alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
4.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bc8a74da09a3977548b4568/cerita-kita

Cerita Kita

Sebelum saya menuangkan cerita di forum tercinta ini, izinkan nubi menginformasikan kalau cerita yang  saya tulis disini di rewrite ulang dari forum sebelumnya.

Karena disana responnya sepi dan tidak ada kemajuan saya untuk berlajar menulis,  maka dari itu saya menulis di forum ini. dan berharap banyak masukan untuk ke depannya oleh para suhu disini.

Terima Kasih.

Cerita Kita


Daftar Isi


Quote:
Diubah oleh ryanjun92
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2


Prolog


Orang bilang, beruntung punya sahabat yang dari kecil sampai tumbuh besar. Apa lagi sahabat lo itu cowok.

Mungkin benar juga, gue udah sahabat sama dia dari zaman imut-imut dan sekarang jadi amit-amit. Dari TK, SD, SMP, SMA yang sama dengan dia. Di tambah kita juga satu unversitas juga.

Dan seperti biasanya gue yang selalu seret dia kalau soal bangun pagi, karena hari ini hari pertama kita ospek di kampus.

"Hernest!!!, bra brak brak" teriak gue kencang, karena kesal ini orang tidur kayak mayat, susah bangunnnya. Dan tenaga gue terbuang sia-sisa buat bangunin dia di kost nya.

Gak lucu kan kalau kita terlambat, karena sekitar kost dia juga banyak mahasiswa baru. Mata mereka seperti melihat gue aneh,

Ya memang aneh, mana ada cewek masuk ke kostan cowok dan bangunin orang, dan lagi energy gue habis buat nahan emosi tunggu satu kunyuk keluar dari dalam sarangnya.

Suara pintu kamar kostnya pun ke buka, " lo kagak mandi?" tanya gue, karena liat dari mukanya masih penuh iler, walau pun sudah pakai baju putih dan celana hitam lengkap dengan keperluan ospek.

Dia cuman menggelakan kepalanya.

"isshh," desis gue, tetapi walau gak mandi masih keliatan cakep,

"wangi tau ola, nih cium" dia angkat keteknya dan langsung deketin ke muka gue.. nih anak emang songgong. Mentang-mentang dia tinggi dan gue cuman seketeknya dia.

Gue langsung melangkah cepat, karena gak lucu kalau harus kena hukuman karena terlambat tungguin tuh anak.

Jarak dari kost dia gak jauh, di belakang kampus. Tetapi tetap lebih jauh dari kost gue. Maklum lah kost yang mahal sama yang murah itu sudah ketauan dari jarak yang harus di tempuh.

Apa lagi ini kampus salah satu universitas terbaik di negeri ini.

Dan akhirnya udah kelihatan pintu gerbang kampus yang masih terbuka setengah. Beberapa kakak kelas cewek menunggu sambil dikit demi sedikit menutupnya.

Gue lari sekuat tenaga, gak perduliin yang gue jemput tadi. Yang penting gue selamat dari hukuman terlambat.

"haaaa" tarikan nafas gue lega, karena tak termasuk terlambat dan pintu gerbang sudah tertutup. Gue senyum-senyum sendiri kerana tau si hernest terlambat.

Dugaaan gue salah, pintu gerbangnya terbuka sedikit dan dia masuk dengan santai.

"what" gumam gue, jangan-jangan dia salah gunain kegantengannya untuk godain kakak kelas biar di izinin masuk.

Tetapi sepertinya begitu, dia langsung melangkah sesuatu dengan falkutasnya yaitu kedokteran, dan gue falkutas keenomian.

Andai gue juga punya duit berlebih gue juga mau masuk ke jurusan kayak dia, sayangnya sih pas-pas.
Dan gue bersyukur gue masih bisa kuliah di unversitas ternama juga. Berharap setelah lulus gue bisa meningkatkan perekonomian.

Kemudian.....
Cerita kita di mulai dari sini....

#Note, nubi update bertahap ya.. terima kasih
Ane nitip sendal deh di Pejwan emoticon-Big Grin
Sendalin dulu emoticon-Big Grin

01 - Daging Kelapa


Ola-

Rasanya pantat gue udah mati rasa kebanyakan duduk di sini, kayaknya falkutas gue aja yang duduk terus di banding yang lain.

Di tambah mata gue udah sedikit ngantuk karena pagi-pagi buta berangkat dari kos cuman buat bangunin dia. Dan akhirnya hampir terlambat.
Tau gitu, gue sengaja langsung ke kampus daripada tungguin dia.

Hari ini benar-benar sangat melelahkan, acara ospek satu hari penuh akhirnya selesai. Dan para mahasiswa baru di persatukan satu ruangan auditorium sebelum panitia ospek mengakhiri kegiatan hari ini.

Dan beruntung ospek di kampus ini gak seburuk yang gue bayangkan seperti yang gue pernah baca. Ospek di kampus ini tak macam-macam. walau nih rambut harus di kepang dua dan pakai tag name dengan tulisan nama gue, sesuai warna falkutas.


***


Gue melangkah keluar kampus sambil membuka kunciran di rambut. Rasanya pengen mandi terus tidur karena masih ada sisa satu minggu. Sebelum menjadi mahasiswa sebenarnya.

Gue mimilih langsung balik daripada tungguin si hernest yang gak ada batang hidungnya dari tadi. Rasanya lemes dan haus. Minum es kelapa kayaknya enak sore-sore gini.

"ketemu juga nih anak" ucap hernest langsung letakin tangannya di kepala gue. Gue cuman mengelirik kearahnya karena tangannya aja berat, gimana dosanya.

"es kelapa yuk la, mau gak gue traktir?" tanyanya seperti tau apa yang gue pikirin, gue sih ayo aja asal di bayarin haha..

Kita pun langsung menuju warung seberang kampus, hernest langsung memilih kelapanya sambil menepuk-nepuk.

"emang ketauan masih muda sama engga?" tanya gue karena kebiasaan hernest selalu seperti itu.

"ho,oh, kalau masih muda suaranya gak kopong gitu" jelasnya duduk di samping gue sambil bawa dua buah kelapa yang sudah terkupas.

"coba sini kepala lo gue ketok, kayaknya kopong deh" gue pegang kepalanya sambil ketok dikit kepalanya.

"yang ada kepala lo tuh kopong" dia balas ketok pelan kepala gue sampai bunyi. Gue langsung lirik dia tajam, dia malah ketawa senang dengar bunyi kepala gue.

