alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bccb583947868e5498b4567/robot

Robot

ROBOT-ROBOTAN

Bangkit Prayogo

 

AKU SANGAT SUKA ROBOT ITU, DIA TERKADANG MENARI, TERKADANG BERLARI, DAN TERKADANG BERSENANDUNG SANGAT ROMANTIS KETIKA AYAHKU SEDANG MENYETEL SALAH SATU NYANYIAN FAVORITNYA, KUBERITAHU JUDULNYA SEPANJANG JALAN KENANGAN.
 
 
“Ayah perbaiki robot-robotanku.”
Aku mulai mengiba pada ayah, sebab robot-robotanku ini permainan yang sangat tidak bisa aku lepaskan, entah kenapa aku seakan hidup di dalamnya, dan dia seperti pahlawan bagiku. Kemudian ayah menjawab dengan malas, mencecapkan lidahnya di sekitar gelas berisi kopi.
“Nanti ayah belikan yang baru, itu sudah rusak, sudah tidak layak dimainkan.”
Ayah mulai tidak mengikuti keinginanku akhir-akhir ini, mulai dari sepatu, sepeda, jam tangan, kacamata, sisir rambut dan utamanya robot-robotanku ini, dalam hatiku aku bergumam “Ih aku kesal sama ayah, aku mulai tidak percaya kata-kata ayah.”
            “Nanti ayah belikan yang baru, ayah janji padamu.” Ayah seakan mendengar gumaman hatiku barusan, entahlah.
            “Aku tidak ingin yang baru.”
            “Yang baru kan lebih bagus nak?” Ayah masih saja mencecapkan lidahnya, seakan rasa kopi itu pahit sekali, mungkin rasanya memang pahit, tapi akankah pahitnya hatiku ini sebagai anaknya, melihat robot-robotan, permainan yang paling anaknya sukai rusak, dan tidak dia dengarkan. Mungkinkah ayah mengerti perasaanku.
            “Ayah mengerti perasaanmu nak, ayah paham perasaanmu nak.” Sekali lagi ayah seperti mengetahui gumaman hatiku ini, ada yang aneh.
            “Apa yang aneh nak.”
            “Ayah nguping gumaman hatiku ya?”.
            “Maksudnya apa nak.”
Ayah berdiri, menghampiriku, suara kakinya diseret-seret seperti orang yang tidak makan dua hari dua malam, tangannya gemetar, tubuhnya bergelembung sedikit-demi sedikit matanya berair.
            “Ayah kenapa, ada yang aneh dengan ayah hari ini.”
Aku mulai curiga, aku berjalan mundur, mengindari datangnya ayah dari arah depanku. Entahlah aku sangat takut melihat ayah hari ini, kulihat jam masih siang, iya masih jam 12.00. kalau ayah kesurupan sangat tidak mungkin, karena masih siang hari, tapi kenapa dengannya. Ibu masih belum pulang dari rumah temannya, katanya sih ada arisan, dasar ibu-ibu. Kakakku dia selalu saja dapat kelonggaran, pulangnya malam terus, jarang di rumah dan katanya dia anak paling disegani di sekolahnya, aku tidak pernah percaya dengannya. Kembali lagi ke ayah.
            “Nak, sakit.” Ayah mulai mengucapkan kata-kata itu “sakit”, kata-kata yang punya arti sangat aku takuti, seperti keadaan menderita. Aku terus berjalan mundur, kutolehkan wajahku, dan jarak 5 meter lagi tidak ada jalan, hanya ada tembok, dan lukisan tentang pangeran diponegoro, tokoh pahlwan Indonesia.
            “Ayah kenapa, tolong jawab pertanyaanku yah!.”
            “Nak sakit.”    
Aku mulai geram dengan perilaku ayah ini, aku takut, jujur aku takut, tubuhku mulai berkeringat, jemariku lemas sebab udara yang juga pengab menjadi dingin sekali. Seperti ada hawa aneh, dan memang teriakku tanpa henti-hentinya tidak bisa kubayangkan lagi, ayah makin dekat saja. Disektiar tubuhnya mulai ada gemercik wajah yang aneh, dan sangat aku pahami jika tubuhku ini seperti kerasukan hal-hal yang aneh. Aku sangat tidak mengerti akan keadaan ini.
