalui pagar depan dengan memakai pakaian santai. Sepertinya baru saja pulang dari jogging.

"Cie... cie... hei cowok godain kita donk." Celetuk gadis itu yang tak lain adalah adik Ajie yang baru saja melihatnya keluar keluar dari pintu.

"Mel... kakak pergi dulu yah... Pahhhh, Ajie berangkat dulu yah." Ujar Ajie sambil menyalim tangan papahnya, membuat pria setengah baya itu mengalihkan pandangannya dari koran ke anaknya.

"Hati-hati..." ujar Papah dan si adik yang hampir bersamaan.

"Beresss..."


Ajie mengeluarkan motor kesayangannya. Sebuah motor bebek berwarna merah keluaran pabrikan asal jepang. Jupe, motor kesayangan Ajie yang selama ini menemaninya dalam susah maupun susah lagi... yaiyalah, kan dia belum pernah merasa senang. Ups, bercanda.

Dalam perjalanan, Ajie menghafalkan beberapa bait kata yang akan ia katakan saat interview nanti.

Memang dalam hal berkomunikasi, Ajie lumayan bagus. Tak sedikit-pun rasa gugup dalam dirinya saat ini. Bermodalkan dari beberapa pengalaman yang ia dapatkan selama ini.


"Aku harus sukses..."


"Aku harus sukses..."


Berulangkali ia mengucapkan 3 kata tersebut. Dan menanamkan dalam dirinya, bahwa sukses itu berawal dari Nol.

Mungkin saat ini, ia belum menemukan titik terang kesuksesan tersebut. Namun, satu hal yang ia percaya. 'What got you here, will not get you there'. Ia selalu belajar dari apa yang pernah terjadi. Begitupun dengan cara menjawab pertanyaan saat wawancara dengan pihak perusahaan. Ataupun hal lain yang ada di kehidupan nyata.


~•●•~​



Sebuah kompleks pergudangan di dareah kawasan industry Makassar. Sebuah Neon box besar bertuliskan ‘PT Indofood CBP Sukses Makmur, tbk’ berdiri kokoh di depan pagar sebuah gudang sekaligus pabrik yang cukup besar, dimana saat ini Ajie sedang berdiri di depan pagar gudang itu.

Waktu menunjukkan pukul 07.15, dan sebentar lagi ia akan mengikuti proses tes interview dengan HRD di perusahaan tersebut.

Lama ia menatap Neon box tersebut. Dengan tatapan tajam, sambil berdoa dalam hati untuk memudahkan dirinya dalam mengikuti tes interview-nya kali ini.

"Good Luck Ji..." ia menyemangati dirinya sendiri sesaat sebelum melanjutkan perjalanannya masuk kedalam area parker.

Sebelumnya, Ajie meminta izin ke salah satu security yang berdiri di pos. lalu setelah beberapa saat ia menjelaskan maksud kedatangannya maka ia-pun dipersilahkan masuk.

Ajie memarkirkan motornya di pelataran parkir motor yang telah disediakan. Beberapa karyawan terlihat memasuki sebuah gedung yang terletak di depan. Dan setelah memantapkan hatinya, Ajie segera masuk kedalam gedung yang mungkin akan menjadi saksi perjalanan masa depannya kelak.

"Pagi Pak..." Ajie menyapa salah satu karyawan yang berdiri di belakang meja panjang dan di meja tersebut bertuliskan Resepsionis.

"Selamat pagi Mas, ada yang bisa saya bantu?" Balas staf karyawan tersebut.

Akhirnya, Ajie menjelaskan maksud kedatangannya pagi ini. Dimana ia di undang oleh bagian HRD untuk mengikuti tes interview diperusahaan ini.

Sambil menunjukkan undangan dari HRD yang lengkap dengan Kop surat perusahaan yang memang telah ia download dari email pribadinya dan di print semalam.


"Oh ok Mas Ajie, silahkan naik ke lantai 3... kebetulan beberapa kandidat juga udah datang dan langsung saya arahkan untuk menunggu di atas..."

"Ok Pak, terima kasih." Jawab Ajie sesaat setelah berpamitan untuk naik ke lantai 3 melalui lift yang berada tak jauh dari meja resepsionis.


Ting... Tong!!!

Pintu lift terbuka, saat angka di depan Ajie menunjukkan angka 3.

Sekali tarikan nafas, akhirnya ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.


"Pagi, ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang wanita dengan penampilan khas seorang karyawan saat melihat Ajie yang sedang celingukan di lantai 3.

Beberapa orang terlihat sedang duduk di kursi yang telah dipersiapkan sambil memegang sebuah Map berwarna warni. "Mungkin peserta tes interview juga..." benak Ajie saat ini.

"Aku Ajie Prayoga Bu... Jadi...." jawab Ajie menjelaskan, sambil memberikan Map coklat miliknya kepada wanita itu.

"Hmm, baik... tunggu di situ aja yah Mas... nanti dipanggil." Ujar wanita itu saat sekilas membuka halaman depan Map milik Ajie.

Ajie duduk berdampingan dengan seorang gadis cantik, yang mungkin juga salah satu peserta tes wawancara.

"Ikut tes juga yah mba?" Ajie mencoba membuka obrolan.

Gadis itu menoleh, dan melempar sebuah senyuman sebelum menjawab pertanyaan Ajie. "Iya Mas, hmm... mas juga yah?" Sebuah pertanyaan aneh yang sebetulnya gadis itu-pun tau jawabannya.

"Iya..." jawab Ajie singkat sambil membalas senyuman gadis itu.

"Ajie." Lanjutnya tanpa di perintah mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan.

Sejenak gadis itu hanya menatapnya, lalu membalas uluran tangan pria disampingnya.

"Mitha..."

"Melamar sebagai apa?" Tanya Ajie berikutnya.

"Staf admin... kalau mas Ajie?"

"Sales..." jawab Ajie singkat.

"Loh kok? Masnya S1 kan?" Gadis itu yang bernama Mitha sedikit mengerutkan keningnya dan terkejut dengan jawaban yang ia dengar barusan.

"Iya,"

"Kenapa gak coba tes posisi yang lain mas?" Tanya Mitha.

"Pengennya memang tes sebagai sales mba... lumayan nambah-nambah pengalaman?" Jawab Ajie.

"Apa gak sayang dengan ijazahnya mas? Kok melamar sebagai seorang sales yah?" Ajie malah mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu.

"Gak ada yang salah kan kalau aku melamar sebagai seorang sales... pekerjaan halal juga kan?"

"Iya sih..." jawab Mitha, terlihat gadis itu sedikit dongkol mendapatkan jawaban dari Ajie barusan.

"Mitha Mahardewi." Panggil salah satu staf karyawan yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.

"Saya Bu." Jawab gadis di sebelah Ajie.

"Ok, giliran mba yah... siap-siap Ajie Prayoga."


"Baik Bu." Jawab Ajie mengangguk.

"Mas, saya duluan yah." Ujar Mitha menoleh ke Ajie.


"Good luck yah mba."

Mitha meninggalkan Ajie, lalu masuk ke sebuah ruangan bersama dengan karyawan tadi.

Beberapa menit Ajie menunggu, sambil bermain Hape untuk menghilangkan rasa jenuh karena menunggu. Akhirnya beberapa saat kemudian, pintu ruangan yang bertuliskan HR Manager terbuka. Dan Mitha yang ternyata telah selesai interview ikut keluar dari ruangan dan disusul oleh karyawan yang sepertinya di tugaskan untuk memanggil para kandidat karyawan diperusahaan itu.


"Mas Ajie, silahkan..." ujar karyawan itu.

"Baik bu." Jawab Ajie yang segera berdiri dan merapikan sedikit pakaiannya.

"Gimana?" Ajie menyempatkan bertanya kepada Mitha saat mereka berpapasan.

"Alhamdulillah lancar Mas... hehe," jawab Mitha.

"Mantap... sekarang giliranku."

"Semoga sukses yah Mas." Kata Mitha dan di jawab dengan tanda jempol oleh Ajie lalu masuk kedalam ruangan HRD bersama dengan karyawan yang tadi memanggilnya.


Di dalam ruangan HR Manager, terlihat beberapa lemari yang tersusun rapi di kiri dan kanan ruangan. Terdapat sebuah meja kerja dan seorang pria yang sedang duduk sambil membuka beberapa berkas lamaran.


"Saya Arief, Silahkan duduk." Ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya yang sepertinya adalah HR Manager diperusahaan itu.

