alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd5916b1a99750c7b8b4569/para-penafsir-cinta

PARA PENAFSIR CINTA

PARA PENAFSIR CINTA - Overview

Sarah, wanita yang menerima lamaran teman masa kecilnya untuk mengobati perihnya pengkhianatan dari laki – laki yang dicintainya. Pernikahan yang seolah sandiwara justru menghancurkan hatinya lebih dalam. Sudut hati yang masih menanti jawaban laki – laki itu membuatnya terjebak dalam cinta masa lalu, melupakan peran yang sesungguhnya.


Begitu penantian datang ke hadapannya, menarik kembali hati dan seluruh perasaannya, Sarah tak tahu lagi mana perahu yang harus ia naiki. Mana layar yang harus ia bentangkan.


Dan ketika hati tersadarkan, ketika tabir sudah terbuka lebar, ketika hati itu berbalik menuntut kebenaran, membuka paksa klise pemikiran  yang mulai menghitam.  Ia menjadi begitu tamak, menjadi begitu rakus dengan permainan hati yang dimulainya tanpa persiapan. Siapkah ia untuk sebuah pengkhianatan? Tegakah ia menjual sebuah kesetiaan ? dan ketika semua menjadi satu, Akankah kekuatan cinta itu tersisa ?

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Novel Para Penafsir Cinta

atau akan di update di thread ini setiap minggunya. 

Please leave a comment after reading ya, Guys emoticon-Wowcantik
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Bab 1 Salju di Musim Semi

Aku termenung di atas selembar sajadah bergambar kakbah, memandangi papan penyangga yang biasanya aku gunakan untuk meletakkan Al – Qur’an. Namun hati tetap tak tergerak untuk menyentuh dan mulai membacanya melainkan terus terpaku bisu. Ini sudah lebih dari 15 menit sejak panggilan Ashar selesai aku tunaikan. Air mata terjatuh lembut membasahi pipi sembabku, butuh waktu lama menyadarinya, untuk menyeka tangis yang entah sejak kapan mengalir deras, menuntut harap yang entah sudah keberapa kalinya. Tanganku menarik sebuah bingkai foto yang tertata rapi di atas sebuah lemari kecil tepat di sebelah ranjang. Bingkai dengan ornamen melati berwarna putih bersih yang membuatku hampir tak bisa menahan sesegukan tangis yang semakin menjadi – jadi.

Kubersihkan setiap bagian sisi bingkai itu seakan ada debu yang hinggap di atasnya. Meski aku tahu, baru tadi pagi aku membersihkannya. Perlahan mulutku mulai membuka suara,

“Maaf”, kalimat menyakitkan yang menusuk jantung serta ulu hatiku setiap kali aku mengatakannya.

Aku berusaha mengembalikan pikiranku. Menyeka habis seluruh bekas tangisku. Secepatnya tersadar untuk segera beranjak merapikan pakaian shalat dan mengenakan jilbab warna peach favoritku. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sore ini. Aku mengambil gembor plastik di parkiran dan mengisinya dengan air.

Rasanya baru kemarin aku menyirami bunga – bunga mungil ini. Sebulan yang lalu merupakan kali pertama kami datang ke rumah ini. Kesan pertama adalah gersang, sumpek¸ dan nilainya 3 dari 10. Tapi sekarang lihatlah, indah. Cukup indah untuk memenangkan hati orang – orang yang melewatinya.

Tak lama berselang, sebuah motor Satria yang cukup kukenal melambat ke arahku. Dan benar, itu motor Rian, lelaki yang menikahiku satu tahun yang lalu. Dengan wajah letih dan baju serta dasi berkerut, ia memakirkan motornya. Dilepasnya tas sandang hitam yang melingkar di bahunya dan meletakkannya di kursi teras. Dengan cepat ia melepas sepatunya dan masuk ke rumah diiringi aku yang mengekor di belakangnya sambil mengutip barang – barang yang ia lepas seenaknya.

“Assalamu’alaikum, gimana kerjaan kamu hari ini? Bikin lelah lagi ? ” Aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam yang seharusnya ia ucapkan. Aku berusaha selembut mungkin menyapanya. Jujur, meski kami sudah menikah selama 11 bulan, aku masih canggung kalau harus berhadapan dengannya. Terlebih harus melakukan hal – hal seperti ini. Menyapanya, menanyakan pekerjaannya, bahkan merapikan semua barang yang tak pernah sekalipun ia letakkan pada tempatnya. Aku merasa kami belum bisa disebut sebagai sebagai pasangan seperti kebanyakan orang. Suasana kami begitu kaku. Aku tahu ini bukan usaha terbaikku. Tapi setidaknya aku sudah berusaha. Berbeda dengannya yang masih bersikap seolah tak ada apa – apa di antara kami. Dan itu terbukti saat ia mengucapkan kata – kata yang meruntuhkan usahaku.

“Udahlah, nggak usah pake basa – basi segala. Kita udah nggak tinggal di rumah orang tua lagi. Jadi bersikaplah seperti biasa.” Ucapannya begitu ketus. Aku sudah biasa diperlakukan begini olehnya. Bahkan lebih buruk, dia takkan pernah menjawabku seperti sekarang ini. Jika disatukan, perkataannya selama 11 bulan ini mungkin belum sampai 10 halaman.

Untukku, masa bodoh. Yang penting aku melakukan setidaknya apa yang seharusnya aku lakukan. Selesai aku mencium tangannya, ia akan langsung ke kamar dan mandi kemudian duduk di singgasananya menonton televisi. Aku cuma perlu berperan sampai disitu.

Saat kulihat dia sudah mengambil handuk dan bersiap mandi, aku undur diri dari kamar itu. Tidak seperti biasanya, dia malah kembali membuka suara. Kali ini, aku tahu benar ada yang tidak beres dengannya.

“Kamu mau sembunyi terus kayak gitu ?”, Ia mendengus kecil ketika aku sudah di depan pintu kamar dan berbalik menghadapnya.

“Heh, kamu selalu keluar kamar pas aku mandi. Ehm..bukan itu aja. Kamu selalu berbaring munggungin aku pas tidur. Kamu bersikap seolah istriku tapi … .”

PRAKKK

Aku terkejut. Rian membanting frame foto di sampingnya. Frame foto kami berdua. Foto dimana aku berjinjit dibelakang punggungnya. Kami tertawa. Semua orang pasti bilang kami sangat serasi di foto itu.

“Kamu kenapa sih yan? Kenapa tiba – tiba ngomong aneh pake mecahin frame segala ?”, Aku mulai angkat bicara.

“Sembunyi aja terus di balik jilbab kamu itu.” Tangannya mulai menunjuk – nunjuk.

Aku memang tidak pernah masuk kamar saat dia mandi. Aku hanya merasa belum siap. Ditambah dengan sikap dinginnya kepadaku. Aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk bertanya. Sebulan setelah kami menikah, ia begitu baik padaku, ia mengerti bahwa aku memang belum siap dengan semua ini dan dia bilang dia akan menunggu aku siap. Tapi Semua sikapnya perlahan terus berubah bahkan sejak kami masih tinggal di rumah orang tuanya, sikapnya menjadi sangat dingin. Awalnya dia yang selalu mendominasi pembicaraan tapi setelah itu, selalu aku yang bertanya bagaimana hari – harinya, baik atau tidak ? Jika pulang malam, aku yang selalu bertanya apakah ia sudah makan malam? . Mungkin hanya sekedar itu yang bisa aku berikan untuk saat ini. Meski ini sudah berlangsung selama 10 bulan terakhir. Tapi dia tak pernah menanggapi, kami memang seperti memainkan skenario, tapi aku nyaman dengan itu.

Hanya saja aku merasa sikapnya jadi semakin dingin dan kata – katanya mulai kasar selama seminggu ini, tepat setelah ia pulang dari pekerjaannya di Sulawesi selama dua bulan. Mengurus proyek besar, katanya. Aku hanya bisa berfikir, mungkin saja proyeknya tidak berjalan dengan baik.

Aku baru saja ingin keluar, sebelum ia menyeretku dengan kasar menuju kamar dan menutupnya. Hatiku mulai panas, ini tidak benar. Pasti ada yang terjadi padanya. Begitulah terus yang terpikir olehku, air mata mulai terbendung di pelupuk mata saat cengkramannnya begitu kuat, bahkan ia mendorongku ke atas tempat tidur.

“Kamu kenapa sih? Nggak biasanya kamu kayak gini ke aku. Kamu mulai kasar.”, Aku begitu takut hingga tangisku lepas. Ia menarik keras jilbabku sampai meninggalkan bekas merah di pipi. Rambutku berantakan kemana – mana.

“Aku capek, Sar. Aku capek kamu perlakukan kayak gini terus. Apa memang sebaiknya lamaran waktu itu nggak pernah ada ?” Ucapnya terlihat frustasi, nada suaranya membuatku takut.

“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa? Kamu ada masalah di kantor ?”, Aku tak menyerah untuk mengalihkan pembicaraan.

“Ya, aku punya masalah di kantor, dan masalah itu kamu. Kamu yang mengekor seperti pembantu itulah yang ngerusak isi pikiran aku dan ngerusak semuanya.”

PLAAK

“Rian, kamu keterlaluan.”, Aku menamparnya keras. Aku sudah cukup tahan dengan apa yang dikatakannya.

“Heh.. tampar aku Sarah, tampar aku sampai kamu puas. Sampai kamu bisa ngerti dan nggak bersikap seolah pernikahan kita baik – baik aja.”

“Pernikahan kita baik – baik aja. Nggak ada yang salah.” Jawabku bergetar.

“Kita udah berteman sejak 8 tahun yang lalu Sar. Dan kamu berubah cuma karena ikatan ini.” Ia meremas rambutnya dan berbalik kemudian menedangkan kakinya ke arah pintu.

“Aku nggak merasa berubah.” Aku menangis namun tetap terlihat kuat menampik semua kata – katanya.

“Aku bahkan belum nyentuh kamu sama sekali, Sar !”, Kata – katanya bagai sambaran petir bagiku. Tak pelak aku berdiri dan menjawab kata – katanya.

“Heh.. jadi itu maksud kamu. Oke.. kamu mau kapan ? nanti malam ? ato sekarang juga ? baik !”, Sambil sesegukan dan marah aku mencoba merobek bajuku, dengan susah payah aku menariknya, aku begitu terbawa emosi hingga tak tahu bahwa bajuku terbuat dari bahan katun. Tapi aku tetap menariknya kuat, membuat tanganku memerah. Tangisku kembali tumpah ketika aku tak mampu merobeknya, aku berteriak dan menjatuhkan tubuhku ke bawah.

“Kamu sadar salah kamu Sar, tapi kamu masih bersikap seolah kita masih memainkan skenario murahan. Kita udah besar Sar, kita nggak sedang main rumah – rumahan lagi.”

Aku masih menangis, antara sesak di hati, rasa perih di pipi serta kedua telapak tanganku.

“Aku tahu, aku nggak kayak laki – laki sholeh yang kamu pengen. Yang tiap hari ngaji, shalat ini – shalat itu, ngasih ceramah, baca hadist ini dan itu. Tapi bisa gak sih kamu nggak bersikap seperti pembantu ? yang kamu lakukan selama ini cuma pura – pura kan ? ”, Ia mengeraskan suaranya, setengah berteriak.

“Apa yang kamu maksud dengan pura – pura ? Yan, berhenti bersikap memaksa.”

“Memaksa kamu bilang ? Sekarang jelasin ke aku apa yang kamu sembunyikan selama ini ?”

“Aku nggak nyembunyiin apa – apa?”

“Pembohong !”

“Lalu mau kamu apa ?”

“Aku mau kamu cinta sama aku.”

“Rian !” Aku menarik tangannya, mencoba membuat situasi sedikit tenang.

