alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd55af196bde62e468b4567/gitar-tua-biru

Gitar Tua Biru

Halo sahabat kaskuser, perkenalkan nama gue ihsan, gue baru sih di dunia kaskus dan masih nubie. So, gue disini butuh dukungan dan juga butuh bimbingan juga dari kalian.
Oke, ini adalah sebuah cerita berbau komedi, ini cerita fiksi, jadi nikmati aja ceritanya, namun jika cerita ini banyak salah nya mohon bimbingan dari agan2 senior. Alasan gue nulis cerita disini, karna gue emang suka berimajinasi dan suka baca juga sih tapi bukan kutu buku melainkan silent rider hehe.
Mungkin cukup jelas dengan perkenalan nya ya sob, oke langsung aja.


PROLOG
Di suatu malam yg sunyi, terdapat satu cahaya yg cerah, itu adalah cahaya bulan. Aku berjalan menyusuri cahaya itu, karena saat itu aku sedang melamun dan pikiran ku lagi kosong, seakan akan aku terhipnotis.
Setelah aku berjalan menyusuri ke cahaya itu, aku terdiam di suatu tempat, aku melihat ada sebuah gitar tua yg berwarna biru, lalu ku ambil gitar itu. Akan tetapi gitar ini tidak memiliki senar, tapi aku terkejut, tak ku sangka gitar itu bunyi dengan sendirinya, suara gitarnya begitu merdu, aku kaget sepertinya aku ingin lari dari kenyataan ini, aku pun memaksakan untuk lari dan lari sekencang mungkin, tapi gitar itu melayang mengikutiku seakan mengejarku. Aaaaaaarrggghhh... tidaaaaaaakkk.

Nafasku tak beraturan, hingga akhirnya aku terbangun dari tidurku, huh, ternyata itu hanya mimpi, syukurlah. Lagian aku udah punya gitar berwarna biru, udah lumayan tua juga sih, tapi sudah jarang aku pakai, apa itu pertanda gitar itu harus aku pakai lagi?


INDEX
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Diubah oleh Pumpkins718
Urutan Terlama
Kisah Di Balik Gitar Tua Biru



Gitar Biru Tua itu adalah peninggalan dari almarhum Ayahku, dulunya beliau adalah gitaris palapa. Iya, dia seorang gitaris handal dalam panggung dangdut.
Bahkan ayahku juga sudah di kenal di kalangan masyarakat. Kata tetangga ayahku itu baik, ramah, suka menolong, suka menabung, suka sama istri tetangga hehe. Engga lah, ayahku memang baik dan setia tentunya. Dulu ayahku pernah di tawari oleh band ternama yaitu a7x (acara 7X sehari) itu adalah acara rutinitas di kampung kami. Namun ayah ku lebih memilih bergabung dengan SONETA yang di gawangi oleh i made wirawan, ehh H. Rhoma irama namun itu hanya dalam lamunan ayahku saja.


Aku bangga dengan ayahku, aku ingin seperti dia menjadi gitaris handal, namun apalah daya, aku ga bisa main gitar, ayahku sempat mengajariku, aku hampir bisa, namun semua gagal semenjak ayah ku keburu meninggal, ga ada lagi yg mengajariku main gitar. Ahh sudahlah, aku akan belajar sendiri, namun susah, hingga membuatku putus asa, dan akhirnya gitar itu aku simpan di kamarku dan jarang aku pakai.


Ternyata bermain gitar itu tak semudah membalikan telapak kaki, ehh tangan. Tapi aku harus bisa, karena pesan dari ayahku sebelum meninggal dia berkata "nak, tolong jaga gitar ini, dan jadilah gutaris handal. Syukur2 bisa menjadi gitaris orkes/elektun di acara hajatan.."
Aku hanya meng iya kan aja, agar beliau tenang di alam sana. Disitulah aku mulai bangkit belajar main gitar, aku meminta bantuan ke temen2 ku yg udah mahir main gitar, untuk mengajariku. Tapi teman2 ku malah mengejek ku, katanya gitar ini fals, udah di tunning berapa kali pun masih fals, aku bingung dengan gitar ini, aku pun kesal, "ahh sialan nih gitar, ko gini amat ga bisa di benerin! Gue simpan aja di kolong tempat tidur gue" cerutu ku dalam hati.