"Ajie Prayoga Pak..." Jawab Ajie membalasnya, lalu ia pun duduk di kursi di depan meja bapak itu.

"Ok... Mas Ajie, saya sudah membaca CV sudara... dan ternyata memang belum ada pengalaman kerja sama sekali yah?" Tanya Pak Arief setelah membaca CV Ajie.

"Iya Pak, memang aku baru lulus kuliah... dan belum ada pengalaman bekerja selama ini." Jawab Ajie sambil memposisikan duduknya agak tegak dengan kedua tangan di letakkan di atas kedua pahanya. Wajahnya tegak dan kedua matanya menatap wajah Pak Arief dihadapannya.

"Hmm, terus... apa yang Mas Ajie bisa berikan kepada kami... sedangkan Mas Ajie sendiri belum punya pengalaman sama sekali?" Ujar Pak Arief, sekilas terlihat Ajie agak sedikit gugup namun dengan cepat ia mengalahkan kegugupannya dengan mencoba tersenyum. Lalu mengambil nafas panjang, ia pun menjawab pertanyaan Pak Arief.

"Baik Pak, memang aku belum mempunyai pengalaman sama sekali dalam dunia pekerjaan. Namun, aku punya pengalaman dalam dunia organisasi saat di kampus dulu... ok, itu tidak bisa dijadikan sebuah patokan... namun, setidaknya berikanlah kami sebuah kesempatan yang belum punya sama sekali pengalaman. Karena, belum tentu orang seperti kami yang belum punya pengalaman akan gagal sebelum bekerja jikalau belum mencoba." Pak Arief membetulkan posisinya, dikarenakan ia menangkap sesuatu di dalam diri Ajie saat ini.

"Hmm, anda melamar sebagai seorang sales yah? Kenapa memilih posisi sebagai seorang sales? Kenapa tidak memilih posisi yang lainnya?"

"Sales... karena menurutku Pak, posisi sales adalah posisi yang paling menantang... kenapa seperti itu? Karena sales-lah yang menjadi ujung tombak perusahaan. Karena merekalah yang mencarikan value buat perusahaan." Jawab Ajie sambil menahan nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Jadi, menurutku apabila kita bisa membuktikan kepada manajemen bahwa kita bisa berkontribusi yang besar... maka, kita pasti akan menerima hak yang jauh lebih besar dibandingkan posisi yang lainnya... dengan kata lain, apabila kita berhasil maka kita akan mencolok dimata perusahaan dan begitu pula sebaliknya, jikalau kita gagal... maka kita akan terlihat paling terburuk... mungkin seperti itu Pak." Ajie melanjutkan, dan terlihat pak Arief ngangguk-ngangguk mendengar jawaban dari Ajie barusan.

"Menarik... bisa ceritakan secara singkat seorang Ajie itu seperti apa. Profil keluarga dan yah apa aja deh... singkat namun mudah dimengerti."


"Baik Pak,"

Akhirnya Ajie menceritakan tentang keluarganya, Kedua orang tuanya dan juga pekerjaan ayahnya yang seorang guru di salah satu SMP di kota Makassar. Sedangkan Mamahnya adalah ibu rumah tangga. Ia juga menceritakan tentang kedua adiknya yang masih dibangku kuliah dan di bangku SMU. Dan juga tentang kesehariannya yang memang saat ini sedang fokus mencari kerja, olah raga. Dan juga menceritakan beberapa kegiatan dengan beberapa temannya seperti hang out ke tempat-tempat wisata.

"Coba jelaskan, apa nilai lebih buat perusahaan kami jikalau memilih anda menjadi karyawan diperusahaan ini?"

"Jelas, aku akan membuktikan bahwa aku akan bekerja secara optimal dan bertanggung jawab dengan tugas-tugas yang diberikan oleh perusahaan... mendedikasikan hampir semua waktu yang aku miliki untuk mengejar Target yang diberikan oleh perusahaan... bukan cuma itu saja, aku akan mundur dan tidak perlu di berikan upah jikalau dalam 2 minggu aku gak bisa memperlihatkan sesuatu kepada perusahaan dalam hal yang positif." Jawab Ajie dengan sangat percaya diri.

"Cukup percaya diri kamu yah."


"Seorang sales harus percaya diri Pak,” jawab Ajie tersenyum. “Karena mereka setiap harinya bertemu dengan orang-orang yang berbeda watak... jadi, jikalau seorang sales pemalu maka aku pastikan ia akan gagal sebelum berperang." Lanjutnya membuat Pak Arief ikut menarik nafas panjang setelah mendengar jawaban dari Ajie.

"Hahahahaha, jujur saya suka dengan gaya kamu." Pak Arief tertawa melihat gaya Ajie menjelaskan dan juga senang mendengarkan kata-kata dengan penekanan-penekanan yang halus namun jelas dan tidak di awang-awang.

"Terima kasih pak atas pujiannya,"

"Cukup... dan jujur saya cukup interest dengan kamu..." kata Pak Arief membuat Ajie sedikit senang. "Kami akan menghubungi mas Ajie kalau memang mas Ajie adalah salah satu yang terpilih untuk menjadi karyawan diperusahaan kami." Lanjut Pak Arief sambil berdiri dan mengulurkan tangannya kembali untuk bersalaman dengan Ajie.

"Baik pak, aku tunggu kabar baiknya." Ujar Ajie yang juga ikutan berdiri dan membalas berjabat tangan dengan Pak Arief.

"Aku permisi yah Pak."

"Ok."

Akhirnya, Ajie keluar dari ruangan. Dan sangat yakin bahwa dirinya pasti akan lulus menjadi karyawan diperusahaan ini.


"Baiklah Ji, langkah awal kesuksesanmu sepertinya sudah cerah... fiuhhhh."



~•●•~


2 Hari kemudian…


Pagi ini, Ajie baru saja selesai mengirimkan beberapa CV dan Lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan melalu email pribadinya. Ia tak pernah sama sekali putus asa dalam mencari kerja.

“Huhhh, beres juga.”


Tiba-tiba, saat Ajie baru saja meregangkan otot-ototnya. HP-nya berdering, dengan nomor local yang tak ia kenal.

“Hmm, dari siapa yah?” Gumamnya. Lalu ia pun mengangkat telpon.

“Halo,”


“Iya Halo, selamat pagi… bisa berbicara dengan bapak Ajie Prayoga?” Jawab seseorang diseberang.

“Iya betul mba, aku Ajie… ini dengan siapa yah?” Tanya Ajie.

“Saya Linda, dari PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk…”

“Oh iya Bu, gimana bu… ada yang bisa Ajie bantu?”

“Jadi gini Pak, kami ingin menginformasikan ke bapak… bahwa saat ini Pak Ajie telah terpilih menjadi salah satu kandidat karyawan di perusahaan kami… dan telah lulus dalam tes interview kemarin dengan HRD kami.”

“Alhamdulillah… iya Bu… Terima kasih.” Jawab Ajie dengan girangnya.

“Pak Ajie, di undang 2 hari kemudian untuk mengikuti Medical test di Prodia… apa bapak bisa hadir?”

“Sangat bisa bu… Ajie akan datang bu untuk mengikuti tes-nya.”


“Ok Pak, sebentar lagi Linda akan meng-email surat pengantarnya dari perusahaan kami di emailnya bapak.”

“Baik Bu, aku tunggu emailnya… dan sekali lagi terima kasih.” Jawab Ajie lalu wanita itu yang bernama Linda menutup telponnya.


Terlihat senyum bahagia diwajah Ajie saat ini. Akhirnya penantiannya selama ini tak sia-sia.

“Alhamdulillahhhhhhhhh…”



Inilah awal dari sebuah cerita.

Sebuah impian untuk menjadi seseorang yang sukses.

Banyak lika-liku yang akan ia hadapi dikemudian hari.

Akan banyak tantangan yang sedang menunggunya di depan.


Inilah kisah seorang pria yang mempunyai mimpi menjadi seorang yang sukses.


Sukses dalam karir, sukses dalam segala hal…



HANYA MEREKA YANG BERANI GAGAL AKAN MERAIH KESUKSESAN​







Still Continued…
Diubah oleh .nona.
Urutan Terlama
Diubah oleh .nona.
Part 1


Seminggu kemudian…


Ajie Prayoga, dengan gagahnya dan penuh semangat menancapkan motor Jupe kesayangannya pagi ini menuju daerah KIMA (Kawasan Industry Makassar).