“Kamu istriku, Sar? Atau kamu bahkan nggak pernah anggap aku sebagai suami kamu ? Ooooh aku tahu, bahkan kamu nggak pernah anggap aku ada kan ? Ok Fine !”

“Rian ! Rian tunggu !

Tangannya bergerak melepaskan peganganku. Aku melihatnya berlalu dan membanting pintu kamar, suara motornya menderu sesaat setelah itu. Aku merapatkan lututku, tanpa merapikan rambutku yang sudah acak – acakan, aku menundukkan wajahku, membenamkannya di antara dua lututku lalu menangis, menangis sejadi – jadinya dan berteriak frustasi.

Ini pertengkaran kami yang kesekian kali sejak aku menikah dengannya. Laki – laki yang datang melamarku malam itu, teman masa kecilku yang entah sejak kapan mulai menyukaiku. Saat itu aku tak bisa membuat keputusan apapun, sampai ibuku mengeraskanku untuk tidak mengingat kembali laki – laki yang sudah mengisi hatiku sejak 4 tahun yang lalu. Laki – laki yang membatalkan khitbahnya tanpa memberiku alasan. Sulit bagiku berfikir bahwa lelaki lainlah yang akan meminangku sebagai istrinya, hatiku bersikeras bahwa takkan ada yang lebih baik darinya. Lalu apa gunanya aku berusaha selama ini? Aku mulai meragukan ucapakan ustadzah 3 tahun silam? Apa benar yang dikatakannya? Belum sholehkah aku selama ini? Aku mengganti celana jeans belelku dan berusaha setengah mati untuk memakai rok lebar yang membuatku hampir jatuh saat naik tangga, sulit gerak, gerah. Aku memperbaiki cara berjalanku, memperbaiki caraku minum, aku bahkan membaca novel – novel roman aneh yang tak inginku sentuh sebelumnya.Tidak berbicara terlalu keras, bersikap lemah lembut dan terlihat dewasa. Tapi apa gunanya?

Hari itu, aku terpuruk hingga tak lagi mampu berpikir. Langit senja menjadi sangat akrab menyapaku. Aku tak berminat menyentuh laptop, ponsel atau gadget lainnya yang akan memperburuk suasana hatiku.

Akankah ia merasakan hal yang sama? Entahlah, saat ia mengatakan padaku, terasa manis, sangat manis di telinga, membuatku seolah terbang ke angkasa, seolah aku sudah menginjak langit, aku merasa inilah buah dari jerih payahku selama ini, tapi aku keliru, semua berawal dari hari itu.

Ibuku tak bisa tinggal diam. Beliau langsung menerima pinangan yang datang di saat yang tepat. Tapi aku belum mau mengerti, egoku begitu besar, segala yang hancur kuanggap takkan kembali lagi, lalu apa gunanya semua ini. Apa gunanya semua pengorbanan ini. Lamaran itu, ibuku yang menjawabkannya untukku, namun hatiku benar – benar dalam kondisi yang salah, aku terus memikirkan hal – hal yang membuatku frustasi. Aku bahkan merasa jadi orang paling munafik, seharian aku mengurung diri di kamar, aku menutup semua pintu jendela. Aku mengisolasi diri seperti orang bodoh. Aku hampir gila.

Sampai kata – katanya terngiang di kepalaku. Perkataanya 2 tahun yang lalu.

“Lo tahu nggak, apa yang gue lakuin kalo otak udah mumet, stuck, trus nggak ngerti lagi mau ngapain?”

“Ngapain?”, aku penasaran pada jawabannya.

“Shalat. Dua rakaat cukup. Trus curhat deh ama Tuhan “, kata – katanya begitu menenangkan. Kala itu aku benar – benar ingin berkata ‘ Subhanallah Gue suka banget ama lo’

Teringat akan hal itu, aku melakukan apa yang ia katakan, tanpa ragu aku berdiri dari tangisku, mengambil kembali air wudhu dan bergerak mengambil pakaian shalatku, kusapu tangis yang masih membanjiri mataku yang sudah sembab. Setelah itu, hatiku mantap untuk menjalani pernikahan ini, hatiku menemukan pencerahan bahwa keinginanku selama ini hanya ego semata, nafsu belaka. Semua bukan salah siapa – siapa , tapi memang begitu yang harusnya terjadi. Sekat demi sekat kehidupan, apapun itu, sudah ada yang mengaturnya, mau apapun yang kita rencanakan, secerah apapun sedetik yang lalu, bisa saja berubah di detik berikutnya. Mungkin saja ia menjadi orang yang pernah aku kagumi, namun tak semua cinta mesti menggenggamnya baru mengatakaan itu cinta, manusia terlalu lemah untuk mengartikan besarnya definisi cinta. Cinta bisa bermakna, dan bisa tak bermakna. Cinta bisa ini dan bisa itu. Tapi cinta tak sama dengan pernikahan. Cinta bukan satu – satunya alasan pernikahan, cinta bukan satu – satunya akar pernikahan, cinta hanya sepersekian persennya.

******

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Bab 1 Salju di Musim Semi

atau akan di update di thread ini setiap minggunya.

Please leave a comment after reading ya, Guys emoticon-Wowcantik

Bab 1 Salju di Musim Semi - Part 2

******

“Oh … perkenalkan nama saya Rega, saya yang akan jadi teman anda di Sulawesi.” Seorang laki – laki menghapiri Rian.

“Oh begitukah, senang bertemu dengan anda. Tapi apa nggak terlalu formal kalau kita bicara kaya gini. Yah.. Saya biasa menggunakan bahasa non formal meskipun sedang ada urusan proyek begini.” Rian membalas menjabat tangannya.

“Ehm.. Oke. Semua gampang di atur. Gue juga sebenernya males pake bahasa beginian. Tapi berhubung gue masih dikendaliin ama bokap. Yaaah jadi harus gimana.”

“Aaah .. jadi lo anak yang punya perusahaan ?”

“Ya.. bisa dibilang begitu.”

“Berarti Saya harus hati – hati dong.”

“Ahhaha… bisa juga lo.”

Itu hari pertamaku berada di Sulawesi. Dan mau tidak mau aku harus mengakrabkan diri dengan Rega, rekan bisnisku yang akan sering kujumpai dalam dua bulan ini. Dia tidak buruk, justru enak di ajak bicara. Semua berjalan sangat lancar. Terimakasih pada koneksinya yang begitu besar. Dia mempermudahku dalam berbagai urusan, dan waktu dua bulan akan segera menjadi hari – hari yang berlalu dengan cepat. Aku tak tega meninggalkan Sarah begitu lama, meskipun aku masih merasa ia mungkin senang tidak bertemu aku selama dua bulan ini. Apa yang salah denganku ? Sudahlah, aku harus konsentrasi pada proyek ini dulu.

Aku dan Rega semakin dekat bahkan lebih seperti sahabat dibandingkan rekan bisnis. Kami sudah mulai menceritakan hal – hal yang bersifat pribadi. Termasuk keluarga. Rega terkejut mendengar aku sudah menikah, bahkan sudah 8 bulan yang lalu.

“Gue iri banget ama lo. Pasti ceweknya cantik banget ?”

“Ehm… kalo gue bilang cantik ntar lo mau lagi. Yah .. lebih dari cukup lah.”

“Kan bener cantik. Nemu dimana lo?”

“Lo kata barang ! dia temen masa kecil gue. Dan cinta pertama tentunya. Ah gue jadi malu ngomongin ini, udah kayak ibu – ibu ngegosip gak sih.”

“Ahh nyantai aja kali.”

“Lo udah punya calon atau .. ?”

“Ini dia masalahnya gue pengen nikah tapi nggak punya calon. Gue masih ngincer cewek yang dulu pernah gue suka, tapi sayangnya dia malah nyukain orang lain.”

“Wiiih . cinta bertepuk sebelah tangan nih kayaknya.”

“Ini bukan bertepuk lagi, udah di gampar yang ada.”

“Emang kenapa tuh cewe, lo kan cakep, tajir lagi.”

“Nah itu dia, nggak ada yang salah kan di gue ?”

“Ehe ..ini dia masalahnya. Lo overpede. Alias kepedean”

“Tapi ada satu yang gue nggak punya.”

“Apa?”

“Gue nggak punya semua yang dia mau.”

“Maksud lo ?”

“Gue suka ama wanita muslimah, bro. Dan gue denger dia suka ama temen gue. Dan temen gue juga suka ama dia. Sejak itu, gue mulai cari tahu tentang dia, dari nanya ke temen – temennya, liatin tindak – tanduknya. Dan gue bodohnya baru nyadar.”

“Nyadar ?”

“Ternyata gue bahkan nggak ngenalin dia sejak awal. Dia waktu masih jadi mahasiswa baru tuh beda, urakan, serampangan, jilbab nggak bener, ke kampus pake jins belel. Gue baru nyadar setelah liat di dokumentasi angkatan. Dan dia yang gue suka itu adalah dia yang udah beda.”

“…”

“Dan lo tahu siapa yang bisa buat dia jadi beda gitu? Temen gue, segitu cintanya dia ampe dia berubah sedrastis itu, yang kalo menurut gue itu 180 derajat. Ampe gue yang nggak pernah ngelirik aja jadi ketarik.”

“Kenapa lo nggak ngejer dia ?”

“Udah nggak ada ruang buat gue bro, tuh cowok udah khitbah dia duluan. Lah gue baru aja mau jadiin dia pacar. Ya nggak match dong.”

“Hahahahah … hahaha”

“Emang lucu ? ini cerita sedih. Malah ketawa lagi.”

“Namanya siapa sih? gue penasaran. “

“Sarah, anak Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Angkatan 2006.”

“ …” aku terdiam.

Tak ada kata – kata yang mampu menggambarkan kondisi hatiku saat itu, api kecemburuan meruak di dadaku. Betapa terkejutnya tatkala wanita yang diceritakan Rega adalah Sarah, istriku. Betapa seakan rasa benci menyusup dan merenggut semua sisi baikku. Betapa semua dugaan itu terkuak didepan mataku sendiri. Sejak itu aku berharap tak pernah bertemu lagi dengan Rega. Aku bahkan tak peduli untuk sekedar menanyakan siapa laki – laki yang menjadi temannya itu. Laki – laki yang tak menyisakan tempat bagiku di hati Sarah. Laki – laki yang tanpa bertemu berhasil menghancurkan mimpi dan penantian panjangku.

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Bab 1 Salju di Musim Semi

atau akan di update di thread ini setiap minggunya.
Diubah oleh ginaaw2018

Bab 2 Awal yang indah

Malam itu, aku menuggunya di ruang tamu kami yang mungil, sudah 5 jam ia meninggalkan rumah, aku tidak tahu ia kemana. Aku mencoba menghubungi ponselnya meski aku tahu ia tak akan mengangkatnya. Aku ingin menanyakan keberadaannya pada beberapa teman kantornya yang aku tahu, tapi aku urungkan. Aku terus menunggu sambil menahan kantuk yang kian merasuki sudut – sudut mataku, kelopak mataku begitu berat hingga terus tertutup meski aku berkali – kali bersikeras membukanya. Sofa sederhana kami terasa begitu lembut malam itu, satu jam pertama, aku masih mampu menahannya. Namun semua pertahananku runtuh ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, aku tertidur. Malam begitu dingin, hujan deras menerpa di luar sana. Rian, entah mengapa aku menanti sosok itu pulang.

“Eh, bakal ada orasi lo di kampus. Waktu itu kamu bilang pengen ikut?”, ia tersenyum didepan lift, entah ada kelas apa hari ini, yang jelas meskipun kuliah di jam yang sama, ada beberapa mata kuliah berbeda yang kami ikuti. Ia terlihat antusias bicara padaku, orasi, aku mengingatnya. Ketika itu liburan dan aku sangat ingin mengirimkannya beberapa pesan, tapi aku tidak punya alasan untuk itu, karenanya aku mengirimkan beberapa pesan mengenai orasi ke ponselnya, aku harap itu akan berlangsung lama. Namun sangat disayangkan, dia hanya membalasku dengan jawaban singkat.

