alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
A Turtle Meets A Dog - sinopsis & prolog -
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bdf83351a99750e338b4567/a-turtle-meets-a-dog---sinopsis-amp-prolog

A Turtle Meets A Dog

A Turtle Meets A Dog - sinopsis & prolog -


Sinopsis

Menjadi seorang marketing officer radio memang tidak gampang. Kalau Rindai mengeluhkan soal pekerjaan, Erkan yang akan menceramahinya habis-habisan. Padahal, dibanding Rindai pekerjaan Erkan jauh lebih menyita energi & waktu. Tetapi lelaki itu malah bersikap santai karena pekerjaannya sebagai campers (camera person) lebih sering jalan-jalan keluar kota.
Tak hanya soal pekerjaan, Rindai juga mengeluhkan kisah percintaannya yang menyedihkan.
Namun, Rindai tidak sendiri. Ada teman-teman seperngeluhannya di graha biru. Ada Arsen, Ijang, & Yudhis. Para lelaki yang juga punya pekerjaan yang berbeda-beda.

Prolog
Tahukah, luka apa yang paling susah dihilangkan dari sebuah peristiwa?

Luka secara mental.

Mentalnya sakit sejak peristiwa itu. Dia tidak bisa tidur di malam hari jika tidak minum obat penenang. Dia jadi pecandu obat itu. Tiap mendengar nama orang yang melukainya, tubuhnya bergetar hebat. Dia hanya bisa meringkuk memeluk lututnya di dalam kamar.

Lalu siangnya dia berpura-pura menjadi wanita yang terlihat ceria dan kuat. Walau terkadang dia mengeluhkan pekerjaannya, tetapi tak ada satupun orang yang tahu masa lalunya yang menimbulkan luka traumatis itu.

Part 1
(KLIEN, KURA-KURA, & UNO)


Di bawah bangunan kafe bernuansa retro itu, banyak manusia yang asyik melakukan aktifitas masing-masing. Lagu Imagine milik Jhon Lenon mengalun indah menemani para pengunjung kafe. Di ujung sana, terdengar ketukan jemari yang beradu dengan meja kayu bertempo cepat tapi bersuara pelan.

"Sial."

Rindai Alota. Wanita itu memeriksa jam tangannya. Kini sudah jam 2 siang. Sudah melebihi batas waktu yang dijanjikan. Bahkan jam istirahat yang menjadi jatahnya sudah habis tak terpakai.
Dia tergelak. Ponselnya berdering di dalam tas kecilnya. Rindai menarik napas saat mengangkat telpon yang masuk itu.

"Gimana, Rin? Udah deal?"

"Anu, Bu."

"Gagal lagi, ya?"

"Saya sudah nunggu di sini dari jam dua belas. Tapi si pemilik butik belum dateng juga..."

Panggilan diputus. Rindai berdecak kesal. Tangan kanannya berkali-kali mengelus dada. Mulutnya terus saja berkomat-kamit mengucap istighfar setelah menghadapi tingkah bosnya.

Menunggu dua jam membuat kesabarannya sudah habis. Rindai berjalan cepat menuju kasir untuk membayar minuman mojitonya. Sambil menunggu struk pembayaran muncul, pandangannya beredar ke sekeliling. Di depannya ada sepasang kekasih yang sedang saling menyuapi. Rindai menelan ludah dengan gestur tangan mengelus perut.

"Ini aja, Mbak?"

"Ya, Mbak, makasih."

Untuk memperjelas sesuatu, Rindai perlu memastikan. Ya, dia berinisiatif menelepon calon klien yang mengingkari janjinya hingga menyebabkan dia kehilangan jam makan siang di warung Bang Min. Sekaligus penghancur mood karena dia telah menunggu dua jam di kafe tanpa makan apapun sebab kafe itu adalah kafe mahal. Akhir bulan, men...

Namun panggilan tidak aktif.

Baiklah, mungkin lain kali Rindai akan menghubungi si pemilik butik untuk memastikan sekali lagi. Dia harus lanjut keliling mencari kliennya. Ya, selama dua tahun begini lah pekerjaannya. Dari instansi milik negara dan swasta sampai usaha besar dan kecil harus dia datangi satu persatu. Entah itu berupa lembaga, perusahaan, yayasan, hotel, toko, restoran dan lain-lain yang sekiranya bisa berpotensi menjadi kliennya.

Menjadi seorang marketing officer di media radio swasta adalah pekerjaan yang tidak gampang. Rindai tidak mau munafik. Memang begitu adanya, dia tidak mengada-ada.

Posisinya adalah marketing di bagian lapangan. Job descnya tak menentu. Kadang mapping klien di sepanjang jalan yang dia susuri menggunakan motor scoopynya. Kadang juga dia melakukan pertemuan dengan klien untuk melakukan penawaran pemasangan iklan di radionya.

