alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be034fe1cbfaa7c7b8b4576/waspada-teroris-lakukan-cuci-otak-di-media-sosial

Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial

Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial
Ilustrasi: Cuci otak dengan ideologi terorisme
Sel-sel teroris melakukan aksi brainwashing alias cuci otak melalui media sosial. Aksi tersebut bisa menghasilkan pelaku teror bom bunuh diri secara mandiri atau dikenal sebagai lone wolf.

Uraian tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius, pekan lalu, di Semarang.

Ia mengingatkan di era teknologi ini, pencucian otak bisa dilakukan melalui media sosial. Pesan ideologi terorisme disampaikan secara daring. Pesan-pesan tersebut bisa memengaruhi pemikiran orang untuk melakukan hal yang destruktif.

Suhardi meminta masyarakat waspada dengan akun-akun yang bisa diduga melakukan perekrutan anggota terorisme. Masyarakat juga diminta melaporkan kepada polisi bila menemukan konten-konten yang menyebarkan paham terorisme di media sosial.

Kepala BNPT menyebutkan aksi yang dilakukan pembom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu sebagai contoh, dampak pencucian otak melalui media sosial.

Sekadar mengingatkan, pertengahan Mei lalu, Surabaya mendapatkan serangan bom bunuh diri bertubi-tubi. Minggu pagi (13/5/2018) bom meledak di tiga tempat secara beruntun.

Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Sawahan, yang menjadi sasaran. Sebanyak 28 orang tewas termasuk pelaku dan tak kurang 50 orang terluka akibat serangan itu.

Tak lama berselang, bom kembali meledak di Surabaya. Kali ini terjadi di Rusunawa Sidoarjo dan Markas Polrestabes Surabaya. Yang membuat miris, pelaku pemboman tersebut ternyata dalam ikatan keluarga.

Dita Oepriarto bersama istri dan empat anaknya dipastikan sebagai pelaku, peledakan tiga gereja. Dita meledakkan bom di mobil Toyota Avanza yang dibawanya ke halaman GPPS Sawahan; Istrinya yang membawa dua perempuannya berusia 12 tahun dan 9 tahun membom di GKI.

Sedang pelaku bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela adalah dua anak lelaki Dita yang berusia 18 tahun dan 16 tahun. Keduanya meledakkan bom yang disembunyikan dalam tas pinggang mereka.

Sementara Anton Ferdiantono, adalah pelaku sekaligus korban dalam ledakan di Rusunawa Sidoarjo. Ia tewas bersama istri dan seorang anaknya. Begitu juga pengeboman di Markas Polrestabes Surabaya, pelakunya Tri Murtiono. Ia tewas bersama anaknya saat melakukan aksi pengeboman.

Aksi cuci otak oleh jaringan teroris melalui media sosial, sesungguhnya bukan hal yang baru. Negara Islam Irak dan Syiria atau ISIS sudah sejak lama melakukannya. Mereka menggunakan media sosial untuk melakukan perekrutan anggota, sekaligus pencucian otak dan menanamkan ideologi terorisme.

Coba cermati Media Inggris The Sun. Media ini melaporkan bagaimana kuatnya pengaruh indoktrinasi dan pencucian otak yang dilakukan ISIS.

Seorang model Inggris Kimberley Miner (29) menceritakan pengalamannya, bagaimana doktrin ideologi terorisme bisa mengubah dirinya dari gadis model yang glamor, suka berpose bugil, sampai menjadi seorang jihadis.

Gadis asli London, itu mengaku jika dia dipersiapkan dan diindoktrinasi secara daring oleh perekrut ISIS Naweed Hussain. Hussain sendiri akhirnya tewas dalam serangan udara yang menghancurkan ISIS di Suriah.

Dia mengatakan, Hussain ingin menjadikan dirinya sebagai 'Janda Putih' berikutnya dan mengikuti jejak Sally Jones, seorang ibu asal Inggris yang rela mengorbankan hidupnya sebagai jihadis ISIS.

