alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Warga harus Beli Air Minum karena 'Uang Bau' Dari Anies Tak Cukup
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be02ddb96bde6461e8b4567/warga-harus-beli-air-minum-karena-uang-bau-dari-anies-tak-cukup

Warga: 'Uang Bau' Dari Anies Tak Cukup Untuk Beli Air Minum Galon Sebulan

Warga harus Beli Air Minum karena 'Uang Bau' Dari Anies Tak Cukup
Warga berlalu lalang di depan gerbang menuju TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Medcom.id - Antonio

Bekasi: Uang bau. Demikian warga menyebutkan dana kompensasi yang diberikan DKI Jakarta kepada penduduk di sekitar tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.

Uwa, 60, merupakan salah satu warga yang menerima dana kompensasi tersebut. Ia mengaku menerima dana sebesar Rp200 ribu per bulan. Terkadang, pencairannya tidak setiap bulan. Tapi, pencairannya bisa empat sampai lima bulan.

BACA JUGA
Prabowo: Di Ibu Kota Kita Sendiri Masih Banyak Rakyat yang Harus Beli Air
Kompensasi Bekasi Usulkan Dana Hibah Rp545 Miliar ke DKI

Entah sejak kapan ia tinggal di Bantargebang. Mungkin, 60 tahun. Yang jelas rumahnya lebih dulu dibangun sebelum ada TPST.

Uwa tinggal bersama istrinya di rumah yang berjarak kurang lebih 100 meter dari tumpukan sampah. Anak-anaknya telah menikah.

"Saya lahir di sini, dari sebelum ada itu (TPST Bantargebang)," kata dia di Bekasi, Jumat, 26 Oktober 2018.

Setiap hari, pagi hingga malam, bau busuk tercium dari arah tumpukan sampah. Air di rumahnya tak bisa diminum. Air tanah hanya bisa dipakai untuk mandi. Untuk konsumsi, ia dan keluarga harus membeli air.

"Kalau di sini masih bagus-bagus masih bisa buat mandi dan masak. Cuma kalau minum pakai air galon. Bisa habis Rp20 ribu per galon," ujarnya.

Jika diakumulasikan, dia dapat mengeluarkan uang sebesar Rp600 ribu tiap bulan untuk membeli air galon. Ia membeli air di warung di sekitar rumah.


Uang kompensasi yang ia terima, lanjut Uwa, digunakan untuk sejumlah hal. Seperti belanja beras dan kebutuhan pokok lainnya.

"Duit cuma segitu buat belanja beli beras beli apa, bayar utang, kalau punya anak sekolah buat bayar sekolah dan lain-lain," ujarnya.

Ia mengaku dana itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Lantaran itu, ia dan warga lain meminta pemerintah kota mengusulkan penambahan uang kompensasi tersebut.

Baca: Warga Minta Tambahan Dana Kompensasi TPST Bantargebang

Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan akan mengakomodasi usulan tersebut. Ia akan mengajukan penambahan dana tersebut ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Tapi, semuanya nanti akan kami serahkan realisasinya ke DKI," ujar Tri di Bekasi.

Soal kebutuhan air bersih, kata Tri, pemerintah kota tengah membuat saluran ke rumah sekitar TPST. Anggarannya dikeluarkan DKI.

"Anggarannya hampir Rp25 miliar. Akan disiapkan dengan instansi pengelolaan air atau water treatment plant," lanjut Tri.

sumber http://jabar.metrotvnews.com/peristi...beli-air-minum
Diubah oleh ikardus
minta tambah buat uang minum ja
1 galon habis sehari buat minum doang emoticon-Gila
Emang di bekasi ga ada galon isi ulang ?emoticon-Amazed
Jadi bang anies harus membiayai warga di bekasi ?

Logika yg aneh
Dah tutup saja...
Kan ada pembuangan baru...
Pulau reklamasi...daripada gak kepakai...
Kenapa jadi DKI yang tanggung ya?
Quote:
Quote:


Kalo gitu napa dki buang sampah ke bekasi?emoticon-Big Grin

Bikin rumah tapak, eh rumah susun, eh maksudnya rumah lapis aja bisa, napa ga sekalian tps lapis dibuatemoticon-Ngacir
sebulan 2 juta lah baru pas
Kok judulnya aneh ya? emoticon-Bingung (S)

Emang kalau "uang bau" dari wan abud cukup warga gak perlu beli air?

Jadi "uang bau" dari kadir ini berupa air atau uang?






































emoticon-linux2
Bekasi provinsi siapa
belum ada pipanisasi pdam disana yah?

hmm,,,padahal deket ibukota sudah tahun 2018 masih aja begitu.

klo di tps dekat rawa kucing di tangerang malah sudah jadi proyek percontohan energi dari sampah,bisa minimal/bahkan ga ada bau,nie bantargebang masih begini-begini aja?
Diubah oleh sukhoivsf22
Ditutup aja bantar gebang nya...duit ratusan M itu kayaknya ngga sebanding sama kerugian yang diderita warga dan lingkungan
uang bau itu istilah dari mana pula...ah elah...emoticon-Cape deeehh


klo uang ada baunya itu benar sih...emoticon-Traveller
Sehari habis 1 galon, itu buat minum doang atau sama cuci muka juga ya? emoticon-Bingung (S)

Dan aneh juga ini pak uwa, airnya bisa buat mandi sama masak, tapi gak bisa buat minum emoticon-Hammer (S)



























emoticon-Ngacir
Balasan post pocaco
Quote:


Kalok pekarangan rumah ente ditaroh sampah tetangga reaksi ente :

A. Bahagia, terharu, sampai sujud syukur
B. Tertawa terbahak bahak
C. Emang Pekarangan rumah buat tempat sampah kok
D. Biasa biasa aja tuh, EGP..
E. Semua diatas benar..
Ko aneh omonganya...

....Uang kompensasi yang ia terima, lanjut Uwa, digunakan untuk sejumlah hal. Seperti belanja beras dan kebutuhan pokok lainnya.
"Duit cuma segitu buat belanja beli beras beli apa, bayar utang, kalau punya anak sekolah buat bayar sekolah dan lain-lain," ujarnya....

Kan emg uang bau, bukan uang gajian...
Quote:


nahhh ini ide cemerlang
Air galon merek apaan sampe 20 ribu pergalon?

Di jakarta juga dimana yg msih minum pake air dimasak? Lol

Bangun opini jangan dungu2 banget lah metro



Quote:


Kalo di tutup warga bekasi mau buang sampah dimana? Mereka buang disana juga

Kalo bantr gebang ditutup, uang ganti rugi bau sama uang hibah juga berhak di stop dari dki..

Jadi kota rusak itu bekasi bopeng2 jalannya... fasilitas ancur sana sini yg ada..

Jkt-bks simbiosis mutualisme.. mungkin kalo sampah masih bisa cari lahan lain, tp kalo uang hibah dki di stop mampus lah anggaran bekasi minus, jadi gembel semua

Quote:


Lingga, aku udah coba chat kamu kemana aja tapi kamu ga balas dan sibuk main kaskus??? Aku masuk rumah sakit dan kamu malah kayak gini?? Aku sakit ling. Katanya kamu sahabat aku, Peduli apa kamu sama aku?


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di