alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Minim Dukungan, Rupiah Makin Sulit Menguat
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd1238892523307558b4568/minim-dukungan-rupiah-makin-sulit-menguat

Minim Dukungan, Rupiah Makin Sulit Menguat

Minim Dukungan, Rupiah Makin Sulit Menguat
JAKARTA - Meskipun telah terdepresiasi lebih dari 12 persen sepanjang tahun ini dan menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di Asia, nilai tukar rupiah dinilai masih sulit untuk menguat hingga tahun depan. Sebab hingga kini belum ada sentimen positif yang mampu mendukung penguatan rupiah.

Di sisi lain, berbagai faktor yang menghambat pergerakan positif mata uang RI itu terutama adalah defisit transaksi berjalan yang bakal melebar, ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS), tensi perang dagang yang masih memanas, dan tren kenaikan harga minyak.

Ekonom Indef, Achmad Heri Firdaus, mengemukakan Bank Indonesia (BI) memprediksi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal III-2018 akan berada di atas level 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini tentunya akan memicu pelemahan rupiah lebih dalam lagi.

“Sudah pasti ini cukup menekan rupiah, karena kebutuhan dollar AS akan meningkat. Di sisi lain, pasokan valuta asing dari ekspor masih seret,” kata dia, di Jakarta, Rabu (24/10). Menurut Heri, CAD sebenarnya bisa dihindari dengan memacu ekspor untuk menjaring lebih banyak valuta asing ke Tanah Air, ketimbang mengeluarkannya untuk impor dan kegiatan lainnya.

“Jadi, kalau kita banyak mendapatkan valuta asing melalui ekspor lama-lama akan mengurangi defisit. Tapi dengan catatan impor dikendalikan, capital outflow bisa diredam dan sebagainya,” lanjut dia. Pada perdagangan di pasar spot, Rabu, nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah lima poin atau 0,03 persen di level 15.197 rupiah per dollar AS, setelah terdepresiasi lima poin di posisi 15.192 rupiah pada perdagangan Selasa (23/10). Ekonom senior, Faisal Basri, memperkirakan tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut di tahun depan.

“Pemerintah saja bikin asumsi APBN sudah 15 ribu rupiah, biasanya realisasi lebih tinggi daripada target, trennya akan melemah,” ungkap dia. Faisal menambahkan neraca transaksi berjalan yang masih defisit membuat rupiah terus melemah. Pada pada kuartal I-2018, transaksi berjalan Indonesia defisit 5,71 miliar dollar AS atau 2,21 persen dari PDB.

Di kuartal berikutnya, defisit itu melebar menjadi sebesar 8,02 miliar dollar AS atau 3,04 persen dari PDB. Sementara itu, dari sisi eksternal, rencana Bank Sentral AS yang masih akan menaikkan suku bunga acuan dan meningkatnya eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok membayangi pergerakan rupiah.

“Jadi sederhana aja, apakah tahun depan transaksi berjalan akan menjadi surplus, kan tidak. Sepanjang transaksi berjalan defisit, dan arus modal masuk melemah, maka rupiah akan terus melemah,” kata Faisal Basri. Selain itu, keputusan BI menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen dinilai akan membuat investasi dalam rupiah kurang menarik sehingga pemodal mengalihkan investasi ke tempat yang lebih menjanjikan, seperti dollar AS.

Pacu Ekspor
Sebelumnya, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal III-2018 akan melebihi kuartal sebelumnya yang sudah mencapai 3 persen terhadap PDB.

Deputi Gubernur BI, Mirza Adityaswara, mengatakan proyeksi ini berasal dari pertumbuhan ekspor periode Januari–September 2018 yang masih lebih rendah dibandingkan impor, meskipun pada bulan lalu neraca perdagangan sempat membaik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara tahun berjalan, pertumbuhan ekspor hanya 9,41 persen, padahal impor telah mencapai 23,33 persen dari Januari–September 2018. Mirza menambahkan pertumbuhan impor pada kuartal III-2018 lebih tinggi ketimbang ekspor karena harga komoditas dunia sedang tidak mendukung.

Dari sisi impor, harga minyak mentah dunia justru kian tinggi. “Indonesia adalah importir minyak dan harga minyak sedang naik, sehingga impor minyak meningkat. Ditambah juga karena sedang mengakselerasi infrastruktur,” jelas dia. Menurut Heri, perlu upaya ekstra untuk memperkuat kurs rupiah, salah satunya yang terpenting adalah memperbaiki fundamental ekonomi, yaitu daya saing.

“Industri dan eskpor terutama yang punya nilai tambah tinggi harus ditingkatkan. Kemudian, di jangka pendek dengan menahan laju depresiasi melalui pengendalian impor,” jelas dia.

http://www.koran-jakarta.com/minim-dukungan--rupiah-makin-sulit-menguat/

Nah loh
bakal lengser nih bray emoticon-Matabelo
mau ente post apapun
gw lebih ga sudi liat dhani / sarumpate / rizieq dpt jabatan



#2019stayjokowi
ngukurnya pake yuan, jangan pake dolar bray

Minim Dukungan, Rupiah Makin Sulit Menguat

Minim Dukungan, Rupiah Makin Sulit Menguat
Kesempatan buat ekspor bray

Ekspor manusia2 cebong penghuni ruko
tanya donk sma wiwi..
klo sm nastak disini mah ga ngerti.. planga plongo doank..
blgnya masih bs beli tempe emoticon-Big Grin
Quote:
Quote:


emoticon-Salaman
pasti gara2 nasbung gak dukung kowi emoticon-Mad

coba kalo 100% dukung kowi, rupiah auto 10 rebu. emoticon-Nyepi

pembelaan nastak
- emangnya kalo wowo presiden dolar turun?
LAH SEKARANG PRESIDENNYA SIAPA? apa gak mampu?
Diubah oleh k4ktus
Kmarin diminta analis bca naikin suku bunga supaya ahead the curve ga mau, ntar giliran the fed rapat langsung tergelincir
Balasan post k4ktus
Quote:


lucu ya bray.

jaman pilpres dulu, rupiah menguat dikit langsung diklaim jokowi efek. ampe jilid 2 efeknya. langsung dah nastak klaim jika jokowi presiden, rupiah akan menguat dibawah 10rb. beda cerita kalau prabowo yg presiden, rupiah pasti akan melemah ke 15rb.
sekarang jokowi presiden. rupiah melemah 15rb nastak ngelesnya emangnya kalau prabowo presiden rupiah akan menguat.
lucu dah kalau lihat kelakuan nastak


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di