“Ah…ada beberapa tugas kuliah yang mesti gue kerjain, dan temen- temen udah ngajak nonton duluan minggu ini, maaf ya”, aku tersenyum padanya. Saat pintu lift terbuka, kami bergerak masuk, dan baru disadari jika tak ada yang mengantri lift selain kami. Sejenak, aku bisa tersenyum di belakangnya. Benar – benar sebuah mimpi saat aku bisa dengan jelas memandangnya.

“Kuliah apa?”, Akhirnya dia angkat bicara. .

“Ehm…gue harus ngulang aljabar linier di semester ini, Jadi malu”, aku hanya diam dan tak berniat lagi memandang wajahnya.

“Gue berhenti di lantai 4. Duluan ya. Assalamu’alaikum”, tak pernah meninggalkan kata salam, itu salah satu hal yang aku suka darinya.

Aku mengerjapkan mata, pegal menyerang, sepertinya sudah terlalu lama aku tertidur di atas sofa. Sambil mengerjapkan mata, aku melihat sekitar. Sepertinya belum shubuh. Benar, ini masih pukul 2. Tapi tubuhku menangkap hal yang tidak biasa, aku memang belum mengubah posisi tidurku. Sepertinya ada yang menggamit pinggangku, dimana ini ? Sekilas masih merasa janggal, akhirnya tertangkap olehku sosoknya, Rian berbaring di depanku. Kami saling berhadapan, sontak aku terkejut, namun masih tidak ingin bersuara. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya ketika kulihat matanya mulai mengerjap, aku kembali menutup mataku. Berpura – pura tidur, sambil menahan rasa gugup. Aku berusaha bersikap natural. Aku merasa dia memandangiku, lengannya sudah ia lepas dari pinggangku. Dan kini ia menyeka rambut yang sedikit menutupi wajahku dengan lembut.

“Hah….”, aku mendengarnya menghela nafas. Aku masih berpura – pura tidur.

“Maafin aku, Sar. Seharusnya aku nggak pernah ngelamar kamu. Bagaimana hubungan kita setelah ini, mungkin akan jauh lebih buruk. Setidaknya dulu aku masih bisa berbicara dan menyapamu. Memandangmu dalam diam seperti orang bodoh.” !”, ia mengecup keningku lembut dan bangun dari tempat tidur. Ketika kurasakan matanya tak lagi tertuju ke arahku, aku memberanikan diri mengintip.

Saat pintu kamar tertutup, aku langsung bangun. Aku tahu maksud perkataannya. Dalam hati ada sebongkah perasaan yang tak ingin dia terluka.Aku berlari keluar dan menangkap sosoknya.

“Rian, maafin aku ”, Dia begitu terkejut melihat kehadiranku.

“…” ia berbalik menghadapku, namun tak bersuara. Hanya menatapku dalam.

“Oke, aku salah. Aku ngaku aku salah.”

“…”, ia kembali berbalik tanpa menghiraukanku.

“Yan ! aku ngaku aku salah !”, tangisku pecah. Aku jatuh terduduk, menangis terisak hingga dadaku serasa ingin meledak menyembul keluar.

“Rian, jangan tinggalin aku lagi ! !”, Akhirnya aku mengatakannya. Rian berhenti, aku sudah bersimbah tangis tertunduk di lantai, meremas segenap helai baju yang bisa kuremas.

Rian berbalik, ia menarik nafas kemudian berjalan ke arahku. Memelukku sekuat tenaga. Aku, aku hanya bisa menangis memukulinya seperti anak kecil. Aku tahu dia juga menangis, tapi aku tak peduli, aku terus memukulinya, untuk kemudian tenggelam di dada bidangnya, dalam pelukan hangatnya.

*****

Tak terasa sebulan berlalu. Tak pernah terbayangkan olehku, hari – hari seperti ini akan datang dalam rumah tangga kami.

“Pagi, ..” Masih dengan malu – malu aku menyapa Rian yang sudah duduk tegap di atas singgasananya.

“Tumben bangun telat.”, Aku tersenyum menangkap kecanggungannya.

“Kamu lucu.” Pujiku.

“Oooh..”, ternyata dia masih hemat kata – kata .

Seperti biasa aku menyiapkan sarapan pagi, pisang goreng dan bubur kacang hijau menjadi menu yang aku pilih untuk pagi ini. Rian sudah beranjak ke halaman depan unutk menyiram tanaman, ini menjadi rutinitas barunya selain hanya duduk di depan TV. Mungkin sedang tidak ada acara TV yang bagus.

Sarapan sudah selesai. Rian tak kunjung masuk ke rumah padahal cuma menyiram bunga.

Ketika aku menyambanginya di teras rumah, ternyata dia sedang ngobrol dengan pak Kiai, Ustad yang begitu dihormati di kampung ini. Setahuku beliau sudah tinggal disini sejak dua puluh tahun yang lalu bersama putrinya yang kini kuliah di Yokyakarta, di sebuah Universitas ternama jurusan Kedokteran. Terakhir aku dengar, putrinya akan diwisuda bulan ini. Ia lebih tua dua tahun dibandingkan aku dan suamiku. Selain itu, beliau juga punya seorang putera yang aku tahu usianya tidak terpaut jauh.

Dari jauh kupandangi Rian, benarkah aku menjadi seseorang yang berbeda di matanya ? 8 bulan kami tinggal di rumah orang tuanya. Tidak ada yang istimewa, semuanya justru hambar, tak ada kata.

“Assalamu’alaikum pak Kiai, waduh ini pagi – pagi udah jalan – jalan. Sehat pak Kiai ?” Akhirnya aku memutuskan untuk menampakkan diri di tengah – tengah mereka.

“Wa’alaikum salam.., tambah cantik aja dek Sarah. Sedang buat sarapan ya?”, jawab beliau sambil tersenyum ke arahku, beliau memperlihatkan sosok ayah yang kuimpikan. Berbicara lembut dan ahli agama. Begitu mencerahkan, pikirku.

“Alhamdulillah pak kiai, baru selesai buat pisang goreng sama bubur kacang ijo. Monggo, Sarapan disini.”, Beliau keturunan Jawa, tapi sudah lama merantau sejak menikah. Sehingga bahasa jawanya sudah tidak begitu kental.

“Tidak usah, terima kasih. Ini saya mau ke bandara jam 10.00. Mau jemput Andra, dia baru selesai kuliah dan akan cari kerja disini.”

“Ooh bagus itu pak kiai, mungkin bisa satu perusahaan dengan Rian.” Tambahku.

“Nah itu dia yang tadi Bapak bilang ke Rian. Kalau ada lowongan, wes langsung di hubungi Andra saja. Nanti bapak ajak dia kenalan.”

“Oh gitu pak Kiai.”

“Andra itu anaknya suka ngawur ngidul, bebas begitulah. Jadi suka tidak peduli sama masa depan. hidupnya buat hari ini, besok ya pikirin besok. Begitu prinsipnya.”

“Hahaha… maklum baru lulus, masih ada jiwa mahasiwanya, pak kiai.”

“Heh .. dia itu aturannya lulus di tahun kalian, gara – gara kerjaannya yang aneh – aneh itu jadi terlambat.”

“Bikin usaha barang kali.”

“Woh … bikin usaha apa ? dia itu ngejar pacar nya sampai ke Singapur sana. Habis uang saya.”

“Oh … bagus itu pak kiai, berarti setia toh.”, sekarang giliran Rian yang menimpali.

“Dianya setia, lah yang ceweknya malah nikah sama orang lain. Ndak mau sama anak saya yang belum lulus.”

“Pacarnya lebih tua pak Kiai ?” tanyaku setengah bercanda.

“Ya itu trend anak muda sekarang katanya, entahlah. Ya sudah kalau gitu. Makasih ini sudah di ajak bicara. Baik – baik saja ya pernikahannya.”, Pak kiai bergegas pulang.

Rian aku seret masuk ke ruang tamu dan segera menanyainya.

“Kamu cerita apa ke Pak Kiai ?”

“Enggak, dia yang nyamperin aku duluan. Tetangga di sini telinganya tajam.”

“Maksud kamu?” aku masih tak paham maksudnya.

“Yah siapa lagi, itu ibu Lani, dalam 5 menit mulut embernya udah berkicau ke mana – mana.”

“Hush, nanti di dengar sama yang punya nama lo..”

“Bodo, kayak dia nggak pernah cekcok aja. Nggak tahu masalah orang main nyosor sana – sini”

“Udahlah Yan.”, aku cuma bisa tersenyum hambar. Rumah tangga itu kalau bukan dari dalam, rintangannya juga ada dari luar.

“Tapi Pak Kiai itu baik banget, tahu begitu dia langsung nemuin kita. Udah kaya pak RT aja.”, kataku masih tetap berdiri melihat kepergiannya.

“Aku jadi di ceramahin abis – abisan.”

“Maaf !”

“Kenapa malah kamu yang minta maaf, harusnya si Ibu Lani itu. Bikin kesel orang pagi – pagi aja.’

“Ya udah, makan dulu sana. Udah di siapin.”

“Hn”, Lagi – lagi hemat kata – kata, giliran marah aja dia ngeluarin semua isi kamusnya.

“Kamu semangat banget hari ini. Mau dapet gaji ?”

“Ishh ..”

“Pisang nya enak, buburnya juga. Belajar dari mana?” Rian memuji setengah hati.

“Nggak dari mana – mana.”, Rian bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku.

“Makasih,..”, Katanya berbisik tepat di telingaku.

“Apa?”, Aku dengar, tapi pura – pura tidak dengar

“Udah ah. Nggak ada siaran ulang.”

Bicara tentang beberapa hari yang lalu, yang berubah itu bukan aku tapi dia. Dulu Rian nggak pernah hemat kata, dia juga ceria. Sekarang dia berbeda, dia tumbuh jadi lelaki yang lebih dewasa. Aku suka, tapi dia kehilangan sisi humornya, dia kehilangan senyum manisnya. Bukankah dia yang sejujurnya jadi sosok yang berbeda. Ataukah kami memang jadi berbeda ?

“Oh iya, ada acara Grand Launching di kantor. Karena acara besar, semua karyawan di minta bawa pasangan.”

“Loh kok ?”

“Katanya sih supaya lebih dekat, satu perusahaan seperti keluarga. Gitu deh..”

“Kapan?”

“Masih seminggu lagi, jadi kamu bisa siap – siap?”

“Ok. Aku bakal jadi yang tercantik nanti”, tak lupa aku sunggingkan senyum terbaikku padanya. Kami sudah mulai terbiasa satu sama lain. Ini kali pertama kami menhadiri acara bersama. Senang membayangkan hal – hal seperti ini bisa terjadi di kehidupan kami. Tentu bila menilik ke belakang, hal ini hampir tidak tidak pernah terjadi. Jangankan makan malam di luar, obrolan seperti ini pun sangat jarang. Aku begitu takut membayangkan hari – hari seperti itu kembali lagi.

****

“Yan, bisa temenin aku belanja nggak?”, tanyaku masih canggung. Ini kupelajari dari buku, katanya berbelanja bersama juga bisa jadi moment romantis yang bisa dilakukan oleh pasangan. Aaah ngapain juga aku baca buku itu. Pasti Rian nggak mau. Tuh kan dia mikirnya lama.

“Hn”

“Apa?”

“Nggak ada siaran ulang.”

“Beneran nggak denger.”

“Iya.”

“Sekarang ya ?”

“Tahun depan.”

“Ishhh.”

“Hm?”

“Aku cuci piring dulu, jam 11 kita pergi, gimana? Sambil beliin buah buat mama kamu. Pesenan nya . hehe ..”

