alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd5916b1a99750c7b8b4569/para-penafsir-cinta

PARA PENAFSIR CINTA

PARA PENAFSIR CINTA - Overview

Sarah, wanita yang menerima lamaran teman masa kecilnya untuk mengobati perihnya pengkhianatan dari laki – laki yang dicintainya. Pernikahan yang seolah sandiwara justru menghancurkan hatinya lebih dalam. Sudut hati yang masih menanti jawaban laki – laki itu membuatnya terjebak dalam cinta masa lalu, melupakan peran yang sesungguhnya.


Begitu penantian datang ke hadapannya, menarik kembali hati dan seluruh perasaannya, Sarah tak tahu lagi mana perahu yang harus ia naiki. Mana layar yang harus ia bentangkan.


Dan ketika hati tersadarkan, ketika tabir sudah terbuka lebar, ketika hati itu berbalik menuntut kebenaran, membuka paksa klise pemikiran  yang mulai menghitam.  Ia menjadi begitu tamak, menjadi begitu rakus dengan permainan hati yang dimulainya tanpa persiapan. Siapkah ia untuk sebuah pengkhianatan? Tegakah ia menjual sebuah kesetiaan ? dan ketika semua menjadi satu, Akankah kekuatan cinta itu tersisa ?

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Novel Para Penafsir Cinta

atau akan di update di thread ini setiap minggunya. 

Please leave a comment after reading ya, Guys emoticon-Wowcantik
Urutan Terlama

Bab 1 Salju di Musim Semi

Aku termenung di atas selembar sajadah bergambar kakbah, memandangi papan penyangga yang biasanya aku gunakan untuk meletakkan Al – Qur’an. Namun hati tetap tak tergerak untuk menyentuh dan mulai membacanya melainkan terus terpaku bisu. Ini sudah lebih dari 15 menit sejak panggilan Ashar selesai aku tunaikan. Air mata terjatuh lembut membasahi pipi sembabku, butuh waktu lama menyadarinya, untuk menyeka tangis yang entah sejak kapan mengalir deras, menuntut harap yang entah sudah keberapa kalinya. Tanganku menarik sebuah bingkai foto yang tertata rapi di atas sebuah lemari kecil tepat di sebelah ranjang. Bingkai dengan ornamen melati berwarna putih bersih yang membuatku hampir tak bisa menahan sesegukan tangis yang semakin menjadi – jadi.

Kubersihkan setiap bagian sisi bingkai itu seakan ada debu yang hinggap di atasnya. Meski aku tahu, baru tadi pagi aku membersihkannya. Perlahan mulutku mulai membuka suara,

“Maaf”, kalimat menyakitkan yang menusuk jantung serta ulu hatiku setiap kali aku mengatakannya.

Aku berusaha mengembalikan pikiranku. Menyeka habis seluruh bekas tangisku. Secepatnya tersadar untuk segera beranjak merapikan pakaian shalat dan mengenakan jilbab warna peach favoritku. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sore ini. Aku mengambil gembor plastik di parkiran dan mengisinya dengan air.

Rasanya baru kemarin aku menyirami bunga – bunga mungil ini. Sebulan yang lalu merupakan kali pertama kami datang ke rumah ini. Kesan pertama adalah gersang, sumpek¸ dan nilainya 3 dari 10. Tapi sekarang lihatlah, indah. Cukup indah untuk memenangkan hati orang – orang yang melewatinya.

Tak lama berselang, sebuah motor Satria yang cukup kukenal melambat ke arahku. Dan benar, itu motor Rian, lelaki yang menikahiku satu tahun yang lalu. Dengan wajah letih dan baju serta dasi berkerut, ia memakirkan motornya. Dilepasnya tas sandang hitam yang melingkar di bahunya dan meletakkannya di kursi teras. Dengan cepat ia melepas sepatunya dan masuk ke rumah diiringi aku yang mengekor di belakangnya sambil mengutip barang – barang yang ia lepas seenaknya.

“Assalamu’alaikum, gimana kerjaan kamu hari ini? Bikin lelah lagi ? ” Aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam yang seharusnya ia ucapkan. Aku berusaha selembut mungkin menyapanya. Jujur, meski kami sudah menikah selama 11 bulan, aku masih canggung kalau harus berhadapan dengannya. Terlebih harus melakukan hal – hal seperti ini. Menyapanya, menanyakan pekerjaannya, bahkan merapikan semua barang yang tak pernah sekalipun ia letakkan pada tempatnya. Aku merasa kami belum bisa disebut sebagai sebagai pasangan seperti kebanyakan orang. Suasana kami begitu kaku. Aku tahu ini bukan usaha terbaikku. Tapi setidaknya aku sudah berusaha. Berbeda dengannya yang masih bersikap seolah tak ada apa – apa di antara kami. Dan itu terbukti saat ia mengucapkan kata – kata yang meruntuhkan usahaku.