Setelah mendapatkan informasi kelulusannya dari pihak Indofood, maka hari ini-pun adalah hari pertama ia memulai pekerjaannya sebagai seorang Sales.

Sales Representatif, posisi yang saat ini ia dapatkan di perusahaan itu. Dengan modal percaya diri yang walaupun belum pernah sama sekali mempunyai pengalaman di bidang sales. Namun, Ajie percaya bahwa ia akan mampu membuktikan kepada pimpinan perusahaan bahwa mereka tidak salah dalam memilih karyawan. Ajie melangkah ke dalam sesaat setelah menjelaskan ke security bahwa hari ini ia telah aktif bekerja.


Beberapa saat kemudian…


Di dalam sebuah ruangan, dimana saat ini beberapa karyawan yang memakai pakaian hitam putih sedang berdiri untuk briefing pagi.

Terlihat Ajie yang baru tiba di ruangan tersebut, sedang celingak-celinguk mencari sesuatu yang menurut informasi dari security bahwa ia harus ke ruangan ini.


“Kamu? Kenapa telat datang? Karyawan baru yah?” Tegur salah seorang yang memimpin briefing pagi ini.

“Eh… aku yah Bu?” Tanya Ajie bingung.

“Iya… emangnya ada orang lain selain kamu yang berdiri disitu?” Tanya Ibu itu membuat Ajie hanya garuk kepala.

“Tapi… aku disuruh datang jam 8 Bu… dan ini masih kurang 15 menit jam 8 Bu…” jawab Ajie membela diri.

“Disini, semua admin masuk kantornya jam 7.30…”

“Ohhh… gitu yah Bu….” Jawab Ajie yang tersadar bahwa ia sepertinya salah masuk ruangan.


Sepertinya salah satu dari para admin yang memakai pakaian hitam putih tidak asing baginya. “Eh… mba… lulus juga yah. Hehehehe.” Ajie mengalihkan pandangannya saat melihat seorang gadis yang memakai pakaian hitam putih. Mitha, gadis yang bertemu dengannya saat interview sebelumnya hanya menoleh dan tersenyum saat melihat Ajie yang menegurnya barusan.

“Hei… kamu, di tanya malah gak jawab… baru pertama join udah telat.” Gerang Ibu tadi yang baru saja dicuekin.

“Eh maaf Bu, sepertinya aku salah ruangan yah…”

“Maksud kamu?”

“Aku SR bu… bukan admin.” Jawab Ajie membuat Ibu itu hanya geleng-geleng kepala.

“Kantormu bukan disini… semua SR berkantor di Distributor.” Jawab ibu itu membuat Ajie bingung.

“Lah… tapi, aku disuruh kesini bu sama Pak Arief.”


“Ohhh, ya sudah kamu ke ruangan pak Arief aja… tuh sana belok kiri yah.” Jawab ibu itu sambil menunjukkan ke sebuah ruangan yang terletak tak jauh dari ruangan admin.

“Baik Bu, terima kasih.” Jawab Ajie mengangguk, lalu ia pun meninggalkan sekumpulan admin dan menuju ke ruangan HR Manager.


Saat tiba diruangan HRD, Ajie akhirnya bertemu dengan Pak Arief.

Pak Arief menjelaskan tentang job descriptionnya menjadi seorang Sales Representatif. Mulai dari bertanggung jawab terhadap Primary sales dan Secondary sales di Distributor. Dan juga memonitoring bad stock di market. Ataupun propose lokal program selama setahun.

Cukup dimengerti oleh seorang Ajie saat ini, sambil mengangguk-ngangguk mendapat penjelasan dari Pak Arief. Di dalam hati Ajie, ia akan belajar dengan cepat untuk menaklukkan KPI-nya.



~•●•~​




Pantai losari, menjadi salah satu tongkrongan yang banyak di minati warga di kota Makassar. Seperti sore ini, di salah satu jajanan Pisang epe terlihat sebuah City car yang baru saja berhenti di depan gerobak.

Terlihat sepasang kekasih baru saja turun dari mobil tersebut. Berjalan melewati trotoar sambil gandengan tangan mencari tempat duduk untuk menikmati pisang epe di sore ini.

“Kak, di situ aja…” Ujar si cewek sambil menggelayut manja di lengan si cowoknya.

“Iya, yuk…” Jawab cowok tersebut.

“Daeng Pisang keju coklat-nya 2 yah” Ujar sang cowok memanggil pedangan pisang epe.

“Minumnya mas?” Tanya pedagang yang menghampiri mereka berdua.

“Mineral aja.” Jawab si cewek menimpali.

Tak begitu lama akhirnya pesanan mereka berdua telah tiba, dan mereka berdua mengobrol santai sambil sesekali saling meremas tangan.

“Gimana kuliahnya sayang?” Tanya si cowok.

“Hmm, yah gitu deh kak… namanya juga mahasiswa baru.” Jawab si cewek. “ Jadi yah, harus menyesuaikan diri dulu di kampus kak.” Lanjutnya.

“Semangat yah sayang.”

“Iya, hehehe…” Jawab si cewek sambil tersenyum manja.


Saat si cewek baru saja ingin menyerup mineral waternya, tiba-tiba seorang pria baru saja lewat di sampingnya dan menyenggol lengan kanannya. “Eh… hati-hati mas.” Ujar si cewek yang keciprat air dari botol mineral.

Pria itu hanya menoleh kesamping dengan wajah datarnya tanpa ekspresi sedikit-pun. “Maaf.” Ujar pria tersebut.

“Makanya kalau jalan itu lihat-lihat bos…” Kata pasangan si cewek yang baru saja tak terima kekasihnya di senggol oleh pria itu.

“Udah kak, gak apa-apa kok.” Jawab si cewek mencoba mengalihkan emosi cowoknya.

“Iya, kan aku dah minta maaf… manja banget sih.” Ujar pria yang menyenggol lengan si cewek. Dan pria itu segera meninggalkan sepasang kekasih itu dan memilih untuk nongkrong di tempat lain.


“Dasar begal, lihat aja sayang… sombong banget.” Ujar si cowok saat pria tadi meninggalkan mereka. “Hanya naik motor butut aja, sombongnya udah selangit.”

“Udah kak, ngapain juga dibahas… kan orangnya dah pergi.” Jawab si cewek.

“Iya tapi saya masih kesal ma dia.”

“Udah ah… mending bahas yang lain.” Ujar si cewek. Dan akhirnya si cowok mengangguk mengiyakan.


~•●•~​




Di salah satu pasar traditional yang terletak di daerah utara kota Makassar. Terlihat Ajie baru saja memarkirkan motornya di tempat parkir yang di sediakan.

Ajie membuka jaket dan helmnya, lalu ia kembali mengecheck perlengkapan tempurnya sebelum kunjungan ke beberapa outlet.

Yah, pagi ini Ajie melakukan rutinitasnya menjadi seorang Sales dan Pasar Daya inilah yang menjadi salah satu jadwal kunjungannya hari ini.

Setelah merasa lengkap semuanya, mulai dari leaflet beberapa program yang berjalan dan juga beberapa matrix form penandatanganan program untuk outlet-outlet yang akan mengikuti program tersebut.

Merasa lengkap, maka Ajie melangkahkan kakinya masuk kedalam pasar dan mulai mengunjungi satu persatu took-toko di pasar itu.


“Assalamualaikum Pak Haji, apa kabar nih… wah sibuk banget nih yah.” Ujar Ajie, mengawali opening step saat tiba di depan salah satu toko grosir besar dan saat ini pemilik toko yang di panggil pak haji sedang duduk di meja kasir.

“Apa lagi itu kau bawa? Edede tidak laku barangmu disini.” Ujar Pak haji dengan logat khas daerah saat melihat Ajie yang sudah berada di hadapannya.

“Iya bos, tenang saja… bisa ngobrol dulu gak?” ujar Ajie tersenyum ramah. Salah satu step awal yang harus dilakukan seorang sales. Tersenyum dan memberi salam.


Mulailah Ajie melakukan negosiasi mengenai program-program yang berjalan saat ini, dengan skill komunikasi yang ia miliki cukup mampu menjelaskan secara detail program tersebut.

Akhirnya setelah dijelaskan, pak haji cukup mengerti dengan penawaran yang ditawarkan oleh Ajie.

Saat mereka serius mengobrol, seorang gadis cantik tiba-tiba datang. “Assalamulaikum.” Ujar gadis itu memberi salam.

“Wa’alaikumsalam…” Jawab Ajie dan Pak haji bersamaan.