“Emang mama nggak bisa beli sendiri apa.”

“Rian !”

Rian, si muka rata ini nggak peka sama perasaan orang tua. Udah dua bulan nggak tinggal bareng ya kalo nggak mereka yang ngunjungin ya kita dong yang harus kesana. Gimana sih ? Aku tarik kalimat yang bilang dia itu dewasa.

“Aduuuh, ini kenapa pakaian kotornya disini sih ? Rian kamu main buang – buang baju lagi ya ? kan udah aku bilang taruh di box yang disitu.”

“Iyaa.”, dia menyahut dari jauh. Sekedar itu.

“Hah ….”

“Dia jadi lebih cerewet dari sebelumnya. Kayaknya emang ngga usah baikan aja apa.”

“Gue denger”

“Eh pake gue – gue.”

“Ih biarin, orang kamu ngga bisa dibilangin. Aaaaaa”, Rian berlari ke arahku, masuk ke dalam kamar mandi, mengambil busa di mesin cuci dan membuangnya ke arahku.

“Rian, awas ya..”

“Aaaa jangan main cubit – cubit ah. Di siram nih”

“Rian berani ya kamu, aku ceburin ke kolam loh..”

“Apa?”

“Laptop kamu.”

“Coba aja kalo bisa.”

“Beneran ya..’

“Aku punya foto kamu lagi bobok, ilernya keluar. Iiii… di upload di sosmed loh..”

“Huwaaaa … mana .. mana ?”

“Boong.!”

“Rian..!!!”,

“Jangan marah – marah.”

“Aku sayang kamu.” Aku memeluknya dari belakang.

“Rian, .. kamu ..kenaaaaa. hahaha’, Aku melumerinya dengan busa sabun sebagai balas dendam tentang yang tadi. Dia tentu saja tidak mau kalah, diambilnya air segayung dan mencipratkannya padaku.

Sejenak aku melupakan semuanya, aku melupakan semua rasa yang pernah aku punya. Aku ingin mencurahkannya hanya pada orang di hadapanku. Lama kami berpandangan, kemudian ia memelukku kembali dengan erat.

Aku menemuinya, aku menemuinya dengan penuh keraguan. Lama aku memikirkan ini dan hasilnya tetap sama. Cinta harus diperjuangkan bukan. Aku tak peduli bila nanti dia menolakku, tidak ada salahnya mencoba. Aku akan memantapkan hati untuk melamarnya kali ini.

14 Oktober 2012

Tidak mungkin, kata ibunya lamaranku di terima, aku begitu senang hingga aku tak merasa menapak tanah. Jiwaku terbang melayang begitu tinggi. Wanita yang sejak dulu kucinta akan jadi istriku. Aku begitu menanti hari itu.

15 Oktober 2012

Tanpa sengaja buku itu terjatuh di antara kemeja Rian. Dia sudah dari tadi keluar kamar, menunggu aku siap. Aku mengambil dan membacanya.

******

Suka sama ceritanya? Silahkan kunjungi blog saya untuk kelanjutan ceritanya Novel Cinta Islami Bab 2 Awal yang Indah

atau bisa di balasan thread di bawah, updated every week ya guys

Silahkan tinggalkan jejak setelah membaca ya, guys emoticon-Wagelaseh

Bab 2 Awal yang indah - Part 2

“Sebenernya daftar belanja kamu sepanjang apa sih ? Kamu mau ngabisin uang aku ya? ”, Aku paling tidak suka kalo dia sudah begini.
“Sabar dikit kenapa sih ? kamu mau makan cumi bakar gak bulan ini? kalo nggak nggak usah di beli. Harganya makin mahal”, aku pusing memilih beberapa bahan makanan, karena banyak banget yang naik.
“Iya mau. Kenapa milih – milih banget sih. Aku udah laper.” ia mengeluh lapaaar terus. Padahal kami baru satu jam di supermarket ini.
“Iya, nanti kita makan di luar, tapi selesaikan ini dulu.”
Sekilas melihatnya, aku seperti melihat teman kecilku, siapa sangka kami akan terikat dalam hubungan pernikahan. Padahal dulu kami sering sekali bermain bersama, saat kecil aku selalu lebih tangguh darinya, mulai dari pacu lari, hingga dalam hal berkelahi, aku yang lebih unggul dibandingkan dirinya. Namun kini ia sudah tumbuh menjadi pria yang jauh lebih tangguh dan mempesona.
“Lagi mikirin apa sih ? Tahu lama gini, aku gak bakal ikut tadi”.
“Lo becanda kan?Siapa sih yang mau lama – lama di supermarket?Emang itu bisa jadi alasan buat gak ikut rapat?. Kan udah di sms.”, dia marah – marah. Saat itu kami terlibat pembicaraan serius, hanya berdua. Aku tidak datang rapat penting untuk pengadaan sebuah acara, padahal aku adalah sekretaris umum disana. Alasannya sederhana, aku terbuai di supermarket untuk berbelanja.
“Laki – laki nggak suka nunggu perempuan yang belanjanya lama. Suatu hari, lo pasti ngerti.”, ia tersenyum padaku, kemudian samar kudengar ia berkata.
“Kecuali gue tentunya”,walaupun suaranya nyaris di do, aku masih mendengarnya. Saat itu aku pikir, akankah suatu hari ada masa depan untuk kami.
“Senang sekarang ?”Aku berusaha menggodanya, tentunya aku berharap ini akan berhasil.
“Hn. Dari tadi kek makannya. Telat makan itu bahaya tahu ?”
“Orang yang kebanyakan makan juga bahaya. Kamu mau jadi gendut, trus jelek?”
“Eeeh jangan salah, gendut itu justru mempesona.”
Aku hanya tersenyum simpul.
Setelah membayar bil makanan, kami pulang dengan menumpang taksi, karena belanjaanku sangat banyak. Dirumah, Rian langsung merebahkan dirinya di tempat tidur, aku hanya menarik nafas lalu menyusun belanjaanku pada tempatnya.
Sudah pukul 6. Saatnya adzan maghrib, aku segera bergerak menuju kamar kami untuk membangunkan Rian. Menyruhnya menunaikan shalat maghrib bersamaku, Belum sampai ke kamar, terdengar orang mengetuk pintu. Aneh, pikirku. Siapa yang bertamu senja begini, aku beralih ke arah suara ketukan kemudian mempersilahkan orang yang sudah menunggu di luar untuk masuk. Ternyata mas Ikang, orang yang sering bantu – bantu di rumah pak Kiai. Dia tak lupa mengucapkan salam padaku namun masih belum ingin bergerak masuk.
“Assalamu’alaikum neng Sarah, suaminya ada di rumah?”, ia bertanya dengan sopan, masih belum beranjak memasuki rumah, sepertinya ia menunggu jawabanku.
“Wa’alaikum salam, iya ada. Tapi dia sedang tidur, baru aja mau dibangunin. Ada apa ya mas ?”, aku membalasnya dengan senyuman. Dengan pakaian rapi, seperti akan menghadiri acara, namun aku tidak tertarik untuk menanyakannya karena yang lebih penting adalah segera menyudahi pembicaraan ini karena adzan sudah mulai berkumandang.
“Maaf, namunya senja gini neng. Pak kiai minta Rian datang ke rumahnya. Ada syukuran anaknya. Maaf saya nggak bisa masuk, takut ganggu. Ya sudah saya mohon diri.” Mas ikang benar – benar laki – laki baik, usianya tak terpaut jauh dari kami berdua, lebih tua 5 sampai 6 tahun kalau tidak salah. Tapi hingga kini masih belum beristri. Entahlah, apa kami yang terlalu cepat menikah. Aku langsung menutup pintu selepas mas Ikang pergi. Aku langsung bergerak membangunkan Rian.
Muka manisnya seolah berteduh di antara dua bantal guling, sendal rumahnya bahkan ia bawa sampai ke atas tempat tidur. Dia benar – benar lelah, pikirku dalam hati. Kemarin pulang malam, dan siangnya harus menemaniku.
“Rian, udah maghrib. Yan, Rian ..”, aku menepuk – nepuk pelan pundaknya, sekali – kali aku goyangkan lengannya agar lebih cepat terbangun. Tapi sia – sia, dia tak juga bangun. Bahkan tanda – tandanya tidak ada, posisinya tetap sama, sambil memeluk guling.
Muach !, semua berlangsung cepat. Rian bahkan sudah ada di kamar mandi. Dia menciumku dan secepat kilat turun ranjang menuju kamar mandi. Pipiku memerah seolah ditelan rembulan malam yang bahkan belum menampakkan diri. Tak dapat aku bohongi, mataku berbinar dan degup jantung ini begitu kencang. Aku tersipu begitu malu bahkan melebihi putri malu. Aku terduduk tak dapat bergerak.
“Kamu masih belum wudhu ?”, dia melontarkan pertanyaan masih dengan muka datarnya seolah tak pernah terjadi apa – apa.
“Kamu masih disitu dari tadi ? hmppphhh ... aku nggak nyangka kamu bisa semalu itu. Aku cuma cium di bibir.
Apa ? cuma dia bilang ? Ya Allah .. ekspresinya sama sekali biasa aja. Yaudah kalo gitu aku juga harus pasang poker face.
“Enggak, bukan karena kamu kok. Aku cuma mau nginget yang tadi dibilang mas Ikang apa ya ? gara – gara kamu bangunnya kelamaan, aku jadi lupa.
Akhirnya aku menyampaikan pesan yang di amanahkan padaku tadi. Rian mengangguk paham kemudian berujar,
“Kayaknya cuma buat laki – laki aja ya. Ga papa nih aku tinggalin kamu di rumah sendiri ?”, aku bingung kenapa tiba – tiba dia nanya gitu, perasaan aku juga udah sering dia tinggalin bahkan ampe sebulan.
“Kemaren – kemaren ga papa tuh”, aku beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
“Heh...? iya aku minta maaf buat yang waktu itu, aku janji nggak bakal pernah ninggalin kamu lagi”
Aku mengangguk paham.
“Maaf kalo aku nggak berbuat apa – apa buat memperjuangkan kamu,tapi satu hal yang aku ingin kamu tahu, aku sayang kamu. Kamu pasti tahu seberapa besar rasa sayang itu. Cinta nggak harus sama – sama kan ?”,Aku mendengar tarikan nafasnya. Dia menangis, benarkah ? Aku sulit mempercayainya, tapi aku tahu dia menangis. Entah kenapa itu melegakan.
“Jadi lupakan rasa sayang yang kamu tahu. Lupakan semua tentang aku, karena saat setelah ijab kabul itu di ucap, aku udah nggak boleh ada. Lupakan aku ya Sarah.”, ia menutup teleponku, setelah itu aku tidak pernah menghubunginya lagi.
Kata terakhir yang ia ucapkan kala itu masih terngiang di telingaku meski baru menyadarinya sebenih demi sebenih tapi aku bersyukur. Aku mengumpulkan cukup keberanian untuk menghubunginya setelah kejadian itu, setelah sepekan, aku baru menghubunginya untuk mengatakan padanya aku akan menikah pukul 2 siang nanti. Aku tidak tahu mengapa aku menghubunginya, sebelumnya di kamar rias aku yang sudah selesai dengan penampilanku masih belum bisa untuk menggerakkan badanku menuju masjid tempat aku dan Rian akan melangsungkan akad nikah, sangat sulit membendung tangisku, meskipun berkali – kali aku mencoba mengeraskan hati, tapi tetap saja sulit, sungguh. Tapi saat mendengar penuturannya, aku merasa kuat, aku merasa yakin, dan aku bahagia disaat seperti inipun, kami masih bisa saling menguatkan.
******
“Sar, aku boleh minta sesuatu nggak ?”, tanya nya sambil berdiri di beranda kami dengan tatapannya tak lepas dariku. Aku duduk di atas ranjang sedang mengutak atik laptop mengerjakan beberapa pekerjaan yang deadlinenya minggu ini. Tentu saja perhatianku langsung mengarah padanya.
“Minta ? kalo aku bisa aku kasih kok. Minta apa?”, aku masih sibuk dengan laptopku.
“Kamu ngantarin aku bekal ke kantor. Mau nggak ?”
“Hm?”, dengan penuh kebingungan aku kembali menatapnya, tak biasanya dia begini manja. Aku cuma berfikir, nggak biasanya Rian begini manja. Minta bawakan bekal ?
Aku bukannya tidak mau. Tapi cuma bingung. Hubungan kami memang meningkat drastis belakangan ini. Tapi aku tidak pernah mengira sampai ke tahap ini. Mengantarkan bekal ke kantornya, sama saja dia mengenalkanku secara tidak langsung pada rekan kerjanya.
“Sarah, kita nggak pernah ngomong serius sejak hari itu.”, Aku tahu, Rian mencoba untuk serius membicarakan tentang pernikahan kami. Aku tahu diri dan menutup laptopku kemudian berjalan ke arahnya, di beranda. Kami duduk sambil menyeduh teh.
“Iya, aku tahu aku salah... dan ...”
“Shutttt...”, Rian menutup lembut mulutku dengan jarinya. Seketika aku merinding, bukan karena udara malam yang mulai dingin. Tapi begitu lembut pandangan matanya ke arahku.
“Kita tidak perlu lagi memikirkan siapa yang salah dan apa yang sebenarnya salah. Sarah, aku tahu aku nggak bisa memaksamu untuk segera jatuh hati padaku. Aku nggak bisa bilang kalau kamu harus cinta sama aku. Tapi, aku tahu kamu gadis yang baik, kamu gadis yang bertanggung jawab, mengerti agama, bahkan jauh daripada aku. Karena itu, aku harap kamu mengerti benar apa arti sebuah pernikahan.”
Seketika air mataku jatuh. Bukan. Ini berbeda, air mata ini hanya jatuh begitu saja, tak ada rasa sakit. Mungkin saja rasa haru.
“Kamu tahu, aku jauh dari kata sempurna untuk mengatakan ini padamu. Tapi aku mohon kamu jangan marah. Aku sudah mengatakan pada pak Kiai tentang masalah kita, aku sungguh tak menjelek – jelekkan kamu di depan beliau. Aku hanya meminta saran, bagaimana kiranya berkata – kata yang baik untuk menjelaskan maksudku padamu.”
“Hn.. Aku paham kok maksud kamu. Justru aku berterimakasih, aku bukan tipe orang yang dengan gampang meminta saran. Aku terkejut, aku kira kamu yang merangkai kata – kata itu.”, ucapku setengah bercanda, berusaha meleburkan suasana tegang diantara kami.
“Hehe.. tentu aja enggak, jadi ...”
“Sekarang giliran aku” aku memberanikan diri memegang tangannya.
“Aku janji bakal menempatkan diri aku dengan benar.”
“Aku sadar ini nggak mudah, tapi izinkan aku berusaha.”, ia berkata begitu, tepat saat malam pertama pernikahan kami.
“Rian?”, aku masih tidak mengerti perkataannya, saat itu kami belum menempati rumah ini, aku dan dia masih tinggal di rumah keluarganya yang sudah pindah jauh dari kediaman orang tuaku. Karna tinggal dekat orang tua, kami menjalani hari penuh kepura – puraan. Kami tidak pernah bertengkar, semua berjalan normal tapi hampa. Obrolan kami hanya sebatas ucapan selamat pagi, dan malam. Udah shalat?, udah makan, dan tidur seranjang tapi tak pernah bertatap muka. Seperti orang asing yang terperangkap.
Rian mendapatkan rumah ini diangkat jadi manager di perusahaan yang sudah ditempatinya sejak setahun yang lalu. Kami kira hubungan kami akan berjalan baik setelah pindah rumah, tapi yang ada hanya pertengkaran demi pertengkaran kecil. Adu mulut dipagi hari lalu saling diam. Tak ada inisiatif untuk mengalah, aku ataupun dia. Kami seolah meluapkan semua yang kami tahan.
Aku adalah orang yang sangat ahli menyembunyikan apa yang sedang aku pikirkan, tapi aku tidak pernah tahu bahwa pria ini selalu mengetahui apa yang aku pikirkan. Sepertinya aku harus lebih fokus menjalani hidupku yang sekarang. Terlepas dari apa yang pernah terjadi, aku harus berusaha keras mencintainya. Semua baru awal, kata ‘sayang’ bukanlah kata yang sulit bukan ? Aku ingin tahu, bagaimana dia bisa mengatakannya dengan mudah.
“Hei, pernah pacaran gak?”, laki – laki itu berbicara padaku, entah sejak kapan kami jadi sering terlibat urusan organisasi yang sama, seperti saat ini. Ia sedang menjelaskan padaku mengenai cara publikasi yang baik untuk sebuah acara amal yang akan kami laksanakan, acara yang lumayan besar.
“Gak. Emang kenapa? “, aku hanya memberikan jawaban simpul, meski aku tak bisa memungkiri diri bahwa hatiku tengah meletup – letup saat ini.
“Nggak, cuma nanya”, aku masih tidak mengerti apa arti ucapannya.
“Makasih”, Hanya jawaban singkat ditambah dengan seulas senyum seperti tadi yang mewarnai raut wajah lelahnya.
Dalam hati, aku sungguh tergerus. Tentu, Rian adalah orang yang sangat baik. Tapi bagaimana aku bisa melupakan sosoknya hanya dalam 1 bulan. Sesaat aku merasa naif dan munafik. Tidak, selama aku tak bertemu dengannya, aku bisa memenuhi janjiku.
******
“Kamu udah tidur?”, Aku berbalik menghadap ke arahnya secara intens, melihatnya berbaring memunggungiku. Aku masih ingin mengobrol dengannya, tapi jawabannya membuatku mengurungkan niat. Mungkin dia sangat lelah.
“Hn.”
Rian, sejak setahun yang lalu bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak dibidang mesin, sesuai dengan titel kuliahnya. Mereka sepertinya bekerja merangkai mesin – mesin yang digunakan pada kendaraan. Dulu kukira komputer adalah hal paling sulit di pahami di dunia ini. Ternyata mesin masih lebih sulit lagi. Memang selalu ada yang diatas dari yang teratas.
Sebelumya aku pernah melamar pekerjaan disana sebagai teknisi IT, tapi tidak di terima, aku bahkan tidak lolos tahap pertama, sepertinya kini mereka sudah menemukan teknisi yang sangat handal. Aku memang ditakdirkan untuk freelance, meskipun penghasilannya masih belum sepadan dibanding bekerja disana.
Hari sudah semakin larut, aku harus bersiap untuk tidur, hari esok mulai menungguku. Aku mulai beranjak keberanda kemudian menutup pintu dengan membiarkan jendela sedikit terbuka, rasanya sangat menyenangkan bila semilir angin mampu menerpa seisi ruangan agar lebih sejuk. Ku rebahkan badanku di ranjang dan mulai memposisikan tidurku, seperti biasa Rian memonopoli ranjang sehingga aku mendapat sepertiganya, tidurnya memang tidak beraturan, tapi aku selalu tersenyum saat melihatnya tertidur, rasanya beda dengan dirinya yang biasanya.
“Maaf kalau aku nggak bisa bilang alasannya.”
“Kenapa? Kamu harus bisa jelasin. Kamu kira aku main - main ?”
******

