alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Saat Raja Dihukum Mati Rakyatnya Karena Meniduri Istri Orang
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bdfc834529a45c6478b457f/saat-raja-dihukum-mati-rakyatnya-karena-meniduri-istri-orang

Saat Raja Dihukum Mati Rakyatnya Karena Meniduri Istri Orang

Bila Istri ditiduri oleh lelaki lain. Walaupun lelaki itu seorang raja, dijamin tak ada suami yang ikhlas hati. Maka, tak heran bila muncul dendam menunggu pelampiasan.

Sama seperti kisah Ra Tanca di tahun 1328 Masehi. Saat dipanggil untuk mengobati bisul Raja Jayanegara, Ra Tanca menikam berulang kali raja itu dengan taji, pusakanya.
Raja Majapahit yang telah melecehkan istri Ra Tanca, akhirnya mati bergelimang darah. Walaupun akhirnya Ra Tanca menyusul mati karena keris Gajah Mada, namun tuntas sudah dendam kesumatnya.

Menurut Slamet Muljana dalam bukunya “Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya” (1979), pembunuhan tersebut adalah skenario Gajah Mada karena istrinya juga menjadi korban Jayanegara. Ia menggunakan Ra Tanca sebagai eksekutor yang kemudian sengaja dibungkam dengan kerisnya.

Gajah Mada geram. Berdasar Kitab Kutaramanawa Ddharmasastra (peraturan hukum) Majapahit, hukuman mengganggu perempuan yang bersuami adalah mati. Dengan sedikit tipu daya, Gajah Mada berusaha tegakkan hukum itu.

Di Nusantara, ternyata ada juga sosok raja lain yang berkelakuan seperti Jayanegara. Raja ini mirip, tapi beda waktu dan tempatnya. Dia adalah La Pateddungi Tosamallangi, Raja Kerajaan Wajo (1466-1469 Masehi) dengan gelar Batara Wajo III.

Kerajaan Wajo adalah kelanjutan dari Kerajaan Cinnotabi. Berdiri sekitar tahun 1399 Masehi, berlokasi di daerah Wajo yang kini masuk Propinsi Sulawesi Selatan. Kerajaan ini sangat khas yaitu berbudaya Bugis.

La Pateddungi Tosamallangi hanya tiga tahun memerintah. Dalam masyarakat Bugis, ia adalah aib sejarah. Ia adalah simbol penguasa bejat, tak tahu malu, dan telah mencoreng budaya siri’ (harga diri).

Bangsa Bugis menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri. Sementara Batara Wajo III berulang kali dipergoki menggauli istri orang-orang Wajo. Bahkan pernah, dipergoki sedang menggauli paksa seorang perempuan dan anaknya sekaligus.

Berdasarkan penelitian Lontara Wajo (tulisan dengan aksara tradisional Bugis) yang dilakukan Prof Mr Andi Zainal Abidin dalam bukunya “Wajo Abad XV-XVII” (1985)  dikisahkan secara kronologis bagaimana perilaku tak pantas itu berlangsung selama tiga tahun.

Awalnya, La Pateddungi Tosamallangi suka berkeliling daerah sambil menggagahi istri-istri orang Wajo. Warga Wajo pun mengadukan perilaku raja kepada paman dari La Pateddungi Tosamallangi yang bernama Arung Saotanre (pejabat kerajaan). Karena malu, pamannya pun memberi teguran keras.

Di hadapan orang banyak, katanya, “Jangan engkau lakukan perbuatan yang tidak disukai orang-orang Wajo dan dibenci oleh Dewata! Bila engkau hendak mengambil perempuan, yang gadis saja, engkau ambil untuk diperistrikan!”

La Pateddungi Tosamallangi kemudian mengeluarkan peraturan untuk membedakan mana perempuan bersuami dan mana yang gadis. Yang sudah bersuami wajib mengenakan topi bila berpergian.

Namun, peraturan yang ia buat, ternyata ia langgar juga. Tak peduli ia bertopi atau tidak, asal dia suka, perempuan itu ia bawa ke istananya secara paksa. Kembali, rakyat Wajo menahan diri dari amarah.

Karena Arung Saotanre, pamannya, tak juga didengarkan, dilakukanlah musyawarah besar masyarakat Wajo. Musyawarah memutuskan agar La Taddangpare Rimaggalatung mewakili warga untuk menasehati Batara Wajo.

Teguran pertama, La Pateddungi Tosamallangi mengaku siap mengubah sikapnya. Agar tak tergoda, Ia mengeluarkan aturan agar kaum perempuan yang bersuami tidak keluar rumah. Namun, selang beberapa lama, La Pateddungi Tosamallangi justru melampiaskan syahwatnya dengan mendatangi rumah-rumah saat suaminya pergi bekerja.

Setiap teguran diberikan, La Pateddungi Tosamallangi mengaku mau bersedia mengubah diri. Ia juga keluarkan aturan baru. Namun tak lama, La Pateddungi Tosamallangi  kembali mengulangi kelakuan amoralnya.

Puncaknya, suatu ketika, La Taddampare menerima pengaduan seorang warga Wajo bahwa istri dan anaknya dibawa sang Batara Wajo. Ternyata benar, La Taddampare memergoki anak dan istri orang itu sedang digagahi sang Batara Wajo.

Musyawarah besar kembali digelar. Kali ini warga sudah tidak memberikan toleransi. Dalam suasana tegang dan riuh menahan amarah, diputuskanlah La Pateddungi harus diturunkan jabatannya sebagai Batara Wajo. Rakyat juga bulat memutuskan agar ia dijatuhi hukuman mati.
Konon, penghakiman dan eksekusi pembunuhan dilakukan di tengah sawah. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1469 Masehi. Setelah itu, Kerajaan Wajo sempat mengalami kekosongan kekuasaan selama lima tahun.

Tahun 1474, rakyat Wajo menobatkan La Palewo To Palippu menjadi Arung Matowa Wajo pertama. Gelar Batara Wajo sudah tidak digunakan lagi untuk menutup buku masa gelap sebelumnya. Budaya siri’ ditegakkan dan dipulihkan kembali.


sang raja pun tak bisa mengelak dari perlendiran emoticon-Kaskus Radio emoticon-Kaskus Radio emoticon-Kaskus Radio


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di