Gue langsung tenggak air kelapanya sampai kering kerontang, jujur gue gak suka daging kelapa. Karena gue makan gituan suka gatel di ujung pantat, kata mama waktu itu namanya keremian. Makanya gue gak pernah makan daging kelapa.

"aahhhhh" mata yang ngantuk langsung seger minum air kelapa muda gini, dan gue akui hernest jago memilih-milih. Termasuk milih pacar, gak usah heran bisa di tebak dari tampangnya. Kayak ikan koi lagi di kasih makan.

"buset ola, lo minum kayak abang-abang, minum dari batoknya." Gerutu hernest menggelengkan kepalanya

"haus gue, lo mau tanggung gue mati kehausan?" tanya balik gue, melihat hernest lanjut makan daging kelapa yang terasa menggiurkan, memang sih liat daging kelapa sama airnya bikin gue haus lagi.

"lo naik anggkot?" tanyanya dengan mulut yang masih penuh kelapa.

"ya lah, " jawab gue pelan saat beberapa mahasiswa baru melihat kita duduk di pinggiran jalan. Seolah mereka lihat orang lagi pacaran. Itu hal yang gue rasain kalau cewek cakep liatin kita berdua. Karena gue cewek.

Dan pasti tuh cewek ngomong sama dirinya sendiri, "kok cowok seganteng dia mau makan di pinggir sama cewek kayak gitu". Karena gue juga pasti gitu kalau liat cowok cakep makan di pinggir jalan bareng cewek.

Wajar sih, nih anak makin gede makin ganteng. Dan gue seneng jadi sahabatnya siapa tau kegantengannya nular jadi cantik ke gue.

Gue sadar gue gak cantik-cantik banget, soalnya kalau si hernest bilang gue cantik itu bullshit. Gue gak percaya omongan dia kalau dia bilang gue cantik. Apa lagi liat gigi gingsul gue, dia selalu suruh ketok pakai palu biar gigi gue rata.

Rata ia, kayak nenek-nenek aja sekalian ompong!!.

Yang paling gue benci dari hernest, liat aja dia bersihin sisa makanan atau minuman pakai lidahnya yang di putar sekujur mulutnya. Ganteng tapi kelakuannya mirip anak SD dan gue bilang lagi lebih mirip ikan koi kalau dia kayak gitu.

Tetapi dia juga benci liat gue minum kayak tadi. Memang sih manusia gak ada yang sempurna termasuk kita. Orang lain tak akan tahu sisi jelek kita selain orang tua dan sahabat kecil kita.

Selesainya hernest langsung bayar dua porsi kelapa, gue liat kedalam isi batoknya. Gila isi daging kelapa punya gue ludes juga di embat sama dia.

Memang gak mau rugi kali ya, di dalam batoknya pun tak ada sisa kelapa. "balik oy, mau nambah?" tanyanya ketok kelapa gue lagi.

Dia pikir kepala gue kopong apa, di ketok lagi, gue pun langsung menyebrang lagi ke dekat kampus karena gue tunggu angkot.

"gue balik nest, thanks ya kelapanya" ucap gue saat dia tungguin gue sampai dapat anggkot.

"thanks juga udah jadi alarm, hahaa" tawa hernest puas, langsung berbalik arah dan masuk gang samping kampus menuju kos nya.

Tapi ucapan si hernest bener juga, gue jadi alarm dia. Dan di pikir rugi juga. Jadi alarm di bayar es kelapa yang seharga 10 ribu. Harusnya gue minta traktir McD di samping kampus.

Untung dia sahabat gue, kalau buat udah gue minta ganti rugi 100 kali lipat dari es kelapa.


***


Kos gue memang cukup jauh dari kampus, hampir 30 menit naik angkot. Gue memang sengaja cari kost khusus cewek karena pesan dari papa gue.walau jauh dikit tak masalah asal kos khusus cewek.

Dan antara beruntung dan enggak, semua cewek yang kos di sini takut sama pemiliknya yaitu bu melly. Dia yang selalu pantau 24 jam dari permbuatan mesum di tempat kos nya.

Kamar kos gue paling pojok dan paling bawah, dan paling gelap sendirian kalau malam. Karena lampu di depan kamar cuman pake bohlam. Dan sialnya lampunya selalu putus kalau di pakai yang lebih terang.

Tetapi kamarnya cukup luas, cukup untuk satu tempat tidur single. Meja kecil buat main laptop suatu saat, dan lemari tv. Termasuk juga kamar mandi dalam.

Dan bu melly bilang sampah terbesar di kos ini adalah softek, jadi dia harap membuang softek sendiri-sendiri kalau bisa daur ulang sendiri.

Di pikir kayak tai kali ya bisa di daur ulang jadi pupuk. Tetapi gak masalah gue harap gak bikin masalah dengan para penghuni kost cewek disini yang berisi 30 kamar. Terdiri dari 4 lantai.

Mirip rumah susun, jangan rumah susun deh. Bayangin aja kayak kandang ayam. Percis kayak gitu karena desainnya sama semua. Serba kotak-kotak.

Dan tak terlalu mahal untuk per bulannya, dan uang yang di kirim papa sama mama tak akan cepat habis.

Rasanya gak enak sih tinggalin rumah, karena dari TK sampai SMA, gue gak pernah tidur di luar. Paling jauh tidur di kamarnya si hernets.

Itu pun waktu masih SMP, ya memang rumah gue sama hernet saat itu cuman tetanggan. Tetapi bagi gue itu paling jauh.

Memang gue anak rumahan, jarang main keluar. Makanya gue punya temen dikit. Mungkin juga kuliah saat ini.

Mungkin loh...

Gue sengaja udah datang 1 minggu sebelum acara ospek, karena papa sengaja lakuin itu biar gue bisa beradaptasi dengan lingkungan baru,

Memang bagus sih, gue bisa jalan-jalan semaua gue, tetapi gue ngerasa kayak ikan koi di kolam, karena tempat yang gue kunjungin selama tinggal di kos itu-itu aja.

Tetapi masih ada waktu satu minggu lagi, gue harus bisa beradaptasi lagi. Karena gak lucu juga kuliah gak punya temen.

Dan juga seperti gue doank yang satu kamar sendiri, karena beberapa kali gue liat yang lainnya satu kamar berdua.
Tetapi gak apa-apa juga sih, seenak jidat mau ngapain juga. Gak ada yang protes termasuk si kunyuk satu.

