alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Jauh dari keluarga, dekat bau anyir
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bdad17cc0d770370b8b4572/jauh-dari-keluarga-dekat-bau-anyir

Jauh dari keluarga, dekat bau anyir

Jauh dari keluarga, dekat bau anyir
Petugas membawa kantong jenazah korban pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang di Posko Evakuasi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (31/10/2018). Memasuki hari ke-3 pencarian, sejumlah kerabat dan keluarga korban mulai mencari barang milik korban penumpang pesawat Lion Air JT 610.
Pekerjaan Irwansyah sepertinya mudah, mengantarkan jenazah dari satu lokasi ke lokasi lain. Namun, bila melihat prosesnya, tak sesederhana yang mungkin kita bayangkan.

Irwansyah merupakan anggota Palang Merah Indonesia yang pada Rabu (31/10/2018) bertugas di dermaga Jakarta International Container Terminal 2 (JICT 2), Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Bila Anda mengikuti pemberitaan sepanjang pekan ini, pasti Anda mengetahui mengapa seorang petugas PMI berada di terminal peti kemas itu. Irwansyah merupakan bagian dari tim Evakuasi Korban Pesawat Lion Air JT610.

Pesawat Boeing 737 Max 8 dengan registrasi PK-LQP itu jatuh pada Senin (29/10) di kawasan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Letak JICT 2 yang relatif dekat dari perairan Tanjung Karawang, jika mengukur perjalanan menggunakan kapal laut, membuatnya dijadikan sebagai posko evakuasi.

Tugas Irwansyah, bersama puluhan anggota PMI lainnya, adalah mengantar jenazah korban kecelakaan dari dermaga JICT 2 ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati di daerah Jakarta Timur.

Bila hanya mengemudi mobil saja, jelas pekerjaan yang Irwansyah lakukan terhitung enteng. Berdasarkan perkiraan Google Map, waktu tempuh kedua tempat tersebut kurang dari sejam.

Masalahnya, perjalanan yang ia lakukan sejak Senin (29/10), membawa serta kantung jenazah yang berisi potongan tubuh korban.

"Pada hari pertama, tidak ada masalah, meski sudah mulai bau," ucap Irwansyah kepada Beritagar.id, Rabu kemarin. "Perjalanan kami biasa saja, apalagi dikawal, lebih cepat."

Kondisi berbeda mulai timbul kala dia membawa kantung jenazah di hari kedua. Potongan tubuh mayat korban Lion Air mulai mengeluarkan aroma tak sedap. Akibatnya, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh cepat, menjadi terasa sangat lama.

Pasalnya, tubuh jenazah mulai mengeluarkan bau sangat busuk. "Coba Anda ikut dari sini ke depan (gerbang) sana saja," kata Irwansyah mencoba menantang. Jarak dari tempat kami berbicara dengan gerbang yang ditunjuk Irwansyah hanya sekira 300 meter.

Kebetulan, saat itu belum ada kantung mayat baru yang harus diangkat Irwansyah maupun tim. Alhasil, saya tak dapat menerima tantangan Irwansyah tersebut. Sebagai catatan, meskipun sudah ada kantong mayat, belum tentu saya diizinkan ikut.

"Saya rasa Anda ga akan kuat. Anda pasti muntah."

Bagi Irwansyah, membawa mayat yang berasal dari lautan, memang lebih menyengsarakan. Ia menceritakan ketika melakukan evakuasi mayat korban kebakaran di Muara Angke, Jakarta Utara, pada 2017, baunya tak terlalu menyengat.

"Paling cuma bau hangus," ucapnya. Pun dengan mayat korban bencana alam atau kecelakaan yang terjadi di darat. Menurutnya, butuh waktu yang cukup lama untuk sampai tahap sangat menyengat.

"Kalau ini, tidak sampai 24 jam saja sudah bau. Hari kedua sudah sangat menyengat," katanya.

Ungkapan "Anda pasti muntah" tadi bukan diucapkan Irwansyah tanpa dasar. Jaroh Rohizal, anggota PMI lain yang Beritagar.id wawancarai sempat muntah kala membawa mayat korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610.

"Belum sampai (gerbang) depan, saya sudah muntah. Baunya sangat menyengat. Bikin pusing," kata Jaroh, Rabu (29/10) siang. Jaroh bukan anak kemarin sore di dunia evakuasi korban.

Bagi Irwansyah atau Jaroh, mereka tak punya pilihan lain. Perjalanan ditemani bau busuk dari mayat yang terbujur kaku di belakang, adalah satu-satunya pilihan. "Paling kaca kami buka. Pakai pengharum mobil. Itu juga masih menyengat," kata Irwansyah.

Bau yang sangat menyengat itu bukan hal aneh. Pasalnya, kantung jenazah yang mereka bawa berisi potongan-potongan tubuh korban.

Dan, menurut kriminolog Gail S. Anderson dari Simon Fraser University, Burnaby, British Columbia, Kanada, proses pembusukan di laut memang lebih cepat ketimbang di darat.

Beratnya pekerjaan anggota PMI seperti Irwansyah dan Jaroh, bukan hanya harus menghadapi bau menyengat. Pun demikian dengan kesehatan. Untuk itu, mereka mengaku dipersiapkan segala macam alat pembersih.

"Sebelum dan sesudah (mobil jenazah) digunakan, kami semprotkan disinfektan. Kami juga selalu sedia hand sanitizer. Suntik vaksin juga," kata Irwansyah.

Sepanjang masa evakuasi sejak Senin (29/10), Irwansyah mengaku belum pernah pulang. Dan, hal ini bukan sekali dua kali. Hampir tiap ada kejadian bencana ia kudu merelakan diri jauh dari keluarga.

"Dukanya, ya itu. Saya ini belum pulang sudah tiga hari," katanya.
Jauh dari keluarga, dekat bau anyir


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ekat-bau-anyir

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Jauh dari keluarga, dekat bau anyir Tarif listrik tak naik, subsidi makin tinggi

- Jauh dari keluarga, dekat bau anyir IHSG ditutup menguat hingga level 4.27

- Jauh dari keluarga, dekat bau anyir 500 hari penyerangan terhadap Novel Baswedan

Orang-orang seperti Irwansyah ini kita perlu hargai. Luar biasa pengorbanannya.

Ane jangankan cium baunya, baru lihat kantong mayatnya saja mungkin sudah pingsan.

All the best for Basarnas, petugas PMI, petugas Rumah Sakit, TNI AL dan semua pihak yang membantu evakuasi jenazah korban.

dari dlm laut sudah keluar belatung2 gt g si?


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di