“Udahlah, nggak usah pake basa – basi segala. Kita udah nggak tinggal di rumah orang tua lagi. Jadi bersikaplah seperti biasa.” Ucapannya begitu ketus. Aku sudah biasa diperlakukan begini olehnya. Bahkan lebih buruk, dia takkan pernah menjawabku seperti sekarang ini. Jika disatukan, perkataannya selama 11 bulan ini mungkin belum sampai 10 halaman.

Untukku, masa bodoh. Yang penting aku melakukan setidaknya apa yang seharusnya aku lakukan. Selesai aku mencium tangannya, ia akan langsung ke kamar dan mandi kemudian duduk di singgasananya menonton televisi. Aku cuma perlu berperan sampai disitu.

Saat kulihat dia sudah mengambil handuk dan bersiap mandi, aku undur diri dari kamar itu. Tidak seperti biasanya, dia malah kembali membuka suara. Kali ini, aku tahu benar ada yang tidak beres dengannya.

“Kamu mau sembunyi terus kayak gitu ?”, Ia mendengus kecil ketika aku sudah di depan pintu kamar dan berbalik menghadapnya.

“Heh, kamu selalu keluar kamar pas aku mandi. Ehm..bukan itu aja. Kamu selalu berbaring munggungin aku pas tidur. Kamu bersikap seolah istriku tapi … .”

PRAKKK

Aku terkejut. Rian membanting frame foto di sampingnya. Frame foto kami berdua. Foto dimana aku berjinjit dibelakang punggungnya. Kami tertawa. Semua orang pasti bilang kami sangat serasi di foto itu.

“Kamu kenapa sih yan? Kenapa tiba – tiba ngomong aneh pake mecahin frame segala ?”, Aku mulai angkat bicara.

“Sembunyi aja terus di balik jilbab kamu itu.” Tangannya mulai menunjuk – nunjuk.

Aku memang tidak pernah masuk kamar saat dia mandi. Aku hanya merasa belum siap. Ditambah dengan sikap dinginnya kepadaku. Aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk bertanya. Sebulan setelah kami menikah, ia begitu baik padaku, ia mengerti bahwa aku memang belum siap dengan semua ini dan dia bilang dia akan menunggu aku siap. Tapi Semua sikapnya perlahan terus berubah bahkan sejak kami masih tinggal di rumah orang tuanya, sikapnya menjadi sangat dingin. Awalnya dia yang selalu mendominasi pembicaraan tapi setelah itu, selalu aku yang bertanya bagaimana hari – harinya, baik atau tidak ? Jika pulang malam, aku yang selalu bertanya apakah ia sudah makan malam? . Mungkin hanya sekedar itu yang bisa aku berikan untuk saat ini. Meski ini sudah berlangsung selama 10 bulan terakhir. Tapi dia tak pernah menanggapi, kami memang seperti memainkan skenario, tapi aku nyaman dengan itu.

Hanya saja aku merasa sikapnya jadi semakin dingin dan kata – katanya mulai kasar selama seminggu ini, tepat setelah ia pulang dari pekerjaannya di Sulawesi selama dua bulan. Mengurus proyek besar, katanya. Aku hanya bisa berfikir, mungkin saja proyeknya tidak berjalan dengan baik.

Aku baru saja ingin keluar, sebelum ia menyeretku dengan kasar menuju kamar dan menutupnya. Hatiku mulai panas, ini tidak benar. Pasti ada yang terjadi padanya. Begitulah terus yang terpikir olehku, air mata mulai terbendung di pelupuk mata saat cengkramannnya begitu kuat, bahkan ia mendorongku ke atas tempat tidur.

“Kamu kenapa sih? Nggak biasanya kamu kayak gini ke aku. Kamu mulai kasar.”, Aku begitu takut hingga tangisku lepas. Ia menarik keras jilbabku sampai meninggalkan bekas merah di pipi. Rambutku berantakan kemana – mana.

“Aku capek, Sar. Aku capek kamu perlakukan kayak gini terus. Apa memang sebaiknya lamaran waktu itu nggak pernah ada ?” Ucapnya terlihat frustasi, nada suaranya membuatku takut.

“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa? Kamu ada masalah di kantor ?”, Aku tak menyerah untuk mengalihkan pembicaraan.

“Ya, aku punya masalah di kantor, dan masalah itu kamu. Kamu yang mengekor seperti pembantu itulah yang ngerusak isi pikiran aku dan ngerusak semuanya.”

PLAAK

“Rian, kamu keterlaluan.”, Aku menamparnya keras. Aku sudah cukup tahan dengan apa yang dikatakannya.

“Heh.. tampar aku Sarah, tampar aku sampai kamu puas. Sampai kamu bisa ngerti dan nggak bersikap seolah pernikahan kita baik – baik aja.”

“Pernikahan kita baik – baik aja. Nggak ada yang salah.” Jawabku bergetar.

“Kita udah berteman sejak 8 tahun yang lalu Sar. Dan kamu berubah cuma karena ikatan ini.” Ia meremas rambutnya dan berbalik kemudian menedangkan kakinya ke arah pintu.

