alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jiwa Yang Terbelenggu Iblis [Update Bab 1 06-11-2018] Part 2
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be1b9e2582b2ecf418b4567/jiwa-yang-terbelenggu-iblis-update-bab-1-06-11-2018-part-2

Jiwa Yang Terbelenggu Iblis [Update Bab 11-11-2018]

BAB 1

Tentang Kepergiannya


Jakarta 1983, baru saja diresmikan gedung telekomunikasi yang berpusat di daerah kelapa gading. Gedung itu merupakan gedung pencakar langit kelima yang berdiri kokoh menghiasi ibukota. Tahun era-80an Indonesia mulai banyak membangun gedung untuk area perkantoran.

Rosmi, wanita 45 tahun yang sudah mengabdikan dirinya bekerja sebagai karyawan telekomunikasi selama kurun waktu 20 tahun saat ini bisa bernafas lega karena bisa menikmati berbagai macam fasilitas yang memadai. Kantor terdahulunya bertempat di sebuah ruko. Bisa dibayangkan kalau sebuah ruko didiami hampir 50 lebih manusia yang ada di dalamnya. Rosmi kini bisa menikmati pemandangan lalu lintas keramaian ibukota dari balik jendela kaca yang berada di lantai 10 tempatnya bekerja. Selain menikmati suasana kantor baru ia juga menikmati jabatan baru.

Papan tulisan yang diletakkan di depan mejanya bertuliskan Ir. Rosmi Rahayu Asisten Kepala Bidang Pelayanan Pelanggan. Sebelumnya dia menjabat sebagai supervise dan kini naik ke tahap selanjutnya sebagai asisten kepala bagian. Rosmi selalu mengenakan kacamata yang trend pada tahun 80-an dengan rantai yang terikat pada ujungnya dan menggantung pada leher bagian belakang. Rosmi sangat terkenal ramah di lingkungan kerjanya begitu juga kepada ketiga anaknya.

Anak sulungnya bernama Angga, 19 tahun yang baru saja memasuki semester kedua di bangku perkuliahan. Angga harus berjauhan dengan keluarganya karena kuliahnya bukan di kota Jakarta melainkan di Malang tempat ayah ibu Rosmi tinggal. Putri keduanya, Firli, duduk di bangku SMU kelas 2, dan yang terakhir adalah Bondi, putra bungsu Rosmi yang masih berumur 10 tahun.

Belakangan ini Rosmi merasakan kegelisahan yang mendalam. Hal ini dikarenakan suaminya, Mahdi, kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari. Entah apa penyakit yang diderita oleh suaminya itu yang jelas suaminya itu terlihat semakin kurus seperti tengkorak hidup. Suaminya enggan untuk dibawa Rosmi pergi ke dokter atau rumah sakit sekalipun. Alhasil, Firli dan Bondi bergantian mengurus ayahnya saat ibunya bekerja.

Firli pernah bercerita kepada ibunya bahwa ayahnya itu pernah memuntahkan sesuatu yang dianggap Firli tidak wajar. Serpihan beberapa kaca yang bercampur darah. Rosmi menenangkan anaknya itu dan memberikan pengertian mungkin saja sebuah nasi yang terlihat mirip seperti serpihan kaca. Tetapi Firli bersikeras bahwa ia melihat dengan matanya sendiri ayahnya memuntahkan sesuatu yang aneh. Tak hanya itu saja, Firli menyampaikan kepada ibunya bahwa Bondi juga sering menjadi saksi bahwa ayahnya sering mengingau mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti. Seperti seseorang yang sedang berdoa atau mengucapkan sebuah mantra.

Firli menekankan bahwa anak usia 10 tahun tidak mungkin bisa untuk berbohong. Saat pulang kerja pukul 16.00 biasanya Rosmi yang merawat suaminya itu. Sebagai seorang istri yang sukses berkarir Rosmi tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri. Dengan kesabaran penuh cinta kasih Rosmi menyuapi suaminya yang menahan rasa sakit.

“Mas sebaiknya saya bawa ke rumah sakit saja ya? Kondisi Mas Mahdi sudah terlihat semakin memburuk. Kurus kering begini. Saya takut kalau nanti terjadi apa-apa sama Mas Mahdi”, kata Rosmi sambil menyuapi suaminya.

Mahdi hanya bisa menggelengkan dengan suara yang tidak begitu jelas dan tidak bisa dimengerti. Rosmi pun kecewa untuk sekian kalinya. Tetapi kekecewaannya kali ini bisa dihilangkan berkat ide cemerlang anak keduanya, Firli. Rosmi memberikan obat tidur kepada makanan yang baru saja dinikmati oleh suaminya itu.

Dalam hati kecilnya Rosmi berkata,”Maaf Mas. Kalau nggak begini kamu nggak akan sembuh-sembuh.”

Mahdi tidur terlelap setelah menyantap hidangan tadi. Rosmi bersama kedua anaknya membawa suaminya menuju ke rumah sakit dalam keadaan tertidur pulas.

“Hati-hati jangan sampai kebangun. Bondi duduk di tengah saja ya jagain Ayah”, kata Rosmi di dalam mobil. Sesampainya di rumah sakit, Mahdi segera mendapat penanganan medis dengan cepat. Dokter memeriksa keadaan Mahdi selama satu jam. Lalu dokter pun keluar disambut Rosmi beserta kedua anaknya.

“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” Rosmi memberikan sebuah pertanyaan yang cukup susah bagi kebanyakan dokter untuk menjawabnya.