“Kok belum berangkat sayang?” Ujar Pak Haji saat gadis itu baru saja menyalim tangannya.

“Malas Pah… hehehe,” Jawab gadis itu. “Eh elu?” Lanjutnya sedikit terkejut saat menyadari seorang pria yang familiar sedang duduk di depan papahnya.

Ajie, hanya menoleh ke gadis itu. Keningnya mengkerut karena sedang memikirkan siapa gadis itu. “Aku?” Ujar Ajie menunjuk hidungnya sendiri.

“Iya… elu, masa monyet sih.” Jawab gadis itu.

“Huss, Ren… kok gitu bahasanya nak?” Tegur Pak haji ke gadis itu.

“Aneh…” Celetuk Ajie yang cukup terdengar di kuping gadis itu.

“Apa lo bilang? Huh!!”

“Gak… lagian, apa salah aku Bu.” Jawab Ajie dengan memanggil Ibu ke gadis itu, jelas saja gadis itu makin tersulut emosinya.

“Emang gue yang lahirin elu? Pake acara manggil Ibu segala.”


“Iya Maaf.” Ujar Ajie.

“Udah… udah… Reni, kamu kenapa sih nak?” Tanya Pak Haji.

“Ini pah, dia pernah nyenggol Reni sampai baju Reni jadi basah.” Jawab Reni menjelaskan.

“Basah??????????? Nyenggol???” Ujar Ajie heran. “Keknya Ibunya salah orang deh.”


“Gak lah… secara gue kenal banget muka lo.” Jawab Reni. "Dan stop panggil ibu ke gue yah... gue bukan ibu lo."

“Reni… sudah nak, mending kamu ke kampus aja… ngapain ngomel disini.” Kata Pak Haji membuat Reni hanya mendengus kesal.

“Pah, gak usah order barang dia yah Pah… awas loh, nanti Reni ngambek ma papah.” Ujar Reni.


“Apa hubungannya order barang dengan basah atau nyenggol-nyenggol tadi.” Kata Ajie yang masih berusaha mengingat wajah gadis itu.

“Bodo’… pokoknya papah ingat yah kata-kata Reni,” Kata Reni tak menggubris pria di sampingnya. Lalu ia pun menyalim kembali tangan Pak Haji dan berpamitan untuk keluar lagi.


“Maaf yah dek, maklum anak bapak satu-satunya tuh… jadi rada gitu kelakuannya.” Ujar Pak Haji saat anaknya sudah pergi dan kembali mengajak ngobrol si Ajie.


“Hehe, biasa itu Pak… tapi jujur aku lupa ketemu dimana sama anak Bapak… atau mungkin dia salah orang yah.” Kata Ajie yang putus asa tidak mengingat wajah anak pak Haji.

“Ya udah, jadi gimana tadi?” Jawab Pak Haji mengingatkan kembali apa yang Ajie tawarkan tadi yang sempat terputus.

“Oh jadinya gimana Pak, mau ikut program yang mana nih?” Jawab Ajie.

“Kamu atur aja, asal bapak bisa capai target dan bisa dapat hadiah.”

“Ok deh Pak, nanti Ajie coba hitungkan dulu targetnya yah… biar parallel juga dengan average sales bapak tahun lalu… biar gak jauh selisihnya.”

“Sipplah…” Ujar Pak Haji.

“Ya udah Pak, Ajie pamit dulu yah. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” Akhirnya Ajie pun pergi meninggalkan toko Pak Haji dan mengunjungi toko-toko lainnya.


~•●•~



Malam minggu, adalah malam kemenangan buat para muda-mudi yang mempunyai pasangan. Namun, buat para jones malam minggu adalah malam biasa saja.

Begitu juga yang dirasakan oleh seorang Ajie, dimana malam ini ia hanya duduk diam di depan teras rumahnya sambil memainkan smartphonenya. Ia membuka beberapa social media, dan sepertinya tidak ada yang menarik untuknya.

“Gak keluar Kak?” sapa salah satu adik perempuannya yang masih duduk di bangku kuliah.

“Males dek…” jawab Ajie singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphonenya.

“Ohhh gitu,”

“Kamu? Kenapa gak keluar?” Tanya Ajie.

“Ntar lagi, nunggu jemputan kak.” Jawab gadis itu yang bernama Amelia Prayoga.

“Hmm, hati-hati… jangan terlalu yah pacarannya.” Kata Ajie mengingatkan.

“Iya Kak, tenang aja… Amel bisa jaga diri kok.” Kata Amel, dan Ajie hanya mangguk-mangguk.

Sebuah mobil city car baru saja parkir di depan pagar rumah Ajie. "Itu yah jemputan kamu?" Tanya Ajie.

"Iya kak." Jawab adiknya.

Terlihat seorang pria baru saja turun dari mobil, lalu masuk kedalam rumah.

“Malam, kak… malam Mel.” Ujar cowok itu menyapa Ajie dan Amel.


“Malam…” Jawab Ajie namun hanya menoleh sebentar, lalu kembali melihat layar smartphonenya. "Maaf mel, telat."

“Gak kok kak... hehehe, yuk jalan…” Ujar Amel.

“Kak, kami pergi dulu yah.” Ujar Amel.

Ajie menoleh kembali, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya saat ini. “Gak pamit ma mamah dan papah dulu Mel? Kayak maling aja keluar rumah gak bilang-bilang.”

“Eh iya, sampai lupa… hihihihi.” Jawab Amel, lalu ia pun mengajak cowoknya untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya yang masih berada di dalam rumah.

“Kak, Amel pergi dulu yah… assalamualaikum.”

“Hati-hati… wa’alaikumsalam.” Balas Ajie.


“Hmm, kayak kenal ma tuh cowok.” Gumam Ajie pelan saat adik dan cowok itu udah pergi. “Tapi dimana yah?”

“Ah… salah orang kali.”

Tiba-tiba, saat Ajie masih memikirkan wajah kekasih adiknya. Kedua orang tuanya keluar dari dalam rumah. “Kamu gak makan nak?” Tegur mamahnya.

“Bentar aja mah, Ajie pengen makan diluar sambil nyari udara segar.” Jawab Ajie, membuat kedua orang tuanya hanya tersenyum.

“Tumben, mau jalan.” Ledek papahnya.

“Iya nih, atau jangan-jangan anak kita udah punya cewek nih pah?” Sambung mamahnya yang ikut bantuin ledekin si Ajie.

“Belom kali mah… pah, masih pengen fokus ke karir dulu.” Jawab Ajie, lalu ia pun berdiri dan berlalu meninggalkan ke dua orang tuanya masuk kedalam rumah.


“Makanya nyari cewek, biar gak jomblo terus.” Ujar Mamahnya saat Ajie meninggalkan mereka.

“Gak mauuuuuuuuu…” Jawab Ajie teriak dari dalam rumah.

Mall Ratu Indah, salah satu Mall yang terletak di pusat kota Makassar. Di jalan ratulangi, terlihat saat ini lumayan rame. Sebuah motor Jupe baru saja memasuki area parkir Mall tersebut.

Ajie, malam ini memilih untuk sekedar jalan-jalan di Mall itu.

Dengan memakai kaos oblong dengan logo martil kecil di dada kirinya, berpadu dengan jeans denim. Malam ini Ajie terlihat santai, dengan tubuh yang atletis dan wajah yang fresh sedang berjalan menyusuri mall tersebut.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan seorang gadis dengan memakai pakaian santai berjalan mendekat ke arah Ajie.

Ajie menghentikan langkahnya, dan mencoba tersenyum saat posisi mereka berjarak 3 meteran.

“Eh elu lagi…” Ujar gadis itu menyadari kehadiran Ajie di hadapannya.

“Hai… ketemu lagi nih.” Kata Ajie menyapa dengan senyum khasnya yang menggoda. “Aku Ajie…” Lanjutnya mengulur tangannya untuk aja berkenalan.

“Ngapain lo? Ogah kenalan ma elu.” Jawab gadis itu membuat Ajie hanya geleng kepala.

“Ya sudah kalau gak mau… ntar nyesal loh.” Kata Ajie kemudian lalu menarik kembali tangannya dan memasukkan ke dalam saku jeans.

“Minggir… gue mau lewat.” Kata gadis itu.

“Lewat aja… noh… jalanan besar gini kok nyuruh minggir sih.”

“Ihhhhh… dasar.”

“Maaf.” Kata Ajie dengan wajah datarnya.

