alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Mungkinkah Melakukan Perluasan Area Tanam Baru di Tengah Krisis Lahan Pertanian ?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be13a71c1d770f1608b4568/mungkinkah-melakukan-perluasan-area-tanam-baru-di-tengah-krisis-lahan-pertanian

Mungkinkah Melakukan Perluasan Area Tanam Baru di Tengah Krisis Lahan Pertanian ?

Pemerintah harus menganggap persoalan alih fungsi lahan produktif pertanian sebagai masalah serius dalam keberlanjutan penyediaan pangan nasional. Setahun diperkirakan konver lahan pertanian produktif mencapai 200 ribu ha.
"Sudah ada banyak produk hukum yang mengatur penggunaan lahan. Sayangnya, pelaksanaannya lambat sekali," ungkap penasihat ahli Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Gunawan, akhir Oktober 2018 lalu.

Menurutnya, UU Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) sudah mengatur penggunaan lahan yang harus ditindaklanjuti oleh produk hukum di daerah hingga tingkat kabupaten berupa Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dengan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) sebagai turunannya.

Regulasi tersebut lanjut dia, menjadi dasar penetapan lahan prioritas untuk membuka sawah-sawah baru dan sentra komoditas pertanian baru, yang merupakan kewenangan dari kementerian/ lembaga (K/L) terkait. Pada akhir 2018, pemerintah harus sudah selesai memperbarui data LP2B per kabupaten/kota serta penghitungan alih fungsi lahan sawah menjadi nonpertanian. 

"Tapi, banyak daerah tidak punya regulasi daerah atau produk hukum daerah untuk PLP2B. Yang sering malah pelanggaran tata ruang. Jadi, bagaimana alih fungsi lahan akan berhenti?" papar Gunawan. 

Jika hal itu tidak disikapi serius, tegas dia, swasembada pangan jelas hanya akan jadi cita-cita di siang bolong, jauh panggang dari api. Gunawan menambahkan penghentian alih fungsi lahan juga harus berbarengan dengan pendataan lahan untuk ekstensifikasi pertanian pangan. 

Sebelumnya, Guru Besar Pertanian UGM, Dwijono Hadi Darwanto, mengingatkan agar pemerintah serius mencegah alih fungsi lahan pertanian produktif, menjadi nonproduktif, seperti untuk pengembangan properti. Sebab, saat ini laju alih fungsi lahan pertanian terus meningkat sehingga akan menurunkan produktivitas pangan nasional. 

Padahal di sisi lain, kebutuhan pangan nasional terus bertambah seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Jika konversi lahan itu gagal dibendung maka akan mengancam kedaulatan pangan, yang akhirnya menjalar pada ketahanan nasional. Pasalnya, Indonesia harus bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyat. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan luas lahan baku sawah terus menurun. Pada 2018, luas lahan tersebut tinggal 7,1 juta ha, turun dibandingkan pada 2017 yang masih sekitar 7,75 juta ha. 

Direktur Kajian Strategis Kebijakan Pangan IPB, Dodik Ridho Nurrochmat, mengemukakan sebenarnya pemerintah sudah menyepakati tentang lahan abadi untuk produksi. Namun, faktanya penyusutan lahan terus terjadi hingga hari ini. "Beberapa tahun yang lalu kan pemerintah sudah menetapkan lahan abadi untuk pertanian. Saat ini tinggal bagaimana kebijakan itu bisa dikawal," kata Dodik. 

Pemanfaatan Lahan Kering dan Rawa

Indonesia sampai tahun 2045 memerlukan tambahan lahan kurang lebih 14 juta hektar. Luas penambahan lahan tersebut sudah mempertimbangkan pertambahan penduduk 1,3%, Alih fungsi lahan rata-rata sekitar 60-90 ribu hektar pertahun, serta asumsi produktivitas sekitar 5,3 ton/hektar.
Dalam keterangan persnya, Kementerian Pertanian menyatakan senantiasa berusaha melakukan terobosan baru dengan ekstensifikasi penanaman padi melalui program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) yang terus dilakukan. Karena kondisi eksisting lahan sawah sudah sangat sulit untuk dilakukan perluasan. 

Potensi lahan kering di Indonesia 10 juta hektar sementara potensi lahan rawa dan lebak sekitar 10 juta hektar. Total keseluruhan ada 20 juta hektar. Lahan rawa sebagian besar berada di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Sementara lahan lahan kering paling banyak di Lampung. Saya menargetkan program pemanfaatan lahan tersebut bisa direalisasikan secara bertahap tiap tahunnya. Ini bisa memberi makan 500 juta penduduk Indonesia bahkan sampai satu miliar penduduk masih aman. 