Mengenai marketing di bagian radio ini menurutnya tidak berbeda dengan pekerjaan para sales. Kalau yang selama ini para sales berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sambil membawa produk yang ditawarkan, berbeda dengan Rindai yang menawarkan tanpa membawa produk. Tetapi berupa iklan yang disiarkan melalui radio. Singkatnya, dia menawarkan jasa pengiklanan kepada kliennya.

"Harus potong urat malu, Rin." Ucap Viar.

Ya, urat malu dan rasa bapernya harus dihilangkan ketika dia memutuskan untuk bekerja sebagai marketing officer radio. Mentalnya harus setebal kulit badak. Bertemu dengan banyak orang yang menjadi calon kliennya adalah hal yang tak terprediksi. Rindai mana tahu kalau calon kliennya akan menerima tawarannya atau menolak mentah-mentah. Dari anggukan,  senyuman, usiran sampai guyuran air dari ember telah dia terima semua.

Saat ini Rindai sedang berada di depan sebuah toko furniture besar. Melongok ke dalam, ada berbagai macam peralatan rumah tangga yang membuat mulut Rindai berkali-kali mengucap "Wahh."

  Kata "wahh" berubah menjadi "wagelasehh" ketika dia  beberapa kali membolak-balik price tag yang tergantung di depan benda-benda itu.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

Rindai menarik napasnya dalam. Mempersiapkan mental sebelum beraksi kembali. Harus siap dengan respon apapun yang akan dia terima. Rindai menangguk memantapkan dirinya. Dia berjalan menuju meja resepsionis.

"Selamat siang, Mbak. Saya Rindai dari J radio FM. Mau tanya, owner tokonya ada?"

"Di dalam. Lagi sibuk."

Sinis. Satu kata yang menggambarkan ekspresi resepsionis toko di depannya. Ingin melanjutkan kembali, namun aksinya terpotong. Rindai meminggirkan tubuh saat ada pembeli yang akan melakukan transaksi dengan resepsionis. Dia menggunakan mannernya dengan menunggu pembeli itu hingga selesai melakukan pembayaran.

"Lo harus sopan ketika nemuin klien, Rin."

Rindai mengangguk mengingat pesan yang berkali-kali dia dengar dari bosnya itu. Tiba-tiba dia tergelak saat si resepsionis mengetuk pelan meja untuk menyadarkan lamunannya.

"Ada apa lagi, Mbak?"

"Karena kebetulan ada ownernya, saya pengen ketemu sama owner toko ini. Mau ngobrol sebentar."

"Tunggu di sini, Mbak. Karena owner tokonya lagi sibuk."

Selama menunggu si owner datang, Rindai mengecek ponselnya. Barangkali ada pesan penting yang masuk. Benar saja, Rindai membuka pesan itu satu persatu.

Erkan Sadhena : Kura-kura, Kura-kura apa yg ga bisa jalan hayo??
Rindai mengerutkan kening

Erkan  Sadhena : Kura-kuranya kehujanan...

A Turtle Meets A Dog - sinopsis & prolog -

"Erkannnnn!!!!"

Beberapa pelayan dan resepsionis itu langsung meliriknya tajam. Rindai segera pamit dan berlari untuk menangani lelaki itu. Sekaligus kabur seusai teriak lantang dari toko orang untuk menutupi rasa malunya.
Di sinilah dia. Napasnya tersengal. Bajunya sedikit basah bercampur keringat dan tetesan hujan. Tangan kanan Rindai memegang lututnya. Sementara tangannya yang lain mulai mengetuk pintu keras.

"Erkan, buka!"

"Siapa?"

"Buruan, Kampret!"

"Oh lo, Nih..."

Sebuah kantong plastik muncul dari balik pintu yang hanya dibuka sedikit. Si pemilik kamar enggan menunjukkan batang hidungnya. Rindai segera meraih benda itu. Lalu dia ngibrit kabur menuju kamar kosannya.

Lain kali, mungkin dia harus menjemur pakaian di dalam kamar mandi saja. Sangat memalukan jika pakaiannya sendiri diambilkan oleh lelaki apalagi ini pakaian dalam. Rindai mengutuk dirinya sendiri.

***

"Ini dia pioneer uno di graha biru. Queen Rindai Alota..."

"Apaan sih?"

Rindai menyingkirkan salah satu kaki Yudhis yang sedang selonjor di atas balai-balai. Si empunya kaki segera membereskan posisi duduknya. Lelaki itu tersenyum sumringah padanya.

Rindai melambaikan tangan ke arah Bang Min si penjaga warung. "Bang, teh anget tawar buat Rindai."

"Oke."

"Tumbenan minum yang anget-anget..." Sambung Yudhis.

"Proposal gimana kabar?"

"Enggak Bang Ijang enggak lo. Nanya proposal mulu kayak dospem gue aja sih."