Itulah awal mula kenapa gitar itu aku simpan dan ga pernah di mainin lagi, gitar itu aneh dan langka. Tapi begitu pun juga itu gitar peninggalan ayah ku.
Mungkin gitar itu perlu adaptasi dengan pemiliknya yg baru? Kayanya?
Balasan post Pumpkins718
Tolong ajariku Main Gitar!



Aku adalah mahasiswa di salah satu universitas di Bandung, aku tinggal bersama ibu di pertengahan kota. Ibu ku adalah perempuan, iya perempuan yang luar biasa yg bisa membiayaiku kuliah. Walaupun ia hanya bekerja sebagai PNS. Kata ibu, aku adalah anak yg cerdas, pintar dan nakal. Nakal gapapa, asal jangan nakal ke cewe aja. Padahal cerdas yg ibu maksud bukan lah cerdas yg kalian kira, aku cerdas dalam hal berbohong, dan pintar dalam hal segi berbohong juga.
Tapi aku ga nakal seperti yg kalian kira, menurutku wajar lah kalo cowok nakal.

Sebulan sudah berlalu, aku masih kepikiran soal gitar tua itu. Karena sampai saat ini aku belum bisa, tapi kabar baiknya gitarku sudah kembali normal ga fals lagi kaya dulu. Itu semenjak aku sholat subuh 2 raka'at. Engga lah, itu karena teman ku yg mahir dalam dunia gelap, eh dunia gitar namanya si ibnu, dia teman ku sewaktu SMP, dan kami di pertemukan di sebuah taman.


"Hai bro, apa kabar?" Sahut ku.
"Bentar, lu siapa monyet?" Jawabnya kebingungan.
"Sialan lu manggil gue monyet, lu udah lupa sama gue?" Sahutku lagi.
"Lah, emang gue ga kenal!" Jawabnya.
"Lu ibnu kan? Temen smp gue? Sahutku.
"Muke gile lu, gue dadang bapaknya?" Jawabnya nyolot.
"Wadaaaw" sial gue kira si ibnu, pantesan aja galak, ternyata bapaknya, lagian muka nya mirip sih, ya miriplah orang dia bapaknya.

"Ibnu nya kemana beh"

"Noh, (nunjukin ke arah timur) tuh di sana!"

"Oh iya itu dia, makasih beh!"

Langsung aja aku menuju ke arah timur, rupanya si ibnu lagi duduk di bawah pohon, kaya tenyom aja, senyum2 sendiri dia sambil liatin layar ponsel. Hmm mencurigakan, sedang apa gerangan.

*enemy has been slay
*double kill
*triple kill
*maniac
*savage

"Horeeee... akhirnya savage juga!!"

"Lagi apa bro? Girang amat!"

"Eh, sejak kapan lu berdiri di sana!"


"Sejak miya jadi marksman!"

"Eh serius bro, lama kita ga jumpa!"

"Iya bro, gimana kabar lu?"

"Alhamdulilah, lu sendiri?"

"Baik bro. Oh iya, kebetulan kita ketemu disini, ada hal penting yg mau gue omongin"

"Tinggal ngomong aja"

"Tolong ajarin gue main gitar, lu kan jago?"

"Kirain apaan, gampang bro, tanya sama gitar nya mau d ajak main kemana? Simple kan tinggal main deh. Haha"

"Dasar tenyom! Serius dong kutil soang!" *angsa

"Tenyom apaan?"

"MONYET!"

"What the hell? Sejak kapan monyet bisa ngomong?"

"Serius kamvret, tolong ajarin gue main gitar lah"

"Oke oke, emang lu punya gitar?

"Ya punya lah, tapi gitarnya aneh!"

"Lah, aneh kenapa?"

"Gitarnya fals mulu, padahal udh d benerin berkali kali, tetep aja fals!"

"Masa sih, coba mana gitarnya?"