#Note, update ya hu, saran dan kritiknya.
nyimak awal cerita aja dulu yak,

emoticon-Big Grin
Diubah oleh g.gowang


02 - Viola Natasya Widya



Hernest-


Gue beruntung punya sahabat kayak ola, kalau gak ada dia yang bangunin gue. Pasti image gue di kampus langsung jelek pas awal masuk..

Gue gak sombong sih, tapi banyak yang bilang wajah gue ganteng. Tetapi cuman si kunyuk satu yang bilang muka gue kayak ikan koi. Yaitu viola nastasya widya.

Walau tadi gue gunain kemampuan lebih dari wajah gue buat izinin masuk, padahal beda beberapa detik sama si ola. Dan sialnya kakak kelas minta nomor gue yang terhubung dengan Whatsapp.

Dan ini bukan dari kesombongan gue, tetapi kelebihan gue. Lo boleh muak dengan kenyataan seperti ini.

Tadinya gue mau traktir dia McD, di samping kampus. Tetapi gue gak jadi, soalnya di gak mau tungguin keluar kampus karena terjebak dengan kakak kelas cantik. Dan ini bukannya sombong loh.

Di lain sisi gue beruntung sih dapat kos, yang ternyata di belakang kampus. Yah mahal sih. Tapi untungnya bokap bayarin penuh selama gue sampai lulus dari kampus ini.

Harga yang mahal sebanding dengan fasilitasnnya, wifii. Ac. Dan juga laundry termasuk dalam fasilitasnya. Jadi terasa rumah sendiri.

Sepertinya gue aja yang mahasiswa baru disini, karena tampang-tampang penghuni kos disini sudah lama. Mungkin juga ada yang mau lulus.

Kemaanan disini pun tak terlalu ketat, kayak RT di rumah, Tamu harap lapor 2x24 jam. Gue langsung akrab dengan tetangga kos gue. Walau penghuni kos sini kebanyakan orang kaya.

Itu semua bisa di lihat dari lahan parkir di depan kos. Kalau malam penuh mobil sedan, minimal avanza dah.

Yang baru saja masuk itu Dery, dia anak semester 6. Rambutnya gondrong terawat dengan bewok halus.

Keliatannya sih serem dan sangar, tetapi seserem dery, dia masih takut sama ceweknya. Percaya gak percaya, lebih sereman cewek kalau lagi PMS. Lo bisa buktiin sendiri aja.

Kos gue cukup besar, dan gue kira lebih mirip dengan apartement type studio. Kalau gak tau liat di google aja type studio.

Orang pikir sih kecil, tetapi bagi gue ini udah gede, soalnya gue tinggal sendiri sedangkan yang laiinya satu kos bisa berdua.

Gue gak sombong sih maunya sendiri, tetapi gue gak betah kalau tidur bareng. Sendiri lebih leluasa dan apa yang lo suka bisa lo lakuin tanpa tertanggung sama orang lain.


***


Gue langsung mandi karena gak enak banget kulit terasa sangat lengket, di tambah kekenyangan abisin isi kelapa punya ola.

Gue tau si ola gak mau makan dagingnya. Soalnya dia punya kelaianan aneh, abis makan daging kelapa, lobang pantatnya sering gatel abis makan gituan.

Lucu emang kalau liat ola kayak cacing kepanasan kalau lagi keremian, pantatnya gak mau diem, gue inget pas SMA ia duduk di ujung meja sambil gesekin pantatnya.

Dan itu pasti dia salah makan, dia gak sengaja makan roti isi kelapa, dan baru sadar saat ujung pantatnya gatel.

Itu gak hanya sekali dua kali, tetapi kalau si ola lapar apapun makanan di hadapannya langsung ludes. Nafsu makannya gak kalah sama abang-abang. Tetap aja badannya gak tinggi-tinggi.

Gue males buka ponsel, gue yakin itu dari chat kakak kelas yang tadi minta nomor gue, ola gak mungkin chat gue, bahkan gak pernah karena dia gregetan kalau gue lama balesnya.

Dugaan gue benar, itu kakak kelas yang tadi. tapi gak di bales sayang juga nanti mubazir.

Di lihat-lihat si wajahnya cakep juga, ada tai lalet di ujung bibirnya. Dan gue tebak ini cewek bawel pasti.

Kakak kelas yang tadi langsung perkenalkan dirinya, namanya endah.

"anjrittt" gumam gue terkejut kerana beberapa menit kenalan, dia langsung telepon. Wah agresif banget nih kakak kelas. Kalau ibarat ikan, ikan lele nih kakak endah.

Tapi kalau agresifnya ola beda, ola rasabta pengen nelen mentah-mentah, apa lagi pas PMS. Gila kayak setan kepanasan tuh anak. Liat gue hawa nya emosi terus.

Tetapi semakin gede, gak semakin tinggi tuh anak dari SMP sampai sekarang tingginya segitu-gitu aja.

Tetapi mayan buat ganjelan tangan kalau lagi pegel.

Tetapi ola yang waktu SMA sama sekarang, cukup berbeda jauh. Si ola kelihatannya lebih kalem. Dan gue tau dia makeup walau tipis.

Si ola kagak percaya diri sama tampangnya sendiri, padahal dia cakep kalau dandan. Tetap aja gak percaya.

Dia bilang BullShit, tetapi kalau gue nilai cantiknya si ola. Dan di banding mantan gue sebelumnya cantiknya ola 7,1 per 10.

Kalau dia denger gue bandingin sama mantan, beuh. Jangan harap lo bisa kabur. Minimal rambut lo rontok beberapa helai. Karena si ola kesal sama gue suka jambak.

Selesai jambak, di tangannya pasti ada beberapa helai rambut di sela-sela jarinnya.

Jangan bayangin dia marah dah, satu-satunya ademin dia cuman traktir makan pedes. Tetapi bisa aja suka makan pedes mempengaruhi kepribadinnya. Dan gue yakin itu.

Gue gak sadar nih telepon kak endah udah satu jam lebih. omongin apa aja yang gak jelas.

Kak endah ajak gue jalan, gue setuju aja lagian gue jomblo siapa yang larang. hitung- hitung bosen di kos.


***


Sesuai janji ini malam gue janjian sama kak endah di mcd dekat kampus, eitz kita gak janjian makan di mcd ya. Kita mau nonton bioskop.
Tak lama mobil jazz warna pink berhenti tepat di depan gue. Gue tebak ini pasti kak endah, soalnya gue gak ada kendaraan.

Dan dia bilang di yang jemput gue. Ya sudahlah..