“Gak mau.” Jawab gadis itu belaga marah.

“Ok…” balas Ajie singkat.


Kemudian, tanpa pamit Ajie langsung meninggalkan gadis itu. Membuat gadis itu mengerutkan keningnya. “Gak sopan banget sih.” Ujar gadis itu saat Ajie sudah berada dibelakangnya dan melangkah menjauh dari dirinya.

“Memang.” Jawab Ajie membuat gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap ke Ajie.


“Ihhh cowok oon.” Kata gadis itu membuat Ajie menghentikan langkahnya namun tak membalikkan tubuhnya.

“Biarin.”


“Bodo’… awas kalau lo ke toko papah… bakalan gue usir.”

“Silahkan… byeee.” Balas Ajie sambil mengangkat tangan kirinya dan melangkah meninggalkan gadis itu.

“Ihhhhh… grrrrrr,” Kesel karena tida menerima perlakuan Ajie barusan. Ia pun mengejar pria itu yang menurutnya ngeselin.


“Tunggu…” teriak gadis itu.

“Hmm,” Jawab Ajie tanpa menghentikan langkahnya.

“Sok cool banget sih lo.” Ujar gadis itu menghampiri Ajie yang masih berjalan menyusuri beberapa stand di mall.

“Masa?” Jawab Ajie tanpa menoleh sedikitpun ke samping.

BUG!!! Gadis itu memukul lengan kanan Ajie membuatnya menghentikan langkahnya dan menatap wajah gadis itu dengan tatapan aneh.

“Apa?” Hardik gadis itu.


“Why?” Balas Ajie bertanya dengan kerutan di dahinya.

“Ngeselin… kenapa? Gak terima yah?”


Ajie hanya mengangkat kedua bahunya, lalu ia pun melangkah kembali.


“Tunggu…” Ujar gadis itu.

“Ada apa lagi?”


“Mau kemana?” Tanya gadis itu.

“Ke hutan.” Jawab Ajie singkat tanpa menoleh.

“Ikut.”


Akhirnya Ajie menolehkan wajahnya kesamping. Menatap heran wajah gadis di sampingnya saat ini.

“Mau jadi tarzan juga? Atau mau jadi beruang?” Tanya Ajie membuat gadis itu tersenyum.


“Lo tuh yah… ngeselin banget… tapi lucu.” Kata gadis itu saat mereka berjalan bersama. Ajie hanya mangguk-mangguk seperti tak perduli dengan apa yang di ucapkan gadis itu.


“Udah makan?” Ajie bertanya saat mereka melewati salah satu resto.

“Eh… mau traktir yah?” Tanya gadis itu menoleh ke Ajie.


“Gak…” jawab Ajie singkat lalu kembali berjalan.

“Ya udah… biar gue yang traktir….” Kata gadis itu. “Stop dulu.” Lanjutnya menahan lengan Ajie yang memang tidak menggubrisnya.

“kenapa lagi non?” Tanya Ajie menatap wajah gadis itu.

“Makan… lapar nih.”

“Ya sudah… makan aja sana.” Jawab Ajie membuat gadis itu langsung menarik lengan Ajie untuk mengikutinya masuk kedalam resto.

“Kamu, hobinya suka maksa yah.” Kata Ajie saat mereka tiba di dalam resto.

“Au ah…”

“Dasar manja…” Celetuk Ajie membuat gadis itu menoleh dan menatap wajah Ajie seakan tidak terima dengan perkataan Ajie barusan.

“Lo tu yah… MAU MAKAN APA GAK?” hardik gadis itu membuat beberapa orang terkejut melihat mereka.

“Hussshhhh… suaranya dipelanin dikit non. Kalau mau teriak, jangan disini… tapi di hutan.” Kata Ajie membuat gadis itu makin tersulut emosinya.

“Malas gue ngomong ma lu… “ Jawab gadis itu yang tak menghiraukan pria itu dan memilih duduk di kursi yang berada di sudut kanan resto.

Ajie hanya geleng-geleng kepala, dan mengikuti gadis itu untuk duduk di sebelah.

“Permisi mas, mba… mau pesan apa?” Sapa salah satu pelayan yang menghampiri mereka berdua.

“Bentar mba,” jawab gadis itu sambil melihat-lihat buku menu yang diberikan oleh pelayan itu.

“Gue Ramen yah mba.” Kata gadis itu kembali saat memilih makanan. “minumnya orange juice aja.”

“Ok, kalau masnya?” Tanya pelayan kembali dan menoleh ke Ajie.

“Sama…” Jawab Ajie singkat yang sibuk melihat layar smartphonenya.


“Oke deh… ditunggu yah pesanannya.” Kata pelayan itu lalu meninggalkan mereka berdua.

“Nama kamu Reni kan?” Tanya Ajie tanpa menoleh ke gadis itu.

“Iya, kenapa emangnya?” Jawab gadis itu yang bernama Reni.

“Lengkapnya?” Tanya Ajie kembali.

“Kenapa lo mau tau nama lengkap gue?huh!” Ketus Reni membuat Ajie hanya menyeringai.

“Nanya aja… kali aja, kenal.” Jawab Ajie sekenanya, membuat Reni mengernyitkan keningnya.

“Reni Rahayu… lagian, kalau ngomong itu harus lihat orangnya donk… bukannya ngomong tapi gak memandang lawan bicaranya…”


“Yah… kenapa?” Tanya Ajie yang sudah menoleh dan menatap wajah Reni disebelahnya.

“Hehe, biasa aja kali lihatnya.” Kata Reni tersenyum. “Cakep…” Gumam Reni dalam hati saat melihat wajah Ajie dari dekat.


“Kenapa,?” Tanya Ajie lagi dengan singkat. Hanya satu kata membuat Reni sedikit kesal berhadapan dengan pria itu.

“Ada kalimat yang lebih baik gak selain kata kenapa?”

“Kenapa kamu jalan ke Mall sendirian? Mana cowok kamu?” Jawab Ajie melanjutkan pertanyaannya membuat wajah Reni terlihat berubah menjadi sedikit sedih.

“Hufhhh, gak taulah… oh iya nama loe Ajie yah?” Reni bertanya untuk mencoba mengalihkan kesedihannya malam ini.

“Yah… Ajie Prayoga.” Jawab Ajie. “Cowok kamu sedang sibuk kan?” Lanjutnya membuat Reni hanya mengangguk pelan.

“Sibuk dan HP-nya tidak bisa dihubungi.” Balas Reni menimpali.

“Ohhh…”

“Kok Ohhh sih?” Tanya Reni.

“Terus? Masa Ahhhhh…” Balas Ajie.

“Hahahahahaha, dasar…” Akhirnya Reni kembali tertawa yang sempat tadi sedikit murung karena mengingat kekasihnya yang malam ini susah dihubungi.

Saat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol, akhirnya pesanan mereka tiba diantarkan pelayan yang tadi. “Silahkan mba, mas…”

“Makasih yah.” Balas Reni.

“Yuk ji, makan dulu.” Ajak Reni saat pelayan tadi meninggalkan mereka dan mempersilahkan Ajie untuk makan.

“Ok,”


“Singkat banget sih kata-kata lu Ji.”

“Makan dulu… ngobrolnya nanti.” Balas Ajie yang tak menghiraukan gadis itu, dan lebih memilih menyantap makanannya membuat gadis itu cemberut.

Sambil menyantap makanan masing-masing, sesekali Reni mengajak ngobrol Ajie dengan bertanya mengenai pekerjaan, hoby dan kegiatannya selama ini. Namun, Ajie hanya menjawabnya dengan kata yang singkat membuat Reni hanya mendengus kesal.

Setelah mereka makan, akhirnya Reni memanggil salah satu pelayan untuk meminta bill-nya.

“Nih mba,” Ujar pelayan saat membawakan bill mereka.

“Pakai ini aja mba.” Ujar Ajie yang sudah mengeluarkan 2 lembar uang merah untuk membayar tagihan mereka. Reni yang awalnya ingin mengeluarkan dompetnya, terkejut atas tingkah Ajie barusan.

“Kan gue yang traktir… kok lo yang bayar sih?” Tanya Reni mem buat Ajie hanya tersenyum.

“Dikamusku… biarpun aku susah, Gak akan pernah aku membiarkan cewek mengeluarkan uangnya untukku…”

“Maca cihhhh… duh sweet banget.” Kata Reni tersenyum.

“Biasa aja.” Jawab Ajie dengan singkatnya lagi, membuat Reni hanya memanyunkan bibirnya.

