alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be1a83e925233ab028b456d/tak-ada-maskapai-bebas-kecelakaan-dalam-10-tahun-terakhir

Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir

Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) didampingi Direktur Kelaikan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKKPU) Avirianto (ketiga kanan) dan Managing Director Lion Air Group Daniel Putut (kedua kiri) melakukan sidak kelaikan terbang pesawat Lion Air jenis Boing 737 Max 8 yang akan terbang di bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (4/10/2018)
Berdasarkan catatan Aviation Safety Network (ASN), tak satupun dari 14 maskapai penerbangan sipil komersial yang beroperasi di Indonesia bebas dari kecelakaan dalam 10 tahun terakhir--baik dalam skala kecil maupun besar.

Lion Air mencatat kecelakaan fatal terbanyak, 7 peristiwa dalam 10 tahun terakhir dibandingkan dengan 13 maskapai lainnya. Mayoritas disebabkan tergelincir saat mendarat hingga pesawat keluar landasan pacu.

Peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP untuk rute penerbangan JT-610 dari Jakarta menuju Pangkalpinang pada 29 Oktober 2018 menambah daftar kecelakaan fatal maskapai yang aktif di Indonesia sejak 1931, menurut catatan Aviation Safety Network (ASN).

ASN mendefinisikan kecelakaan fatal terjadi saat minimal satu orang dalam pesawat terluka serius atau meninggal dunia, kelalaian manusia yang menyebabkan mesin pesawat rusak dan mengganggu penerbangan, atau pesawat hilang.

Dilihat dari sejarahnya, data ASN yang diolah tim Lokadata Beritagar.id menunjukkan jumlah kecelakaan fatal di Indonesia sejak 1931 hingga 29 Oktober 2018 yakni 410 peristiwa dengan jumlah korban mencapai 3.176 jiwa.

Kecelakaan terparah terjadi pada penerbangan Garuda Indonesia Airbus A300B4-220 bernomor registrasi PK-GAI. Penerbangan dengan rute GA152 dari Jakarta menuju Medan pada 26 September 1997 itu menyebabkan 234 orang meningggal dunia.

Terjadi miskomunikasi pilot dengan pihak Air Traffic Controller (ATC) saat pesawat akan mendarat dan dialihkan ke landasan pacu yang lain. Sayap pesawat menabrak jurang karena terbang rendah saat dalam peralihan landasan pacu untuk mendarat.

Kecelakaan tersebut, tercatat sebagai peristiwa paling parah dalam sejarah penerbangan sipil di Indonesia, bila dilihat dari besarnya jumlah korban tewas. Tragedi Lion Air Boeing 737 Max 8 PK-LQP JT610 yang menelan 189 korban jiwa, menjadi kecelakaan terparah kedua.

Pada 1997, tercatat 12 kali kecelakaan pesawat dengan total korban jiwa mencapai 390 orang. Tiga maskapai lain yang mengalami kecelakaan pada tahun itu antara lain Merpati Nusantara pada 15 April (15 korban meninggal), Trigana Air pada 17 Juli (28 korban), dan SilkAir, 19 Desember (104 korban).

Dua tahun sejak itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 105 tahun 1999.
Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir
Rekor kecelakaan maskapai dalam satu dekade
Dalam sepuluh tahun terakhir, maskapai Lion Air yang telah berusia 19 tahun mengalami tujuh peristiwa kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 189 orang.

Sementara Indonesia Air Asia mengalami kecelakaan sekali, Garuda Indonesia sebanyak dua kali, Trigana Air Service sebanyak 5 kali, Aviastar Mandiri sejumlah 4 kali, Nusantara Buana Air (3 kali), dan Susi Air (2 kali).

Dilihat dari usia 14 maskapai ini beroperasi, Garuda termasuk yang paling tua, namun minim kecelakaan dalam 10 tahun terakhir. Adapun PT Citilink Indonesia--yang berdiri pada 2001 tetapi resmi beroperasi sebagai entitas bisnis terpisah dari Garuda Indonesia sejak 2012--setidaknya pernah mengalami satu kali kecelakaan.