Jendela mobil terbuka, dan sosok kak endah pun muncul agar gue masuk kedalam, gue pasang wajah senyum, karena jujur tampilan malam ini lebih cantik di banding pas tadi siang.

Gak buang-buang waktu kita pun cus, ke arah mall yang memakan waktu 30 menit dari sini.

Dan gue baru tau kak endah lagi problem sama cowoknya, walau gue jomblo gue masih waras gak bakalan embat cewek orang juga.

Setelah mendengar ucapan kak endah perasaan gue gak enak, karena kalau ketauan cowoknya bisa urusan panjang. Kayak ngurus SIM.

Tetapi kak endah bilang tenang aja, dia yang tanggung jawab. Gue gak mau tanya masalah dia apa.

Sesampainya kita langsung pilih film horor, feeling gue gak enak nonton ginian, liat judulnya aja udah merinding.

Gak takut sih, cuman gak suka. Beda gak suka sama takut, kalau takut emang gak berani, tapi kalau gak suka, emang gak suka.

Gue gak tau kak endah milih nonton film horror kayak gini, apa mungkin dengan gini meluapkan emosinya menonton film horror.
Gue sama kak endah duduk paling ujung, bukan ujung dekat tembok. Tapi ujung satunya dan 3 kursi dari depan.

Gak kebayang bakal liat muka setannya kayak apa, mendingan duduk paling belakang dan di pojokan, bisa tidur sekalian di situ.
Suana jadi tegang pas lampu di matiin, Dan sekali lagi gue gak takut oke...

Ini yang gak gue suka, suara musik horornya bikin tegang, masih mending musik dangdutan. kak endah serius nontonya,

"AHHHH!!!" jeritnya kak endah pas gue lagi asik makan popcorn, dia teriak di kuping kiri gue, popcorn pun ikutan kaget sampai di keluar dari tempatnya.

Lebih parah dari si ola kalau teriak, ola teriak kayak knalpot bajaj, sedangkan kak endah teriak kayak TOA,


***


Seumur-umur gue belum pernah ngerasain namanya budeg sebelah, tapi kali ini gue tau rasanya gimana

Kalau ke dokter, mahalan kedokter daripada traktiran dari kak endah. Kak endah puas, gue budek sebelah.

Kuping gue langsung berdenging kenceng, satu kali kena lagi, bisa budek permanen ini kuping.

"Hernest, sorry yah~" kak endah buka pembicaraan pas perjalanan pulang.

"Buat?"

"Yah, buat temenin malam ini dan bantu lepasin emosi, jadi plong gitu" jelasnya, bearti kak endah jadi pelampiasan emosinya ke gue. dan kuping gue korbannya.

Gak lucu kalau kena semprot cowoknya, mendingan kena semprot di banding kena tinju. itu bikin kegantengan gue berkurang banyak.

"Tapi tenang kok, aku gak bakalan bikin masalah buat kamu, " lanjutnya senyum, walau kak endah senyum tetap aja ujungnya gak enak.

"awas kak lampu merah" jerit gue pas kak endah gak konsentrasi, otomatis dia rem mendadak karena hampir nabrak orang pas lagi nyebrang.

"kak aku turun di lampu merah aja, ya mau mampir ke rumah temen, " ucap gue kerana lihat sekilas si ola berjalan menuju keseberang jalan menuju ke salah satu tempat makan pinggir jalan.

Kak endah meyetujuinya, gue langsung turun dan melambaikan tangannya dan langsung menyebrang mencari si ola yang jalannya cepet banget kayak setan, apa gue yang efek nonton film horror.

Gue gak nyangka di sebrang ternyata banyak tukang makanan, semua jenis makanan kaki lima berjajar rapih di pinggir taman kota.
"kiri kanan," gue gak yakin tadi itu ola, dari bau-baunya emang dia. dan gue milih ke arah kanan.

#Bersambung...

untuk TS sekedar saran sih: untuk nama tempat2 dan apa aja yg berbau komersiil mungkin bisa di sensor penulisannya, takutnya entar di kira iklan.
Segitu dulu aja ya, dan mohon maaf bila kurang berkenan,

03 - Cabe



Ola-

Daripada bosen di kos gak ada hiburan, malam ini gue putusin makan di luar aja. Sekalian gue hafalin jalan lagi.

Kata bu melly, ada banyak tukang makanan di lampu merah pertigaan. Kalau jalan kaki sih cukup jauh 15 menitan jalan kaki dari kos.

Tapi gak apa-apa gue milih jalan kaki, gue sedikit bingung karena itu taman kota yang siang kosong, dan malam hari berubah jadi tempat jajanan. berubah 180 derajat.

Perut gue yang udah kenyang di isi roti bakar depan kos, tiba-tiba udah demo lagi liat banyak tukang makanan berjejer memanjang mengelilingin taman.

Gue langsung nyebrang jalan, dan gue liat tadi mobil pink tiba-tiba berhenti mendadak saat gue mau nyebrang.

Udah tau masih lampu merah masih aja mau serobot, Moga aja kempes tuh ban, biar tau rasa.

Emosi sesaat gue langsung hilang melihat abang-abang makanan berjejer dari ujung ke ujung. Tanpa ba bi bu, gue langsung pesen sate ayam sama nasi goreng. Yang cukup rame di ujung jalan.

Makanan sejuta umat, yang dimana tempatnya pasti selalu ada menu kayak gini. Satu yang gue bikin bête, sambil menunggu gue lupa harusnya pakai celana panjang.

Terasa kaki gue jadi tempat donor darah buat para nyamuk. Gue milih ke dalem deket kompor. Gak mungkin tuh nyamuk dan kawan-kawannya ikutin gue, bisa-bisa jadi nyamuk goreng.

Tak sampai situ, ternyata di dalam terasa panas, di tambah asap rokok dari beberapa cowok yang juga tunggu makanannya.

Jadi serba salah, dan akhirnya gue milih di bungkus makan di kos, dan nunggu sambil mondar mandir di depan tenda.

"awwhh" desis gue ada orang yang jitak kepala gue dari belakang, siapa sih gue langsung berbalik, dan ternyata si ikan koi hernest yang jitak.

"kebiasaan ih, keseringan ketok kepala gue, nanti gue jadi bego. Lo mau tanggung?" desis gue lagi sambil manyun. Dia gak jawab cuman tawa doang.

"ngapain lo disini?" tanyanya sambil naik turunin alis, kayak sinchan.