"Ada di rumah gue bro, ya udah sekalian aja main ke rumah gue, kebetulan ibu gue masak banyak, nanti kita makan!"

"Wah, kebetulan dong perut ini sudah lapar sejak tadi, ya udah ayoo!"

Akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi di rumah saja, karna di sini aku ga bawa gitar. Kami pun berjalan menuju rumah, ternyata cape juga, kebetulan ada angkot lewat, "kiri mang" teriak ku. *upaya memberhentikan angkot*

"Kenapa kita naik angkot" ujar ibnu.
"Cape bro, pegel gue, ga biasa jalan kaki!" Jawabku santai.
"Ah elu, rumah lu kan udah deket, nih udah nyampe...."

"Eh eh eh, mang kiri.. mang !!!"

.......

Tiba juga kami di rumah, kulihat nampaknya ibu sedang duduk di teras sambil baca koran, kami pun menghampiri ibu.

"Asalamualaikum.." sahutku.

"Alaikumsalam!" Jawab ibu.

"Ini siapa san?" Tanya ibu

"Oh ini ibnu temen smp bu" jawaabku.

"Halo bu, kumaha damang?" Tanya ibnu.

"Alhamdulialh sehat, ayo masuk, makan dulu sana!"

"Iya bu"

Kami pun masuk ke dalam rumah...
Saya pantau dlu emoticon-Metal:
Tolong Ajariku Main Gitar #2





Acara makan pun selesai, perut sudah terisi sekarang tinggal less gitar sama si ibnu, aku harap dengan hadir nya si ibnu bisa memberikan titik cerah dalam hidupku. *shiiittt


"Oke, sekarang lu ajarin gue main gitar nu!"

"Iya iya, mana gitarnya?"

"Itu di kamar, ayo masuk kamar!"

Jangan ngeres ya, kami ga ngelakuin apa apa ko, jangan berpikiran yg aneh aneh ya. Haha

"Gapapa nih di kamar berdua san?"

"Heh, kita kan laki!"

"Justru itu, masih mending kalo sama cewek berdua di kamar, lah ini cowok sama cowok dalam kamar, entar di bilang...." (terpotong)

"Di bilang ga normal maksud lu?"

"Hahaha..."

"Udah ah becanda mulu! Nih gitar nya (nyodorin)"

"Oh ini, sini gue coba (genjreng) lah ko fals gini"

"Udah gue bilang gitar nya fals"

"Ini mah tinggal ganti senar bro?"

"Ah masa!"

"BODO!"

"Ya udah deh gue beli senar dulu, lu tungguin disini"

"Iya, tapi gapapa nih gue disini?"

"Ya gapapa lah, emang knapa?"

"Gue takut ibu lu masuk ke kamar, terus entar gue nya kemasukan setan lewat gimana?"


"FUCK!!!!!! SERAH LU AJE SEMVAK BETMEN!!?"

....

Aku beranjak pergi membeli senar baru, sementara si ibnu aku tinggal dikamar sendiri.
Singkat cerita senar udah aku beli.

"Nih senarnya nu"

"Oke, sini gue ganti senarnya"

Beberapa saat kemudian...

"Nah udah selesai, (genjreng) tuh kan ga fals lagi"

"Wiihh iya... (girang)"

"Gue ajarin kunci dasar nya aja dulu ya.."

"Oke master"

"Liatin nih cungur, fokus. Perhatiin baik2, ini namanya kunci C (genjreng)"

"Teruss..."

"Ini kunci Am (genjreng)"

"Ini kunci, Dm (genjreng)

"Ini kunci G (genjreng)"

"Ko, kaya lagu kuburan band, nanti ke C lagi ya?"

"Sekarang lu cobain!" (Nyodorin gitar)

"Sini.. gini kan (genjreng... genjreng)"


*satu jam kemudian...


"Nah lu udah lancar tuh"

"Hehe baru dikit, ajarin satu lagu lah bro!"

"Oke, sini gue ajarin 1 lagu yg mudah, lu perhatiin baik2, chord nya cuma 4, Am, Em, F, C. Lagunya bondan yg berjudul R.I.P. lu tau ga lagunya?"