Mau tau kisah selanjutnya? Pantau terus Thread Kaskus ini.

Mau baca cerita romantis lainnya. Yuk langsung cekidot Semacam Tempat Baca Kisah Romantis

Bab 3 Bekal untuk suamiku

Pagi cerah, matahari bersinar sangat terang, terik matahari mencapai puncaknya. Tak pelak, sengatannya menusuk seluruh kulit. Terlebih minimnya pohon, sejauh mata memandang hanya ada deretan mobil dan motor yang terparkir. Aku sudah berada di bagian depan kantor, tinggi menjulang ke atas. Terakhir kali aku ke sini hampir setahun yang lalu, saat Rian mengajakku untuk mengunjungi kantornya. Saat itu malam, tidak banyak orang yang tersisa, paling sebagian yang terpaksa lembur. Sifatnya yang senang membicarakan hal serius disaat rembulan mulai bersemi. Aku masih ingat jelas kata – katanya waktu itu.

“Aku masih nggak tahu harus mulai dari mana. Padahal tadi sudah latihan.”, ucapnya begitu ramah padaku.

“Aku cuma mau memperjelas perasaanku. Tapi tetap aja sulit buat bilang. Heh… “, ia masih berbicara diantara diamku, helaan nafasnya aku begitu paham. Aku tahu pasti sulit baginya untuk mengutarakan isi hatinya setelah lamarannya kuterima.

“Aku berjanji akan menjagamu, mungkin itu kira – kira pesan yang tersirat dalam lamaranku. Kita cukup dewasa untuk mengerti apa sebenarnya arti pernikahan.”

“Hm.. aku tahu.”

“Kamu nggak ada yang mau diutarakan sebelum kita menikah?” Tanyanya.

“Eh ?”

“Mungkin ini cuma perasaanku saja, tapi aku cuma ngerasa kamu patut menyampaikan sesuatu, jujur jawaban lamaran bukan kamu yang menyampaikan dan…” dia masih ingin berbicara panjang. Tapi aku memutus kalimatnya.


“Aku ngerti maksud kamu. Nggak ada yang perlu aku sampaikan. Terimakasih sudah melamarku, aku merasa sangat bersyukur orang yang melamarku adalah orang yang ku kenal sejak lama. Aku menerimamu dari hatiku. Kamu nggak berhak merasa nggak nyaman? Apa jawabanku udah bikin kamu tenang?”

Aku mengatakan sesuatu yang membuat diriku sendiri menjadi tenang.

“Lapangan segede gini kok gak ada pohon sih. ?”, Aku mulai kesal. Sambil membawa tas berisi bekal, aku berjalan menyusuri rentetan mobil yang terparkir di tepi jalan. Aku terpaksa berjalan kaki dari ujung gang depan karena taksi yang kunaiki tiba – tiba mogok.

“Maaf pak, saya ingin menemui Rian Ardi Putra. Ruangannya dimana ya pak?”, Hal yang tidak kuduga sebelumnya, entah sudah terlalu banyak renovasi atau ingatanku yang buruk. Begitu tiba di bagian depan kantor, mendadak aku buta arah. Jangankan ruangan Rian, tempat dimana aku menapakkan kakipun aku tak tahu.

“Maaf dibagian apa ya bu?”, Ia bertanya kembali, sepertinya aku kurang jelas menyebutkan informasi. Kesalnya, aku bahkan lupa menanyakan Rian bekerja dibagian mana.

“Ah…manager pengawasan mesin, ada nggak pak, hehe .. saya nggak tahu judul jabatannya apa pak?”, Aku mulai cemas, lupa penempatannya dimana. Aku main asal sebut saja.

“Oh…pak Rian, anda sudah punya janji sebelumnya? Kalau sudah, anda tinggal menemui resepsionis dan menunggunya ke bawah. Tinggal belok kiri, lalu bilang pada resepsionis.”

“Maaf, saya istrinya, apa perlu buat janji dulu ? Katanya tinggal bilang ke satpam aja.” , Aku mulai jenuh. Prosesnya ribet, harus ke resepsionis, lalu sekretaris. Apa dia kira aku mau kasih proposal acara.

Tiba – tiba satpam yang seorang lagi menghampiri kami, dari tadi kulihat dia memperhatikanku dari arah tangga, kemudian akhirnya berlari ke arahku.