"makanlah, tapi bawa pulang, lo ngapain disini? Jadi tukang nasi goreng?" tanya gue balik, karena biasanya jarang si hernest dateng tempat kayak gini.

"numpang lewat, terus tadi gue liat lo jalan kayak setan cepet banget. Ya udah gue cariin lo" jelasnya singkat padat dan tak berisi, dan gak jelas juga. Cantik kayak gini dia anggap setan, emang setan si hernest.

"najong, paling lo abis cari cewek, ketauan banget!" jawab gue meledek sambil ambil pesanan nasi goreng sama sate ayam. Gue malkumin nih anak, kalau ngomong suka gak di ayak. Dia cuman tawa cengengesan.

Gue rasa sih ia, abis ngedate sama cewek. Dan siapa tau dia di turunin tengah jalan karena tampang playboy nya gitu. kalau cewek baik-baik pasti sadar, ada bakwan di balik udang,

"seriusan, gue kebetulan aja liat lo. Emang kos lo jauh dari sini?" tanyanya penasaran saat gue ambil dua bungkusan makanan di dua tempat berbeda.

"gak kok, 15 menitan lah, kalau ada lo bisa 30 menit jalan kaki" jawab gue datar karena sumpah perut gue udah laper,

" ooooh" jawabnya mengangguk angguk dan ikutin gue jalan kearah kos.

"lo gak balik apa? Ngapain ikutin gue?" gue tatap tajam ke arahnya, karena kalau dia nekat ke kos gue, pasti gue bakalan berurusan sama bu melly.

"pengen tau aja, lo tinggal dimana, pastiin aja" jawabnya terus ikutin dan malah jalan di samping gue.

Mau gimana lagi, nih anak kalau penasaran kayak bayi mau netek, harus ketemu baru dia diem.

"tuh depan" tunjuk gue kearah kos yang bertingkat.

"lantai?"

"atas, paling atas" jawab gue agak kesel, karena terbawa rasa lapar. Dan gue gak mau kasih tau kalau kos gue paling bawah pojok, dan pakai bohlam. Pasti nih anak ketawa sampe besok.

Setan emang...

"sana balik, udah malam," ucap gue berdiri agak jauh dari pintu gerbang kos.

"ieee, lo takut ya kepergok ibu kos?. Nanti di sangka gue cowok lo??" ucapnya sedikit meledek.

"preettt" jawab gue langsung berjalan pintu gerbang, kalau di nekat ikutin gue. Bodo amat gue bilang aja gak kenal sama tuh anak.

"oke gue balik" ucapnya agak sedikit teriak, gua cuman lambaikan tangan. Gue gak perduliin, gue langsung masuk cari piring.

Taraaaa, nasi goreng super pedes dan sate. Gue sedikit nelen ludah lihat bumbu sate yang lebih dominan sambel daripada bumbu kacang. Perasaan tadi gue minta tambah sambel empat sendok aja.

Gak apa-apa juga sih, malah justru menggiurkan.


***


Satu kata buat malam ini, yaitu kenyang. 15 tusuk sate, dan nasi goreng special. Keringet langsung bercucuran kayak abis olahraga.

Gila bener sambel satenya gak kira-kira, tapi enak juga sih. Daripada lapar, murah pula, tapi kalu tiap malam makan kayak gini, bisa bokek juga.

Mama kirim duit bulanan minggu depan, dan baru sadar duit di dompet cuman sisa 100 ribu di tambah kembalian tadi sisa dua ribu. Mudah-mudahan cukup.

Gue paling suka makan pedes, karena makan sesuatu yang pedes bisa menurunkan emosi kita, percaya gak percaya.

Apa lagi makannya sambil liatin si hernest, hawanya makin laper. Dia cuman liatin aja pas gue makan pedes kayak gini.

Dari kegantengannya dia paling gak suka makan pedes. Gak suka pedesnya terlalu berlebihan, Dulu pas SMA kagak sengaja kasih sedikit sambel di gorengannya.

Dan hasilnya mukanya memerah kayak nahan malu, keringat langsung bercucuran deras kayak abis makan banyak.

Awalnya gue tawain dia sampe sakit perut, dan sampai di jewer sama mama karena jailin dia. Padahal gue cuman kasih dikit aja, gak niat kasih banyak.

Mentang-mentang ganteng, si mama selalu belai si hernets. Jahat banget gak belain anaknya sendiri.Ujung-ujungnya gue yang minta maaf ke dia,

Karena dia juga ngerasa bersalah, padahal di dalam hati dia senang liatin gue kena omel. Dan sebagainya gantinya dia traktir makan pedes.

Walau pun dia gak pesen, paling pesen es kelapa aja, kadang es jeruk.

Soalnya di depan perumahan gue ada warung makan, mbah bejo. Disitu warung makan khusus doyan pedes, karena semua jenis sambal ada disana. Dan gue minimal pesen 3 jenis sambel buat di cocol ke ayamnya.

Hernest cuman pelototin gue makan, paling demen gue liatin dia kayak gitu. Kayak liat anak yang di hukum emaknya gak di kasih makan. Matanya gak gak kedip untuk beberapa detik.

***



Rasa pedes udah mulai hilang, nasi goreng dan sate mulai menjalar ke mata tiba-tiba hilang karena suara langkah di lantai atas.

Itu bukan karena setan, tetapi para penghuni lantai dua, baru aja keluar dari sarangnya. Memang bukan urusan gue dia mau keluar malam apa gak, yang jelas tiap jam 11 malam selalu seperti ini.

Gue juga pernah tanya penghuni lantai, yang berisik itu ke bu melly. Memang dia kuliah dan malam suka clubbing.

Pasti tau abis pulang clubbing apa, gue mah cuman baca internet aja. Tapi bukan urusan gua bahas mereka. Yang jelas mereka ganggu gue mau tidur.

Tetapi jadi penasaran kayak apa penghuni lantai atas, karena selama gue kesini gue belum berpapasan dengan para penghuninya. dan bagaimana bentuknya.

Bersambung...
ijin gelar lapak sist dan gan emoticon-Big Grin
cukup unik juga pembukaan ceritanya emoticon-Big Grin
Ngintip dulu
mejeng lagi mumpung masih pejwan,emoticon-Cool
Lah pindah di mari bang? Kan di sebelah udah tamat, ane lebih suka di sebelah sih, lebih bebas, cuman maap ane kayaknya SR deh. Ane gak bisa kasih komentar ataupun masukan apa-apa sih bang. Cuman ane suka karya ente, terus berkarya ya bang
Ikutan mejeng di pejwan juga dong..
emoticon-Rate 5 Star
Quote:


monggo///

Quote:


monggoo

Quote:


monggooo gan/

Quote:


hahah sebelah sepi, kwkwkw.. makanya pindah sini.. ramean sini sih.