“Aku nggak merasa berubah.” Aku menangis namun tetap terlihat kuat menampik semua kata – katanya.

“Aku bahkan belum nyentuh kamu sama sekali, Sar !”, Kata – katanya bagai sambaran petir bagiku. Tak pelak aku berdiri dan menjawab kata – katanya.

“Heh.. jadi itu maksud kamu. Oke.. kamu mau kapan ? nanti malam ? ato sekarang juga ? baik !”, Sambil sesegukan dan marah aku mencoba merobek bajuku, dengan susah payah aku menariknya, aku begitu terbawa emosi hingga tak tahu bahwa bajuku terbuat dari bahan katun. Tapi aku tetap menariknya kuat, membuat tanganku memerah. Tangisku kembali tumpah ketika aku tak mampu merobeknya, aku berteriak dan menjatuhkan tubuhku ke bawah.

“Kamu sadar salah kamu Sar, tapi kamu masih bersikap seolah kita masih memainkan skenario murahan. Kita udah besar Sar, kita nggak sedang main rumah – rumahan lagi.”

Aku masih menangis, antara sesak di hati, rasa perih di pipi serta kedua telapak tanganku.

“Aku tahu, aku nggak kayak laki – laki sholeh yang kamu pengen. Yang tiap hari ngaji, shalat ini – shalat itu, ngasih ceramah, baca hadist ini dan itu. Tapi bisa gak sih kamu nggak bersikap seperti pembantu ? yang kamu lakukan selama ini cuma pura – pura kan ? ”, Ia mengeraskan suaranya, setengah berteriak.

“Apa yang kamu maksud dengan pura – pura ? Yan, berhenti bersikap memaksa.”

“Memaksa kamu bilang ? Sekarang jelasin ke aku apa yang kamu sembunyikan selama ini ?”

“Aku nggak nyembunyiin apa – apa?”

“Pembohong !”

“Lalu mau kamu apa ?”

“Aku mau kamu cinta sama aku.”

“Rian !” Aku menarik tangannya, mencoba membuat situasi sedikit tenang.

“Kamu istriku, Sar? Atau kamu bahkan nggak pernah anggap aku sebagai suami kamu ? Ooooh aku tahu, bahkan kamu nggak pernah anggap aku ada kan ? Ok Fine !”

“Rian ! Rian tunggu !

Tangannya bergerak melepaskan peganganku. Aku melihatnya berlalu dan membanting pintu kamar, suara motornya menderu sesaat setelah itu. Aku merapatkan lututku, tanpa merapikan rambutku yang sudah acak – acakan, aku menundukkan wajahku, membenamkannya di antara dua lututku lalu menangis, menangis sejadi – jadinya dan berteriak frustasi.

Ini pertengkaran kami yang kesekian kali sejak aku menikah dengannya. Laki – laki yang datang melamarku malam itu, teman masa kecilku yang entah sejak kapan mulai menyukaiku. Saat itu aku tak bisa membuat keputusan apapun, sampai ibuku mengeraskanku untuk tidak mengingat kembali laki – laki yang sudah mengisi hatiku sejak 4 tahun yang lalu. Laki – laki yang membatalkan khitbahnya tanpa memberiku alasan. Sulit bagiku berfikir bahwa lelaki lainlah yang akan meminangku sebagai istrinya, hatiku bersikeras bahwa takkan ada yang lebih baik darinya. Lalu apa gunanya aku berusaha selama ini? Aku mulai meragukan ucapakan ustadzah 3 tahun silam? Apa benar yang dikatakannya? Belum sholehkah aku selama ini? Aku mengganti celana jeans belelku dan berusaha setengah mati untuk memakai rok lebar yang membuatku hampir jatuh saat naik tangga, sulit gerak, gerah. Aku memperbaiki cara berjalanku, memperbaiki caraku minum, aku bahkan membaca novel – novel roman aneh yang tak inginku sentuh sebelumnya.Tidak berbicara terlalu keras, bersikap lemah lembut dan terlihat dewasa. Tapi apa gunanya?

Hari itu, aku terpuruk hingga tak lagi mampu berpikir. Langit senja menjadi sangat akrab menyapaku. Aku tak berminat menyentuh laptop, ponsel atau gadget lainnya yang akan memperburuk suasana hatiku.

Akankah ia merasakan hal yang sama? Entahlah, saat ia mengatakan padaku, terasa manis, sangat manis di telinga, membuatku seolah terbang ke angkasa, seolah aku sudah menginjak langit, aku merasa inilah buah dari jerih payahku selama ini, tapi aku keliru, semua berawal dari hari itu.