“Mohon maaf, Bu Rosmi. Suami Anda baru saja meninggal. Setelah saya periksa anehnya saya tidak menemukan penyakit kronis atau berbahaya. Saya juga sudah melakukan prosedur penyelamatan untuk sang pasien. Yang menjadi pertanyaan adalah semua organ vital berfungsi dengan baik tapi mengapa secara mendadak suami Ibu rosmi meninggal. Yang tabah Ibu. Semoga amal ibadah Bapak diterima disisih-Nya.”

Air mata Rosmi langsung tumpah membasahi pipinya. Firli dan Bondi ikut merasakan kesedihan yang dialami Ibunya itu. Firli menenangkan Ibunya yang lemas tak berdaya sementara itu Bondi berusaha menghubungi kakaknya di Malang untuk memberikan kabar duka bahwa ayahnya telah meninggal. Angga langsung bertolak ke Jakarta untuk menghadiri proses pemakaman ayahnya. Di rumah Rosmi sudah berdiri kokoh tenda dan bendera putih pertanda rumah tersebut sedang dirundung duka. Jasad Mahdi di tempatkan pada ruang tamu yang tertutupi oleh kain.

Rosmi belum memandikan dan mengkafani suaminya karena menunggu kedatangan anak sulungnya, Angga. Pagi sekitar pukul 7 Angga tiba di rumah. Isak tangis pun terulang kembali. Angga mencium kening ayahnya sebagai momen perpisahan yang tak akan terlupakan. Para tetangga dan sanak saudara datang silih berganti. Puncaknya ketika proses pemakaman Angga turut andil masuk ke liang lahat dan menempatkan jasad ayahnya di tempat peristirahatan terakhirnya.

Ayah dan Ibu Rosmi tidak hadir dipemakaman menantunya yang terlihat mertua dari Rosmi datang. Ibu dari Mahdi terlihat mengalami shock atas kematian anaknya. Beberapa kali tidak sadarkan diri. Mahdi merupakan anak semata wayang di keluarganya. Sebelum sakit, Mahdi yang sukses selalu membantu perekonomian keluarganya. Dia terkenal sangat berbakti terutama kepada Ibunya yang sangat disayanginya.

Rosmi terlihat letih karena terlalu sering mengeluarkan air mata. Kantung matanya mulai menebal dan terlihat menghitam. Malam hari ini dia harus menyiapkan acara tahlilan. Tepat pukul 7 malam para tetangga dan sanak keluarga berkumpul untuk mengikuti acara tahlilan ata meninggalnya suami Rosmi, Mahdi. Lalu ada seseorang wanita menyeletuk dengan nada yang kurang enak didengar.

“Saya heran sama Mahdi. Saya benar-benar nggak tahu dia sakit apa. Dia juga nggak kasih kabar. Tau-tau sudah meninggal. Kalau dilihat kondisinya kurus begitu pasti nggak dirawat sama istrinya. Kan istrinya sibuk. Wanita karir bos besar di perusahaan telekomunikasi”, kata wanita itu kepada tetangga terdekat Rosmi yang datang. Seketika Rosmi bergidik dan sedikit kecewa atas ucapan wanita itu. Dia adalah Aini, kakak kandung Mahdi.

“Maaf tante nggak usah didengerin omongan Ibu saya. Orangnya memang begitu. Suka ceplas-ceplos nggak lihat perasaan orang bagaimana yang dikritiknya”, seseorang gadis berbicara menghampiri Rosmi. Dia adalah Lena putri kandung Aini.

Acara tahlilan pun telah selesai. Para pendoa almarhum juga telah meninggalkan acara. Satu per satu kerabat Rosmi juga pulang. Ibu Mahdi masih tetap di rumah.

“Buk, Bondi pengen dikelonin sama Ibuk. Bondi takut tidur sendiri”, Bondi mengeluh kesah kepada Ibunya.

“Sudah kelas 4 SD masak minta dikelonin. Yaudah mala mini saja ya. Besok Bondi harus tidur sendiri. Takut kenapa emangnya? Takut sama ayah? Ayah kan sudah pergi dengan tenang. Nggak ada yang perlu ditakutkan.”

“Atau sama nenek saja ya? Ibumu capek Nak kasihan”, Ibu Mahdi menyela pembicaraan antara anak dan ibu. Bondi hanya menggelengkan kepala.

Rosmi menemani anak bungsunya tidur disampingnya dan mengusap rambutnya. Bondi mulai tertidur. Lalu Rosmi melihat ada foto keluarga yang terpajang di meja dekat tempat tidur Bondi. Disitu terlihat Mahdi, suaminya mengangkat Bondi di pundaknya pada saat Bondi berusia 7 tahun. Rosmi kembali meneteskan air mata. Bondi terbangun lalu memeluk erat ibunya. Tak beberapa lama suara derap langkah terdengar sangat kencang. Pintu terbuka dan ternyata yang datang adalah Firli. Terlihat Firli sangat ketakutan.

“Ada apa Fir? Kok kelihatan ketakutan gitu. Bobok gih sudah jam 10 malam. Besok kamu harus bangu pagi ke sekolah”, kata Rosmi.

“Buk, tadi Firli dengar suara yang manggil-manggil nyebut nama Firli. Mirip suara Bapak. Firli takut , Buk!”

“Mana mungkin Bapak manggil. Bapak sudah pergi ke tempat terindah. Alamnya sudah berbeda.”

“Tidur dikamar Bondi saja ya. Biar kamu nggak ketakutan tidur sendirian” Rosmi menenangkan putri keduanya itu.

Akhirnya mereka bertiga tidur bersama dan saling berpelukan satu sama lain. Mereka tertidur pulas seakan melepaskan beban berat yang ada.

To Be continued


emoticon-Salam Kenal


Diubah oleh dan7490
Urutan Terlama
Sebelumnya https://www.kaskus.co.id/thread/5bd8...ile&med=thread
Quote:


Diubah oleh dan7490
np gk d bikin indeks aj gan?


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di