"Oh iya iya gue tau.."

"Oke perhatiin. (Genjreng) ...
Pertama lu mainin intro nya dulu. (Genjreeeeng)
Lalu, mulai nyanyi deh.. 'apa kata yang tepat untuk protes terhadap waktu....' (nyanyi sampe subuh)

...

Enak juga suara si ibnu, sejak smp sih emang si ibnu suka nyanyi sambil main gitar, karena kakaknya dia mahir gitar, mungkin si ibnu belajar dari bapaknya.

Hari demi hari aku praktekan apa yg di ajarkan si ibnu, hingga akhirnya aku bisa membawakan satu buah lagu, lagu bondan.







Hari ini adalah hari yg menyebalkan, masuk kuliah siang, panas lagi, gerah hati harus minum ichi mochi kayanya. Hah minuman apaan tuh *shitt.
Namanya juga mahasiswa abadi ya harus rajin dong, iya lah kan aku calon sarjana.
Jurusan kuliah permusikan, lah aku ga bisa main musik, tapi apapun jalan nya aku harus menjadi anak yg berbakti pada orang tua, karena harus mengikuti jejak ayah.
Balasan post nothingnew
Siap bosqu
Lelaki Bergitar





Sebulan sudah berlalu, aku sudah cukup mahir dalam bermain gitar. Gitar tua ini selalu ku bawa kemana pun ku pergi, kecuali kalau ke kamar mandi.
Ternyata asik juga kalau bisa main gitar, bisa menghilangkan rasa bete, jenuh, galau.

Kini ku sendiri di kamar, karna sudah menjelang malam, tadinya mau main ke luar tapi hujan yg menghalangi niat ku untuk nongkrong diluar.
"Mending di kamar aja sebari nyanyi dengan gitar" pikirku dalam hati. Aku pun mulai bernyanyi, tak lupa cari chordnya di google, karna aku belum bisa ngulik lagu sendiri. Aku cari lagu dengan chord nya yg paling mudah. "Nah ini dia, lagu di atas normal dari peterpan, mudah kayanya" kataku dalam hati.
Aku pun mulai memainkan lagu itu, tapi suara hujan terasa mengganggu, jadi aku bernyanyi dengan keras, tiba-tiba....


"Berisik amat sih!" Teriak ibuku.

"Udah jangan main gitar, berisik !" Teriak ibu sekali lagi.

"Iya bu, iya... " jawabku.

Gagal deh, jadi ga mood lagi nyanyi nya, padahal lagi pengen banget nyanyi, ahh sudahlah nurut aja sama ibuku, takut di bilang anak durhaka, entar aku d kutuk jadi gitar lagi. Hehe
Beberapa saat kemudian, hujan mulai dera eh reda, kayanya cocok kalo main gitar lagi, dan ibu kayanya udah tidur.
"Nyanyi lagi ah mumpung sepi" ucapku (girang)
Ku ambil gitar dan mulai menyanyikan lagu tadi yang terhenti, eh ko kaya lagu, ahh bodo amat.

"Lah chordnya apa tadi, lupa lagi gue.." gerutuku.
Gara gara lupa chord, akhirnya ga jadi, karna malas searching lagi, bukan malas sih, tapi koutanya kandas. Hehe
Lebih baik tidur saja, oke, selamat malam.


*keesokan harinya...





Sudah pagi, tak terasa, ya iyalah namanya juga cerita. Hari minggu ternyata, berarti hari libur ya, kayanya joging enak nih, tapi sudah siang, kayanya ga jadi joging, ya sudahlah mandi aja.

*setelah mandi...


"Mandi udah, sekarang tinggal main deh" ucapku dalam hati.
Aku pun pergi bermain, tak lupa si gitar tua biru ini ku bawa, aku jalan kaki menuju tempat tongkronganku di dekat komplek, sepanjang jalan aku mainin gitarnya, dan aku berhenti dulu di sebuah warung untuk membeli rokok.

