alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Retorika Prabowo membangunkan kembali politik identitas
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bdfe09ddc06bdbf5a8b4587/retorika-prabowo-membangunkan-kembali-politik-identitas

Retorika Prabowo membangunkan kembali politik identitas

Retorika Prabowo membangunkan kembali politik identitas
Ribuan warga Boyolali melakukan aksi damai Save Tampang Boyolali di Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (4/11/2018). Mereka berharap aparat menegak hukum untuk mengusutnya.
Tanggal 4 November mungkin bisa dikenang sebagai hari politik identitas di Indonesia. Kemarin, Minggu (4/11/2018), ribuan warga Boyolali, Jawa Tengah tak terima dengan ucapan calon presiden Prabowo Subianto. Mereka meminta maaf atas pidato Prabowo soal 'Tampang Boyolali' yang dinilai melecehkan masyarakat setempat. Ribuan warga berharap polisi mengusut Prabowo karena dinilai telah melecehkan mereka.

Dalam pidatonya, pada Selasa (30/10/2018), Prabowo menyoal ketimpangan sependek pengetahuannya. Ia bercanda, bahwa wajah-wajah seperti warga Boyolali dinilai tak layak masuk hotel-hotel mewah di Jakarta.

Dalam salah satu video rekaman yang diunggah (menit 5:09-5:21) Prabowo menyatakan hadirin bisa diusir kalau hendak masuk ke hotel-hotel mewah tersebut. "Kalian kalau masuk mungkin kalian diusir, karena tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini." Hadirin tertawa merespons pernyataan Prabowo ini.
Video Asli PRABOWO yg di potong CEBONG BOYOLALI
Rekaman video pernyataan Prabowo ini menyebar ke berbagai kanal media sosial dan pesan instan. Respons mereka belum tentu sama dengan hadirin yang melihat langsung kejadian. Warga Boyolali tak terima. Dakun, salah satu warga melaporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya, Jumat (2/11/2018).

"Saya asli dari Boyolali. Kami merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo, bahwa masyarakat Boyolali itu kalau masuk mal atau masuk hotel itu diusir karena tampangnya itu tampang Boyolali," kata Dakun seperti dinukil dari Kompas.com.

Dakun melaporkan Prabowo atas dugaan mendistribusikan informasi elektronik yang bermuatan kebencian. Ia menyodorkan pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 A 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 4 huruf b angka 2 jo Pasal 16 UU RI nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 165 KUHP.

Tak hanya itu, ribuan warga Boyolali juga menggelar aksi pada Minggu (4/11/2018) menuntut Prabowo meminta maaf.

Bahkan Bupati Boyolali Seno Samudro ikut berorasi. "Tadi di spanduk disampaikan Prabowo harus minta maaf, tetapi kami sepakat, tidak ada maaf bagimu. Yang jelas kami tidak akan memilih Prabowo. Itu saja," kata Bupati yang disokong oleh PDIP itu seperti dipetik dari detikcom.

Prabowo mengaku bingung kenapa candaannya dipersoalkan. Dia heran 'tampang Boyolali' berbuntut panjang. "Saya bingung kalau saya bercanda, dipersoalkan. Kalau saya begini dipersoalkan, begitu dipersoalkan," kata Prabowo di Jakarta, Minggu (4/11/2018) seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Walaupun heran, namun juru bicara tim capres 02 Faldo Maldini menyatakan laporan itu adalah hak warga negara. "Prabowo menghormati penegakan hukum. Pastinya, akan ikuti setiap proses hukum," kata Faldo.
Retorika ketimpangan menjual kemiskinan
Prabowo kerap membawakan retorika ketika berbicara kepada massa. Retorika, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satunya bermakna, seni pidato yang muluk-muluk dan bombastis.

Retorika yang pernah Prabowo kemukakan antara lain, kekayaan Indonesia bocor seribu triliun. Lalu soal utang Indonesia mencapai Rp9 ribu triliun, juga tentang 99 persen warga Indonesia hidup pas-pasan.