            “Yah!.”
            “Apa nak.” Jawab ayah sangat memelas, dan suaranya agak gemetar seperti orang yang tinggal mencari mangsanya yang lemas tak berdaya, “vampir” mirip itu, gumamku dalam hati.
            “Ampun yah, ampun.”
            “Kenapa minta ampun.” Jawab ayah, mulai ragu sebab tubuhku sudah mentok di tembok, tak ada jalan lagi, yang ada hanya keringat dan robot-robotanku. Anggap saja aku ini korban ketidaktahuan orang dewasa, tidak mungkin ayah begini, pasti ada sesuatu.
            “Ayah tidak apa-apa.”
            “Jawab yang jujur.” Sanggahku kepada ayahku ini, wajahnya mulai menoleh sekitar, dia ingin menghisap darahku ini, aku yakin, yakin denga presentase 100 persen penuh. Matanya melirik tubuhku, di sebelah leherku, ia ayahku berubah jadi vampir. Kenapa harus aku yang menjadi korbannya, aku coba berlari, tapi tidak bisa, tubuhku lemas melihat ayahku yang akan menghisap darah anaknya ini, anak yang masih tidak tahu apa-apa tentang dunia luar sana.
            “Ampun!” Teriakku sekencang kencangnya.
            “Kenapa kamu ini sih, ayah tuh loh sakit perut, dan saking sakitnya ayah minta tolong ke kamu untuk mencari obat di kamar ayah, ayah sekarang mau ke kamar mandi, aneh.” Ayah pergi terburu-buru, memegang pantatnya dan kurasa aku mulai tidak mengerti kejadian ini, tubuhku masih lemas, vampir, pembunuhan, kekerasan di bawah umur. Aku tetap melamun sangat tidak diduga-duga.
            “Cepat ambilkan obatnya!” Teriak ayah dari dalam kamar mandi, dan seketika itu aku bergegas menuju kamar ayah untuk mengambil dan mencari obatnya, robot-robotanku entah bagaimana nasibnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.30, waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga, ibu ada di ruang tamu dengan ayah, melihat acara televisi dan aku mendengar dari luar pembicaraan mereka, sepertinya mereka membicarakan permasalahan yang ada di televisi itu. Acara berita yang sangat mereka sukai, apalagi tentang permasalahan bangsa ini. Sedangkan aku tiduran di kamar, aku masih terheran-heran dengan kejadian tadi siang, apa yang aku takutkan? Dan mungkin aku terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar. Aku mulai melihat jendela sambil tiduran di kamar mungilku ini, dari jendela itu aku bisa melihat burung-burung bercumbu, dan semut-semut yang berjalan mencari makanan. Selain itu, aku dapat mendengar bunyi angin yang merdu, seperti nada-nada ala jepang, yang mengalir melewati pegunungan dengan air datang seperti memulai arus indahnya itu. Indah sekali bunyi angin ini, dari sudut lainnya aku melihat cicak berbicara padaku, seperti mengucapkan salam perkenalan, “Ih cicak yang genit.” Aku memang sangat menganggap cicak itu hewan yang genit, coba kalian lihat saat ekornya bergerak mencari mangsanya yang perawan, dan dari robot-robatanku ini, dia ingin kembali bisa berbunyi, bunyinya mirip gajah, tapi setengah harimau, dan seperempatnya lagi kucing buaya darat.
Setelah kurasa puas melihat isi di luar jendela itu, aku kembali melihat robot-robotanku, kata ayah robot-robotan ini sulit ditemukan lagi, dan mungkin sudah tidak diproduksi lagi, sebab ayah yang membelinya sewaktu ayah dan ibu berlibur di kota Bandung dan waktu itu umurku masih 3 tahun, saat ini umurku sudah 7 tahun, tua kan robot-robotanku ini, itulah mengapa ayah sedikit tidak mau aku bermain ini lagi, sebab ya itu tadi, mungkin benar kata ayah. Aku sudah tidak pantas memainkannya.
