alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
`Perang Tempe` Jokowi Dengan Sandi
1 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bdc1b64dbd770c32e8b457a/perang-tempe-jokowi-dengan-sandi

`Perang Tempe` Jokowi Dengan Sandi

`Perang Tempe` Jokowi Dengan Sandi

Jakarta, HanTer - Calon Presiden Joko Widodo dan Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno saling sindir soal bentuk dan ukuran besaran tempe, makanan favorit di negeri ini. Alih-alih, Sandiaga mengajak Jokowi berlomba mencari bentuk dan ukuran tempe di seluruh pasar di Indonesia. ‘Perang’ sindir kedua tokoh ini dinilai tidak perlu dilakukan.

Pada Selasa (30/10/2018), Jokowi blusukan ke Pasar Suryakencana, Bogor, Jawa Barat, dan memborong tempe. Jokowi mengatakan, tempe yang dibelinya berukuran tebal. "Tadi ngelihat sendiri ya, tebal (ukuran tempenya)," ujar Jokowi, Selasa.

Pernyataan Jokowi seolah membantah ungkapan Sandiaga yang sebelumnya menyebutkan tempe seperti tablet, dan setipis kartu ATM.

"Sekarang kita lakukan pencarian tempe seperti apa ke depan. Hal ini untuk melihat reaksi masyarakat di seluruh wilayah di Indonesia, baik dari kunjungan Jokowi dan saya. Nanti kita berlomba-lomba untuk mengetahui fakta di pasar soal ukuran tempe," kata Sandi di Jakarta Selatan, Rabu (31/10/2018).

Sebaliknya, Sandi mengaku menemukan tempe dari beragam ukuran dan ketebalan saat blusukan. Ada tempe seperti bentuk gawai jaman dulu (jadul), tablet, setipis kartu ATM, dan sebagainya.

Menanggapi hal ini, sejumlah warga yang dihubungi membenarkan memang ada ukuran tempe setipis kartu ATM. “Ada kok tempe ukuran kartu ATM, malah enak, dimakannya renyah dan garing. Ada juga tempe berukuran besar seperi kata Pak Jokowi. Jadi untuk apa dimasalahkan,” kata Suyanto, warga Kp Melayu, Jakarta Timur.

Presidium Pergerakan Andrianto menilai sindiran Jokowi soal ukuran tempe sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh Jokowi. Karena menurunya, ukuran tempe di pasar itu bermacam-macam, ada yang kecil/tipis, ada yang ukurannya besar.

Menurut dia, faktanya saat ini rakyat sekarang sedang susah. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang stagnan menunjukkan banyak rakyat yang tidak memperoleh manfaat empat tahun pemerintahan Jokowi.

“Ditambah pula rupiah yang terpuruk, terburuk setelah tahun 1998. Otomatis barang import jadi naik, antara lain bahan pembuatan tempe, yakni kedelai. Bahkan kita import 3 juta ton kedelai/tahun dari Amerika. Tentu harganya jadi mahal,” ujar Andrianto.

Merosot

Sementara itu pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminuddin mengatakan, saling sindir antara Jokowi dan Sandiaga hanya bentuk pencitraan Jokowi.

"Saya melihat dalam saling sindir antara Jokowi dan Sandiaga maka Jokowi hanya face saving exit, menyelamatkan mukanya sendiri di depan rakyat. Semacam pencitraan," jelasnya kepada Harian Terbit, Kamis (1/11/2018).

Menurutnya, data pemerintah melaui BPS melaporkan pada Juli 2018 terjadi inflasi sebesar 0,28%. Bahkan inflasi terjadi di 62 kota. Sementara secara tahunan atau year-on-year (YoY) ada di 3,2%, dan inflasi inti YoY sebesar 2,73%. Di antara faktor penyebab inflasi dipengaruhi oleh bahan makanan sebesar 0,86%. Untuk bahan makanan inflasi disumbang telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, kacang panjang.

"Di Jakarta sejak Rupiah makin merosot melewati Rp14 ribu maka harga-harga ikut merangkak naik dari mulai kabel elektronik, minuman mineral, telur ayam, dan sebagainya. Rata-rata kenaikan 10%-45%. Kenaikan tertinggi terutama telur ayam yang mencapai sekitar 40%," jelasnya.

Fakta di lapangan, sambung Aminudin, kenaikan harga pangan di banyak kota terutama telur, ayam, ikan sebenarnya lebih parah dari data BPS. Pertengahan 2018 Kepala Satgas Pangan Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan omzet telur di pasaran, baik dari sisi peternak maupun pedagang merosot hingga 40 persen. Karena makin mahalnya telur. Oleh karenanya kenaikan harga pangan rata-rata lebih tinggi dari data BPS.

Menjaga Harga

Pengamat kebijakan publik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, saling serang antara Jokowi dan Sandiaga terkait harga pangan merupakan bagian dari strategi kampanye politik dari masing-masing kubu untuk saling menyerang atau attacking. Namun dalam menyerang harus disertakan dengan datanya. Sehingga tidak hanya saling serang atau politik hantam kromo. "Kalau masalah harga harusnya menteri yang membantu Jokowi harus pro aktif jangan reaktif," jelasnya.

Jerry menilai, di beberapa pasar harganya tetap stabil kecuali ada sentimen pasar dan dari pedagang yang nakal. Contoh beras premium dan medium. Kadang pedagang tahan yang medium dan yang dilepas premium. Sehingga membuat harga menjadi naik. Di tambah dengan gonjang-ganjing impor 2 juta ton beras. Disinilah para trader atau pedagang bermain harga.

Harga Pangan

Seperti diwartakan, saat blusukan di Pasar Suryakencana, Bogor, Jawa Barat, Jokowi mendapati bahwa harga bahan pokok tak melonjak seperti yang kerap dilontarkan lawan politiknya.

Menjawab pernyataan Jokowi itu, Sandiaga mengemukakan harga-harga pada naik. “Di Kabupaten Bogor, masyarakat di sana, Bu Sopiah dan Bu Bunga menyatakan harga bahan pokok berbanding terbalik," kata Sandi yang menyatakan soal harga itu dia temukan saat blusukan di Parung Panjang, Rabu (31/10/2018).

Menurut Sandiaga, seorang calon pemimpin seharusnya menyampaikan fakta yang ada di masyarakat. "Yang saya sampaikan adalah apa yang ada di masyarakat. Ada harga yang naik dan turun. Tapi, jangan juga kita menceritakan semua harga naik, padahal tidak ditemukan seperti itu," ujar Sandiaga.

#PILPRES #2019 #SANDIAGA #UNO #PRABOWO #JOKOWI #TEMPE

https://www.harianterbit.com/nasiona...i-Dengan-Sandi

di daerahku tempenya mengecil, kenapa ya?...
anjrit tuh salaman sama sape? nikmat banget kayaknya?
Buzzer yg semangat yak emoticon-shakehand
Quote:
Makin rame aja neh kasus tempe Gan... Ane beli gorengan tempe tahu dulu lah...
Thread basi


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di