“Aduuuh…kamu ini bagaimana sih, maaf bu anda istrinya pak Rian ya? Tadi dia pesan langsung masuk saja belok kiri ada lift dekat resepsionis lalu naik ke lantai 3, 4 ruangan dari lift adalah ruangannya.” Sambil menepuk bahu teman satpamnya, dia menjelaskan kemana aku harus pergi.

“Baiklah, terimakasih”, Aku tersenyum sekedarnya pada mereka.

Aku bergerak memasuki lift di sebelah kiri, namun langkahku yang tanpa ragu mulai terhenti ketika kulihat sepertinya ada pemuda yang mirip dengannya berlalu dari lift sebelahnya, sayangnya aku tak sempat memperhatikannya lebih dalam karena lift yang aku naiki sudah terlanjur tertutup. Tidak mungkin yang aku lihat itu dia.

Tidak sulit menemukan ruangannya, aku mengetuk pintunya sebanyak tiga kali dan mengucapkan salam seperti biasa. Anehnya, tak ada jawaban dari dalam. Mungkin saja sedang ada klien atau sedang keluar. Aku memutuskan menunggu di luar.

Tapi diluar tidak ada kursi, membuat kakiku sakit berdiri terlalu lama. Ini sudah pukul 11.00 tepat, harusnya sudah jam makan siang. Perkataanku terbukti. Beberapa karyawan mulai tampak keluar dari ruangannya. Aku jadi merasa aneh berdiri di depan ruangannya, sesekali kudengar beberapa karyawati berbisik.

“Eh .. itu istrinya pak Rian ya?”

“Ha.. pak Rian udah punya istri, yang bener ?”

“Mana mungkin, itu pacarnya kali. Masa baru umur 24 –an gitu udah nikah.”

“Sssst… mungkin aja itu adiknya.Manager setampan itu mana boleh udah nikah.”

“Hu…kalau kenyataannya udah nikah, gimana ? kamu mau apa ?”

“Sarah, udah di kantor ya?”, Terdengar beberapa deru mesin disela – sela kalimatnya. Karena malu, aku nekad menghubungi ponselnya, tak peduli dia sedang ada rapat, klien , atau apa. Yang penting aku bisa jauh dari pandangan – pandangan tajam karyawan lain yang lalu – lalang.

“Kamu dimana ? masih lama ? Aku capek berdiri terus.”

“Masuk aja ke ruangannya, nggak dikunci kok. Maaf ya, aku kesana 15 menit lagi.”, Balasya cepat dan langsung memutuskan sambungan telponnnya.

“Bilang dong kalo pintunya nggak ditutup. Untung nggak jadi kerja disini. Sibuk banget kayaknya.” Suaraku mulai ketus.

Kesan pertama yang kulihat saat aku membuka ruangannya, adalah rapi. Di rumah ia terlihat tidak peduli, ia juga meletakkan piring dengan sekenanya di atas meja padahal sudah berkali – kali aku menyuruhnya untuk memasukkan langsung kedalam bak cuci. Aku nggak nyuruh dia nyuci piring, setidaknya aku jadi lebih mudah kalau mau cuci piring. Terlebih baju kalau habis pulang kantor, pasti dia taruh sembarangan. Nggak nyangka, begitu di kantor bisa serapi ini. Aku tersenyum sambil masih terus melihat – lihat seisi ruangan.

Aku meletakkan tas bekal diatas meja berwarna krem lembut dengan ukuran cukup besar. Warna yang ku tahu adalah warna kesukaannya. Aku jadi ingat saat ia kekeuh meminta ibu mertuaku untuk menganti seprai kamar kami dengan warna krem. Tidak hanya itu, dinding, gorden, dan ornamennya juga ia pilih dengan warna senada. Warna – warna lembut.

Bergerak ke arah sudut meja terdapat bunga anggrek hidup, warnanya kuning dan menenangkan. Aku mulai melayangkan senyum ketika kulihat di sebelah komputernya ada foto kami berdua, bukan foto pra wedding, tapi sebuah foto sederhana hanya berdua. Orangtua kami sepakat membuat foto seperti itu. Karena kami tidak pernah berpacaran sebelumnya jadi tidak ada foto berdua selain foto pernikahan yang akan di pajang di rumah. Foto pra wedding tidak menarik, sementara foto seperti ini terlihat natural dan lebih sederhana. Difoto itu Rian menggenggam tanganku kemudian menaikkannya keatas searah bahu, sambil tertawa melihat kearahku, sedangkan aku menghadap depan.Banyak lagi foto seperti itu yang kami buat, tapi aku tidak tahu mengapa ia lebih memilih foto itu.

Ruangan berukuran kecil itu tak luput dari pandanganku, aku melirik setiap sudut, 4 sofa lengkap dengan meja di depannya, alas kaki berwarna krem, dan beberapa fotonya dengan karyawan lengkap dengan rancangan mesin yang mereka hasilkan. Ia pekerja keras menurutku, dulu dia bukan manager bidang pengawasan (bukan pangkat sebenarnya, ini hanya pangkat yang aku karang sendiri), ia hanya karyawan biasa yang merakit mesin, tapikarena keuletannya bekerja, pimpinan mengangkatnya ke posisi lebih tinggi hingga pada posisi saat ini. Dan itu membutuhkan cuma butuh waktu setahun. Aku kagum padanya, dia belajar dengan keras, jika di perhatikan mata kuliah kami saat di universitas memiliki beberapa kesamaan.

Rasa bosan mulai menyerangku, sekarang sudah lebih dari setengah jam lewat semenit. Ketika aku menghidupkan komputernya, seseorang mengetuk pintu, aku yakin bukan Rian, kalau dia, pasti sudah langsung dibuka, tanpu ragu aku mengatakan ‘masuk’ padanya. Betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang ada di ambang pintu. Aku bingung harus mengekspresikan diriku seperti apa. Dan aku yakin dia juga berada di kondisi yang sama saat ini. Selama beberapa detik tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Kami sibuk mengamatai satu sama lain.

“Sarah? Lo Sarah Anindya kan? Anak Fasilkom kan?”, dia lebih dulu bertanya.

“Winda? Iyakan? Lo winda? Iya gue Sarah anak IK”, Aku sangat terkejut bertemu dengannya disini.

“Ngomong – ngomong kenapa lo bisa ada disini. Gue nggak salah ruangan kan ? lo kerja disini? Sejak kapan ? ”, Ia langsung mengambil tempat di depanku, duduk sambil meletakkan berkas – berkas yang sedari tadi ia pegang.

“Gue nggak pernah denger pak Rian dipindahin ato ngundurin diri.”, Ia duduk santai sambil terus menanyakan mengapa aku disini. Ia terlihat cantik. Dulu semasa kuliah ia memang sudah cantik, sepertinya kini ia bertambah cantik saja. Winda memakai kemeja berwarna putih dengan beberapa aksen bunga di bagian lehernya. Ia memakai rok mini 5 sentimeter di atas lutut.

“Hmmm, Lo makin cantik aja”, Aku masih enggan menjawab pertanyaannya mengenai keberadaanku disini. Tapi bukan Winda namanya kalau membiarkan pertanyaannya diacuhkan.

“Kebiasaan lama belum berubah, nggak ngejawab pertanyaan orang tapi malah nimpalin ama pertanyaan lain. Atau jangan bilang kalo lo ???”

Ia mulai bergerak menuju meja kerja Rian, dan mengambil bingkai foto diatasnya, dengan gaya yang dibuat berlebihan ia membanding – bandingkan wajah yang ada di foto denganku.

“Kan bener, pak Rian udah berhasil nipu gue. Kenapa lo ? bukannya harusnya sekarang lo udah sama Dimas ? .”, Winda dengan mudah menyebut namanya.

“Stttttttt .. Lo nggak pengen gue cerai hari ini kan ?”, Tukasku cepat.

“Hm ?”, Winda benar – benar membuatku kehilangan kata – kata, sudah lama bertemu bukannya menanyakan kabar, dia malah mengungkit lukaku.

Aku harus curhat kali ini, syukurlah aku bertemu dengan Winda sahabat baikku waktu di kampus, kami dulu sempat berbagi cerita, ini kenapa tidak heran lagi ia akan mempertanyakan kenapa aku tidak menikah dengan Dimas, meski ingin menguburnya dalam – dalam tapi memang tak semudah yang ku pikirkan, orang di sekitarku tak mungkin secepatku, menguburnya begitu saja.

“Ahhh…bakal ada hal yang lebih mengejutkan lagi… gue nggak tahu sih kalo lo udah tahu ato belom… soal…”

Kalau saja pintu tidak terbuka begitu cepat, mungkin akan lebih baik bagiku mendengarnya langsung dari Winda. Dari balik pintu sudah ada Rian tapi sepertinya ia sedang bicara dengan seseorang, ia memang membuka pintu dan terlihat jelas di ambang pintu, tapi kepalanya masih menoleh pada seseorang. Saat pintu sudah terbuka lebar, darahku mulai memacu dengan cepat, jantungku berdetak sangat kencang, aku terpaku bak sebongkah es. Sementara Winda kulihat mulai berdiri, mengambil berkasnya dan menempatkan kursi seperti semula. Rian masih terlihat biasa, bahkan mungkin hanya dia yang terlihat biasa disana.

Dimas, aku melihat pemuda yang menghancurkan mimpiku dengan jelas, pemuda itu kini berdiri tepat di belakang suamiku, ia mengenakan kemeja warna abu – abu dan tak lupa dasi melingkar rapi di lehernya. Pandangannya padaku sulit aku artikan saat itu, tapi yang jelas tak satupun dari kami membuka mulut.

“Maaf nunggu lama, ada tugas tambahan. Oh ya, Winda ada apa?”, Ia segera meminta maaf padaku atas keterlambatannya, kemudian langsung beralih pada Winda yang mungkin menyita perhatiannya dengan beberapa berkas di tangannya.

“Oh…ada beberapa berkas yang harus anda periksa dan tanda tangani pak, saya mau taruh di meja aja tapi ada yang harus di jelaskan dulu. Trus ada yang besok harus segera dilaporkan ke kepala cabang.” Ucapnya setengah terkejut.

Winda kembali bersikap sebagaimana mestinya, aku merasa seperti makhluk tidak penting yang menyempil diantara mereka, benar – benar nggak nyaman, rasanya ingin keluar dan menghirup udara segar, disini benar – benar sesak. Meskipun ada AC, tetap sesak dan panas. Darah bergemuruh dan melantunkan nada tinggi menyeruak dengan rangkaian kata membingungkan, aku terpaku bisu.

“Oke, silahkan duduk. Oh ya Dimas, lo cuma butuh dokumen yang dikasih kemaren kan ?” Rian menatap ke arahku.

“Sarah, kamu bisa ambilin berkas warna putih di laci nggak ? yang ada amplop di atasnya?”, Dengan sigap, aku langsung mengerjakan apa yang dimintanya, mengambil berkas, pekerjaan yang sangat mudah. Beruntung masih ada kegunaanku disini.

“Dilaci yang pertama ?”, aku mulai membuka laci yang dimaksud sesaat setelah ia mengucapkan kata ya, ada beberapa tumpukan dokumen disitu, namun mencari yang ia maksud tidak sulit, aku menariknya keluar dengan hati – hati, dan memberikan itu padanya. Sesaat aku merasa Dimas sedang menatapku, namun hanya sekilas. Oh tuhan, apa lagi rahasiamu. Kenapa aku seolah terjebak di tumpukan kertas.

“Langsung kasih ke Dimas aja.”, katanya datar.

“Eh?”, aku bingung, mungkin terlihat bingung.

“Oh… Iya lupa, cowok itu namanya Dimas, dia temen aku, programmer disini.”, Rian tersenyum sekilas kemudian berpaling ke Winda melanjutkan pekerjaan mereka.

Sementara disisi lain, aku dan Dimas seolah merasa masuk dalam kotak berduri. Pandangannya mempengaruhi suasana hatiku . Ia sempat terlihat bingung, dan Rianlah satu – satunya yang tidak tahu mengenai hal itu.