Quote:


monggooo gan..

Quote:


Sebalh mn nih hu?


04 – Cari Pacar


Hernest-

Akhirnya sampai di kos, rasanya capek juga jalan kaki. Walau pun ujungnya naik angkot juga sih. Gue jadi tau si ola jauh-jauh bangunin gue, agak nyesel juga sih gak traktir MCD. Tapi ya udahlah.

Lagian gue seneng si ola dapat kos khusus cewek, dia orangnya kan susah beradaptasi. Dan beraharap si ola bisa biar dapat banyak temen.

Bunyi notif WA dari kak endah, gue langsung liat isinya yang ternyata tanyain posisi gue. Dan ternyata ban mobilnya kempes. Lokasinya cukup jauh kalau jalan kaki.

Sekarang kak endah ada di MCD sambil cari bantuan, tapi kasian juga kalau gak bantuin, soalnya udah traktir di bioskop.

Gue langsung meluncur ke MCD, dari jauh kak endah lagi duduk sambil telepon seseorang dan langsung melemparnya begitu saja.
"kak" kata gue lambain tangan.

"hi nest, aku kira kamu gak datang" senyum dengan penuh harapan.

"hhehe, baru balik kok kak, dari teman aku." Jawab gue dengan seadanya.

"kamu bisa gak ganti ban?" kak endah langsung ke inti masalah, dan melirik ponselnya yang berdering.

"mudah-mudahan, mobilnya dimana?" kak endah langsung tunjukin ke mobilnya yang berada di pinggir jalan. Kita pun langsung meluncur kesana.

"aahhh!! ih sial" gerutu kesal kak endah, gue tau kak endah kesal karena dongraknya gak ada. Gue tau situasi kali ini makin buruk. dan Gue gak bisa bantu apa-apa.

Kak endah terlihat lagi emosi berat, gak lama kak endah terima telepon dari seseorang. "iaahh!!!" ucap kak endah mengakhiri pembicaraan.
"papa aku panggil mobil Derek, balik mcd yuk. Jadi laper" ajak kak endah,

Gak salah denger?, cuman gara-gara ban kempes panggil mobil Derek, terus sia-sia juga gue dateng kalau ujungnya kak endah panggil mobil Derek.

Kak endah pesan dua burger, " kak endah balik sama siapa?" kata gue membuka pembicaraan, karena kasian juga cemberut gitu, cakep-cakep kayak kain kusut repot juga.

"gak tau "

"oh nest, kamu kos apa ngak?" tanyanya sambil mengunyah.

"kos di belakang kampus sini, " jawab gue seadanya, termasuk keceplosan sih. Harusnya gue bilang kos di belakangnnya lagi.

"ouhh ya aku tau itu kos, kalau gak aku nginap ke kos kamu aja gpp?" kata kak endah membuat gue langsung keselek.

"haa? Waduhhh," gue sih gak masalah . Tapi gimana sama cowoknya nanti, bisa urusan merembet, Kalau kak endah single sih, gue suruh tinggal aja di kost, gue cari kos lagi yang baru.

Besok-besok gue cari pacar aja ah... Biar ada alasan kalau ada yang nginap di kost.

Gue sama kak endah selesai langsung keluar MCD, kak endah kayak gak sungkan jalan kayak gini. seolah kita udah kenal lama. atau terkesima dengan wajah ganteng gue.

Pasti enek dengernya ya, Sama gue juga.

"tuh kan ini mah kos elite" katanya tiba-tiba, hal itu buat gue mikir macem-macem kak endah tentang gue.

Kos gue di lantai dua, jam segini udah pada sepi. Penjaga kos pun gak tanya gue bawa siapa. Cuman senyum senyum aja liat gue jalan bareng kak endah,

Kalau gak salah namanya pa bijo, orangnya kurus tinggi, dan kumisnya tumbuhnya di pinggirnya doang. Mirip ikan lele tuh kumis.

Kak endah langsung rebahan di kasur gue yang masih berantakan, seolah tuh kasur punya sendiri.

"nest, aku pinjam wc ya? Mau pipis" gue cuman angguk, sambil rapihin. Kalau ola liat kamar gue kayak gini. Pasti tambah di parah. sumpah serapah ngomelin gue.

Gak lama kak endah keluar dengan wajah yang lebih cerah, kayak abis cuci muka soalnya rambutnya di kuncir ke belakang kayak kuda.

"kamar kamu gede juga yah, kenapa gak sekalian tinggal apartement aja?" kata kak endah langsung duduk di samping gue.
"uhm, lumayan kok. Enakan kayak gini dekat kampus, bisa bangun siang deh" jawab gue sekenannya, karena agak risih juga ada yang masuk di dalam kos gue.

"ouh, tapi aku masih gak percaya kamu gak punya cewek!" lanjut kak endah kayak intograsi gue, rese juga gak percayaa kak endah kalau gue jomblo.

kalau si ola yang ngomong gitu sih gpp. emang gak percayaan dia orangnya.

"yah kalau gak jomblo, gak mungkin izinin kak endah kesini. Hehe" gue senyum pelan, secara bersamaan ponselnya bunyi lagi, gue sekilas liat nama panggilnya my boby.

Tetapi kak endah gak jawab, malah cuekin gitu aja. dia lemparin hp nya ke pinggir kasur.

"kenapa gak di angkat kak?" tanya gue yang udah penasaran dari awal.

"males aja " jawab kak endah langsung rebahan, bener-bener nih kak endah seenak jidat tiduran lagi.

Nah kan, baru di omongin kak endah langsung tidur pulas, bukan 11 12 lagi ini namanya. sifatnya sama percis.

Eist si ola kagak ya, inget. Jangan bawa-bawa ola ke masalah tiduran. Bisa-bisa cabe langsung melesat ke mulut gue.

Enak banget kak endah tidur di kasur gue, terus gue tidur dimana sekarang. bangku aja gak punya di dalam.

Masa ia di lantai, dingin pula kena ac.. di tambah selimut satu-satunnya di juga di ambil.

sesekali gue lihat ponsel terus berdering dengan nama my boby. Kenapa perasaan gue gak enak ya.

