alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Pemanfaatan satelit untuk daerah rawan bencana
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd2f3b696bde64d6e8b456a/pemanfaatan-satelit-untuk-daerah-rawan-bencana

Pemanfaatan satelit untuk daerah rawan bencana

Pemanfaatan satelit untuk daerah rawan bencana
Warga berjalan keluar dari galeri ATM yang mulai difungsikan di Kantor BRI Cabang Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10/2018).
Gempa dan tsunami yang menerjang sebagian wilayah Sulawesi Tengah, akhir bulan lalu, menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada.

Aliran listrik serta akses transportasi terputus. Alur pengiriman bahan bakar minyak (BBM) tertunda, begitu juga dengan kebutuhan logistik lainnya.

Laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut 1.678 dari total 4.193 base transceiver station (BTS) tidak berfungsi. Ratusan ribu warga menjalani masa-masa terberatnya.

Matinya BTS juga membawa dampak lain: jaringan yang tersambung pada mesin anjungan tunai mandiri (ATM) terputus. Pelayanan keuangan terganggu, seketika mematikan aktivitas perniagaan.

Salah satu jaringan yang berhasil cepat pulih adalah milik PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Persero Tbk. Tiga hari pascagempa dan tsunami, beberapa gerai ATM milik bank pelat merah ini berhasil difungsikan kembali, meski terbatas.

Bukan hanya ATM, beberapa layanan yang dimiliki BRI seperti mesin setor tarik atau cash recycling machine (CRM), mesin electronic data capture (EDC), dan Agen BRILink. Sementara, jaringan kantor dan layanan perbankan digital BRI sudah beroperasi secara normal.

Kepala Divisi Satelit dan Terestrial BRI Meiditomo Sutyarjoko menyebut kecepatan perbaikan jaringan ATM perseroannya berkat kontribusi besar dari satelit BRIsat.

“Jaringan operator terputus karena banyak BTS yang terdampak. Beruntung kami bisa mengandalkan satelit. Untuk jaringan listriknya kita gunakan genset,” jelas Meiditomo kepada Beritagar.id, di sela-sela agenda Indonesia Digital Economy Summit 2018 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (26/10/2018).

BRI tercatat sebagai perbankan pertama di Indonesia yang memiliki satelit sendiri. Peluncurannya sudah dilakukan Juni 2016 melalui fasilitas antariksa Arianespace di Kourou, Guyana, Prancis.

Satelit memang menjadi andalan manakala jaringan operator telekomunikasi madat. Demi mengejar jaringan komunikasi saat bencana, Kominfo ketika itu mengirim 31 telepon satelit serta memobilisasi 100 telepon satelit yang sempat dipakai dalam penanganan gempa Lombok.

Mengutip Kumparan, perangkat telepon satelit bekerja berbeda dengan telepon yang biasa digunakan. Teknologi jaringan telepon tidak memanfaatkan infrastruktur seperti BTS pada teknologi seluler atau jaringan tetap lainnya.

Cara kerja telepon satelit adalah dengan mengantarkan sinyal panggilan menuju satelit di luar angkasa dan memantulkannya kembali ke bumi. Jangkauan telepon satelit tak terkalahkan, mulai dari pegunungan, pedalaman, hingga lautan yang sulit terjangkau oleh BTS.

Operator telekomunikasi yang dipakai telepon satelit memang khusus, seperti Inmarsat (Inggris), Thuraya (Uni Emirat Arab), Iridium dan Globalstar (Amerika Serikat).

Keterbatasan ini yang membuat harga telepon satelit tidak murah. Perangkat teleponnya berharga sekitar Rp8 juta hingga Rp25 juta, sementara tarifnya per menit bisa mencapai $1 AS (sekitar Rp15.000).

Kembali ke pemanfaatan satelit untuk layanan perbankan, BRI memang jauh lebih unggul karena memiliki perangkat sendiri. Sementara perbankan lain masih “menumpang” jaringan dengan operator lain.

Masalah biaya memang jadi persoalan. BRI ketika meluncurkan satelitnya harus merogoh hingga Rp3,375 triliun untuk investasi selama 15 tahun. Biaya itu berkali-kali lipat dibandingkan menyewa sebuah satelit dengan biaya Rp500 miliar per tahun.

Namun dampaknya signifikan. Sebelum memiliki BRIsat, BRI menyewa 23 transponder dari delapan provider.

Ketika BRIsat sudah melesat, BRI sudah memiliki 45 transponder sendiri yang 23 di antaranya akan digunakan sedniri dan empat lainnya diberikan kepada pemerintah untuk kebutuhan seperti sensus data kependudukan atau data pertanian. Sementara, 18 transponder sisanya akan disewakan.

Dalam dua sampai tiga tahun ke depan, BRI berencana menambah satu satelit lagi, generasi kedua istilahnya. Selain untuk ekspansi bisnis, langkah ini diambil sebagai mitigasi jika ada masalah pada satelit pertama.

“Satelit tidak punya bengkel seperti mobil, misalnya. Mobil rusak bisa langsung dibawa ke bengkel. Sementara, satelit kalau sudah dilepas ke angkasa ya sudah diam saja di atas selama 15 tahun,” sambung Meiditomo.

BRI dikabarkan membidik satelit High Throughput, atau satelit multifungsi yang bisa mengurangi biaya operasional. Untuk generasi kedua ini, BRI mempertimbangkan skema kerja sama dengan operator untuk mengakali ongkos pembelian.
Pemanfaatan satelit untuk daerah rawan bencana


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...-rawan-bencana

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Pemanfaatan satelit untuk daerah rawan bencana Sebagian besar sektor menghijau, IHSG ditutup naik

- Pemanfaatan satelit untuk daerah rawan bencana Pembawa bendera diduga HTI ditahan polisi

- Pemanfaatan satelit untuk daerah rawan bencana Setelah MK menolak lagi gugatan ambang batas capres-cawapres



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di