"Beli roko dulu ah" ucapku. Menuju warung.
Tapi...
"Maaf kang ga ada receh!" Teriak penjaga warung.
Sial, di kira nya aku pengamen.
"Maaf mang saya bukan pengamen, tapi saya pengaman!" Jawabku ke penjaga warung, kebetulan di warung itu di jaga oleh si mamang dan istrinya.

"Pengaman apa?"

"Pengaman hatinya istrimu mang. Hahaha"

"Eh, kamvret ! Lu ngajak ribut?"

"Ihh aa sosweet 😍" (istrinya)

Bersambung...
Momentum




Disuatu sore yang cerah, aku terdiam di bawah sinar senja kala itu, aku tidak sendiri, di temani oleh opik, ibnu, sekar dan robi dan juga gitar ku.
Kami bernyanyi bersama, di iringi suara gitar yg merdu yg di mainkan oleh ibnu. Begitupun suara indah sekar yg membuat kami baper mendengarnya. Suaranya mirip dengan Raisa, hanya saja beda tipis.
Robi yg memegang kajoon, tepakannya juga sangat indah membuat kami terhipnotis, sementara itu opik memgang bass, tapi bukan bas betot. Dan aku hanya bisa melihat dan mendengarkan saja, *sad* .


"Gimana kalo kita bikin band aja?" Usulku.

"Wah, boleh juga tuh!" Jawab opik.

"Gue setuju!" Ujar ibnu.

"Gue mah ngikut aja dah (pasrah)" ucap robi.

"Kalo kamu gimana sekar?" Tanyaku.

"Emm... gimana ya!" Jawab sekar ragu.

"Nanti aku jawab, setelah pesan2 berikut ini, haha" jawab sekar tertawa.

"SHIT.... Lu kira iklan!" Teriak robi, ibnu, aku, dan opik.

Kami akhirnya sepakat membuat band, yang bergenre pop, tapi kami belum memberi nama buat band ini, kira kira nama bandnya apa ya, heemmm...

Ibnu : "Btw, nama band kita apa nih?"
Opik: "iya apa dong, ada usul ga?"
Robi: "kalau usul ga boleh asal, kalu asal ga boleh usul"
Sekar: "hemm.. kayanya gue pernah denger tuh kata2 itu bi"
Robi: "hayoo tebak.."
Sekar: "hemm apa ya? Bentar... bentar!"
Robi: "ayo.. apa!"
Aku: "stop.. stop.. malah main tebak tebakan! Bukannya berpikir cari nama buat band kita malah main tebakan!"
Robi & Sekar: "hehehehe"
Aku: "ya udah, gimana kalo nama band kita... namanya... IDIOTS BAND !"
Ibnu: "wiihh... keren tuh"
Opik: "boleh juga tuh"
Robi: "anti-mainstream!"
Sekar: "TOLOLS!"

Berunding pun selesai, akhirnya band kita bernama IDIOTS BAND, sungguh momentum yg mengharukan, tapi jangan pandang sebelah mata band kami, karena band kami tercipta dari orang2 yang berbakat, dan aku resmi menjadi gitaris dan backing vokal. Ini adalah sebuah keajaiban, dimana teman2 ku mempunyai bakat2 yg terpendam dalam bermain musik, sebut saja si ibnu, dia ternyata srlain jago main gitar, rupanya dia juga jago bermain melodi, jadi sekarang posisi gitaris di percayakan kepadaku, si ibu jadi Rhytm and Melody.


Kamipun setiap hari minggu selalu latihan, nge jaming bareng2 di tempat rental deket kampung kami. Untuk memantapkan skil kami masing2. Dan aku pun hari demi hari skil main gitarku sudah sebanding dengan gitaris papan atas, entah kenapa gitar tua ku ini seperti memberiku suatu keajaiban yg luar biasa, aku bisa merasakan suatu hal yg berbeda dengan gitar ini. Apakah gitar ini bertuah? Apakah gitar ini mistis? Temukan jawabannya di episode selanjutnya dan dapatkan hadiah menarik lainnya. *INI BUKAN KUIS BEGO!!!
*AHH SHIT.
hehehe.


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di