“Gue udah belajar pengendalian diri sejak kecil, abi yang ngajarin. Katanya di zaman yang serba modern ini, kita harus memiliki pengendalian diri yang tinggi, karena sesungguhnya musuh terberat kita bukan orang yang berada di sekitar kita, melainkan diri sendiri.”, Dia menasehatiku lagi, lagi dan lagi.

“Oh.. sip. Gue usahain baca malam ini. Mungkin besok pagi lo ada waktu buat ngediskusiin ini ?”, Dimas akhirnya membuka suara. Ke Rian, bukan padaku.

“Sarah, kurasa kau sudah berubah, kau ini terlalu polos”, Rian mengucapkannya di malam sebelum kami menikah.

“Sarah, kau tahu kenapa mereka begitu? Kau itu terlalu polos”, dan dia mengatakannya saat aku di olok – olok oleh teman se timku saat rapat.

“Maaf, dim. Kalo entar sore aja bisa nggak ? Sekalian pas di jalan mau pulang. Besok gue udah ngambil cuti setengah hari soalnya.” Rian membalas seolah langsung menjawab keinginan hatiku. Dimas kelihatannya tidak merasa keberatan, tanpa berpanjang – panjang kata lagi, dia segera undur diri, tentu saja tanpa permisi padaku.

“Aah..tunggu !”, Rian tiba – tiba menghentikan langkah kaki nya yang sudah berada di ambang pintu. Seketika itu juga aku terkejut, apa mungkin Rian menyadari tatapan Dimas padaku ? Atau sebenarnya dia sudah tahu ?

“Besok jangan lupa tanda tangan pak Heri. Butuh buat rapat soalnya. Sip?”

“Oke,..”, Dimas tersenyum, senyuman yang tak pantas kurindukan.

******

“Kamu selain ahli ngomel, juga ahli baca pikiran orang ya ?”, Rian menyantap bekal makan siangnya dengan mantap, akupun ikut terbuai dalam lezatnya masakan buatanku sendiri. Kami berdua makan diselingi obrolan ringan.

“Eh ?”, Aku masih terpaku memikirkan semua yang kuhadapi hari ini.

“Kamu tahu aja kalo aku lagi pengen makan cumi.”

“Ihh geer banget sih? ini bukan karena kamu, tapi karena aku yang pengen makan cumi?”

“Pengen ? waaaah biasanya kalo cewe lagi pengen makan sesuatu.. itu …”

“Apa?”

“Sarah !” suara nya menggema.

“Hm?”, aku menerka – nerka kemana arah pembicaraannya.

“Jangan – jangan kamu hamil ya ? benerkan ?”

“Hmphh… Aku lagi nggak shalat, Rian.”, jawabku seolah mematahkan dugaannya.

“Fiuh…”, Rian memasang muka kecewa.

“Kamu jangan macam – macam deh. Jangan bikin cerita sendiri.”

“Idih, siapa yang bikin cerita sendiri, aku kan cuma menduga, menganalisa.”

“Ya udah terserah kamu deh.”

Sudah setengah jam yang lalu adzan dhuhur berkumandang. Sementara, Rian masih belum menyelesaikan makan siangnya. Dia jadi sedikit terlambat karena Rian harus membaca dengan cermat semua laporan yang di buat oleh Winda sebelum memutuskan untuk menandatanganinya.

Pekerjaan Winda memang sangat bagus, Rian mengatakan ‘sempurna’ pada setiap pekerjaannya. Rian saat itu belum tahu kalau Winda adalah sahabatku di kampus, dia baru tahu pas aku menceritakannya. Benar – benar cowok datar, dia seolah nggak peduli sama sekitar, masa rekan satu divisi lulusan mana aja dia nggak tahu. Kalo karyawan satu kantor, ya panteslah, tapi ini kan partner.

“Kamu ini gimana sih ? Masa Winda lulusan mana aja kamu nggak tahu.”

“Maksudnya?”, Masih aja mengalihkan pembicaraan. Hah..aku menghela nafas sebentar, entah kenapa kami terlihat lebih akrab dari kapanpun saat itu. Bukan sebagai teman masa kecil yang melakukan farewell atau semacam reuni. Melainkan sebagai seorang pasangan suami istri muda.

“Kenapa kamu nggak tahu kalo Winda itu lulusan mana ? Makanya kamu mesti hafal dong, setidaknya orang di sekitar kamu.. Ahhh udahlah, anak tetangga kita ada berapa aja kamu nggak tahu kan?” , Aku tersenyum memikirkan sifat anehnya.

“Kenapa tiba – tiba senyum? Ntar dikira orang gila loh,” Siluetnya membuatku tersenyum saat itu juga. Andaikan siluet ini bisa menggantikan senyumannya seketika.

“Udah ah, cepet habisin makanannya trus shalat, udah telat kan.”

“Iya, istriku yang baik.”, dia kembali tersenyum.

“Kamu murah senyum banget hari ini.”

“Apa?”

“Nggak ada siaran ulang.”

“Tunggu bentar ampe aku kelar shalat, baru pulang ya ? Nanti aku panggilin taksi.” Ucapnya saat melihatku sudah mulai berberes.

“Nggak usah, nanti juga ketemu di rumah kan, lagian waktu istirahat kamu tuh tinggal 15 menit lagi. Udah sana buruan.”

Dengan cepat ia melangkahkan kaki keluar, perawakannya menghilang dibalik pintu kaca. Sesaat aku baru sadar kalau dinding ruangannya kaca. Untung saja setengah bagiannya diburamkan, kalau tidak semua yang dikerjakan didalam akan terlihat keluar.

‘Tunggu, Ini kedap suara kan?’. Lalu aku menjawabnya sendiri.

******

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Novel Para Penafsir Cinta

atau akan di update di thread ini setiap minggunya.

Please leave a comment after reading ya, Guys emoticon-Wowcantik

Bab 4 Aku tak bisa berhenti mencintainya

“Kau tahu, seorang designer akan benar – benar melihat apa yang sedang ia kerjakan, bagaimana sense nya, bagaimana warnanya, bagaimana pencitraannya? Seorang pengrajin juga akan melihat setiap detail rotan yang dia anyam menjadi kursi, jarak antara rotan yang satu dengan rotan yang lain, bagaimana cara mengikatnya dengan rapi? Dan seorang pengrajin batik akan menorehkan tinta panas itu dengan hati – hati agar terbentuk pola yang indah di setiap kain yang di gambarnya. Dan kamu tahu ? Begitu juga caraku memilihmu?”

Hah….hah…hah….Tiba – tiba aku terbangun malam itu, sejak sebulan yang lalu aku menempati rumah ini, sejak setahun lalu aku menikah dengan Rian, ini pertama kalinya aku mimpi buruk. Entah tentang apa, aku merasa dadaku sakit dan ingin menangis. Rian langsung terbangun dari tidurnya. Suara teriakanku begitu keras. Tentu saja ia begitu panik melihatku tiba – tiba menangis.

“Bentar aku ambilin minum dulu ya”, Aku mengangguk lemah, aku mencoba mengingat – ingat apa yang aku impikan tadi, tapi tidak bisa. Rian kembali datang dengan tergesa – gesa membawa segelas air putih ke kamar dan memberikannya padaku.

“Minum pelan – pelan ”, Rian mengusap punggungku lembut, ia berusaha menenangkanku.

Ia kaget bukan main ketika aku tiba – tiba menangis dan memeluknya erat. Jangan dia, akupun tak tahu apa yang terjadi, aku tiba – tiba merasa seperti orang yang tengah sekarat, aku bingung. Aku memeluknya erat, Rian masih bingung tapi mencoba mendekapku hangat dan berusaha bertanya.

“Ada apa? Mimpi apa? Kok tiba – tiba nangis?” . Aku sebelumnya tak ingin menjawab pertanyaannya, tapi pertanyaan yang terakhir diajukannya membuatku menggeleng cepat.

“Cerita pelan – pelan. Kamu kenapa?”, Rian melepas dekapannya perlahan, ia baru saja akan turun dari tempat tidur ketika aku tiba – tiba menarik lengannya.

“Jangan pergi, aku takut”, aku masih menangis.

‘Apa yang terjadi padaku ?’. perlahan ku coba mengingat kembali apa mimpiku. Tentang apa kenapa begitu sakit disini. Kenapa rasanya begitu pilu. Apa yang aku pikirkan. Apa hal yang aku benamkan dalam pikiranku.

“Aku cuma mau nutup jendela kok, tangan kamu dingin, mungkin pengaruh angin malam yang masuk. Kita tutup aja ya? Ini juga kan udah jam 1 pagi. Nggak baik jendelanya di buka lama – lama” jelasnya padaku.

“Seharian kamu ngerjain apa aja? Mungkin karena lelah, kamu jadi mimpi yang aneh – aneh. Udah, jangan dipikirin lagi”.

Setelah dia mengatakan itu, hatiku mulai terluka, aku ingin sekali mengatakan, bahkan akupun tidak tahu mengapa aku menangis, seharusnya dia mengatakan hal – hal yang lebih menyenangkan lagi. Atau lebih baik dia tidak perlu mengatakan apapun.

“Udah, berhenti nangisnya. Lebih baik sekarang kamu tidur. Aku ada disini kok, jangan takut” Dia menarik selimut dan kembali ke posisi semula. Aku hanya bisa berpikir positif, mungkin saja dia lelah dan ingin tidur. Aku ikut membaringkan tubuhku. Tidak untuk tidur, aku mengingat apa mimpi yang sudah membuat aku begitu. Setengah jam aku masih menangis dalam diam.

Seharusnya aku tidak pernah menyukaimu sejak awal, seharusnya aku tak pernah mencintaimu sejak awal jika akhirnya hanya membuatku sakit bahkan saat aku sudah menjadi milik orang lain, perasaan itu masih terus bercabang. Bahkan entah sejak kapan jadi begitu besar.

******

Minggu berikutnya, Winda mengirimi sebuah pesan.

To : Sarah

Sarah, ini aku winda. Dpt nomor dr suami kamu hehe..

Kita ketemuan yuk, terserah deh tempatnya dmn, aku sih mwnya dirumah kamu hihi 😀

By : Winda

Aku hanya tersenyum saat ia menggodaku di sms, aku yakin dia penasaran, aku belum menceritakan apapun sejak saat itu. Kemarin, beberapa orang di kantornya termasuk suamiku terbang ke Jepang, mereka bahkan menginap selama dua malam untuk membicarakan sebuah proyek penting.

to : Winda

aku juga pengen ketemu kamu kok.. hihi

tapi jangan di rumah aku, lagi ada mama Rian 😀

by :Sarah

***

to :Sarah

Aku ngerti, cie ibu mertua..
Kita ktemu di cafe depan kantor aja gmn?

Hari sabtu aku ada dikantor

by : winda

***

to : winda

OK

by :sarah

“Saraaaah…lihat kartu kuning di kemejaku nggak?” Rian berlari ke dapur. Aku sedang sibuk mengaduk adonan tepung yang akan aku gunakan untuk melumuri ayam, besok aku mau buat ayam tepung, namun sebelum itu, aku ingin memasukkan ayam berlumuran tepung itu ke dalam freezer. Hasilnya akan lebih gurih dan lezat. Aku belajar ini dari Ibu.

“Kartu kuning apa? Ukurannya semana ?”, Rian selalu aja gitu, ninggalin barang sembarangan terus memintaku mencarinya. Ayolah, tugasku tidak hanya mencari benda pentingnya yang hilang. Sudah berkali – kali aku katakana padanya. Taruh barang itu di tempatnya. Nggak susah kan. Aku kesal luar biasa.

“Makanya kalo naruh barang itu diliat – liat, besok mau dipake lagi jadi harus tahu letaknya dimana, masa aku terus yang nyariin. Kemaren juga kamu tidur masih pake sepatu.”