Ibuku tak bisa tinggal diam. Beliau langsung menerima pinangan yang datang di saat yang tepat. Tapi aku belum mau mengerti, egoku begitu besar, segala yang hancur kuanggap takkan kembali lagi, lalu apa gunanya semua ini. Apa gunanya semua pengorbanan ini. Lamaran itu, ibuku yang menjawabkannya untukku, namun hatiku benar – benar dalam kondisi yang salah, aku terus memikirkan hal – hal yang membuatku frustasi. Aku bahkan merasa jadi orang paling munafik, seharian aku mengurung diri di kamar, aku menutup semua pintu jendela. Aku mengisolasi diri seperti orang bodoh. Aku hampir gila.

Sampai kata – katanya terngiang di kepalaku. Perkataanya 2 tahun yang lalu.

“Lo tahu nggak, apa yang gue lakuin kalo otak udah mumet, stuck, trus nggak ngerti lagi mau ngapain?”

“Ngapain?”, aku penasaran pada jawabannya.

“Shalat. Dua rakaat cukup. Trus curhat deh ama Tuhan “, kata – katanya begitu menenangkan. Kala itu aku benar – benar ingin berkata ‘ Subhanallah Gue suka banget ama lo’

Teringat akan hal itu, aku melakukan apa yang ia katakan, tanpa ragu aku berdiri dari tangisku, mengambil kembali air wudhu dan bergerak mengambil pakaian shalatku, kusapu tangis yang masih membanjiri mataku yang sudah sembab. Setelah itu, hatiku mantap untuk menjalani pernikahan ini, hatiku menemukan pencerahan bahwa keinginanku selama ini hanya ego semata, nafsu belaka. Semua bukan salah siapa – siapa , tapi memang begitu yang harusnya terjadi. Sekat demi sekat kehidupan, apapun itu, sudah ada yang mengaturnya, mau apapun yang kita rencanakan, secerah apapun sedetik yang lalu, bisa saja berubah di detik berikutnya. Mungkin saja ia menjadi orang yang pernah aku kagumi, namun tak semua cinta mesti menggenggamnya baru mengatakaan itu cinta, manusia terlalu lemah untuk mengartikan besarnya definisi cinta. Cinta bisa bermakna, dan bisa tak bermakna. Cinta bisa ini dan bisa itu. Tapi cinta tak sama dengan pernikahan. Cinta bukan satu – satunya alasan pernikahan, cinta bukan satu – satunya akar pernikahan, cinta hanya sepersekian persennya.

******

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Bab 1 Salju di Musim Semi

atau akan di update di thread ini setiap minggunya.

Please leave a comment after reading ya, Guys emoticon-Wowcantik

Bab 1 Salju di Musim Semi - Part 2

******

“Oh … perkenalkan nama saya Rega, saya yang akan jadi teman anda di Sulawesi.” Seorang laki – laki menghapiri Rian.

“Oh begitukah, senang bertemu dengan anda. Tapi apa nggak terlalu formal kalau kita bicara kaya gini. Yah.. Saya biasa menggunakan bahasa non formal meskipun sedang ada urusan proyek begini.” Rian membalas menjabat tangannya.

“Ehm.. Oke. Semua gampang di atur. Gue juga sebenernya males pake bahasa beginian. Tapi berhubung gue masih dikendaliin ama bokap. Yaaah jadi harus gimana.”

“Aaah .. jadi lo anak yang punya perusahaan ?”

“Ya.. bisa dibilang begitu.”

“Berarti Saya harus hati – hati dong.”

“Ahhaha… bisa juga lo.”

Itu hari pertamaku berada di Sulawesi. Dan mau tidak mau aku harus mengakrabkan diri dengan Rega, rekan bisnisku yang akan sering kujumpai dalam dua bulan ini. Dia tidak buruk, justru enak di ajak bicara. Semua berjalan sangat lancar. Terimakasih pada koneksinya yang begitu besar. Dia mempermudahku dalam berbagai urusan, dan waktu dua bulan akan segera menjadi hari – hari yang berlalu dengan cepat. Aku tak tega meninggalkan Sarah begitu lama, meskipun aku masih merasa ia mungkin senang tidak bertemu aku selama dua bulan ini. Apa yang salah denganku ? Sudahlah, aku harus konsentrasi pada proyek ini dulu.

Aku dan Rega semakin dekat bahkan lebih seperti sahabat dibandingkan rekan bisnis. Kami sudah mulai menceritakan hal – hal yang bersifat pribadi. Termasuk keluarga. Rega terkejut mendengar aku sudah menikah, bahkan sudah 8 bulan yang lalu.

“Gue iri banget ama lo. Pasti ceweknya cantik banget ?”

“Ehm… kalo gue bilang cantik ntar lo mau lagi. Yah .. lebih dari cukup lah.”

“Kan bener cantik. Nemu dimana lo?”

“Lo kata barang ! dia temen masa kecil gue. Dan cinta pertama tentunya. Ah gue jadi malu ngomongin ini, udah kayak ibu – ibu ngegosip gak sih.”

“Ahh nyantai aja kali.”

“Lo udah punya calon atau .. ?”