Awalnya Miner mengaku kesepian setelah mengalami keguguran dan putus dengan tunangannya. Dia pun menyadari bahwa dirinya tidak menggunakan media sosial dengan benar, sampai dia menjadi lajang dan kesepian, yang menyambut uluran tangan Hussain sebagai teman di jejaring Facebook.

Hussain digambarkan kerap menyanjungnya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Bahkan akhirnya, bisa meyakinkan Miner untuk mengubah namanya menjadi Aisha Lauren al-Britaniya.

Selanjutnya Miners dalam waktu singkat sudah menjadi endorser ISIS. Ia menyebarkan aneka konten provokatif ISIS, sampai video aksi-aksi pemboman.

Bila dicermati, proses rekrutmen sampai indoktrinasi secara daring oleh pasukan siber teroris ISIS terhadap para korban, memiliki pola yang berulang. Misalnya, korban atau sasaran adalah orang yang tengah mempunyai masalah. Lalu pelaku melakukan pendekatan, bersimpati, dan memberikan jalan keluar.

Selanjutnya pelaku memberikan aneka janji kebahagiaan, dari kehidupan duniawi sampai kehidupan di surga. Berikutnya pelaku akan melakukan isolasi terhadap korbannya. Di situlah pelaku meningkatkan kepercayaan diri korban, serta mengubah sikap dan perilaku korban.

Celakanya proses tersebut berjalan dalam waktu yang relatif singkat, dan algoritme media sosial mendukung proses tersebut. Echo chamber effect begitu sebutannya. Efek ruang gema ini membuat korban seperti katak dalam tempurung. Korban dengan gampang diubah sikap dan perilakunya, karena "lingkungan" yang mendukung.

Fenomena ruang gema ini menggambarkan pengguna media sosial yang berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa. Pendapat, pemikiran, dan komentar yang dilontarkan di ruang itu segera mendapat dukungan dari rekannya dan terus berulang gaungnya. Akibatnya orang yang berada di ruang gema tersebut meyakini pesan yang ada ruang itu adalah sebuah fakta dan kebenaran mutlak.

Tentu saja ruang gema ini bisa menjadi sangat berbahaya. Sebab bisa jadi pesan yang dipercayai menjadi kebenaran mutlak tersebut, bila diuji secara objektif, sesungguhnya adalah sebuah kesalahan atau kebalikan dari fakta.

Nah, cukup efektifkah BNPT melakukan pencegahan penyebaran ideologi terorisme hanya dengan imbauan dan ajakan untuk melaporkan bila masyarakat menemukan konten terorisme di media sosial?

Bisa dipastikan tidak. Sebab bisa jadi banyak pengguna media sosial yang belum paham memilah konten yang berbau ideologi terorisme dengan konten yang hanya penyejuk jiwa. Pun masih banyak yang tak paham dengan cara kerja media sosial yang diikutinya.

Suka tidak suka, saat ini media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebuah kenyataan pula bahwa pengembangan fitur media sosial, jauh mendahului kepintaran penggunanya, apalagi regulasi pemerintah yang mengatur tentang konten.

BNPT harus melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan literasi digital, termasuk menekankan tanggung jawab perusahaan pengelola media sosial itu untuk turut bertanggung jawab membersihkan platform-nya dari konten berbau propaganda kekerasan.

Dengan begitu masyarakat akan paham dan lebih bijak dalam menggunakan media sosial, khususnya menyangkut ideologi terorisme. Itu semua, sungguh, bukan pekerjaan yang gampang.
Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...i-media-sosial

---

Baca juga dari kategori EDITORIAL :

- Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial Keselamatan penerbangan dalam tanda tanya

- Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial Memastikan perlindungan pekerja migran

- Waspada, teroris lakukan cuci otak di media sosial Memulihkan kepercayaan publik kepada politisi, itulah soalnya



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di