Rindai tertawa. Dia melirik Ijang yang lagi asyik menonton pertandingan bola. Sepertinya lelaki itu tidak menyadari kehadirannya sehingga ketika Bang Min menyodorkan secangkir teh hangat, Rindai sengaja menempelkan cangkir itu ke kakinya.

"Apaan nih anget-anget di kaki gue?"

Rindai hanya cengengesan.

"Tumben ngumpul tapi nggak main?"

Rindai, Ijang, dan Yudhis menoleh. Seorang lelaki dengan senyum sumringah mendekat ke arah mereka. Di kedua tangannya menenteng plastik yang berukuran cukup besar.

"Dikasih makanan juga si Rindai langsung ngibrit ke kamar ngambil kartu." Ucap Ijang.
Rindai beradu pandang dengan Ijang dan Yudhis. Mereka menahan senyum paham akan perkataan sarkastik Ijang barusan.

"Ya deh, ini gue bawa buat lo semua. Gue datang untuk memperbaiki gizi kalian di akhir bulan ini."

"Seriusan, Bang?" Tanya Rindai.

"Ya.."

"Ayo makan jangan malu-malu anggap aja punya sendiri." Sambung Yudhis.

"Ah Sen, jadi enak nih."

"Hahaha"

Tak butuh waktu lama untuk Rindai kembali dari kamarnya mengambil kartu uno. Dia menyuruh Ijang menyingkirkan cangkir teh dengan menunjuk dagunya. Ijang memberikan tempat di sampingnya untuk Rindai.

"Siap?"

"Yudhis yang ngocok. Dia jago."

Semua mata tertuju pada Arsen. "Maksud gue ngocok kartu. Ah elahh."

"Bang Min, ikut ngga?"

"Sibuk ah. Lagi nyatet siapa-siapa yang ngutang di buku nih gua..."

Keempat manusia penghuni kost Graha Biru langsung menunduk. Mereka menahan tawa begitu mendengar Bang Min berbicara dengan nada menyindir. Pasalnya jumlah penghutang meningkat di tanggal tua. Mereka diam-diam memulai permainan dengan Yudhis sebagai pengocok pertama.

"Eits tunggu dulu. Rulenya berubah. Siapa yang kalah harus main pake helm sambil jongkok di ronde berikutnya. Gimana?"

Yudhis mengangguk. Dia membagikan kartu yang sudah dikocok dengan malas. "Terserah yang ngasih makan gue sih."

Ronde pertama dimulai. Masing-masing dari mereka membidik kartu yang dihadapkan ke wajah tanpa memberi kesempatan lawan untuk mengintip. Ada yang menyeringai licik, ada yang sedang berpikir dan ada yang sedang mengaduh.

Lalu kartu pertama yang dikeluarkan adalah...

"Nih,"

Mati gue.

"Beraninya lo main-main sama gue, Dhis"

"Sabar, Dai.."

Gila. 3 kartu +4 sudah dikeluarkan semua oleh mereka. Kini hanya Rindai yang masih bergeming memandangi kartu-kartu miliknya. Yudhis, Ijang, dan Arsen sepertinya tahu nasib Rindai akan bagaimana. Mereka tersenyum mengejek.

"Sialan." Ucap Rindai malas sambil mengambil belasan kartu pada tumpukan.

"Mau jualan kartu, Neng?"

"Sial amat nasib lu, Dai..Dai,"

"Kumpulin aja kartu itu buat bayar kosan bulan depan, Dai."

"Hahaha."

Kekesalan ketika kalah main uno bukan terletak pada rasa malu. Tapi pada wajah-wajah yang mengejek dengan kata-kata yang menjatuhkan harga diri. Awas saja, Rindai masih menyimpan banyak kartu berangka nol dan +2.

Rindai tertawa dalam hati sambil melahap sepotong pizza dengan kesal. Pandangannya beralih ke lantai atas. Fokus ke kamar yang berada di sebelahnya. Lampu kamar itu mati. Artinya si pemilik sedang tidak ada.

"Jangan liatin ke atas mulu. Mana kartu lo, Dai?" Arsen meliriknya lalu berbisik. "Lagi ke Malang dia..."

Sialan. Aktifitas curi-curi pandangnya tertangkap oleh mata Arsen. Padahal lelaki itu tadinya sibuk memperhatikan kartunya. Rindai berdecih, dia langsung melempar kartu dengan seringai lebar.

"Warna merah kan? Mati lo, Dhis."

Kartu yang dikeluarkan Rindai adalah kartu warna merah berangka 0. Yudhis mengerang keras pasalnya tinggal satu kartu lagi di tangannya yang nantinya dia pikir akan menjadi uno game alias dia yang akan memenangkan permainan. Tetapi Rindai membalas kelicikannya. Semua kartu milik Rindai kini ada di tangannya.

"Uno game." Ucap Rindai tertawa lebar.

***




Diubah oleh amellema


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di