alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Stigma negatif, anak pengidap HIV dikeluarkan dari sekolah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd25095a09a397e348b456b/stigma-negatif-anak-pengidap-hiv-dikeluarkan-dari-sekolah

Stigma negatif, anak pengidap HIV dikeluarkan dari sekolah

Stigma negatif, anak pengidap HIV dikeluarkan dari sekolah
Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti. Anak pengidap HIV tetap harus mendapatkan hak-hak dasar, seperti pendidikan.
Tiga anak di Desa Nainggolan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara diusir dan dilarang sekolah karena mengidap HIV (human immunodeficiency virus). Orang tua siswa-siswa lain di sekolah itu khawatir anak mereka tertular sehingga meminta sekolah mengeluarkan ketiga bocah itu.

Ketiga anak yatim piatu itu adalah siswa di PAUD Welipa dan dua siswa SDN-2 Nainggolan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Jika ketiganya masih sekolah bersama, para orang tua akan menarik anaknya dari sekolah tersebut.

Sekretaris Eksekutif Komite AIDS Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang mendampingi tiga anak itu Berlina Sibagariang mengatakan, masyarakat di Desa Nainggolan khawatir anak-anak mereka tertular HIV maka meminta agar ketiganya dikeluarkan dari sekolah.

Komite AIDS HKBP berharap tiga anak itu tetap memperoleh haknya. "Mereka anak-anak yang punya hak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan," kata Berlina, Minggu (21/10/2018) seperti dikutip dari VOA Indonesia.

Bupati Samosir Rapidin Simbolon mengusulkan tiga anak itu mendapatkan pendidikan yang terpisah dari anak-anak lain. "Kami tawarkan kepada pihak HKBP yang mengasuh anak-anak terpapar HIV ini. Kita buat homeschooling istilahnya. Tapi HKBP memaksakan harus anak-anak itu bergabung dengan anak-anak yang tidak terpapar HIV," ujar Rapidin Selasa (23/10/2018) seperti dinukil dari Viva.co.id.

Menurut Rapidin, solusi pengajaran terpisah adalah win-win solution. Menurutnya, dia telah menjelaskan perihal HIV kepada masyarakat, namun mereka tetap menolak. Sedangkan Komite AIDS HKBP tetap berharap anak-anak itu sekolah di sekolah umum.

"Kami harus melindungi semuanya lah. Kami menjamin hak anak-anak yang tertular HIV, kami juga menjamin hak anak-anak yang sehat. Kalau semua orang tua murid-murid ini menarik anak-anaknya dari sekolah itu, tinggal anak-anak itu, apakah ini jalan yang terbaik?" ujarnya seperti dipetik dari BBC Indonesia, Selasa (23/10/2018).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan sikap pemerintah dan organisasi perangkat daerah setempat yang tidak melindungi tiga anak itu.

"Tetapi malah melakukan diskriminasi, memberhentikan dari sekolahnya dan bahkan akan di kucilkan dengan cara ditempatkan di hutan Parlilitan. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak anak dan HAM, dan sangat tidak manusiawi," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, Kamis (25/10/2018) dalam pernyataannya yang dipetik dari detikcom.

Menurut Retno, homeschooling tidak tepat bagi tiga anak itu. Sebab, mereka sudah tak memiliki orang tua. "Kemungkinan besar, pengusul homeschooling tidak memahami bahwa sistem ini membutuhkan pendampingan dan peran orang tua, sementara anak-anak ini sudah tidak memiliki orangtua," kata Retno.

Karena itu, KPAI mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemprov Sumatera Utara, Pemkab Samosir, dan masyarakat untuk melindungi serta memenuhi hak-hak dasar ketiga anak tersebut sesuai Undang-undang Perlindungan Anak.
Buah dari stigma negatif
Kasus pembatasan hak karena mengidap HIV ini bukan terjadi kali ini. LBH Masyarakat, menemukan, ada dua kasus pembatasan hak atas pendidikan selama 2016-2017.

Ajeng Larasati, Koordinator Riset dan Kebijakan LBH Masyarakat menjelaskan, stigma negatif warga dan pemerintah sendiri itu muncul akibat kampanye pemerintah yang salah.

Menurutnya, kampanye yang dibangun sebelumnya salah. Misalnya, pemicu HIV adalah hubungan seksual. "Jadi yang dibangun adalah kesalahpahaman bahwa ini bukan soal hubungan seksual, tapi ini soal mengurangi perilaku berisiko," kata Ajeng. Padahal, anak kecil yang belum pernah berhubungan seksual juga bisa tertular karena tertular dari orang tuanya.

Selain itu, naiknya intoleransi juga turut mendiskriminasi pengidap HIV. Kebijakan dibuat berdasarkan moralitas, bukan berbasis bukti. Mereka yang terkena HIV kerap dianggap sebagai kelompok tak bermoral.

Menurut data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus anak dengan HIV di Indonesia tidak sedikit. Dari tahun 1987 hingga September 2014, total jumlah kasus HIV mencapai 150.296 orang. Sebanyak 2,9 persen atau 4.358 kasus terjadi pada anak di bawah usia 14 tahun. Bahkan, dari jumlah tersebut, porsi terbesar justru pada anak usia 1-4 tahun, yang mencapai 1,7 persen atau 2.555 anak.

Oleh karena itu Ajeng dan komunitas pegiat HAM lainnya mendorong kampanye '0 diskriminasi' dalam soal HIV. Menurutnya, masyarakat perlu diberi pemahaman sepenuhnya soal HIV dan orang yang rentan terkena HIV. Sehingga respons masyarakat bisa mendukung hidup pengidap HIV.

"Kalau kampanye dibangun dari kesalahpahaman soal perilaku berisiko, itu tidak akan mendukung penanggulangan HIV. Yang ada orang makin men-stigma," kata Ajeng.
Stigma negatif, anak pengidap HIV dikeluarkan dari sekolah


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...n-dari-sekolah

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Stigma negatif, anak pengidap HIV dikeluarkan dari sekolah Rezeki FTV Azab tak menguap

- Stigma negatif, anak pengidap HIV dikeluarkan dari sekolah 9 Sektor perkasa lambungkan IHSG

- Stigma negatif, anak pengidap HIV dikeluarkan dari sekolah Polemik frasa politikus sontoloyo dari Jokowi

Gila emoticon-Mad, orang yang kena HIV/AIDS belum tentu Mahu atau pengguna narkoba emoticon-Cape d...


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di