Menurut pengamat politik Universitas Indonesia, Donny Gahral Adian, retorika Prabowo soal 99 persen rakyat indonesia hidup pas-pasan itu menarik. "Sebab retorika tersebut dilontarkan oleh Prabowo yang termasuk golongan 1 persen yang tidak pas pasan," ungkap Donny, Sabtu (3/11/2018), seperti dinukil dari Tribunnews.com.

Prabowo adalah salah satu orang kaya di Indonesia. Pada 2017, pendapatan rata-rata orang Indonesia mencapai Rp51,89 juta, yang tentu habis atau malah kurang buat hidup setahun. Sedangkan Prabowo, saat mendaftar ke KPU, Agustus lalu menyatakan kekayaannya mencapai Rp1,95 triliun. Candaan Prabowo makin tak lucu saat kita tahu pendapatan per kapita penduduk Boyolali pada 2017 mencapai Rp29,4 juta atau sekitar Rp2,5 juta per bulan.

Akibatnya, anomali politik pun terjadi. Menurut Donny, di Boyolali retorika kemiskinan Prabowo berubah menjadi ujaran yang merendahkan. Orang-orang Boyolali tak terima. Pernyataan Prabowo melukai identitas mereka.

Sayangnya, permainan identitas ini diterima oleh pesaing Prabowo calon presiden petahana Joko 'Jokowi' Widodo. "Bapak ibu saya itu orang desa di Boyolali," kata Jokowi saat pidato di Tangerang, Banten, Minggu (4/11/2018).

Selama ini, Jokowi kerap diserang dengan hoaks yang menyatakan jika orang tuanya adalah orang Tiongkok. Pernyataan Jokowi, sekilas menegaskan bahwa ia juga membawa identitas dari Boyolali.

Dalam politik, identitas bisa menjadi salah satu pertimbangan pemilih. Entah itu agama, suku, asal daerah, atau identitas yang lain. Pengelolaan isu identitas ini dikenal sebagai politik identitas.

Dua tahun lalu, politik identitas juga digunakan dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Pada 4 November 2016, massa yang menggaungkan hukuman bagi 'penista agama'. Calon gubernur DKI Jakarta dari petahana saat itu, Basuki Tjahaja 'Ahok' Purnama dituding melecehkan agama. Politisasi ini berhasil. Tak sekadar merambah politik pemerintahan yang mengurusi orang hidup, mayat juga jadi sasaran politisasi ini.

Teknik serupa dilakukan dalam Pilkada Gubernur Sumatera Utara, tahun ini. Basisnya bukan agama, tapi putra daerah. Pasalnya, Djarot Syaiful Hidayat, salah satu calon gubernur adalah pria suku Jawa yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Salah satu provinsi yang paling korup ini justru tak menyoal isu korupsi. Politik identitas mengaburkan isu

Politik identitas mengaburkan pengetahuan publik. Dengan politik identitas, dan media sosial, perang isu menjadi strategi politik yang membutakan. Identitas bakal lebih kerap muncul dalam perbincangan publik dibanding rencana kerja mereka. Misal, kenapa banyak kasus HAM mangkrak di kepemimpinan Jokowi. Atau kenapa Prabowo tak kampanye dengan data yang valid, bukan sekadar retorika.

Pilihan yang harusnya didasarkan pada kemampuan memimpin, program kerja, atau rencana kebijakan, diringkas hanya dengan urusan apakah seseorang dipilih karena identitasnya sama dengan pemilih atau bukan. Politik, yang harusnya mencerahkan dan menggembirakan, berubah menjadi mencemaskan dan menyedihkan, karena politik identitas.
Retorika Prabowo membangunkan kembali politik identitas


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...itik-identitas

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Retorika Prabowo membangunkan kembali politik identitas Data FDR, turbin, dan identifikasi jasad Lion Air JT610

- Retorika Prabowo membangunkan kembali politik identitas Sekolah minggu di gereja diatur RUU Pesantren

- Retorika Prabowo membangunkan kembali politik identitas Jatuhnya Lion Air, eksekusi TKW, dan nasib wakil ketua DPR

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di