“Ini dia masalahnya gue pengen nikah tapi nggak punya calon. Gue masih ngincer cewek yang dulu pernah gue suka, tapi sayangnya dia malah nyukain orang lain.”

“Wiiih . cinta bertepuk sebelah tangan nih kayaknya.”

“Ini bukan bertepuk lagi, udah di gampar yang ada.”

“Emang kenapa tuh cewe, lo kan cakep, tajir lagi.”

“Nah itu dia, nggak ada yang salah kan di gue ?”

“Ehe ..ini dia masalahnya. Lo overpede. Alias kepedean”

“Tapi ada satu yang gue nggak punya.”

“Apa?”

“Gue nggak punya semua yang dia mau.”

“Maksud lo ?”

“Gue suka ama wanita muslimah, bro. Dan gue denger dia suka ama temen gue. Dan temen gue juga suka ama dia. Sejak itu, gue mulai cari tahu tentang dia, dari nanya ke temen – temennya, liatin tindak – tanduknya. Dan gue bodohnya baru nyadar.”

“Nyadar ?”

“Ternyata gue bahkan nggak ngenalin dia sejak awal. Dia waktu masih jadi mahasiswa baru tuh beda, urakan, serampangan, jilbab nggak bener, ke kampus pake jins belel. Gue baru nyadar setelah liat di dokumentasi angkatan. Dan dia yang gue suka itu adalah dia yang udah beda.”

“…”

“Dan lo tahu siapa yang bisa buat dia jadi beda gitu? Temen gue, segitu cintanya dia ampe dia berubah sedrastis itu, yang kalo menurut gue itu 180 derajat. Ampe gue yang nggak pernah ngelirik aja jadi ketarik.”

“Kenapa lo nggak ngejer dia ?”

“Udah nggak ada ruang buat gue bro, tuh cowok udah khitbah dia duluan. Lah gue baru aja mau jadiin dia pacar. Ya nggak match dong.”

“Hahahahah … hahaha”

“Emang lucu ? ini cerita sedih. Malah ketawa lagi.”

“Namanya siapa sih? gue penasaran. “

“Sarah, anak Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Angkatan 2006.”

“ …” aku terdiam.

Tak ada kata – kata yang mampu menggambarkan kondisi hatiku saat itu, api kecemburuan meruak di dadaku. Betapa terkejutnya tatkala wanita yang diceritakan Rega adalah Sarah, istriku. Betapa seakan rasa benci menyusup dan merenggut semua sisi baikku. Betapa semua dugaan itu terkuak didepan mataku sendiri. Sejak itu aku berharap tak pernah bertemu lagi dengan Rega. Aku bahkan tak peduli untuk sekedar menanyakan siapa laki – laki yang menjadi temannya itu. Laki – laki yang tak menyisakan tempat bagiku di hati Sarah. Laki – laki yang tanpa bertemu berhasil menghancurkan mimpi dan penantian panjangku.

Tertarik untuk membaca ceritanya ? Silahkan kunjungi Bab 1 Salju di Musim Semi

atau akan di update di thread ini setiap minggunya.
Diubah oleh ginaaw2018

Bab 2 Awal yang indah

Malam itu, aku menuggunya di ruang tamu kami yang mungil, sudah 5 jam ia meninggalkan rumah, aku tidak tahu ia kemana. Aku mencoba menghubungi ponselnya meski aku tahu ia tak akan mengangkatnya. Aku ingin menanyakan keberadaannya pada beberapa teman kantornya yang aku tahu, tapi aku urungkan. Aku terus menunggu sambil menahan kantuk yang kian merasuki sudut – sudut mataku, kelopak mataku begitu berat hingga terus tertutup meski aku berkali – kali bersikeras membukanya. Sofa sederhana kami terasa begitu lembut malam itu, satu jam pertama, aku masih mampu menahannya. Namun semua pertahananku runtuh ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, aku tertidur. Malam begitu dingin, hujan deras menerpa di luar sana. Rian, entah mengapa aku menanti sosok itu pulang.

“Eh, bakal ada orasi lo di kampus. Waktu itu kamu bilang pengen ikut?”, ia tersenyum didepan lift, entah ada kelas apa hari ini, yang jelas meskipun kuliah di jam yang sama, ada beberapa mata kuliah berbeda yang kami ikuti. Ia terlihat antusias bicara padaku, orasi, aku mengingatnya. Ketika itu liburan dan aku sangat ingin mengirimkannya beberapa pesan, tapi aku tidak punya alasan untuk itu, karenanya aku mengirimkan beberapa pesan mengenai orasi ke ponselnya, aku harap itu akan berlangsung lama. Namun sangat disayangkan, dia hanya membalasku dengan jawaban singkat.

“Ah…ada beberapa tugas kuliah yang mesti gue kerjain, dan temen- temen udah ngajak nonton duluan minggu ini, maaf ya”, aku tersenyum padanya. Saat pintu lift terbuka, kami bergerak masuk, dan baru disadari jika tak ada yang mengantri lift selain kami. Sejenak, aku bisa tersenyum di belakangnya. Benar – benar sebuah mimpi saat aku bisa dengan jelas memandangnya.