“Kan ceritanya capek, Sar !, jawabnya sambil mencomot tepung dan mencoleknya ke pipiku.”

“Terserah kamu deh.”

“Duh, ada yang marah.”

Argh…aku lelah, minggu pagi yang cerah dan mengesalkan. Semenjak kami menikah, ini pertama kali aku memarahinya. Aku mematikan api, meletakkan adonan, mencuci tangan dan pergi meninggalkannya begitu saja.

“Capek, tiap hari nyari barang. Inilah, itulah.” Aku terus meracau sambil terus berjalan menuju kamar. Aku tahu dia mengikutiku dari belakang, tapi aku tidak peduli, aku langsung masuk ke kamar mandi, kemudian berwudhu.

“Jangan marah – marah terus, wudhulah nanti pasti hilang marahnya. Nanti biar aku bantu sampaikan padanya untuk lebih konsisten lagi pada pekerjaannya.”. Waktu itu aku kembali terlibat kepanitiaan kampus di semester 6, aku muak dengan salah seorang aggota yang sangat tidak konsisten, gara – gara dia semua kegiatan terhambat, alasannya selalu basi. Mengerjakan tugas lah, apalah.

“Dia itu punya tanggung jawab nggak sih ? Kita aja yang mungkin jauh lebih sibuk dari dia bisa ngerjain semuanya tepat waktu. Kenapa dia nggak bisa ? makanya dia itu nggak nyicil dari dulu, malah baru ngerencanain sekarang. Udah jelas nyari pembicara ama sponsor itu susah. Aku meracau sejadi – jadinya di tangga.

“Udah wudhu sana, marah – marah juga nggak nyelesain masalah kan ?”, Ucapnya kembali mengingatkan.

Suara ketukan pintu kamar mandi terdengar sangat jelas di indera pendengaranku, Rian sedang mengetuknya pelan. Untuk kemudian membuka suara.

“Sarah, aku minta maaf ya. Aku kira kamu nggak bakal semarah ini. Aku cuma belom terbiasa. ” Aku keluar dari kamar mandi dan mengejutkannya.

“Coba ingat – ingat lagi, terakhir kali kamu pegang kapan ?” Aku berusaha mencari kartu kuning yang dia maksud.

“Ehmmm…Kayaknya tadi malam sih masih ada di tas,” dia menjawab dengan ragu.

“Tasnya sekarang ada dimana?,” aku kembali bertanya.

“Ahh…Aku nggak yakin taruhnya dimana,” aku kembali menghela nafas mendengar penuturannya.

“Maaf”. Ucapnya singkat.

“Yaudahlah, dicari bareng aja. Kamu bagian sini ampe sana, aku bagian ini.” sambil menunjuk teritori masing – masing, aku dengan serius memasang radar penglihatanku ke segala arah, mencari dimana kiranya Rian menaruh tasnya.

Sejenak setelah aku memasuki ruang tamu depan, aku melihat secarik kertas berwarna kuning di bawah meja, tidak begitu besar, ukurannya sekitar A4 biasa. Aku bergerak kearah kertas itu sembari berdo’a agar kertas ini adalah kertas yang di carinya. Mood ku mulai membaik. Aku menariknya dari balik meja, angin berhembus dari arah pintu masuk yang sedari tadi memang kubiarkan terbuka lebar, sedikit menggerakkan jilbabku yang waktu itu berbahan halus, masih belum memegangi kertas yang kulihat, aku merapikan jilbabku dulu. Tanpa di sengaja, kertas itu terbang ke arah pintu, tidak terlalu jauh. Tapi aku kira itu kertas berupa map kerja atau apalah yang berhubungan dengan kantornya. Tapi jika dengan semudah itu bisa diterbangkan oleh angin sepertinya itu hanya secarik kertas biasa, aku beringsut maju ke arah pintu depan untuk mengambilnya, baru menunduk saja, tulisan yang ada di atas kertas itu sudah terbaca.

Sedetik kemudian aku memandang dengan tatapan tajam, kesal, sebal, apapun namanya pada suamiku. Dia yang dilihat begitu hanya tersenyum penuh kemenangan, rencananya kali ini berhasil.

“Ryaaaaaaan,” Aku berteriak keras. Menariknya keras.

Angin semilir yang terasa sejuk pagi ini tidak membuatku mengurungkan niat untuk tetap murka padanya. Dia ? hanya tersenyum ccengengesan tanpa rasa bersalah.

Malam ini kita makan di luar ya?
seminggu ke depan aku harus ke kalimantan. J

“Kenapa nggak langsung bilang aja sih ?,” Aku memukul mukul punggungnya, ia mengaduh kesakitan, tapi kurasa itu hanya respon yang biasanya di berikan seorang laki – laki ketika wanita memukulnya, aku tahu itu.

“Udah … aw.. ihh pukul aja udah sakit, ini pake cubit cubit lagi… udah. Iya deh aku minta maaf ?,” Rian sudah tak mampu menangkis semua pukulanku, dia menerimanya. Tahu begitu, aku tidak perlu mencari kertas ini.

“Abis kamu dari tadi, di dapuuur mulu.” protesnya Rian.

“Urusan kantor lagi ?”

“Iya, baru aja. Ahhh mereka enak banget nyuruh – nyuruh orang berangkat kesini kesana. Tiket pesawat nggak mahal apa”

“Aku udah bikin hubungan kita jadi sejauh ini. Ehh malah dijauhin lagi.” Dia menghela nafas, aku hanya bisa tersenyum.

“Perasaan dulu kamu sering banget ninggalin aku, nggak cuma dua minggu, tapi dua bulan.”

“Tapi kan kita udah damai, gimana sih ?”

“Tiap hari ketemu kamu aku lama – lama bosen.” Jawabku ngasal.

“Masalahnya, kan aku udah bilang bakal buat kamu jatuh hati ama aku. Ya kalo dipotong – potong gini nggak ampuh dong.” Aku terkejut mendengar kejujurannya.

“Semua punya proses, proses yang harus dia jalani, semua punya siklus, siklus yang harus dilewati. Sekuat apapun dia, tak ada yang bisa mengubah siklus, alur, dan proses – proses itu jika yang diatas tidak menghendaki.

Bukankah kita dilahirkan sebagai seorang bayi mungil yang masih merah dan menangis keras? Tidak bisa tiba – tiba si bayi itu berlari jika kedua orang tuanya ingin ia berlari secepatnya. “

Dia selalu saja punya kata – kata.

Aku terkejut melihat seorang pemuda sudah berdiri di depan pintu. Mungkin dari tadi.

“Assalamu’alaikum, maaf kalo ganggu waktu kalian.” Pemuda itu tersenyum tipis di tengah – tengah ucapan salamnya.

“Maaf, saya mau kasih dari kemarin, tapi nggak ada orang terus di rumah. ” Ia menjelaskan dengan sopan, aku memandang Rian dengan tatapan penuh tanya. Maksudku, siapa dia, sepertinya Rian mengenalnya.

“Oh iya sampai lupa. Kalian kan belum saling kenal. Sarah, ini Andra, putra pak kiai Salam. Dan Andra, ini Sarah istriku.”

Aku ber – Oh – oh ria ketika Rian memperkenalkannya padaku. Tampan sekali, terlihat sangat berpendidikan juga, gaya berpakaiannya juga sama seperti Rian, sederhana tapi masuk. Menanggapi senyuman pemuda itu, aku mengucapkan salam.

“Masuklah,”, Rian yang mempersilahkannya masuk, aku mendadak jadi orang bingung. Bahkan tamu datangpun tidak aku persilahkan masuk.

“Iya, silahkan duduk. Biar saya buatkan minum”, aku bahkan tidak mengingat itu. Rian yang mengisyaratkan padaku. Semacam kode.

“Ah..nggak usah. Jadi nggak enak dengan Sarah. Baru kenalan udah minta bikinin minum segala.”

“Nggak papa kok. Nyantai aja.”, aku menjawab singkat.

“Iya, lagipula gue belom ngomong banyak kemaren. Cuma formalitas doang”, Rian tanpa berpanjang – panjang kata lagi langsung saja mendorong Andra. Anak pak kiai itu tentu tak punya pilihan lain selain masuk.

“Udah jadi misi Rian buat nyari teman, jadi tolong diladeni aja”. Aku melanjutkan sebelum langsung mohon diri ke belakang.

******

Aku mendengarkan tawa lebar mereka dari sudut dapur sambil terus mengolesi Ayam dengan tepung, hanya tinggal menambahkan daun bawang saja, seharusnya ini sudah selesai jika saja Rian tidak menggangguku. Perlahan – lahan aku mencampurkan adonan yang agak keras itu dengan santan, agar lebih lunak kemudian memasukkan kuning telur ke dalam mangkok kecil. Aku bergerak menuju freezer yang terletak tepat di sebelah kiri westafel tempat biasa aku mencuci piring untuk mengambil beberapa hati ayam, aku sengaja tidak memasukkannya kedalam menu ayam tepung ku, tapi tadi malam, begitu tahu aku ingin masak ayam tepung, ia memaksa memasukkan hati ayam kedalamnya. Itu memang bagian kesukaannya. Perhatianku kini tertuju pada bagian sayap dan paha bawah.

“Ehm…aku suka paha bawah, tapi sayap kayaknya juga enak.”, idenya untuk menu makanan buat panitia.

‘Kenapa bayangan laki – laki itu terus saja muncul. Aku tak ingin mengingatnya, terlebih sehari sebelum aku bertemu dengannya lagi, dia tidak pernah masuk ke kepalaku lagi. Tapi saat melihatnya begitu dekat, Ahhh sudahlah, jadi dosa bila aku memiliki perasaan lebih pada lelaki yang bukan mahramku’.

Setelah semua ayam sudah aku lumuri dengan tepung, aku memasukkannya ke dalam freezer. Samar – samar aku kembali mendengar deru tawa suamiku dan sahabat barunya. Setelah membersihkan segala peralatan dapur yang kotor, membersihkan sudut westafel dan menghilangkan noda – noda tepung yang masih tertinggal di sekitar meja dapur, aku melepas celemek masakku, mencuci tangan dengan bersih dan berlalu ke kamar. Aku duduk termenung di atas kasur, sekedar melepas lelah, sejenak pikiranku kembali berkelebat tentang masalah itu, itu lagi dan itu lagi. Kapan aku bisa melupakannya.

‘Lihatlah sarah, kau sudah bahagia bersama suamimu, lalu apa lagi yang hendak kau pikirkan, jika kau masih memikirkan Dimas, itu berarti kau tamak. Tamak kebahagiaan, mungkin diluar sana banyak yang menginginkan Rian suamimu sebagai pendamping hidupnya. Tuhan sudah begitu baik padamu.‘

Tapi aku butuh penjelasan bukan ? Dimas harus memberiku penjelasan.

Air mataku keluar, hanya beberapa titik. Itu karena aku dengan segenap tenaga menahannya. Menahannya agar tidak benar – benar tumpah. Menantikan sesuatu yang sudah tak menjadi milikku lagi? . Benar, aku memang tamak, menginginkan sesuatu yang begitu ingin kumiliki sementara aku sudah punya yang lain. Aku begitu tamak, hingga semua keinginanku harus terpenuhi. Air mataku kembali menetes, aku mengambil bingkai foto itu lagi, bingkai foto yang pernah kupandang sambil terisak tangis dua bulan yang lalu, masih dengan pikiran yang sama. Oh tuhan akankah aku bisa melalui ini semua, akankah aku bisa mencintai suamiku sementara aku masih begitu mencintainya.

******

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Para Penafsir Cinta Bab 4

atau akan di update di thread ini setiap minggunya.

Please leave a comment after reading ya, Guys emoticon-Wowcantik
Diubah oleh ginaaw2018


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di