alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Indonesia Update /
Penerapan E-commerce TTI, Jawab Tantangan Era Digital Distribusi Pangan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd26b5312e25797158b456c/penerapan-e-commerce-tti-jawab-tantangan-era-digital-distribusi-pangan

Penerapan E-commerce TTI, Jawab Tantangan Era Digital Distribusi Pangan

Penerapan E-commerce TTI, Jawab Tantangan Era Digital Distribusi Pangan

JPP, JAKARTA - Pengendalian harga pangan masih menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah dalam pembangunan ekonomi pertanian saat ini. Salah satu langkah yang dikembangkan Kementerian Pertanian (Kementan) sejak tahun 2016 adalah dengan mengembangkan Toko Tani Indonesia (TTI). Menjawab tantangan digital, sejak awal 2018, TTI hadir dengan e-commerce.

TTI sejak awal hadir untuk mengatasi sejumlah penyebab terjadinya fluktuasi harga dan pasokan pangan seperti: ketidakseimbangan supply-demand, terhambatnya saluran distribusi pangan, hingga adanya penimbunan/penahanan bahan pangan yang ditemukan aparat penegak hukum. 

"Belum lagi panjangnya rantai pasok dari produsen hingga konsumen menambah deretan permasalahan tentang distribusi pangan. Secara umum tata niaga pangan di Indonesia ini sangat panjang," ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi di ruang kerjanya, Kamis (25/10/2018).

Agung melihat TTI bisa menjadi alternatif mengatasi panjangnya rantai distribusi pelaku tata niaga pangan yang akhirnya membuat konsumen harus menerima harga akumulasi dari marjin keuntungan yang diperoleh dari pelaku rantai pasok. 

Dengan demikian menurut Agung, TTI diharapkan mampu mencapai tiga tujuan yakni: mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan; menyerap produk pertanian nasional khususnya bahan pangan pokok dan strategis; dan memberikan kemudahan akses dan meningkatkan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan pokok dan strategis. 

"Singkatnya petani disisi produsen memperoleh perlindungan dengan adanya jaminan pasar dan disisi konsumen mendapat kemudahan aksesbilitas pangan dengan harga yang terjangkau," jelas Agung.

Secara operasional kegiatan ini melibatkan produk petani yang dibeli oleh Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) dengan harga yang wajar, kemudian disortasi, dikemas, dan distribusi langsung menjadi beras segar ke pedagang TTI yang berlokasi di pasar atau daerah konsumen utamanya yang menjadi barometer fluktuasi harga dan pasokan komoditas pangan pokok dan strategis dengan harga dibawah harga eceran tertinggi/harga pasar. 

"Jadi, petani yang tergabung dalam Gapoktan diajak menjalankan usaha perberasan dengan pola korporasi petani, sehingga petani selain berbudidaya padi juga menjalankan manajemen korporasi ala petani melalui Gapoktan," terang Agung.

Strategi yang dilakukan adalah mengendalikan pasokan menjadi 3-4 pelaku yaitu petani, gapoktan, TTI, dan konsumen. Model bisnis TTI yang tersebar di 31 provinsi saat ini masih fokus pada komoditas beras, cabai merah, dan bawang merah yang kedepannya dapat berkembang menjadi bahan pangan lainnya. 

Secara umum kegiatan TTI telah mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terutama dari kalangan menengah kebawah karena beras yang dijual ke konsumen relatif terjangkau dan berkualitas yaitu di kisaran Rp 8.500-8.800/kg di seluruh Indonesia. Dari kegiatan TTI ini telah melibatkan 1.399 Gapoktan sebagai pemasok bahan pangan, yang didalamnya terlibat 125.910 petani  dan 3.655 TTI sebagai outlet dalam memasarkan produk petani.

*e-commerce TTI*Guna menjawab tantangan dan kesempatan baru di era digital. Kementan kini mulai mengembangkan TTI ke arah e-commerce guna semakin memudahkan aksesibilitas masyarakat terutama perkotaan di wilayah Jabodetabek dalam memperoleh pangan. Kementan sejak awal tahun 2018 telah mengembangkan aplikasi e-commerce TTI. 

Tujuan pengembangan aplikasi ecommerce menurut Agung jelas merupakan upaya efisiensi pengelolaan distribusi beras, meningkatkan kapasitas kontinuitas pasokan pangan, dan memudahkan pembangunan data base (pola panen & pola konsumsi). Ke depan, akan dikembangkan lebih luas dengan melibatkan langsung masyarakat sebagai konsumen akhir.

"Dibandingkan dengan transaksi konvensional, transaksi e-commerce memberikan beberapa kemudahan dilihat dari proses pemesanan lebih cepat, pasokan beras lebih terjamin, validitas data lebih akurat serta terinformasinya lokasi TTI yang dapat diakses masyarakat," beber Agung. 

Melalui layanan online berbasis aplikasi ini, TTI sebagai outlet dapat memesan beras segar langsung kepada Gapoktan. Meskipun belum sampai setahun, antusias Gapoktan dan TTI di Jabodetabek untuk menggunakan e-commerce TTI  cukup pesat, tercatat sebanyak 291 Gapoktan dan 1.140 TTI ikut dalam e-commerce, dengan transaksi penjualan beras segar mencapai Rp 7,23 Milyar. 

Sebagai layanan perdagangan barbasis online, sistem e-commerce TTI setidaknya berisikan tentang berbagai hal kegiatan TTI mulai dari informasi lokasi gapoktan pemasok dan TTI di Jabodetabek, transaksi Gapoktan kepada TTI, transaksi  harga di tingkat TTI, dan lain sebagainya, bahkan kedepan informasi tersebut bisa dijadikan business market intelligent.

Pada akhirnya, terobosan pemerintah melalui kegiatan TTI secara e-commerce ini merupakan salah satu instrumen pokok dari kebijakan stabilisasi harga pangan nasional yang saling berkolaborasi dengan kegiatan stabilisasi harga pangan lainnya, yang dalam jangka panjang menjadi solusi permanen dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.(tan)


Sumber : https://jpp.go.id/ekonomi/pertanian/...tribusi-pangan

---

Kumpulan Berita Terkait EKONOMI :

- Penerapan E-commerce TTI, Jawab Tantangan Era Digital Distribusi Pangan Empat Tahun Jokowi-JK: Populasi Industri Tumbuh, Daya Saing Meningkat

- Penerapan E-commerce TTI, Jawab Tantangan Era Digital Distribusi Pangan Empat Tahun Jokowi-JK, Ekonomi Makro Sehat dan Kuat

- Penerapan E-commerce TTI, Jawab Tantangan Era Digital Distribusi Pangan Kementerian ATR/BPN Selesaikan 5.000 Sertipikat Tanah di Jakarta Selatan



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di