alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Indonesia Update /
RISET Pro Sebagai Solusi Memutus Gap Peneliti di Indonesia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bda5a02620881d7138b456e/riset-pro-sebagai-solusi-memutus-gap-peneliti-di-indonesia

RISET Pro Sebagai Solusi Memutus Gap Peneliti di Indonesia

RISET Pro Sebagai Solusi Memutus Gap Peneliti di Indonesia

JPP JAKARTA – Ikatan Alumni Riset Pro (IASPro) menyelenggarakan Konferensi Pertama Riset dan Inovasi Indonesia pada Selasa (30/10/2018) di Jakarta. Konferensi pertama ini difasilitasi oleh Project Management Office (PMO) beasiswa Research and Innovation in Science and Rechnology Project (RISET Pro). Tema yang diusung pada konferensi ini adalah “Menuju Indonesia Emas melalui Riset dan Inovasi Anak Bangsa” yang bertujuan mewadahi alumni RISET Pro dalam mengembangkan riset bersama untuk menghasilkan riset yang unggul, berinovasi dan dapat memberikan solusi permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Konferensi ini dihadiri oleh Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) seperti Ristek (BPPT, BATAN, Bapeten, BIG, BSN, LAPAN, LIPI), perwakilan dari Bank Dunia, BAPPENAS, Kementerian Keuangan, stakeholder terkait dan para alumni yang telah menyelesaikan tugas belajar S2 dan S3 sejak program beasiswa ini pertama kali diluncurkan yakni pada tahun 2013.

RISET Pro sendiri merupakan program untuk peningkatan kapasitas LPNK melalui program beasiswa, penyusunan kebijakan peningkatan kelembagaan dan pendanaan riset. Selain itu ini merupakan upaya meningkatkan kapasitas dan potensi peneliti Indonesia untuk menguasai ilmu dan teknologi dengan cara dikirimkan ke beberapa negara yang dianggap memiliki kompetensi sesuai bidang yang diminati oleh penerima program.

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti dalam sambutannya mengatakan RISET Pro merupakan media yang baik untuk peneliti Indonesia melakukan sebuah lompatan inovasi yang mendukung kemajuan bangsa. Dirjen Ghufron juga mengatakan bahwa gap peneliti di Indonesia, terutama dari segi usia, masih tampak menganga. Regenerasi peneliti di Indonesia tidak berjalan baik. Padahal Indonesia sendiri memiliki banyak potensi yang bisa digali dan dikaji.

"Richard Horton, editor of the British medical journal The Lancet mengatakan Indonesia adalah sebuah bangsa dengan banyak misteri yang belum terungkap karena banyak peneliti dari LPNK yang belum menulisnya. Riset Pro bisa menjadi salah satu alternatif mengatasi itu," ujarnya.

Kekuatan Inovasi

Selain itu, Direktur Kualifikasi SDM, Dr. Mukhlas Ansori, juga menyampaikan bahwa kekuatan inovasi merupakan faktor penting dalam meningkatkan daya saing nasional dalam menghadapi persaingan global. Daya saing ini ditingkatkan oleh Kemenristekdikti melalui pembangunan kekuatan inovasi dan penyediaan tenaga kerja terampil yang didukung oleh penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan. Oleh karena itu peran 7 LPNK Ristek dan sumber daya yang dimilikinya di bawah koordinasi Kemenristekdikti sangat penting dalam mendorong peningkatan inovasi secara nasional.

Menurut Mukhlas program beasiswa Riset Pro sangat diperlukan dalam rangka mempercepat peningkatan daya saing melalui peningkatan kualitas SDM, kelembagaan dan pendanaan IPTEK. Sejumlah 463 karyasiswa yang telah diberangkatkan melalui program ini sejak 2013 diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan IPTEK melalui lembaga masing-masing sebagai bentuk pertanggungjawaban setelah menempuh pendidikan di luar negeri.

"Negara yang maju bukan karena sumber daya alamnya, bukan karena peradabannya yang tua. Tapi negara maju adalah negara yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, bekerja keras, dan disiplin dalam melakukan terobosan," imbuhnya.

Sementara itu telah lebih dari 167 peneliti dan perekayasa yang juga telah menerima beasiswa non-gelar dalam bentuk training, workshop, dan capacity building di berbagai lembaga riset, universitas dan industri terkemuka dunia.

Dalam acara ini turut hadir sebagai Keynote Speaker, Prof. Andrivo Rusydi, diaspora Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Associate Professor of Nanotechnology/Nanoscience di National University of Singapore;  Dr. rer.nat Rahmania Admirasari, M.Sc. dan Galuh Wirama Murti, M.Sc. dari BPPT sebagai pembicara sesi pertama bertema Ketahanan Energi dan Lingkungan; dan Dr. Ahmad Fathoni dan Dr. Ahmad Sofyan dari LIPI sebagai pembicara sesi kedua bertema Ketahanan Pangan. Selain diskusi, acara ini juga turut memamerkan poster karyasiswa RISET Pro hasil penelitian yang telah mereka kerjakan selama menempuh pendidikan di luar negeri.

Pada kesempatan ini, Ketua IASPro tahun 2018-2020, Nugroho Adi Sasongko dari BPPT sebagai wakil dari seluruh alumni, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kemenristekdikti terutama jajaran PMO RISET Pro dan kepada masyarakat Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada karyasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri dan menyampaikan harapan para karyasiswa untuk terus dapat membaktikan ilmu dan tenaga untuk pembangunan Indonesia.

Ke depannya para alumni program Riset Pro diharapkan dapat meningkatkan daya saing negara dengan membangun jaringan penelitian di dalam dan luar negeri yang menghasilkan inovasi-inovasi IPTEK untuk mewujudkan Indonesia Emas.(ris)

 


Sumber : https://jpp.go.id/teknologi/iptek/32...i-di-indonesia

---

Kumpulan Berita Terkait TEKNOLOGI :

- RISET Pro Sebagai Solusi Memutus Gap Peneliti di Indonesia LIPI Kembangkan Tiga Superkonduktor

- RISET Pro Sebagai Solusi Memutus Gap Peneliti di Indonesia Kemenperin Perkenalkan Teknologi Komputasi Awan Kepada IKM

- RISET Pro Sebagai Solusi Memutus Gap Peneliti di Indonesia Lewat Taman Teknologi Pertanian, Kementan Dongkrak Perekonomian Desa



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di