“Dasar orang aneh.”

“Memang…”

Next.....
Diubah oleh .nona.
Beberapa saat kemudian…

Mereka akhirnya sudah berada di depan pintu keluar Mall. “Thanks yah Ji, udah traktir.”

“Ok…” Jawab Ajie.

“Lo pulang naik apaan?” Tanya Reni.

“Motor… kenapa? Mau nebeng?” Tanya Ajie.

“Hmm, gak deh… biar gue naik taksi aja.” Jawab Reni menolak.

“Lagian, helmku cuman satu…”


“Ohhh, ya udah… Reni pulang dulu yah.” Jawab Reni saat sebuah taksi berwarna biru muda berhenti dihadapan mereka.

“Ok…”


“Byeee Ji…” Ujar reni melambaikan tangan saat berada di dalam mobil. Dan Ajie hanya membalas dengan mengangguk lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi ke parkiran motor.


Ajie hanya menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian tadi bersama Reni. Dibenaknya saat ini ada sedikit yang mengganjal, namun ia pun bingung jawabannya.

Tiba-tiba saat ia berjalan dan mencoba menyebrang ke parkiran motor. Sebuah City car melewatinya. “Kakkkkk…” Teriak seseorang dari dalam city car yang kacanya sudah terbuka.

Ajie menoleh dan melihat adiknya yang memanggilnya barusan.

Ajie tersenyum, lalu kembali melangkah ke parkiran motor. Dan sesaat setelah tiba di motor Jupe-nya. Kembali ia mengingat sesuatu.

Sesuatu yang mengganjal isi kepalanya tadi.

Lalu, setelah mengetahui semuanya ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat sebelum memakai helm dan jaketnya.





Still Continued....
Part 2


PT. Indomarco Adi Prima, Distributor nasional dari Indofood group yang terletak di jalan Galangan kapal. Sebuah gudang besar tempat penampungan barang-barang yang akan di distribusi ke market.

Di sisi kiri gedung terlihat banyak ruangan yang berpetak-petak, persis model kos-kosan berukuran sama. Principal-principalyang berkantor di IAP semuanya dari group Indofood.

Nah, salah satu dari ruangan itu adalah ruangan group yang khusus menangani produk Bumbu, kecap & sambal Indofood.

Ajie, yang baru saja tiba di kantor langsung masuk kedalam ruangan. Seperti biasa, jam segini semua belum pada datang. Ajie hanya menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke ruangan dan melihat papan monitoring di dinding sebelah kanan.

Dalam ruangan ini, terlihat 2 lemari berdekatan sebelah kanan yang memang khusus menyimpan berkas-berkas. Dan ada 1 meja lengkap dengan computer, memang disiapkan buat Sales Admin yang akan membantu team untuk masalah administrasi.

Oh iya, apakah kalian berpikir Ajie adalah seorang salesman? Tentu saja bukan.

Disini Ajie bekerja sebagai Sales Representatif. Adalah team perwakilan principal yang akan memonitoring kerjaan distributor dan juga mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan area yang memang sudah menjadi territory-nya. Bukan bekerja sebagai se-seorang yang melakukan canvasing ataupun take order di toko-toko, karena itu adalah tugas team Salesman dari Distributor.

Perbedaan antara principal dan Distributor adalah, Principal yang mempunyai barang atau produk dengan kata lain bisa juga di sebut sebagai produsen, dan Distributor yang akan membeli produk principal dengan special price dan telah di atur dalam sebuah perjanjian kerja. Dimana Distributor akan bertanggung jawab penuh dalam melakukan distribusi produk-produk tersebut di daerah territorynya.

Untuk detailnya, silahkan buka Om gugel…



Beberapa saat kemudian…


Semua team berkumpul diruangan, dimana khusus untuk kota Makassar ada 2 SR yang khusus menangani Trade atau pasar tradisional salah satunya Ajie, dan 1 SR yang khusus menghandle Modern marketseperti Supermarket, hypermarket maupun minimarket. Semua SR me-report ke ASS(Area Sales Supervisor) yang saat ini sedang memimpin meeting pagi ini.

“Ok, mungkin pertama kali saya akan ngomong kondisi kita sedang kritis… dan kamu ji, walau baru tapi harus all out untuk meminimaliskan masalah kita.” Ujar Pak Ferry bos Ajie dengan posisi ASS saat membuka suara.

“Iya Pak.” Ajie mengangguk dan mengiyakan.


“Eh iya, si Titin di tarik ke Pabrik dan yang akan menggantikan Titin untuk menjadi Sales Admin kita adalah si Mitha… anak baru gitu di sana.” Kata Ferry menjelaskan membuat Ajie mengernyitkan alisnya. “Bentar lagi dia datang di antar ma Pak Tahrun kesini.” Lanjutnya.

“Cakep gak Pak?” Celetuk Dodi salah satu SR yang menghandle area Trade yang sama dengan Ajie.

“Cantik sih… kenapa Dod? Pengen lo?” Tanya Ferry bercanda.

“Maulah Pak, siapa sih yg bisa menolak cewek cantik…” Jawab Dodi.

“Eh iya, Mitha kan kalau gak salah seangkatan ma kamu yah waktu masuk kesini?” Tanya Pak Ferry menoleh ke Ajie.

“Hmm, mungkin pak.” Jawab Ajie mencoba berfikir. “Karena sudah sebulan saya gak pernah ke pabrik pak… jadi agak lupa.” Jawab Ajie yang mengingat sudah sebulan sejak hari pertamanya menjadi karyawan ia tak pernah lagi ke Pabrik. Pertama, mengingat jaraknya yang jauh dan kedua memang Ajie selama sebulan ini sangat sibuk menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.

“Laga lu Ji, sok lupa segala… hehe,” Ujar Sem SR yang handle Modern market.

Saat ini, hanya Ajie yang menjadi SR termuda di area Sulawesi. Dan semua teman-teman se-sama Sales Rep berumuran 25 – 30 an. Sedangkan Ajie baru berumur 22 Tahun.

“Ok gini-gini… kalian pada tau gak? Saat ini kita sedang kedatangan bumbu kaldu NPD (New Product Development) sebanyak 3 Kontainer?” Kata Pak Ferry kembali serius. “Memang ini kesalahan pihak Distributor saat membuka PO dan salah dalam menginput atau memperhitungkan jumlah kemasan… Mereka masih memakai kemasan yang lama dengan perhitungan per CS itu adalah per-Pack… Sedangkan perhitungan sekarang di system… per CS itu yah per-karton…. Jadi kalian bisa banyangkan, 1 kartonnya kita ada 12 Pack…”

“Jadi produk yang tiba over 12 kali lipat dibanding rata-rata sales selama ini.” Gumam Ajie pelan dan ternyata terdengar oleh mereka.

“Yup Ji…” Kata Ferry. “Dan kalian tau? Kemarin saya ngobrol dengan SM-nya (Sales Manager) IAP… mereka akan membebani ke kita kalau produk sampai Expired di gudang.”

Semua team terdiam, dan mencoba berfikir atau menganalisa permasalahan tersebut. “Jadi gini, Ajie… mumpung kamu SR baru, jadi saya akan mencoba kasih project untuk meng-eksekusi produk tersebut di market… kalau ada apa-apa silahkan minta support ke saya.”

“Siap Pak,” Jawab Ajie dengan semangat.

“Terus yang lain, silahkan melakukan negosiasi dengan big outletnya untuk membantu kita penetrasi kecil-kecilan.”

“Baik Pak…” Jawab bersamaan kedua SR yang lainnya.


Tok…Tok…!!! Pintu ruangan diketuk saat mereka sedang sibuk-sibuknya berdiskusi mengenai project yang akan team kerjakan.

“Masuk…” Kata Ferry.

“Pagi Pak.” Seorang gadis dengan seragam Indofood dan memakain jeans bagian bawahannya baru saja masuk ke dalam ruangan.

“Mitha yah?” Tanya Ferry dan semua team menoleh bersamaan ke sosok gadis itu.

“Iya Pak, dan…” Mitha belum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Dodi sudah nyerempet mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Dodi…”

“Geblek… gak bisa lihat barang bening aje, kamu langsung nyosor Dod.” Ujar ferry sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan bawahannya.

“Ya sudah, selamat bergabung di team South yah Mit…. Udah kenal kan ama Ajie.” Lanjut Pak Ferry mulai memperkenalkan teamnya yang berada di area South.