“Kuliah apa?”, Akhirnya dia angkat bicara. .

“Ehm…gue harus ngulang aljabar linier di semester ini, Jadi malu”, aku hanya diam dan tak berniat lagi memandang wajahnya.

“Gue berhenti di lantai 4. Duluan ya. Assalamu’alaikum”, tak pernah meninggalkan kata salam, itu salah satu hal yang aku suka darinya.

Aku mengerjapkan mata, pegal menyerang, sepertinya sudah terlalu lama aku tertidur di atas sofa. Sambil mengerjapkan mata, aku melihat sekitar. Sepertinya belum shubuh. Benar, ini masih pukul 2. Tapi tubuhku menangkap hal yang tidak biasa, aku memang belum mengubah posisi tidurku. Sepertinya ada yang menggamit pinggangku, dimana ini ? Sekilas masih merasa janggal, akhirnya tertangkap olehku sosoknya, Rian berbaring di depanku. Kami saling berhadapan, sontak aku terkejut, namun masih tidak ingin bersuara. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya ketika kulihat matanya mulai mengerjap, aku kembali menutup mataku. Berpura – pura tidur, sambil menahan rasa gugup. Aku berusaha bersikap natural. Aku merasa dia memandangiku, lengannya sudah ia lepas dari pinggangku. Dan kini ia menyeka rambut yang sedikit menutupi wajahku dengan lembut.

“Hah….”, aku mendengarnya menghela nafas. Aku masih berpura – pura tidur.

“Maafin aku, Sar. Seharusnya aku nggak pernah ngelamar kamu. Bagaimana hubungan kita setelah ini, mungkin akan jauh lebih buruk. Setidaknya dulu aku masih bisa berbicara dan menyapamu. Memandangmu dalam diam seperti orang bodoh.” !”, ia mengecup keningku lembut dan bangun dari tempat tidur. Ketika kurasakan matanya tak lagi tertuju ke arahku, aku memberanikan diri mengintip.

Saat pintu kamar tertutup, aku langsung bangun. Aku tahu maksud perkataannya. Dalam hati ada sebongkah perasaan yang tak ingin dia terluka.Aku berlari keluar dan menangkap sosoknya.

“Rian, maafin aku ”, Dia begitu terkejut melihat kehadiranku.

“…” ia berbalik menghadapku, namun tak bersuara. Hanya menatapku dalam.

“Oke, aku salah. Aku ngaku aku salah.”

“…”, ia kembali berbalik tanpa menghiraukanku.

“Yan ! aku ngaku aku salah !”, tangisku pecah. Aku jatuh terduduk, menangis terisak hingga dadaku serasa ingin meledak menyembul keluar.

“Rian, jangan tinggalin aku lagi ! !”, Akhirnya aku mengatakannya. Rian berhenti, aku sudah bersimbah tangis tertunduk di lantai, meremas segenap helai baju yang bisa kuremas.

Rian berbalik, ia menarik nafas kemudian berjalan ke arahku. Memelukku sekuat tenaga. Aku, aku hanya bisa menangis memukulinya seperti anak kecil. Aku tahu dia juga menangis, tapi aku tak peduli, aku terus memukulinya, untuk kemudian tenggelam di dada bidangnya, dalam pelukan hangatnya.

*****

Tak terasa sebulan berlalu. Tak pernah terbayangkan olehku, hari – hari seperti ini akan datang dalam rumah tangga kami.

“Pagi, ..” Masih dengan malu – malu aku menyapa Rian yang sudah duduk tegap di atas singgasananya.

“Tumben bangun telat.”, Aku tersenyum menangkap kecanggungannya.

“Kamu lucu.” Pujiku.

“Oooh..”, ternyata dia masih hemat kata – kata .

Seperti biasa aku menyiapkan sarapan pagi, pisang goreng dan bubur kacang hijau menjadi menu yang aku pilih untuk pagi ini. Rian sudah beranjak ke halaman depan unutk menyiram tanaman, ini menjadi rutinitas barunya selain hanya duduk di depan TV. Mungkin sedang tidak ada acara TV yang bagus.

Sarapan sudah selesai. Rian tak kunjung masuk ke rumah padahal cuma menyiram bunga.

Ketika aku menyambanginya di teras rumah, ternyata dia sedang ngobrol dengan pak Kiai, Ustad yang begitu dihormati di kampung ini. Setahuku beliau sudah tinggal disini sejak dua puluh tahun yang lalu bersama putrinya yang kini kuliah di Yokyakarta, di sebuah Universitas ternama jurusan Kedokteran. Terakhir aku dengar, putrinya akan diwisuda bulan ini. Ia lebih tua dua tahun dibandingkan aku dan suamiku. Selain itu, beliau juga punya seorang putera yang aku tahu usianya tidak terpaut jauh.

