alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
L E N T E R A ----- We Found It !!!
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd33f36902cfed10d8b4567/l-e-n-t-e-r-a-------------we-found-it

L E N T E R A ----- We Found It !!!

Apakah cerita ini menarik ?

Poll ini sudah ditutup - 0 Voters

Lihat poll
Apakah cerita ini menarik ?
Menarik
0%
Kurang
0%
PART I - TURNING POINT

Jumat 27 Januari 2007. Saya masih ingat bau udara berdebu di Proyek Jalan Nasional di daerah Yogyakarta. Saat itu perasaan saya campur aduk antara sedih dan juga bersemangat. Sedih lantaran saya harus meninggalkan pekerjaan yang mengantarkan rumah tipe 120 dan mobil innova tepat di depan hidung saya, sekaligus bersemangat terhadap tantangan baru yang sebentar lagi akan saya hadapai dan saya pikirkan hampir selama 9 tahun saya bekerja di proyek konstruksi.

Setumpuk berkas tagihan dari subkontraktor setiap pagi selalu tertata rapi dengan tumpukan tidak kurang dari 30 cm. target pencapaian progres yang setiap hari selalu ditanyakan baik dari atasan maupun pihak owner. dan seabrek kewajiban lainnya selalu harus dilakukan sebagai seorang pekerja proyek.

Kami, para pekerja diproyek bekerja dengan teratur pukul 8 pagi hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Tergantung target penyelesaian pekerjaan dihari itu. Tapi rata-rata pekerja proyek yang bekerja dikantor proyek pulang pukul 12 setiap malamnya. Kami tidak pulang ke rumah masing-masing dan disambut oleh keluarga. Kami pulang ke mes, tempat kami tidur, mulai dari pekerja lapangan sampai pekerja di kantor. Satu ruang kamar biasa di tempati oleh 3 orang. 

Rasa rindu kepada keluarga kadang muncul tanpa diduga. Maklum kami mendapat jatah libur satu minggu setiap delapan minggu kerja. Artinya bila ditotal para pekerja proyek ini hanya memiliki sekitar 42 hari atau satu setengah bulan untuk berjumpa keluarga. Jauh dari keluarga, dengan uang yang mencukupi kadang menjadi godaan bagi beberapa pekerja proyek untuk 'jajan'. Saya tidak.

Saya pernah diskusi dengan seorang pedagang lotek didaerah Sagan. Bapak dengan pendidikan SMP dan tampilan lecek itu bercerita tentang pekerjaannya dengan mata berbinar karena semangat. Setiap hari dia berjualan dari pukul 10 sampai dengan pukul 17. Mempekerjakan 4 orang karyawan yang merupakan tetangganya sendiri. Dari usahanya ini dia bisa menyekolahkan ke 3 anaknya, membeli sawah, membeli rumah, dan juga memiliki mobil. Dia bercerita omsetnya dalam sehari bisa mencapai 1 juta. Artinya omset dari usahanya itu dalam sebulan bisa mencapai 30 juta. Saya estimasi dengan dikurangi biaya sewa ruko, gaji karyawan, dan bahan-bahan si bapak tua ini memiliki keuntungan bersih hampir 10 juta.

Bagaimana dengan saya? Saya seorang karyawan BUMN lulusan sarjana universitas negri terkemuka di Republik ini. Saya bekerja satu hari selama 24 jam (karena memang tidak bertemu keluarga), dengan pendapatan 9 Juta rupiah ditambah uang tunjangan lapangan bila cash flow proyek bagus sekitar 4 juta, artinya total income saya dapat mencappai 13 juta. 

Secara gengsi dan total pendapatan, saya masih melebihi si bapak tua tadi. Tapi bagaimana bila pendapatan ini kita konversi kedalam pendapatan per jam kerja? 1 jam gaji saya adalah 13/(30*24) = 180 ribu. 1 jam gaji bapak tua itu 10/(30*7) = 476 ribu. 

Itu adalah turning point bagi saya. Angka perbandingan itu secara tidak sadar selalu menghantui malam saya. Belum lagi rasa tanggung jawab yang kadang menghimpit sampai tidak bisa bernafas. saya pikir, saya mendapatkan kemewahan didunia ini dan memiliki lebih dari yang saya harap. Nyatanya selama ini saya membuang apa yang saya miliki (keluarga) untuk kepuasan semu yang ingin saya miliki… uang dan prestise.

Bercerita jauh kebelakang.
Pada mulanya saya memang memiliki cita-cita bekerja sebagai kontraktor. Alasannya ya karena materi. Orang-orang banyak cerita mengenai para insinyur bangunan yang merubah hidupnya setelah bekerja bahkan dalam waktu satu tahun. Maka dari itu setelah tamat Sekolah Menengah Atas, saya putuskan untuk masuk ke jurusan Teknik Sipil.

Di kampus ini lah saya bertemu Raline, perempuan yang akhirnya saya nikahi.

Raline adalah sosok wanita yang mandiri meski berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang petinggi Pertamina di RU IV Cilacap. Tidak heran Raline sudah membawa mobil saat berangkat saat kuliah.

Kampus kami berdekatan. Jurusan teknik lingkungan ada di samping jurusan teknik sipil. Untuk beberapa mata kuliah mahasiswa lingkungan memakai ruang di sipil, bukan karena ruangannya tidak cukup, tp karena memang disiplin ilmu sipil dan lingkungan berhubungan dan ada dosen sipil mengajar di lingkungan. 

Saya dan Andre masuk ruang kuliah, saat itu mata kuliah Rekaya Lingkungan, ruangan yang sama yang digunakan mahasiswa teknik lingkungan. diatas meja ada sebuah buku catatan kuliah. saya buka. ternyata milik seseorang milik Raline. Itulah pertama kalinya saya tahu ada manusia manis didunia ini yang bernama Raline.



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di