Yah, untuk area Sulawesi selatan. Saat ini Pak Ferry memegang area South atau dengan kata lain memegang area Makassar kota dan wilayah selatan di Sulawesi Selatan. Ia bertanggung jawab atas semua area South baik primary sales maupun secondary sales. Naik turunnya volume sales semua tanggung jawab Pak Ferry.

Sedangkan Pak Ferry sendiri report ke ASM (Area Sales Manager) bernama Pak Putu, asal pulau dewata. Pak Putu kebanyakan berkantor di pabrik bersama para ASM-ASM lainnya di group Indofood.

Jelas, area cakupan Pak Putu jauh lebih luas dari pada Pak Ferry. Pak Putu saat ini menjabat sebagai ASM Sulawesi yang menghandle semua pulau Sulawesi.


Lanjut ke cerita…


“Sudah Pak.” Jawab gadis itu yang bernama Mitha dan menoleh sambil melempar senyum ke Ajie.

Namun, Ajie hanya mengangguk dan kembali fokus mencatat beberapa rencana yang akan ia kerjakan.


“Ok, meeting kita selesai… dan silahkan kembali ke pekerjaan masing-masing.” Ujar Ferry saat merasa meeting pagi ini sudah cukup. “Ingat, setiap sore, report ke saya via WA atau SMS untuk progress project ini yah…”

“Baik Pak.” Jawab ke 3 SR.


~•●•~​





Seminggu kemudian…


Malam ini, terlihat Ajie sedang duduk di salah satu meja Salesman di ruangan sales Distributor. Ia baru saja diskusi dengan para salesman di wilayah coverages-nya sebelum pulang. Aktivitas biasanya yang ia lakukan tiap pulang dari lapangan.

Melakukan review day to daynya, baik itu dari program yang berjalan maupun monitoring target setiap salesman per-harinya.

Semua salesman akhirnya pada pulang satu persatu setelah selesai briefing. Dan Ajie masih memilih untuk menyelesaikan beberapa catatan-catatan yang akan ia report malam ini ke atasannya.

“Belum pulang Mas Ajie?” Mitha, baru saja lewat menegur Ajie yang masih sibuk dengan kertas-kertasnya di atas meja.

Seorang gadis yang sudah seminggu ini bekerja sebagai Sales Admin di tempat atau bisa dikatakan di kantor Ajie untuk meng-support para Team SR ataupun Pak ferry dalam melaksanakan operasional sehari-hari.

Dan selama seminggu itu juga, sering kali Ajie memergoki bahwa gadis itu menatapnya. Namun, Ajie selalu berusaha untuk cuek dan tidak menoleh saat ekor matanya melihat gadis itu sedang menatapnya sambil tersenyum.

Mereka bertemu hanya saat di pagi hari, ataupun di sore hari saat Ajie telah kembali ke kantor. Keseharian Ajie memang 80% berada di lapangan. Kadang juga, saat Ajie telah pulang ke kantor Mitha sudah tidak berada dikantor bahkan atasan Ajie pun jarang terlihat dikantor.

Maklum, karena pria itu seringkali kembali ke kantor lewat dari jam 5. Karena memang dia selalu memaksimalkan waktunya untuk mengerjakan semua tanggung jawabnya di lapangan.

Kembali ke cerita. Dimana setelah Mitha menegur pria itu, Ajie hanya menoleh dan tersenyum saat mengetahui Mitha baru saja menegurnya. “Bentar lagi, kamu?” Tanya Ajie.

“Nih, udah mau pulang.” Jawab Mitha membalas senyuman Ajie.

“Mau bareng?” tanya Ajie.

“Hmm, gak ngerepotin yah?” Tanya Mitha dan dijawab gelengan kepala oleh pria itu.

Mungkin, ini hal yang biasa saja bagi semua orang saat pulang bareng dari kantor. Namun, bagi Ajie adalah sesuatu banget karena bisa pulang bareng dengan gadis itu.

Dalam benak Ajie, bertanya bahwa tumben gadis itu belum pulang dan masih ada dikantor sampai jam segini.


“Ya sudah, Mitha ke ruangan dulu yah Mas.” Ujar Mitha sedikit menyadarkan Ajie dari lamunannya beberapa detik. “Mitha nungguin di ruangan.” Lanjutnya sesaat sebelum meninggalkan Ajie.

“5 menit lagi, sabar yah..” Ujar Ajie dan di iyakan oleh Mitha.

Beberapa saat kemudian…


“Helm-nya 2 gak mas?” Tanya Mitha saat selesai membereskan meja kerjanya, lalu keluar ruangan. Dan Ajie sedang menunggunya di luar ruangan

“Hehe, gak ada… hanya 1 doank… “ Jawab pria itu. “hmm, ntar aku pinjem ma pak satpam dulu yah. Hehehe…” Lanjut Ajie nyengir mengingat bahwa ia memang hanya membawa 1 helm.

“Iya Mas.” Jawab Mitha dengan lembut sambil tersenyum.

Ajie menarik nafas panjang, setelah mendapat senyuman hangat dari Mitha. Lalu akhirnya ia pun meminjam 1 helm ke Pak security yang sedang berjaga di pos. Dan berjanji besok akan ia kembalikan helm-nya.


“Nih,” Ajie memberikan helm itu ke Mitha.

“Makasih…” Jawab gadis itu sambil meraih helm dari Ajie dan langsung memakai di kepalanya.

“Udah makan?” Tanya Ajie saat ia telah naik ke atas motornya sambil menoleh ke samping.

“Mau traktir nih ceritanya?” Tanya Mitha bercanda yang sudah siap-siap naik ke posisi belakang.

“Kalau mau sih… tapi kalau gak mau juga gak maksa… hehehe,” Jawab Ajie.

“Mau donk… hehe,” Jawab Mitha membuat Ajie cukup senang.


~•●•~


JASON MRAZ - I Won't Give Up


When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise

Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?

Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find

'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up

I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use

The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, I'm still looking up.

Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up


Sebuah lagu dari Jason Mraz terdengar di sebuah tape recorder warung makan yang terletak di daerah kota Makassar.

Ajie dan Mitha memilih makan di tempat itu, dengan menu khas kota Makassar. Coto Makassar, sebuah makanan yang memang banyak di sukai oleh masyarakat di kota Makassar ataupun juga para wisatawan dalam negeri maupun luar negri yang pasti akan menyempatkan untuk mencicipi makanan tersebut.

“Daging to 2 dan Es Teh manisnya juga 2 yah pak…” Ujar Ajie saat salah satu pelayan menghampiri mereka.

“Baik Mas.” Jawab pelayan itu lalu meninggalkan Ajie & mitha yang duduk di salah satu meja yang tak jauh dari kasir depan.

“Eh iya, gimana selama sebulan ini? Betah gak kerjanya?” Tanya Mitha mengajak ngobrol.

“Yah, lumayan betah… kamu gimana?” Tanya balik Ajie sambil meletakkan HPnya di atas meja.

“Hehehe, Alhamdulillah betah sih Mas.”

“Ajie aja, aku bukan orang Jawa… jadi gak usah ada embel-embel Mas-nya.” Kata Ajie membuat Mitha tertawa.

“Hehehe, iya deh…” Jawab Mitha. “Saya manggil Ajie aja yah.”

“Terserah… asal gak pake Mas dibelakangnya.”


Mitha menatap wajah Ajie di hadapannya, lalu tersenyum sambil mengembungkan kedua pipinya. Gadis satu ini, wajahnya sangat ayu. Dan bohong jikalau pria yang melihatnya tidak akan tergoda.

“Kenapa?” Tanya Ajie bingung melihat tingkah gadis itu.

“Gak kok… hehehe,” Jawab Mita tanpa mengalihkan tatapannya.

Ajie mengernyitkan alisnya, saat kembali mendapatkan tatapan dari gadis itu.

“Kalau dilihat-lihat, hmm… kamu cakep juga yah.” Kata Mitha selanjutnya, sambil memiringkan wajahnya tanpa mengalihkan pandangannya ke Ajie.

“Dasar…” Ujar Ajie yang mencoba bersikap biasa.

“Permisi…” Tiba-tiba pelayan yang menghampiri mereka tadi, sudah tiba dengan membawa 2 mangkuk coto beserta 2 gelas es teh manis. Pelayan itu meletakkan pesanan mereka berdua di atas meja. “Silahkan…”

“Makasih yah Pak.” Jawab Ajie yang hampir bersamaan dengan gadis itu.