Dari jauh kupandangi Rian, benarkah aku menjadi seseorang yang berbeda di matanya ? 8 bulan kami tinggal di rumah orang tuanya. Tidak ada yang istimewa, semuanya justru hambar, tak ada kata.

“Assalamu’alaikum pak Kiai, waduh ini pagi – pagi udah jalan – jalan. Sehat pak Kiai ?” Akhirnya aku memutuskan untuk menampakkan diri di tengah – tengah mereka.

“Wa’alaikum salam.., tambah cantik aja dek Sarah. Sedang buat sarapan ya?”, jawab beliau sambil tersenyum ke arahku, beliau memperlihatkan sosok ayah yang kuimpikan. Berbicara lembut dan ahli agama. Begitu mencerahkan, pikirku.

“Alhamdulillah pak kiai, baru selesai buat pisang goreng sama bubur kacang ijo. Monggo, Sarapan disini.”, Beliau keturunan Jawa, tapi sudah lama merantau sejak menikah. Sehingga bahasa jawanya sudah tidak begitu kental.

“Tidak usah, terima kasih. Ini saya mau ke bandara jam 10.00. Mau jemput Andra, dia baru selesai kuliah dan akan cari kerja disini.”

“Ooh bagus itu pak kiai, mungkin bisa satu perusahaan dengan Rian.” Tambahku.

“Nah itu dia yang tadi Bapak bilang ke Rian. Kalau ada lowongan, wes langsung di hubungi Andra saja. Nanti bapak ajak dia kenalan.”

“Oh gitu pak Kiai.”

“Andra itu anaknya suka ngawur ngidul, bebas begitulah. Jadi suka tidak peduli sama masa depan. hidupnya buat hari ini, besok ya pikirin besok. Begitu prinsipnya.”

“Hahaha… maklum baru lulus, masih ada jiwa mahasiwanya, pak kiai.”

“Heh .. dia itu aturannya lulus di tahun kalian, gara – gara kerjaannya yang aneh – aneh itu jadi terlambat.”

“Bikin usaha barang kali.”

“Woh … bikin usaha apa ? dia itu ngejar pacar nya sampai ke Singapur sana. Habis uang saya.”

“Oh … bagus itu pak kiai, berarti setia toh.”, sekarang giliran Rian yang menimpali.

“Dianya setia, lah yang ceweknya malah nikah sama orang lain. Ndak mau sama anak saya yang belum lulus.”

“Pacarnya lebih tua pak Kiai ?” tanyaku setengah bercanda.

“Ya itu trend anak muda sekarang katanya, entahlah. Ya sudah kalau gitu. Makasih ini sudah di ajak bicara. Baik – baik saja ya pernikahannya.”, Pak kiai bergegas pulang.

Rian aku seret masuk ke ruang tamu dan segera menanyainya.

“Kamu cerita apa ke Pak Kiai ?”

“Enggak, dia yang nyamperin aku duluan. Tetangga di sini telinganya tajam.”

“Maksud kamu?” aku masih tak paham maksudnya.

“Yah siapa lagi, itu ibu Lani, dalam 5 menit mulut embernya udah berkicau ke mana – mana.”

“Hush, nanti di dengar sama yang punya nama lo..”

“Bodo, kayak dia nggak pernah cekcok aja. Nggak tahu masalah orang main nyosor sana – sini”

“Udahlah Yan.”, aku cuma bisa tersenyum hambar. Rumah tangga itu kalau bukan dari dalam, rintangannya juga ada dari luar.

“Tapi Pak Kiai itu baik banget, tahu begitu dia langsung nemuin kita. Udah kaya pak RT aja.”, kataku masih tetap berdiri melihat kepergiannya.

“Aku jadi di ceramahin abis – abisan.”

“Maaf !”

“Kenapa malah kamu yang minta maaf, harusnya si Ibu Lani itu. Bikin kesel orang pagi – pagi aja.’

“Ya udah, makan dulu sana. Udah di siapin.”

“Hn”, Lagi – lagi hemat kata – kata, giliran marah aja dia ngeluarin semua isi kamusnya.

“Kamu semangat banget hari ini. Mau dapet gaji ?”

“Ishh ..”

“Pisang nya enak, buburnya juga. Belajar dari mana?” Rian memuji setengah hati.

“Nggak dari mana – mana.”, Rian bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku.

“Makasih,..”, Katanya berbisik tepat di telingaku.

“Apa?”, Aku dengar, tapi pura – pura tidak dengar

“Udah ah. Nggak ada siaran ulang.”

Bicara tentang beberapa hari yang lalu, yang berubah itu bukan aku tapi dia. Dulu Rian nggak pernah hemat kata, dia juga ceria. Sekarang dia berbeda, dia tumbuh jadi lelaki yang lebih dewasa. Aku suka, tapi dia kehilangan sisi humornya, dia kehilangan senyum manisnya. Bukankah dia yang sejujurnya jadi sosok yang berbeda. Ataukah kami memang jadi berbeda ?

