alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pertanian Organik Kunci Utama Produk Indonesia Tembus Ekspor
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be1200698e31b0e278b456b/pertanian-organik--kunci-utama-produk-indonesia-tembus-ekspor

Pertanian Organik Kunci Utama Produk Indonesia Tembus Ekspor

Pertanian Organik Kunci Utama Produk Indonesia Tembus Ekspor
Foto: H Bambang Kristiono dan istri Hj Dian Bambang berpose bersama petani di Lombok, NTB.


Indonesia dengan rangkaian kepulauan Nusantara memiliki sangat banyak potensi di sektor pertanian, baik di subsektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan juga perikanan.

Namun, modal alamiah yang terletak di bawah garis khatulistiwa, belum juga membuat bangsa ini bisa meraih swasembada pangan secara utuh. Sejumlah komoditas yang sejatinya bisa dihasilkan melimpah di negeri ini, justru masih terjadi impor dari negara lain.

"Ini yang jadi ironi. Kita ini negara yang sangat potensial di sektor pertanian, tapi justru masih banyak impor dari luar negeri. Padahal seharusnya kita berupaya agar bisa ekspor, karena kita punya keunggulan kompetitif di sektor pertanian ini," kata Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD)  Partai Gerindra, H Bambang Kristiono (HBK), Selasa (6/11) di Mataram.

Ia mengatakan, salah satu solusi tercepat untuk membangkitkan kembali potensi pertanian yang seolah "tertidur" ini adalah dengan melakukan revolusi pertanian organik.

Sebab, salah satu kendala produk pertanian Indonesia sulit menembus pasar mancanegara disebabkan oleh kualitas mutu produk pertanian yang masih rendah dan sarat dengan endapan residu kimia dari pupuk, pestisida, fungisida, dan insektisida yang selama ini digunakan para petani.

Ia mencontohkan, komoditas Kopi di Lombok memiliki keunggulan tersendiri baik varian Robusta, Arabica, maupun Liberica. Namun, produk unggulan ini pada kenyataannya masih sulit menembus ekspor, karena kualitas mutunya yang masih di bawah ambang standar negara-negara maju.

"Kita tidak mungkin bisa ekspor ke luar (negeri), kalau produk komoditi kita masih terpapar residu kimia. Apalagi standar negara-negara maju untuk komoditas yang dikonsumsi masyarakatnya itu sangatlah tinggi, karena mereka sangat peduli dengan kesehatan masyarakatnya. Jadi, solusinya adalah, pertanian organik harus digalakan secara masif di negri ini," kata HBK.

Menurut HBK, pertanian organik juga bisa menjadi nilai tambah bagi para petani dalam hal efisiensi biaya produksi. Selain itu, pola organik dalam jangka panjang juga bermanfaat untuk mengembalikan tingkat kejenuhan lahan akibat dampak penggunaan pupuk kimia.

"Ini juga bagian dari rehabilitasi lahan karena sudah jenuh akibat pupuk kimia. Maka perlu revolusi organik agar kembali produktif lahannya. Baik lahan pertanian, pertambakan, perikanan dan pantai," katanya.

Masih Setengah Hati

HBK menilai saat ini belum ada upaya  yang serius memulai pertanian organik secara massal. Pemerintah terkesan setengah hati mendorong pertanian organik  yang terbukti menjadi daya ungkit peningkatan kesejahteraan kaum tani ini.

"Kalau serius, mungkin semua (petani) sudah pakai mesin dan alat pengolahan, sehingga satu Desa atau Kecamatan itu tak perlu pupuk dan obat-obatan kimia dari luar. Ya, sifatnya pendukunglah bukan yang utama kalau diperlukan," katanya.

Caleg DPR RI dari Partai Gerindra ini mengajak generasi muda dan kaum millenial di Lombok untuk menjadi pioner penggerak revolusi pertanian organik  di wilayahnya, yang di kemudian hari bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia.

Ia menegaskan, ke depan kebutuhan-kebutuhan kongkrit untuk mewujudkan hal tersebut akan diperjuangkan melalui kewenangan legislasi dan anggaran melalui DPR RI nantinya.

"Hal ini harus mulai kita lakukan. Mari generasi muda Lombok, kita bangkitkan semangat revolusi pertanian ini. Dari Lombok, kita berbuat untuk Indonesia tercinta. Dan Inshaa Allah, kita bisa," tukasnya. 

Sumber : KATAKNEWS
cocok jadi petani, jadi gak perlu di coblos ya
Quote:


Saat seorang kader bisa menawarkan solusi yg lebih potensial sementara ketumnya malah asyik menghina orang

Btw, agak berat nembusin kualifikasi organiknya luar negeri. Kalau ga salah inget, salah satu syaratnya tu lahan sama sekali ngga boleh terpapar bahan kimia apapun selama 1 tahun lebih
Balasan post khafidz99
Quote:


bukan agak berat gan tapi mustahil
produk kita juga beda buat pasar luarnegeri, khususnya eropa
warna mangga kita hijau, orang eropa & amerika anggap warna hijau itu berarti belum mateng, termasuk apel, pisang dll emoticon-Embarrassment

terus foto2 petani kita yg suka ngasal kalo nyemprot kebunnye udah banyak beredar disana emoticon-Big Grin
Diubah oleh sudarmadji-oye
pestisida organik itu yang kalo ane coba kurang nendang dibanding yang kimia..
kalo pupuknya mah gak kalah nampol dah dari yang kimia..
Harus pakai standar , gk bisa asal organik
Balasan post biawak.pink
Quote:


Betul. Pestisida organik efekny kurang greget. Gw tanam sayur2an di rumah cuman pake pestisida organik, daunny jd lubang2. Dimakan sama belalang, ulat, kepik. Tp krn utk konsumsi sendiri, bentukny agak jelek ngga masalah, yg penting lebih sehat.

Utk pupuk pake yg organik msh bisa asalkan kondisi tanahny msh bagus. Tp kalo kondisi tanahny sudah terlanjur rusak maka dosis pupuk kandangny perlu diperbanyak. Otomatis biaya produksiny jd bengkak. Petani seneng pake urea, SP 36, KCL krn hitung2anny lebih murah. Biarpun dlm jangka panjang membuat tanah semakin keras n cadas.
ane udah lama gak mau pakai pupuk kimia.
ane pakai pupuk hijau dan pupuk kandang buat penyubur tanaman.

hasilnya bagus kok
kalo subur sih ok ok aja
ada orang gerindra yg keren ternyata.....

Seperti om bob sadino yg fokus ke pertanian dan peternakan, nyatanya bisa menghasilkan produk kelas internasional......

Jln masih sangat panjang buat petani indo, tp memang hrs ada yg memulai...


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di