Di bawah payung Lion Group, ada Wings Air dan Batik Air. Dalam catatan ASN, Wings Air pernah mengalami kecelakaan sebanyak empat kali tanpa korban jiwa. Sedangkan Batik Air pernah mengalami setidaknya satu kali, juga tanpa korban jiwa.

Berdasarkan catatan ASN tersebut, dalam satu dekade terakhir tak satupun dari 14 maskapai penerbangan sipil komersial yang beroperasi di Indonesia bebas dari kecelakaan--baik dalam skala kecil maupun besar.
Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir

Namun, perlu dicatat bahwa tingginya jumlah penerbangan membuat potensi maskapai tersebut mengalami kecelakaan jadi semakin tinggi.

Menurut catatan konsultan penerbangan OAG sejak November 2016 hingga April 2018, Lion Air menjadi maskapai dengan jumlah penerbangan paling banyak. Per April 2018, jumlah penerbangan Lion Air adalah 20.996 penerbangan, atau lebih dari dua kali lipat penerbangan Citilink Indonesia, 8.590 penerbangan.

Sementara Garuda Indonesia adalah maskapai tersibuk kedua setelah Lion Air dengan jumlah penerbangan 17.224 per April 2018. Maskapai tersibuk ketiga yakni Batik Air (11.300 penerbangan).


Pasang surut rekor keselamatan penerbangan di Indonesia
Federal Aviation Administration (FAA) pertama kali mengevaluasi penerbangan sipil Indonesia pada 1997. Saat itu, Indonesia mendapat Kategori 1, atau sesuai standar keselamatan versi International Civil Aviation Organization (ICAO).

Tetapi pada April 2007 rating-nya turun menjadi Kategori 2, sehingga Uni Eropa turut melarang maskapai penerbangan Indonesia masuk ke negara-negara Eropa. Rating Indonesia baru naik kembali ke Kategori 1 pada Agustus 2016, setelah FAA melakukan penilaian ulang terhadap perangkat keselamatan penerbangan sipil di Indonesia.

Uni Eropa pun pada Juni 2018 mencabut larangan terbang bagi seluruh maskapai Indonesia. Sebelumnya, tujuh maskapai sudah dihilangkan dari daftar hitam, tetapi baru pada Juni 2018 itulah semua maskapai Indonesia bisa masuk lagi ke Eropa.

Lalu, hasil penilaian ICAO memberi skor rata-rata 80,34 persen dalam hal efektivitas implementasi Indonesia terhadap delapan faktor menurut Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP). Capaian pada 2017 ini cukup tinggi bila dibandingkan 185 negara anggota ICAO yang lain.

Audit yang dilakukan terhadap regulator beserta para operator termasuk Lion Air itu, menunjukkan bahwa Audit Keselamatan Penerbangan di Indonesia telah sesuai (compliance), bahkan melebihi standar yang ditetapkan ICAO sebesar 64,71 persen.

Namun, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 untuk rute penerbangan JT-610 dari Jakarta menuju Pangkalpinang, jatuh pada 29 Oktober 2018 setelah mengudara selama belasan menit.

Dalam konferensi pers, Senin (5/11/2018), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP itu pernah mengalami kerusakan pada indikator kecepatan udara atau airspeed indicator.

Meski demikian, kerusakan yang sudah muncul dalam empat penerbangan sebelumnya itu belum disimpulkan sebagai penyebab terjadinya kecelakaan. KNKT masih perlu data dari Cockpit Voice Recorder (CVR) yang masih dalam pencarian
Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...tahun-terakhir

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir Kepala daerah dalam himpitan kampanye

- Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir Izin taksi online bisa dicabut jika gagal jamin keselamatan

- Tak ada maskapai bebas kecelakaan dalam 10 tahun terakhir Identifikasi jenazah itu harus, dan butuh waktu

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di