“Oh iya, ada acara Grand Launching di kantor. Karena acara besar, semua karyawan di minta bawa pasangan.”

“Loh kok ?”

“Katanya sih supaya lebih dekat, satu perusahaan seperti keluarga. Gitu deh..”

“Kapan?”

“Masih seminggu lagi, jadi kamu bisa siap – siap?”

“Ok. Aku bakal jadi yang tercantik nanti”, tak lupa aku sunggingkan senyum terbaikku padanya. Kami sudah mulai terbiasa satu sama lain. Ini kali pertama kami menhadiri acara bersama. Senang membayangkan hal – hal seperti ini bisa terjadi di kehidupan kami. Tentu bila menilik ke belakang, hal ini hampir tidak tidak pernah terjadi. Jangankan makan malam di luar, obrolan seperti ini pun sangat jarang. Aku begitu takut membayangkan hari – hari seperti itu kembali lagi.

****

“Yan, bisa temenin aku belanja nggak?”, tanyaku masih canggung. Ini kupelajari dari buku, katanya berbelanja bersama juga bisa jadi moment romantis yang bisa dilakukan oleh pasangan. Aaah ngapain juga aku baca buku itu. Pasti Rian nggak mau. Tuh kan dia mikirnya lama.

“Hn”

“Apa?”

“Nggak ada siaran ulang.”

“Beneran nggak denger.”

“Iya.”

“Sekarang ya ?”

“Tahun depan.”

“Ishhh.”

“Hm?”

“Aku cuci piring dulu, jam 11 kita pergi, gimana? Sambil beliin buah buat mama kamu. Pesenan nya . hehe ..”

“Emang mama nggak bisa beli sendiri apa.”

“Rian !”

Rian, si muka rata ini nggak peka sama perasaan orang tua. Udah dua bulan nggak tinggal bareng ya kalo nggak mereka yang ngunjungin ya kita dong yang harus kesana. Gimana sih ? Aku tarik kalimat yang bilang dia itu dewasa.

“Aduuuh, ini kenapa pakaian kotornya disini sih ? Rian kamu main buang – buang baju lagi ya ? kan udah aku bilang taruh di box yang disitu.”

“Iyaa.”, dia menyahut dari jauh. Sekedar itu.

“Hah ….”

“Dia jadi lebih cerewet dari sebelumnya. Kayaknya emang ngga usah baikan aja apa.”

“Gue denger”

“Eh pake gue – gue.”

“Ih biarin, orang kamu ngga bisa dibilangin. Aaaaaa”, Rian berlari ke arahku, masuk ke dalam kamar mandi, mengambil busa di mesin cuci dan membuangnya ke arahku.

“Rian, awas ya..”

“Aaaa jangan main cubit – cubit ah. Di siram nih”

“Rian berani ya kamu, aku ceburin ke kolam loh..”

“Apa?”

“Laptop kamu.”

“Coba aja kalo bisa.”

“Beneran ya..’

“Aku punya foto kamu lagi bobok, ilernya keluar. Iiii… di upload di sosmed loh..”

“Huwaaaa … mana .. mana ?”

“Boong.!”

“Rian..!!!”,

“Jangan marah – marah.”

“Aku sayang kamu.” Aku memeluknya dari belakang.

“Rian, .. kamu ..kenaaaaa. hahaha’, Aku melumerinya dengan busa sabun sebagai balas dendam tentang yang tadi. Dia tentu saja tidak mau kalah, diambilnya air segayung dan mencipratkannya padaku.

Sejenak aku melupakan semuanya, aku melupakan semua rasa yang pernah aku punya. Aku ingin mencurahkannya hanya pada orang di hadapanku. Lama kami berpandangan, kemudian ia memelukku kembali dengan erat.

Aku menemuinya, aku menemuinya dengan penuh keraguan. Lama aku memikirkan ini dan hasilnya tetap sama. Cinta harus diperjuangkan bukan. Aku tak peduli bila nanti dia menolakku, tidak ada salahnya mencoba. Aku akan memantapkan hati untuk melamarnya kali ini.

14 Oktober 2012

Tidak mungkin, kata ibunya lamaranku di terima, aku begitu senang hingga aku tak merasa menapak tanah. Jiwaku terbang melayang begitu tinggi. Wanita yang sejak dulu kucinta akan jadi istriku. Aku begitu menanti hari itu.

15 Oktober 2012

Tanpa sengaja buku itu terjatuh di antara kemeja Rian. Dia sudah dari tadi keluar kamar, menunggu aku siap. Aku mengambil dan membacanya.

******

Suka sama ceritanya? Silahkan kunjungi blog saya untuk kelanjutan ceritanya Novel Cinta Islami Bab 2 Awal yang Indah

atau bisa di balasan thread di bawah, updated every week ya guys

Silahkan tinggalkan jejak setelah membaca ya, guys emoticon-Wagelaseh


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di