            “Nak, cepat kesini.” Ibu memanggil dengan suaranya yang khas sekali, dia ibu yang sangat ramah, penyabar dan penyayang. Ibu paling sempurna buatku.
            “Iya.” Sesegera mungkin aku berjalan menuju ruang tamu, dan aku melihat ayah ibu sedang berbincang-bincang sembari meletakkan bungkusan yang aku tebak itu ialah kado. Aku berfikir lagi, apakah robot-robotan, atau jangan-jangan sejenisnya. Padahal aku ingin di perbaiki saja, karena ayah sendiri yang mengatakan kalau mainan ini sudah tidak produksi lagi. Tapi kalau pun itu mainan robot-robotan yang aku inginkan, maka aku sangat bersyukur mendapatkan orang tua seperti mereka ini.
            “Bukalah.” Suruh ayah kepadaku, matanya kulihat berair, dan wajah ibu mulai tersenyum manis, sangat aku sayangi mereka ini.
            “Iya yah.” Jawabku singkat.
Pelan-pelan aku membukanya, dengan rasa berdebar-debar, seperti suatu keadaan layaknya di film-film karton setiap hari minggu itu. Entahlah kejadian tadi siang, atau pun sebelumnya lagi. Aku tidak peduli akan itu semua, saat aku melihat hadiah yang mereka persembahkan buatku, aku rasa hari ini akan kucatat di buku harianku, walau pun aku masih belum lancar untuk menulis. Hadiah robot-robotan yang sama persis dengan yang aku miliki sekarang, aku sangat senang, sangat gembira. Aku seketika memeluk mereka, sangat erat, tanpa memberikan ruang mereka berbicara.
            “Terimakasih yah, bu.” Ucapku sangat manis.
Ayah kemudian melepaskan pelukanku, dan tiba-tiba wajahnya seperti tadi siang, ibu juga begitu mirip dengan ayah. Aku mulai cemas lagi, saat aku bahagia tiba-tiba saat ini juga aku merasakan ketakutan, apakah ayah dan ibu hanya berencana.
            “Jangan bercanda yah, bu.” Mereka tidak menjawab.
Seketika aku segera melihat robot baru ini, aku melihat matanya memerah, bibirnya tersenyum, dan tangannya bergerak seperti ingin membunuhku. Di televisi seketika saat itu juga ada sebuah berita yang memberitakan tewasnya semua anggota keluarga setelah membeli robot buatan salah satu pabrik, aku samar melihatnya dari jauh. Tapi akau yakin jika itu robot yang sama. Robot yang ada di hadapanku ini, aku mendengar pembawa acara itu mengatakan. “Jangan membeli mainan untuk anak anda dengan sembarangan.” Setelah itu, aku tidak tahu kejadian selanjutnya, sungguh aku tidak tahu. Sebab setelah aku terbangun, aku melihat ayah dan ibu terbaring di sebelahku, mereka berdua tidak sadarkan diri, dan aku berada tepat di tengah mereka. Samar-samar aku melihat kakakku sedang membaca koran, dengan berita utama “Bahayanya permainan zaman sekarang.”
            “Oh ternyata kamu sudah siuman.” Kakakku menghampiriku dia tersenyum melihatku yang sadar, dan memelukku penuh kasih sayang.
“Itulah ceritaku anak-anak, sebelum pulang bilang kesemua orang tua kalian, jangan dengan gampang membeli mainan. Dilihat dulu baik dan buruknya, untuk kalian semua juga jagalah orang tua kalian baik-baik, mereka semua harta paling berharga di dunia ini, mengerti.”
“Mengerti pak.” Jawab mereka dengan serentak, dan sesegara mungkin pulang menuju pelukan orang tuanya masing-masing. Sudah 20 tahun setelah kejadian itu, aku masih saja trauma dengan robot-robotan. Aku pun pulang mengikuti anak-anak didikku ini.


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di