Pemanfaatan lahan kering dan rawa ini bisa dilakukan melalui pengelolaan sumberdaya air. Pada lahan kering bisa diterapkan rainwater harvesting technology melalui pembangunan embung, sumur dangkal dan sumur dalam, dam kecil, dam parit, dan seterusnya. Untuk lahan rawa melalui pembangunan long storage. Kami berupaya mengoptimalkan lahan kering dan lahan rawa untuk mewujudkan kedaulatan pangan, khususnya untuk penyediaan beras dan juga ingin meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mengentaskan kemiskinan. 

Permasalahan utama yang menghambat peningkatan produksi padi dilahan rawa antara lain terjadinya dinamika luapan air pasang maupun sungai besar, kemasaman tanah, keracunan Fe, Aluminium, defiensi hara Ca, Mg, dan P. Tingkatan kendala-kendala tersebut beragam antartipologi lahan. Selain itu, ancaman biotik berupa serangan hama dan penyakit juga menjadi faktor pembatas produksi padi di area tersebut. Berbagai cekaman ini berfukruasi pada musim yang berbeda dan berefek negatif terhadap pertumbuhan padi dan produktivitasnya di lahan ini. Oleh karena itu dibutuhkan upaya yang terpadu untuk mengembangkan lahan rawa, baik varietas, teknik budidaya dan pengendalian hama penyakit. 

Berbagai macam upaya ditempuh, untuk mengembangkan varietas-varietas padi tertentu yang dapat hidup adaptif pada kondisi lingkungan yang keras seperti di lahan kering dan rawa. 
Beberapa varietas padi unggul terbaru yang adaptif pada kondisi agroekosistem di lahan PATB lahan kering dan lahan rawa, adalah sebagai berikut Varietas Inpago-12 Agritan sesuai untuk lahan kering masam dengan tingkat kemasaman 60 Aldd, varietas Rindang-1 dan Rindang-yang toleran terhadap kondisi naungan 50-70% dikhususkan untuk pengembangan padi di lahan perkebunan muda, varietas Luhur-1 dan Luhur-2, untuk lahan dataran tinggi diatas 750 meter diatas permukaan laut, varietas Inpara 8 dan Inpara 9 yang tahan terhadap keracunan Fe dan rendaman. Varietas Inpago untuk lahan kering, padi amfibi yang tahan di musim hujan dan kemarau, serta varietas lainnya. 

Dari segi teknik budidaya Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah merakit sistem budidaya lahan kering yang memadukan sistem budidaya organik dan mekanisasi sehingga menghasilkan daya hasil gabah tinggi, lebih efisien dan ramah lingkungan. Sistem budidaya ini dinamakan Largo Super (Lankan padi Gogo Super), dimana sekarang ini sedang dikembangkan seluas 100 hektar di Kebumen, Jawa Tengah. Kedepan, kami akan merakit sistem budidaya yang sama dengan Largo Super di lahan rawa yang lebih produktif dan berdaya hasil tinggi. 

Untuk pengelolaan lahan kering, selain ada teknologi Largo Super, larikan padi gogo yang dikombinasikan dengan pemupukan berimbang menggunakan kompos, pupuk hayati, dekomposer, dan lain-lain. Tak kalah pentingnya adalah teknologi pengelolaan air melalui pembuatan dam parit, embung, maupun teknologi sadap air. 

Selain itu, ada teknologi irigasi hemat air yang bisa mengurangi penggunaan air. Penggunaan air untuk jagung normalnya 0,6 liter/detik, dengan teknologi ini bisa menjadi 0,2 liter/detik dengan efektivitas yang sama. 

Ketersediaan varietas unggul dan teknologi sistem budidaya di lahan kering dan lahan rawa ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani di daerah lahan kering dan rawa yang selama ini dianggap marginal dan tidak tersentuh oleh teknologi. 

Dengan meningkatnya produktivitas dan meningkatkan taraf hidup serta Kesejahteraan petani diharapkan Indonesia dapat berdaulat dalam penyediaan pangan dan bisa mewujudkan kedaulatan pangan. 

Kementerian Pertanian menyarakan komitmen untuk terus berusaha menyiapkan pemanfaatan lahan kering dan lahan rawa yang tidak produktif untuk perluasan lahan pertanian. Ketersediaan lahan dan dukungan inovasi teknologi akan meningkatkan produksi Pertanian untuk mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada 2045. Jika semua potensi tersebut dipadukan, kami optimis target kita tercapai. (*)

Urutan Terlama
Diubah oleh rajin.meremas


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di