Gak sekali dua kali tapi lima belas kali misscall, gak mungkin gue angkat. Bisa urusannya tambah parah dari ini.

Mata udah berat, gue ambil beberapa helai baju buat jadi tatakan di lantai. kenapa gue jadi ke siksa kayak gini di kamar kost sendiri.


***


"Brrrrrrrrrr" gue bangun karena ke dinginan, udah kayak tidur di dalam kulkas. di kasur pun kak endah udah gak ada. padahal baru jam enam pagi.

Buat matiin ac aja penuh perjuangan kaki gue gemetaran karena dingin banget. gak cuman kaki, tangan gue juga ikutan mengigil buat matiin remot ac.

Dan akhirnya bisa, gue tarik selimut lagi buat lanjutin mimpi yang tertunda. awalnya mulai mau terlelap tapi ponsel gue bunyi..
Dengan tangan masih bergetar gue angkat ponsel dengan mata yang masih terpejam.

"BANGUNNNN WOIIIIII~~~~" suara ola bikin mata gue terbuka lebar.

"lo ada kelas pagi kan??" lanjutnya kecilin volume bibirnya.

"Lima menit ola, gue ngantuk banget sumpah" jawab gue masih gemeteran, masih dingin aja rasanya. jangan-jangan darah gue pada beku karena kedinginan, jadinya aliran darah ke otak yang tadi encer jadi kentel kayak susu,

"Terserah lah, gue udah baik bangun lo okeh, jangan salahin gue kalau telat."

"Sekian dan terima kasih" lanjutnya udah kayak baca susrat.

"Iah~~" gue lanjutin pejamin mata, sepertinya gue kuliah hari ini.

"OIIIII~~~~" suara ola lagi yang ternyata gue belum gue matiin ponselnya.

"iah-iah gue udah bangun ini" kebiasan jelek ola ya gini, bangunin orang sampai bener-bener tuh orang bangun.

"nah gue percaya~" katanya langsung tutup telepon, enaknya cuman modal volume doang si ola bangunin gue.

"gue lupa hari ini belum masuk kuliah, kenapa dia bilang telat?" wah beneran kampret si ola.


***


"oiii nest bukaa,, " suara ola pas gue niat mau telepon buat ngomelin soal kerjain gue, sekalian gue jitakin aja dan sekaligus langsung buka pintu, ola cuman tatapan sok imut sambil senyum. "Takkkkk"

"Awsssshhh sakittt, ~" jeritnya pelan setelah gue puas jitak dia.

"Siapa suruh, bangunin gue padahal belum masuk kuliah~." tangan gue udah siap-siap jitak lagi.

"Kalau gak gitu, gak ada temennya gue buat cari perlengkapan kuliah,"

"gak bisa gitu kalau sore?"

"ya udah, lo tidur lagi gue tungguin deh... soalnya lo kalau gak di giniin suka mangkir terus" ucap ola enteng banget kayak bawa kantong pelastik.

"Kemana?"
"Mall" jawabnya.

"haa?? gila lo, ini masih jam 7an, mana ada mall buka jam segini ola?" kayaknya dia salah bantal jadinya otaknya kebalik gitu.

" ya udah, makan bubur aja depan gerbang kampus yuk, laper"

"kali ini gue yang traktir, okeh? kan gue yang ajak" lanjutnya lagi agak maksa, tapi gue pikir juga sekalian juga. ikutan cari perlengkapan

Gak lucu juga sih kalau pas masuk kuliah cuman bawa tas kosong, image gue jadi anak yang rajin dan ganteng bisa turun lima puluh persen.
"okeh,"

gue sama ola langsung cari tukang bubur yang di maksud ola, ternyata gak jauh dari kampus. banyak juga yang beli walau kampus masih belum di buka.

"Bang dua, satu pedes banget, yang satu polosan buburnya aja" ola langsung pesen.

"Pake ayam bang, enakan aj polosan. lo kira balita bubur doang?" protes gue bikin yang lain dengar pada senyum-senyum,

Parah emang si ola, candain orang gak lihat kondisi dulu. pengen gue jitak lagi tuh kepala.

Gue cuman telen ludah liat isi mangkoknya si ola ketutup sama sambel doang, bisa-bisa tekor tuh abang- abangnya.

Tampangnya juga pas makan gak ada dosanya, makan bubur pedes udah kayak makan pudding di uyup sampai habis.
Gak usah sarapan juga udah kenyang liatin si ola makan...

Bersambung...

bantu up .. biar rame trit keren soalnye..
izin yah om
nyimak dulu deh

05 - Teman baru



Ola-

Satu minggu terasa singkat kalau buat yang kerjaannya makan tidur, makan tidur. Kayak gue. Gue udah keliling daerah sini. Gak ada tempat bagus kecuali Mall dan juga samping mall ada tempat Bar.

Dan hari ini gue pun masuk kuliah, jadwal kelas bisa di lihat di web kampus, dan kelas gue berada di gedung F lantai 6.

Ini kampus ternyata lebih luas dari perkiraan gue. Karena saat ospek berada di gedung A yang gak jauh dari pintu gerbang, setelah beberapa tanya ke orang lewat akhirnya ketemu gedung F yang ternyata gedung empat.

Karena kampus ini punya 8 gedung kampus, dan gedung tempat kelas gue berada paling belakang. bentuknya berbeda dengan gedung lainnya.

Kelihatan lebih tua gedungnya di banding yang lain, karena ada beberapa komponen kayu buat jadi tiang-tiang gedung.

Dan walau ada lift, itu tak cukup karena lift ukurannya kecil muat buat 6 orang aja. Sedangkan yang mengantri puluhan.

Astaga, cobaan apa lagi di pertama kali kuliah. Mau gak mau gue jalan secara manual, menaiki tangga satu persatu sampai lantai 6.

Satu kata kali ini, enggap. Nafas gue hampir abis di tambah dengkul gue terasa mau copot. Dan kali ini giliran cari kelas,

Gue liat nomor kelasnya berada di ujung ruangan. Di tambah sepi pula lorong kampus, gue buka pintunya perlahan.

Dan ternyata cukup rame dalam kelas. Mereka semua gak perduli gue dateng. Tetapi bener juga ngapain perduliin juga, gue langsung milih tempat duduk paling ujung deket jendela.

Dari sini bisa lihat ke tengah kampus, benar-benar gue beruntung bisa kuliah di universitas seperti ini. Gue gak boleh kecewain mama dan papa.