“Mari makan…” Ujar Mitha tanpa di komandoin, dan segera mencampur makanannya dengan beberapa bumbu seperti kecap dan juga sambel. Tak lupa, menaruh garam sedikit agar rasanya gak terlalu hambar.


“Suka pedas juga yah?” Tanya Ajie saat melihat gadis di hadapannya memasukkan se-sendok sambel di mangkok cotonya.

“Hehe, lagi pengen aja.” Jawab Mitha.

Gadis itu setiap kali menatap Ajie selalu tersenyum dengan mata berbinar yang tampak Indah, membuat Ajie selalu salah tingkah. Ajie mencoba mengalihkan kedua matanya agar tak bertatapan dengan gadis itu.

“Hmm,…” Gumam Mitha.

“Kenapa?” Tanya Ajie yang akhirnya kembali melihat wajah gadis itu.

“Gak jadi deh.” Jawab Mitha menatap mata Ajie.

“Dasar aneh…” Celetuk Ajie yang kemudian melanjutkan menyantap makanannya.


“Kamu dah menikah?”

“Uhukkk…uhukkk…” Hampir saja Ajie keselek saat tiba-tiba gadis itu bertanya.

“Hahahaha, kok jadi batuk gitu Ji?” Tanya Mitha sambil tertawa melihat tingkah Ajie dihadapannya.


“Habisnya, kamu ngagetin.”

“Hah??? Emang Mitha ngagetin gimana?” Tanya Mitha seperti mempermainkan pria itu.

“Gak… lupakan.” Jawab Ajie yang tak berani menatap wajah gadis dihadapannya.


“Belum dijawab loh pertanyaan Mitha tadi.”

“Yang mana?” Tanya Ajie.

“Udah menikah pa belum?” Mitha kembali bertanya.

“Hahaha, yah belum lah… belum mikir sejauh itu, karena masih pengen ngejar karir.” Jawab Ajie sambil menyantap makanannya.

“Ohh,.”


“Kalau kamu?” Tanya Ajie balik.

“Sudah…” Jawab Mitha, membuat Ajie sedikit terkejut atas jawaban gadis itu.

“Masa sih?”

“Kalau iya, kenapa? Dan kalau belum, kenapa juga?Huh!” Tanya gadis itu yang tak melepaskan tatapannya ke Ajie.

“Ntahlah…” Jawab Ajie mengangkat kedua bahunya.

Jelas sekali bahwa Ajie tak ingin bertanya ataupun mengobrol banyak dengan gadis itu, dikarenakan ia akui bahwa gadis di hadapannya saat ini memang sedikit mengganggu pikirannya beberapa hari ini. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu saat tes interview lalu, Ajie sudah sedikit mengagumi kecantikan gadis itu.


“Oh iya, kamu tinggal ma ortu atau ngekos?” Tanya Mita lagi saat mereka selesai menyantap makanan.

“Ma ortu. Kamu?” Tanya Ajie sambil menyeka mulutnya dengan tissue setelah menghabiskan minumannya.

“Kos… hehe, malas tinggal ma ortu.” Jawab Mitha.

“Oh, biar mandiri yah…” Ujar Ajie.


“Yup.” Jawab Mitha tersenyum.

“Sudah?” Tanya Ajie saat melihat Mitha sudah menghabiskan minumannya.

“iya… yuk ah.”


Setelah membayar di kasir, mereka keluar dari warung menuju motor Jupe kesayangan Ajie.

“Nge-kos dimana?” Tanya Ajie sambil memakai helm.

“Di Jalan Kakak Tua depan TVRI…” Jawab Mitha.


“Ok sip…” Ajie kemudian menyuruh Mitha untuk naik di posisi belakang.

Selama perjalanan Ajie hanya diam dan fokus mengendarai motornya sambil menatap jalan di depannya, sedangkan Mitha terlihat sedang sibuk mengetik di layah Smartphonenya. Sepertinya gadis itu sedang membalas pesan dari seseorang melalui applikasi Whats Up.

Akhirnya mereka tiba di depan salah satu kos-kosan yang lumayan besar di daerah Kakak tua. “Masukin aja motornya.” Ujar Mitha saat mereka tiba di depan pagar.

“Aku langsung aja yah… udah malam.” Jawab Ajie menoleh saat Mitha baru saja turun dari motornya.

“Yang suruh kamu singgah siapa? Hayooo…”

Ajie kembali menunduk tak berani menatap wajah gadis itu yang terlihat diwajah gadis itu sebuah senyuman jahil.

“Ya sudah, aku pulang dulu yah.” Kata Ajie.

“Silahkan…” Kata Mitha. “Bye Jiiii.” Lanjutnya yang segera masuk ke dalam kosannya.

Ajie hanya menatapnya dari belakang, sampai sosok gadis itu menghilang masuk kedalam salah satu kamar di kosan tersebut.

Ajie masih menatap kamar itu, yang memang entah disengaja atau tidak pintu kamarnya belum tertutup.

“Fiuhhhh….”


Akhirnya AJie memutuskan untuk pulang, sesaat setelah beberapa detik berfikir apakah ia mencoba bertamu mala m ini atau tidak di kamar kosan gadis itu.


Saat Ajie baru saja ingin meng-gas motornya, tiba-tiba HPnya bergetar dari saku celananya. Ia berhenti sejenak untuk sekedar melihat Hp-nya.


Quote:



Sebuah pesan masuk dari Mitha membuat Ajie tersenyum. Lalu ia pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah-nya. Sebuah pesan singkat, namun sepertinya lumayan berasa di hati Ajie malam ini.


~•●•~


Next....
Diubah oleh .nona.
Dalam sebuah kamar kos-kosan, terlihat seorang gadis sedang duduk di atas ranjang yang tak begitu besar. Dalam kamar kos tersebut sudah lengkap dengan AC, LCD TV 42 inch dan juga lemari yang memang telah di sediakan oleh pemilik kos-kosan.

“Kak,” Ujar gadis itu saat melihat seorang pria baru saja keluar dari kamar mandi namun masih memakai handuk.

Pria itu melangkah mendekati gadis itu, lalu ia pun duduk di samping gadis itu membuat jantung gadis itu berdetak begitu kencang.

“Kamu sayangkan ma saya?” Tanya pria itu pelan, lalu meraih tangan gadis itu kemudian mengecupnya. “Muachhh…”

Sontak, membuat tubuh gadis itu bergetar.

Tanpa diketahui siapa yang memulai, akhirnya bibir mereka bertemu. Menyatu dalam suasana erotis malam ini di dalam kosan yang lumayan sejuk dan wangi. “Mhhhfffffmmmm!!”

“Ck…” suara bibir mereka beradu, dengan lidah yang berliuk-liuk menggelitik rongga dalam mulut mereka yang dilakukan bergantian satu sama lain.

“Uhhhkkk…” Pria itu menggelitik belakang telinga gadis itu, tanpa melepaskan ciumannya.

Kedua tangan gadis itu hanya memegang lengan dan pundak pria itu yang sedang memberikan rangsangan terhadapnya. “Uhhh, kak…”

Pria itu melepaskan bibirnya, dan memulai mencium tiap inci kulit di kepala gadis itu. Mulai dari telinga, hidung, mata dan kembali kebibir dengan pelan namun pasti.

“Oughhhh…” Desah gadis itu saat jemari pria telah menggelitik telinganya dengan menggunakan lidah.

“Kak, haruskah kita lakukan?” Tanya gadis itu yang tiba-tiba tersadar dan mencoba memohon kepada pria itu.

“Kamu sayangkan ma saya?” Tanya pria itu dan dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.

“Sttttttt…” Desis gadis itu saat tubuh bagian tengahnya yang sedikit menonjol di sentuh pelan oleh pria itu.

Lalu…

Tok…Tok…Tok…!!! Suara ketukan di pintu kamar membuat gadis itu langsung salah tingkah kegiatan pun terhenti. Sang pria pun berguman sambil menahan marah kegiatannya merasa terganggu.

Tok…Tok…Tok!!! Kembali ketukan dipintu terdengar oleh mereka berdua.

Tok…Tok…!!! “Iya sabar…” jawab pria itu yang melangkah ke pintu.

Krieeekkkkkk!!!

Pintu terbuka, dan menampakkan wajah seseorang. “Sia-………

Still Continued…
jejak 👣
Balasan post loongbeach77
silahkan gan meninggalkan jejak...
Update dong kakak..
jejak dulu. Amel apa Reni tuh yg lagi ena2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di