"boleh duduk disini?" tanya seorang cewek, gue liat di pakai kacamata, tubuhnya tinggian dia di banding gue, putih, dan agak sipit.

"boleh" jawab gue senyum.

"aku Nadine, " sapanya berkenalan,

"viola, panggil aja ola" sapa balik gue,

Dan Nadine, orang pertama kenal di kampus. Orangnya sih asik, ramah. Gak mandang untuk berteman, gue bisa liat dari gerak geriknya gak risih sama sekali.

Mata kuliah pertama kali ini di mulai oleh pengetahuan dasar, dan gue liat sekeliling kebanyakan anak perempuan di banding cowok.


***


Gak terasa udah jam satu siang, mata kuliah juga udah selesai. Iseng gue liat jadwal si hernets, dia berada di gedung B lantai 4.

Gue tau gedung B, gedung paling besar dari gedung lainnya, di dalamnya lebih modern daripada gedung gue.

Mungkin khusus falkutas yang mahal-mahal, liftnya juga ada empat. Dan dua kali lipat luasnya dari lift gedung tadi.

Kelasnya juga lebih keliatan bagus, dan gue liat berbeda dari kelas gue sebelumnya. Yaitu setiap kelas di gedung ini pakai AC,

Kenapa pas gedung gue ngak pakai, mungkin udah nasibnya. Mata gue muter-muter cari kelasnya si hernest. Akhirnya ketemu di tengah-tengah.

Anehnya gak ada orang di dalam kelasnya, lebih tepatnya udah kosong. kapok gue samperin di kelasnya hernest, besok-besok gue tanya dulu dia ada di kelas apa ngak. sia-sisa.


***


Nah dia si kunyuk lagi nongkrong di taman kampus sambil asik ngerokok pas gue lagi jalan-jalan keliling gedung lainnya.

"gue kira lo gak masuk di hari pertama!" kata gue langsung duduk di sampingnya, si hernest langsung buang rokok yang baru aja satu hisapan, karena dia tau gue gak kuat deket orang yang rokok.

Asap bikin gue batuk sampe lemes kadang muntah. walaupun gue gak punya riwayat penyakit asma.

"apa kata para cewek kalau gue gak masuk, pasti pada cariin" jawabnya dengan gaya sok cool, angkat kedua tangannya sambil noleh ke gue.

"lo baru bangun ya?? Itu mata lo masih merah" gue tarik kepalanya gue lihatin matanya yang bener merah.

Dia cuman nyegir kayak sapi mau di potong.

"eits jangan ngomel dulu kayak emak-emak" dia tutupin mulut gue pakai jarinya pas gue mau aja ngomelin.

"gue baru bangun tidur disini, bukan dari kos. Nih cium ketek gue wangi.. gak kecut kayak muka lo ola" ucapnya mengelus keteknya pakai dua jari, terus olesin ke idung gue.

"bauuuuuu~~~" kata gue, itu ketek kayak sabun colek oles dikit kecium baunya.. tapi emang gak bau sih, malah wangi parfum.

"lo ada masalah nest?" tanya gue saat jalan keluar kampus, dia angguk pelan.

"cewek?" angguknya lagi.

"putus lagi?" dia geleng-geleng.

"terus?" angguk angguk lagi, ngelesin nih anak. geleng-geleng angguk-angguk.

"gue certain pas di warung bakso aja dah" ucapnya dengan wajah bête. Gue ikutin aja dia ke arah warung bakso di samping kampus.

Hernest langsung pesan dua porsi, dan gak lama dia bawa baksonya. "khusus lo" katanya kasih mangkok yang udah di kasih sambel.

"jangan protes, mau nambah, cabe mahal kata abangnya" lanjut hernest langsung caplok bakso ke mulutnya.

Gue lihat hernest makan dengan tatapan kosong, kalau di hernest baru putus, bearti minggu-minggu kemarin udah jadian.
"katanya mau cerita?" kata gue terus aduk-aduk bakso,

"gue pusing aja ola, gue salah deketin cewek. Haha. Dia udah ada cowok ternyata"

"terus?"

"ya masalahnya gue gak jadi gak suka kalau ceweknya punya cowok" jelasnya, hernest cerita singkat padat. Intinya dia rayu cewek yang udah punya cowok.

Gue seneng sih, biar dia kapok cari cewek. Cari yang bener-bener serius. Bagus kalau kayak gitu biar dia mikir.

Tapi di liat-liat, si hernest gantengan kalau dengan wajah serius gitu. Gue jadi ngerasa ini bukan masalah cinta biasa. Kayak ada yang di sembunyiin, wajahnya kali ini di tekuk kayak tempat teh kotak.

tetapi berharap masalahnya bener bikin dia jera, siapa suruh pertama kali masuk kampus udah bikin ulah sama orang. ya tuhan gue berharap itu.

Manteb juga ini sambel bakso, lebih mantab dari pada sambel bubur di depan kampus. lebih nampol yang ini.

Si hernet makan sambil bengong, bakso cuman di aduk-aduk lagi sambil masukin ke mulut, tapi tuh bakso gak di kunyah malah di emut kayak permen.

"Kayaknya masih banyak nih bakso, kenapa udah abis ?? gumamnya langsung lirik gue tajam,

"Mana gue tau, lo makan sambil bengong gitu, " beneran masalahnya si hernest lumayan besar, sampai-sampai gak tau kalau gue comotin satu persatu baksonya. Tapi bedanya dia gak ngomel kali ini.

Emang gue pikirin yang penting perut kenyangnya nampol, lumayan bertahan sampai makan malam.

"Lo gak balik ola?" ucap hernest sambil senggol lengan gue pas lagi jalan santai di pinggiran depan kampus.

"Temenin lo, takutnya lo frustasi gitu?. gue yang kena juga"

"Setan~,"

"LO yang setan, ngomong enak banget gak di rem" omel gue manyun.

"HAHAHAHAHA~" aneh emang nih orang dari murung jadi ketawa keras gitu tiba-tiba.

"Thanks ya udah temenin," katanya sambil tepak-tepak kepala gue, Rasanya pengen jambak tuh muka.

"BYE~" desis gue kesal langsung buang muka sambil tunggu angkot lewat, si hernest cuman senyum-senyum liatin gue kesal kayak gini. Tapi apa benar ini masalah si hernest berat, kenapa juga gue yang pikirin masalahnnya juga.

“Bodo amattt” gumam gue dalam hati.


#Note, update lama karena ada kesibukan, hahaa. selamat menikmati
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di